Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Ekstra Chapter 7 (Tamat)


__ADS_3

Semua orang tampak bahagia menikmati acara, ada yang berbincang, menyantap hidangan dan ada juga yang mengambil foto selfie berlatar dekorasi indah pesta tersebut.


Sean sedang bercengkrama dengan beberapa rekan bisnisnya sementara Salwa duduk di salah satu kursi ditemani minuman dingin di tangannya. Ia melihat ke segala penjuru, mencari di mana anak dan keluarganya. Bibir Salwa mengulas senyum melihat mereka semua berkumpul dan berbahagia.


Kinan berlari-larian di pasir bersama Leon dan Fang Yi yang sedang menerbangkan pesawat mainannya, sementara ketiga adiknya sedang bermain voli pantai sambil tertawa riang. Dan para orang tua sedang mengakrabkan diri satu sama lain. Ya, semua terlalu sempurna bagi Salwa, dalam hati tak henti-hentinya ia mengucapkan syukur berkali-kali atas apa yang diberikan Tuhan kepadanya.


Salwa ingin bergabung dengan para orang tua. Namun, ketika ia hendak melangkahkan kaki kepalanya terasa pusing. Salwa memijat pangkal hidungnya beberapa kali untuk menghilangkan sedikit rasa sakit di kepalanya. Tetapi hal itu nyatanya tidak berguna, ia masih saja merasa pusing.


Salwa berjalan menghampiri Sean yang sedang berbincang dengan rekannya. Tampak suaminya itu beberapa kali tertawa kemudian berbicara lagi, sehingga Salwa yakin bahwa saat ini Sean tidak sedang terlibat perbincangan serius.


"Mas, aku ingin bicara." Salwa memanggil Sean dengan nada sedikit bergetar, tetapi Sean sepertinya tidak mendengar.


Salwa menarik ujung jas suaminya itu agar menoleh ke arahnya. "Mas, aku ingin bicara."


Sean menoleh, juga rekan-rekannya ikut memperhatikan Salwa.


"Ada apa?" tanya Sean kemudian.


Salwa ingin menjawab, tetapi ia urungkan. Tiba-tiba saja isi perutnya terasa bergejolak, menuntut ingin segera dikeluarkan membuatnya harus menahan dan tidak berani membuka mulutnya. Karena Salwa diam saja dan tidak kunjung menjawab membuat Sean kembali melanjutkan perbincangannya kepada rekan kerjanya.


"Mas!" Salwa berucap lirih hampir tak terdengar sehingga Sean terlihat mengabaikannya. Kepala Salwa terasa berkunang-kunang sehingga ia harus berpegangan meja untuk menopang berat badannya. Ia memegang kepalanya yang sudah berdenyut kuat, wajahnya tampak pucat dengan tangan gemetar dan berkeringat dingin.


PRAANGG


Suara benda-benda berjatuhan itu mengalihkan perhatian semua orang. Betapa terkejutnya Sean melihat Salwa jatuh dengan tertiban gelas, piring yang berisi makanan dan bunga-bunga beserta vasnya, karena Salwa sempat menarik taplak meja tersebut sebelum dirinya terjatuh pingsan.


Sean secara naluri bergerak cepat dengan melompat ke arah Salwa, membuang benda-benda yang menimpa tubuh istrinya yang membuat pakaian yang dikenakan Salwa kotor terkena tumpahan minuman dan makanan.


"Sayang, sayang, Salwa!" dengan panik Sean memanggil-manggil nama Salwa tetapi perempuan itu hanya diam dengan mata terkatup rapat.


Sayup-sayup terdengar suara keributan dengan banyak orang yang memanggil namanya. Suara Sean pun juga terdengar di telinga Salwa, namun ia hanya bisa memejamkan mata tanpa sanggup menggerakkan tubuhnya. Suara Sean masih terdengar, namun makin lama suara itu menghilang bersamaan dengan kesadarannya yang sudah tertanam di alam bawah sadar.


🌹🌹🌹🌹


"Apa yang terjadi dengannya?"


