
Salwa melongok ke dalam, sangat aneh tidak ada suara apapun, padahal Ashton dan Axton saat ini pasti tidak sedang tidur.
"Mas, kenapa mereka tidak keluar?"
"Sudah, biarkan. Mereka sedang istirahat." Sean menggandeng tangan Salwa lalu menutup pintu kamar itu perlahan.
"Tapi aku ingin lihat mereka?" Salwa ingin masuk tetapi Sean kembali menghalanginya.
"Jangan, jangan terlalu dekat dengan anak-anak itu. Bagaimanapun mereka itu laki-laki."
"Apa? Mas mereka masih anak-anak, masak kamu curiga dengan anak kecil yang masih polos seperti mereka. Kalau begitu temani aku masuk."
Akhirnya Sean mengalah dengan mengajak Salwa memasuki kamar kedua anak itu, dan terlihatlah Ashton dan Axton sedang berusaha tidur sambil memejamkan matanya dengan begitu erat.
"Tuhkan, mereka tidur? Jadi ayo kita ke kamar saja, melanjutkan yang di mobil tadi," ucap Sean dengan tidak tahu malunya.
"Iih, apaan sih."
Salwa memperhatikan kedua anak itu dengan lebih dekat. "Tunggu, mereka tidak tidur."
Salwa merasa ada yang aneh dengan Ashton dan Axton yang memejamkan matanya dengan sangat rapat. Mereka sepertinya tidak tidur tetapi pura-pura tidur.
Salwa mendekat, ia membungkuk lalu mengelus kepala Ashton, di luar dugaannya anak kecil itu semakin merapatkan matanya seolah tidak berani membuka mata. Mereka berdua seperti... ketakutan.
"Aku akan tidur, aku janji paman. Jangan disiram lagi dengan air dingin." Ashton berbicara sambil memejamkan mata, membuat Salwa ternganga tidak percaya.
Suaminya itu pasti menakut-nakuti kedua anak itu sehingga mereka menjadi anak patuh.
"Ashton, Axton kalian istirahat dulu, setelah ini kita makan siang bersama. Jangan takut, kami tidak akan melukaimu." Suara Salwa yang lembut membuat kedua bocah itu membuka mata. Senang, mereka langsung berhambur memeluk Salwa.
"Hey, jangan peluk-peluk!" Bentak Sean yang kemudian dapat pelototan dari Salwa. Sean hanya bisa menipiskan bibirnya tak berani membantah. Entahlah, sejak kapan juga Sean takut kalau Salwa marah kepadanya. Padahal sebelumnya tidak ada seorang pun yang ia takuti, tetapi saat ini melihat tatapan tajam istrinya saja, nyalinya sudah menciut. Mungkin benar kata orang, segalak-galaknya singa si raja rimba, akan kalah juga dengan singa betina.
"Kalian beristirahat ya, kalau ada yang jahat sama kalian, laporkan sama tante. Okey?"
Kedua anak itu tersenyum, lalu mengangguk secara bersamaan.
"Thank you aunty."
Salwa mengangguk dan tersenyum, dengan gemas ia mengusap-usap kepala kedua anak itu, lalu hendak mencium kening mereka. Tetapi sebelum bibir Salwa mendarat di dahi mereka , Sean segera menghalanginya dengan telapak tangannya, sehingga bukannya mencium kening tetapi justru mencium telapak tangan Sean.
"Mas..." Salwa ingin protes, tetapi Sean segera menarik tangannya supaya menjauh dari kedua anak itu.
"Sudah, ayo keluar. Biarkan mereka beristirahat."
Salwa menurut dengan mengekor di belakang Sean karena tangannya sudah ditarik oleh suaminya itu agar tidak kembali ke tempat Ashton dan Axton.
"Ada apa?" Salwa bertanya saat Sean mengajaknya masuk ke dalam kamar di sebelah kamar yang ditempati anak-anak Catherine.
"Aku tidak suka kau terlalu dekat dengan mereka, Bagaimanapun juga mereka adalah laki-laki."
"Mas, mereka masih lima tahun. Dan saat ini ibunya sedang tidak bersama mereka, kita sebagai seorang dewasa yang mendapat amanah harus bisa menjaga mereka bukan?" Salwa duduk di tepi ranjang, lalu menepuk-nepuk tangannya di sisi ranjang sebelahnya agar Sean mengikutinya untuk duduk bersamanya.