Sean mengusap wajahnya gusar dengan raut muka yang kusut, rambutnya yang sebelumnya disisir rapi ke belakang sekarang terlihat berantakan.


Ia mengingat terakhir Salwa memanggilnya, tetapi ia malah mengabaikannya dan memilih bersenda gurau dengan rekan bisnisnya, hal itu membuat Sean semakin menyesali perbuatannya. Bagaimana ia bisa mengabaikan Salwa yang sedang sakit hanya karena kesenangannya sendiri?


"Istri anda baik-baik saja, hanya terlalu lelah. Apakah anda sering mengajaknya begadang?"


Pertanyaan dokter tersebut membuat dahi Sean berkerut, untuk apa dokter itu mencari tahu tentang kegiatannya dan Salwa saat malam hari?


"Itu bukan urusanmu, katakan saja apa yang terjadi dengannya!" Sean berucap dengan sedikit membentak tidak sabar dengan informasi sang dokter yang menurutnya terkesan bertele-tele itu.


Dokter itu menipiskan bibir seraya menghela napas panjang, berusaha bersabar menghadapi keluarga pasien yang seperti itu.


"Tuan, istri anda hanya terlalu lelah. Kehamilannya yang baru berusia lima minggu membuatnya gampang lelah karena tekanan darahnya yang rendah. Seharusnya anda bisa sedikit memberinya kelonggaran untuk tidak terlalu memforsir tenaganya apalagi untuk melakukan hubungan badan."


"Apa kau bilang? Hamil?" Sean hampir tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh dokter tersebut.


Bukannya Salwa masih memberikan ASI kepada anaknya, hal itu berarti sama saja dengan melakukan kontrasepsi alami bukan? Lalu mengapa dokter mengatakan bahwa istrinya sedang hamil lima minggu, pasti ada kesalahpahaman di sini.


"Iya, istri anda sedang hamil lima minggu."


Sean membeku mendengar perkataan dokter tersebut. Ia duduk dengan mata yang menatap kosong.


Salwa hamil, bagaimana bisa? Salwa akan merasakan kesakitan seperti itu lagi. Apakah istrinya itu sudah siap menghadapinya? Bahkan dirinya sendiri tidak sanggup melihat Salwa mengalami kesakitan seperti sebelumnya, Sean masih tidak tega menyakiti Salwa dengan kehadiran seorang anak sekali lagi.


🌹🌹🌹🌹


Sean membuka ruang perawatan Salwa, dilihatnya perempuan itu sedang tertidur lelap dengan pakaian yang sudah diganti dengan pakaian khas pasien rumah sakit.


Sean berjalan mendekat, langkahnya begitu perlahan sehingga pantulan sepatunya nyaris tak terdengar. Ia menghentikan langkahnya ketika lututnya bersinggungan dengan tepian ranjang Salwa. Sekali lagi matanya memindai keseluruhan kondisi Salwa yang matanya masih terkatup rapat.

__ADS_1


Terdapat beberapa perban dan plester di kening Salwa membuat Sean teringat sempat mengabaikan perempuan itu ketika sedang membutuhkannya. Ia kembali merutuku kecerobohannya sendiri, jika saja Salwa saat itu terjatuh saat bersamanya tentunya Salwa tidak perlu sampai tertimpa begitu banyak peralatan makanan beserta makanan dan minumannya, ditambah lagi dengan vas bunga yang tentunya sangat berat dan akan sangat sakit jika mengenai tubuh atau kepala Salwa.


Sean mengecup kening Salwa di mana tempat perban dan plester itu berada sebagai wujud penyesalannya kepada perempuan itu. Tangannya mengelus kepala Salwa dengan tubuh masih membungkuk ke depan. Hembusan napas Sean terasa hangat di permukaan wajah Salwa.


Kening Salwa mengernyit dengan membentuk gelombang-gelombang kecil seolah tidurnya sedikit terusik. Ia mengerjapkan bulu matanya yang lentik , butuh beberapa saat sampai Salwa benar-benar sadarkan diri.


Sean yang sedari tadi memperhatikan bagaimana Salwa terbangun dari jarak sedekat itu membuat mata Salwa yang terbuka langsung bersitatap dengan mata Sean. Ada rasa lega dalam dirinya melihat Salwa sudah sadar kembali.


"Mas, apa yang terjadi?" Suara Salwa terdengar lirih dan lemas membuatnya terlihat menyedihkan. Sean menutup bibir Salwa dengan jari telunjuknya.


"Ssssttt, beristirahatlah. Kau hanya terlalu lelah."


"Lelah?" Salwa mengulang pertanyaan Sean seolah tidak mengerti dengan apa yang Sean maksudkan.


"Dokter mengatakan kau terlalu lelah, sehingga butuh banyak istirahat. Jadi sekarang beristirahatlah," ucap Sean kemudian.


"Tapi, pestanya?"


Salwa teringat bahwa sebelum ia berbaring di ranjang rumah sakit, ia sedang berada di pantai untuk merayakan ulang tahun pernikahannya. Tetapi sekarang Sean dan dirinya malah berakhir di rumah sakit ini, lalu bagaimana dengan pestanya?


"Sudah selesai, bagaimana keadaanmu? Apa yang kau rasakan? Di mana yang sakit?" Sean menanyai Salwa beruntun, tatapan wajahnya penuh dengan kekhawatiran.


Salwa tersenyum, tangannya tergerak untuk menyentuh wajah Sean yang terlihat cemas. "Aku baik-baik saja, kau tidak perlu mencemaskanku seperti itu."


"Maaf," ucap Sean dengan menunjukkan rasa bersalahnya kepada Salwa.


"Maaf? untuk apa?"


Sean menyentuh tangan Salwa yang sedang membelai wajahnya, ia bawa tangan tersebut lalu dikecupnya lembut.


"Aku mengabaikanmu saat bersama teman-temanku. Padahal kau sedang kesakitan, tetapi aku tidak memedulikanmu. Maafkan aku!"


Wajah Sean terlihat menyesal saat mengatakan hal itu sehingga Salwa buru-buru menggeleng agar Sean tidak terus menyalahkan dirinya sendiri.


"Mas, kau terlalu berlebihan. Aku sama sekali tidak kenapa-kenapa. Tersenyumlah, aku sangat baik, tidak ada yang perlu dicemaskan."


Gleekk,


Salwa menelan ludah dengan sekali tegukan besar, wajah yang tersenyum saat menghibur Sean kini berubah murung. Bukan karena ia tidak menginginkan bayi itu, tetapi bagaimana perjuangannya selama hamil dan melahirkan masih sangat terasa sampai sekarang. Ia masih takut mengalami itu semua.


Kehamilan pertama ia harus mengalami keguguran karena ulah Anders, kehamilan ke dua juga hampir celaka karena ulah Albert. Mungkinkah ia bisa menjalani dengan baik kehamilan yang ke tiga?


"Mas, aku... aku takut," ucap Salwa dengan terbata.


"Maaf, aku mengerti apa yang kau rasakan. Semua ini salahku. Aku sangat ceroboh."


Sean menyugar rambutnya dengan kasar. Rasa frustrasinya membuat Sean seperti orang yang kurang harapan. Ia bersalah telah membuat Salwa hamil sebelum perempuan itu siap menjalaninya lagi. Apalagi rasa trauma Salwa dengan tragedi Albert yang menancapkan beling ke wajahnya dan menggunakan dirinya sebagai sandera belum sepenuhnya terobati. Sean mengerti bagaimana perasaan Salwa saat ini, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain merutuki kecerobohannya sendiri.


Salwa memandang wajah suaminya yang terlihat begitu kalut dengan segurat rasa penyesalan. Hal itu membuat hati Salwa terketuk untuk bangkit dan menguatkan diri agar tidak kalah dengan rasa takut yang ada di dalam dirinya. Ia berusaha memantapkan hatinya untuk bisa menjalani semuanya dengan baik. Ia tidak sendiri, ada Sean yang selalu bersamanya dan memberikan dukungan dan perlindungan untuknya. Ada keluarganya yang menyayanginya, lantas apa yang harus ia takutkan?