Dengan wajah yang masih cemberut, Sean akhirnya menurut juga dengan mendaratkan bokongnya di samping Salwa.
__ADS_1
"Menjaga tidak hanya memastikan mereka baik-baik saja secara fisik, kita juga harus membuat hati mereka senang, bukan tertekan. Jika hati anak sejak kecil tertekan, maka dia akan jadi tipe pembangkang suatu saat nanti."
Salwa menunduk, dengan wajah yang ditekuk ia mengatakan isi hatinya yang sedang bimbang. "Kau tahu, tadinya aku sangat senang saat kau mau mengantar Ashton ke toilet untuk buang air kecil, tetapi saat melihat bagaimana kau memperlakukan mereka, aku jadi takut. Apakah kau akan memperlakukannya seperti itu juga nantinya?" Ucap Salwa dengan mengusap perutnya yang masih sangat kecil itu.
Sean tertegun, ia baru menyadari kesalahannya. Sebentar lagi ia akan mempunyai anak, seharusnya ia harus lebih bersabar dan lebih lembut menghadapi anak-anak, bukan dengan bersikap dingin agar mereka takut jika berbuat nakal. Sean menyesal dengan sikapnya yang membuat Salwa tidak mempercayainya untuk menjadi ayah yang baik dan penyayang bagi anak-anak mereka.
Sean berdiri dari duduknya lalu membungkuk dengan menggunakan kedua lututnya sebagai tumpuannya. Ia menghadap ke arah Salwa dan memegang jemari istrinya itu lembut.
"Maaf, aku salah."
Sean mencium perut Salwa yang terdapat calon buah hati mereka dengan penuh sayang lalu mengusapkan tangannya disana. Sean menengadah menatap istrinya yang sedang tersenyum kepadanya.
"Aku berjanji akan menjadi ayah yang baik, ayah yang akan kalian banggakan. Selalu menyayangi dan bersikap lembut kepada kalian berdua."
"Sungguh?"
Sean mengelus pipi istrinya itu dengan sayang. Lalu beranjak berdiri tetapi tetap membungkuk menghadiahi kecupan di dahi Salwa.
"Tentu saja, kau bisa mempercayaiku. Aku ingin membuat kalian bahagia, dan kita bertiga akan selalu bahagia. Aku janji." Sean berucap dengan penuh kesungguhan, membuat Salwa terharu mendengarnya.
"Kita akan bahagia bersama," imbuh Salwa meniru perkataan Sean yang dibalas anggukan oleh suaminya itu, membenarkan ucapan Salwa.
Sean menyejajarkan tingginya dengan tinggi Salwa yang sedang duduk dengan cara menunduk, lalu perlahan membuka kerudung yang dipakai oleh istrinya dan melepaskan kuncir yang mengikat rambut panjang Salwa. Jemarinya ia gunakan untuk menyisir rambut istrinya dari pangkal rambut dan berakhir sampai ke ujung, meletakkan sebagian rambut panjang itu di kanan dan kiri bahu Salwa.
Sean mengecup kening Salwa, lalu meletakkan kedua tangannya di bahu sebelah kanan dan kiri perempuan itu, dengan menampilkan senyum tipis yang selalu terlihat memesona bagi Salwa. Sorot mata Sean tampak teduh, menatap penuh cinta yang meluap-luap kepada istrinya, pun dengan Salwa yang memperlihatkan kehangatan dari sorot matanya yang bening itu.
Perlahan ia merebahkan tubuh istrinya itu di atas kasur yang di duduki oleh Salwa, sementara dirinya berada di atas posisi tengkurap dengan bertumpu dengan sikunya agar berat badannya tidak menindih tubuh sang istri. Wajahnya menunduk, saling mendekat dan tanpa ragu memungut bibir Salwa menggunakan bibirnya, memainkannya dengan menggoda menggunakan segala keahliannya dalam pertarungan bibir dan lidah, sementara tangan dengan nakal sudah merambat menaikkan gamis yang dikenakan istrinya itu sehingga telapak tangannya bisa menyentuh bagian paha Salwa.