Salwa berusaha menghempaskan perasaan kalut dan takutnya serta trauma yang tak berkesudahan itu. Dia merapalkan kata yang menjadi penyemangat dirinya. "Salwa kamu bisa, kamu pasti bisa."


Sebuah senyuman akhirnya berhasil terbit di kedua sisi bibir Salwa. Ia menarik kedua ujung bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman indah yang bisa memberikan harapan baru baginya.


"Mas, kau menginginkan seorang anak laki-laki atau perempuan?"


"Ehh," Sean yang tadinya menunduk pilu, menengadahkan wajahnya menatap Salwa dengan terkejut.


Sangat aneh, perubahan mimik muka Salwa sangat berbeda, saat ini perempuan di depannya terlihat bahagia tanpa ada beban sedikit pun. Sean yang menatapnya hampir tak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya sehingga ia hanya bisa bengong tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Apa kau memimpikan mempunyai anak laki-laki lagi atau perempuan?" tanya Salwa lagi kali ini dengan perlahan dan jelas agar suaminya itu mendengarkannya.


Sean tampak terkesiap dengan perkataan Salwa tetapi di detik berikutnya ia tersenyum, matanya berkaca-kaca, tanpa bisa berkata ia segera berhambur merengkuh tubuh istrinya itu untuk dipeluknya dengan rapat. Bulir air mata yang terjatuh di sudut matanya merupakan air mata kebahagiaan.


"Terima kasih, aku akan selalu menjagamu dan tidak akan membiarkan sesuatu sekecil apapun yang bisa melukaimu. Terima kasih, aku mencintaimu."

__ADS_1


Salwa mengangguk membalas pelukan suaminya dengan perasaan haru yang sama. Keduanya berpelukan sambil menangis dipenuhi rasa syukur dan kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sekali lagi, semuanya terlalu sempurna.


Sean melepaskan pelukannya, menatap wajah istrinya kembali dengan tatapan teduh. Ia menunduk menangkup wajah Salwa dengan kedua tangannya lalu menghadiahi kecupan hangat di pipi kanan, kiri serta kening Salwa.


Sean memiringkan wajahnya menyetarakan tingginya dengan tinggi Salwa, mendekatkan bibirnya ke permukaan bibir Salwa. Mata keduanya tampak terpejam menunggu sentuhan bibir dari keduanya yang akan saling beradu untuk menunjukkan rasa cinta dan rasa saling memiliki begitu besar dari keduanya.


Sean membenamkan bibirnya dengan menanamkan lidahnya yang gesit ke dalam bibir Salwa yang sedikit terbuka, membuat gerakan-gerakan yang menggoda di sana. Menjelajah dengan menikmati setiap cecapan tanpa ingin berhenti ataupun dihentikan. Dan memang sepertinya ia tak mampu menghentikannya seperti rasa cintanya yang makin lama makin tumbuh dan tidak dapat berhenti barang sejenak.


"Ayaaahh!"


Kinan berteriak dengan menerobos masuk ke ruang perawatan Salwa, seketika keduanya mengakhiri adegan romantisnya dengan perasaan sedikit tidak rela.


"Ayah, ayahh main apa?" Wajah Kinan tampak ceria melihat kedua orang tuanya, karena sejak tadi Kinan ingin bertemu Sean dan Salwa namun dihalangi oleh David dan Marcus.


Sean menghembuskan napasnya panjang, lalu mengangkat tubuh mungil anaknya itu untuk kemudian menaikkannya di atas ranjang perawatan Salwa, ia dudukan Kinan di antara dirinya dan Salwa.


Sean memegang tangan mungil Kinan lalu ia bawa ke permukaan perut Salwa yang tertutup pakaian untuk kemudian ia usapkan beberapa kali. Kinan yang masih tidak mengerti hanya menurut sambil memandangi wajah ayah budanya.


"Kinan mau adik bukan? Di dalam perut buna sudah ada adik Kinan yang masih sangat kecil." Sean berbisik lembut di telinga Kinan.


"Iya?" tanya Kinan masih tidak mengerti.


"Kalau Kinan mau jagain buna, perut buna lama-lama akan membesar dan itu berarti adik Kinan juga akan tumbuh besar sampai akhirnya akan keluar dari perut buna dan bisa menemani Kinan bermain."


Kinan ternganga dengan mata melebar penuh ketakjuban. Pandangannya mengarah ke perut Salwa, tangannya tergerak untuk menyibakkan baju pasien ibunya sedikit lalu meletakkan kepalanya miring dengan posisi telinga ditempelkan di perut Salwa.


Salwa sedikit geli melihat tingkah lucu anaknya, tetapi ia hanya terdiam sambil memperhatikannya menunggu apa yang akan dilakukan Kinan kepadanya.


Kinan menengadah menatap Salwa dan Sean secara bergantian dengan raut muka penuh tanya.


"Ayah, adek lapal, peyut buna bunyi," ucap Kinan dengan polosnya.


Mendengar perkataan Kinan wajah Salwa memerah, ia baru ingat bahwa belum sempat makan sesuatu saat berada di pesta ulang tahun pernikahannya, dan kini ia baru menyadari bahwa dirinya sedang lapar.


Salwa meringis menanggapi ucapan anaknya. Sean pura-pura tidak percaya dengan perkataan Kinan. Dengan tidak tahu malu ia ikut menyibakkan pakaian Salwa lalu meletakkan kepalanya di atas perutnya seolah ingin mendengar sendiri apa yang didengar Kinan.


"Ayah, pake teyinga bucan muyut," tegur Kinan saat melihat Sean salah dalam meniru cara Kinan memeriksa adiknya.


"Benarkah?" Sean mencium perut Salwa lagi dan itu membuat Salwa geli dengan meremas rambut Sean karena tidak tahan dengan ulah suaminya yang jahil itu.


"Iya, Kinan hebat. Ternyata pakai mulut tidak bisa mendengar," puji Sean kepada Kinan yang membuat bocah kecil itu tersenyum senang. Sean mencoba menempelkan telinganya di perut Salwa dengan sedikit gerakan menggesek yang semakin membuat Salwa geli.


"Mas, hentikan!"


"Bial buna, bial ayah pelikca adek duyu."


Salwa ternganga melihat Kinan mendukung ayahnya, sehingga ia hanya bisa pasrah dengan ulah kedua laki-laki yang sangat dicintainya itu sedang bermain periksa-periksaan.


Melihat ada yang mendukungnya, Sean semakin menjadi-jadi. Salwa hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menatap kesal ke arah Sean.


"Iya, adik lapar. Kalo Kinan sayang sama adik , ayo dicium sama-sama."


"Apa..?"


Kinan dan Sean menyerbu perut Salwa sambil menghujani ciuman di tempat janin itu berada.


Di saat Kinan sedang memeluk perut ibunya seolah sedang memeluk adik kesayangannya, Sean tersenyum ke arah Salwa, menengadahkan wajahnya lalu mencium kening istrinya penuh Sayang.


"I love you so much," bisik Sean lembut lalu memeluk Salwa serta Kinan secara bersamaan.


"I Love you so much too."


Salwa menyandarkan kepalanya di dada suaminya dengan bibir Sean berada di pucuk kepala Salwa. Sambil memejamkan mata, Sean memeluk istri dan anaknya dengan perasaan bahagia.


Sean dan Salwa menyadari perjalanan hidupnya tidaklah mudah, tetapi keduanya tahu Tuhan tidak akan memberikan ujian kepada hambanya di luar batas kemampuannya.

__ADS_1


Mereka juga memahami bahwa tidak akan ada pernikahan yang sempurna, melainkan sepasang suami istri yang terus berjuang bersama untuk mempertahankan rumah tangga mereka. Dengan berbekal kesabaran dan keteguhan hati, semua akan bisa dijalani meskipun berat, karena mereka yakin semua kesusahan yang telah mereka lewati akan indah pada waktunya.


...----- T A M A T -----...


__ADS_2