TOK-TOK-TOK....
Suara ketukan pintu tersebut membuat Salwa segera menahan tubuh Sean supaya menjauh darinya. Sean segera melepaskan ciumannya lalu menoleh ke arah pintu. Ia mendengkus sambil menghembuskan napasnya kasar, lalu bangkit dari posisi tengkurapnya menjadi berdiri. Salwa pun segera merapikan pakaiannya, dan mengenakan kembali kerudungnya. Sean berjalan gontai menuju ke arah pintu, lalu membukanya dengan kasar.
"Apa?"
Pelayan yang mengetuk pintu menunduk, menyadari bahwa kehadirannya sangat mengganggu di waktu yang tidak tepat. Melihat majikannya hanya mengenakan celana tanpa memakai atasan tentu saja pelayan itu sudah menduga bahwa mereka sedang bermain di ranjang.
"Maaf kalau saya mengganggu, saya hanya menyampaikan bahwa makan siang sudah siap," ucap pelayan itu dengan menunduk yang sebenarnya enggan untuk mengetuk pintu majikannya itu, tetapi karena sebelumnya Sean berpesan agar segera memberitahu jika makanan siangnya sudah siap. Sean tidak ingin Salwa yang tengah hamil terlambat makan siang, sehingga dengan terpaksa pelayan tersebut mengetuk pintu kamar Sean dan mengganggu kegiatan mereka berdua di dalam.
Sean mengangguk, "baik, pergilah."
Pintu ia tutup lalu kembali kepada Salwa yang masih duduk di tepi ranjang.
"Kita lanjutkan nanti, karena kau harus makan siang." Meskipun Sean mengatakannya dengan lesu, tetapi ia tidak akan egois dengan menahan Salwa agar melanjutkan permainan yang tadi. Sean lebih mementingkan kesehatan istri dan calon anaknya sehingga ia harus mengalah.
Salwa tersenyum dan mengangguk. "Aku akan menjemput anak-anak."
.....
"Apa yang kau lakukan?" Abust menyipitkan matanya dengan kedua alis yang berkedut melihat Fang Yi melepas pakaian Albert yang tidak sadarkan diri.
"Kau mau memperkosanya?" Abust tidak tahan jika tidak menanyai apapun yang dilakukan Fang Yi, tetapi Fang Yi sama sekali tidak mempedulikan perkataan Abust. Ia melepas kemeja, celana dan bahkan pakaian dalam milik Albert sehingga saat ini lelaki itu terbaring tanpa busana.
Fang Yi melemparkan semua pakaian Albert kepada Abust. "Suruh dia memakai ini, cepat!"
__ADS_1
"Mana mungkin aku membiarkan dia mengenakan bekas pakaian orang gila ini!" Abust kembali tidak setuju dengan ide gila Fang Yi, tetapi Fang Yi segera menyahut perkataan Abust.
"Pakai atau kau tidak akan bisa keluar dari tempat ini. Lima menit, aku menunggu di luar. Pastikan kau gunakan waktumu dengan baik sebelum mereka datang. Sekarang, bantu aku memasukkan pria ini ke kandang dan berikan pakaian itu kepadanya untuk segera dipakai!"
Abust menurut, ia memberikan pakaian Albert kepada Catherine. Sementara dirinya membantu Fang Yi mengangkat tubuh Albert untuk dimasukkan ke dalam kandang besi tersebut.
"Rapikan dirimu, aku berjaga di luar. Waktu kita tinggal tiga menit lagi." Catherine mengangguk, ia sudah bersiap dengan pakain Albert, meskipun sedikit kebesaran, tetapi bisa di samarkan dengan jas yang di pakai oleh Fang Yi yang ternyata memiliki ukuran yang hampir sama dengan tubuh Catherine.
Hanya butuh waktu dua menit Catherine menyelesaikan dirinya yang dibantu oleh Abust. Sepatu Albert juga kebesaran, tetapi ia harus tetap mengenakannya. Mereka berdua keluar dari ruangan itu tepat waktu.
Suara derap langkah sepatu terdengar mendekat. Fang Yi, Abust dan juga Catherine segera meninggalkan tempat sebelum keberadaan mereka ketahuan.
"Siapkan mobil!" Fang Yi memberi perintah kepada kedua orang yang berjaga di luar kelab malam itu untuk menyiapkan mobil mereka yang terparkir di area basemant.
"Berjalan berjauhan, jangan terlalu dekat." Fang Yi memberikan perintah lagi, sepertinya perempuan itu sering melakukan pelarihan diri sebelumnya sehingga segala yang ia rencanakan selalu tepat sasaran.
"Apa kita sudah selamat?" Tanya Abust lagi yang kini hampir mendekati lobby.
"Jangan terlalu senang, mereka bukan orang bodoh, pasti saat ini mereka sedang mengecek cctv, dan tiga menit lagi kita akan tertangkap jika tidak segera kabur."
"Apa... kau seperti peramal saja."
Dua buah mobil sudah berada di depan menunggu mereka bertiga. Catherine di dudukkan di mobil pertama, sementara Fang Yi dan Abust akan naik di mobil ke dua yang ada di belakang untuk menghambat jika ada mobil lain yang nantinya mengejar mereka.
"Kau bisa menggunakan senjata bukan?" Abust bertanya kepada Catherine dengan memasukkan kepalanya di kaca jendela mobil yang terbuka setelah perempuan itu menaiki mobil, dan langsung dijawab dengan Anggukan oleh Catherine.
"Gunakan senjata itu jika diperlukan," ucap Abust kemudian lalu mencium kening Catherine dengan cepat. Catherine tertegun sejenak mendapat perlakuan manis dari lelaki itu, tetapi kemudian ia tersadar dan sedikit menarik ke atas sudut bibirnya.
Abust mengusul Fang Yi memasuki mobil ke dua yang ada di belakang. Mobil tersebut dilengkapi dengan alat komunikasi dua arah yang berbentuk panggilan video di layar besar yang terdapat di kabin penumpang, sehingga mereka bisa melakukan komunikasi dengan baik meskipun tidak menggunakan ponsel.
"Jalan," perintah Fang Yi kepada sopir yang merupakan bodyguard terlatih yang dipilihkan Sean untuk membantu misi mereka.
Baru saja mereka bertiga menaiki mobil, beberapa orang berpakaian serba hitam keluar dari kelab malam itu lalu masuk ke dalam mobil untuk melakukan pengejaran kepada mereka bertiga.
"Sial, ucapanmu benar semua." Abust mengumpat dengan kasar. Ia sudah mempersiapkan senjatanya di dalam mobil untuk melawan mereka yang sedang mengejar.
"Percepat mobilnya!" Teriak Fang Yi memerintah pria yang tengah mengemudi mobilnya. Mobil melaju dengan cepat, meliuk-liuk menyalip dengan gesit mobil-mobil di depan mereka. Untungnya jalan raya tidak terlalu padat mengingat waktu masih menunjukkan pukul dua dini hari.
DORR-DORR-DORR.
Tembakan beberapa kali diterima oleh mobil yang ditumpangi Abust dan mengenai kaca belakang mobil. Tetapi tembakan beruntun itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap kaca mobil tersebut.
Abust membuka jendela mobil, dengan sedikit mengeluarkan kepalan dan tangannya ia mengarahkan senapannya ke arah mobil-mobil yang tengah mengejarnya. Tembakan demi tembakan terjadi secara beruntun, tetapi tidak satupun mengenai orang di dalamnya, hanya kaca depan dan belakang sudah pecah tidak beraturan.
Fang Yi mengeluarkan senjata andalannya yaitu pelontar granat, ia menembakkan di bagian depan mobil yang mengejarnya.
BUUUMM
Suara ledakan dari mobil tersebut terdengar memekakkan telinga, badan mobil hancur dan terbakar keseluruhan, asap mengepul membuat pandangan Fang Yi dan Abust terhalang. Tanpa disadari mobil lain yang ikut mengejar menyalip mobilnya dan beriringan dengan mobil Catherine.
Seseorang mengeluarkan kepala dari mobil tersebut, lalu menembakkan senapannya ke arah ban mobil Catherine. Mobil yang ditumpangi Catherine oleng, menabrak pohon besar yang ada di samping jalan karena ban meletup disaat mobil sedang melaju kencang.
\=》 bersambung...
__ADS_1