Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Egois


__ADS_3

Mata mereka saling bersitatap beberapa detik, namun di detik berikutnya Salwa mengalihkan perhatiannya ke arah buku-buku yang berserakan karenanya. Salwa segera merapikan buku-buku tersebut lalu memberikannya kepada Varo.


"Maaf, aku sedang terburu-buru," tanpa menunggu jawaban dari Varo, Salwa kembali berlari menuju kelasnya berharap kelas belum dimulai.


"Salwa ... tunggu!" Varo berteriak memanggil nama Salwa, tetapi Salwa sepertinya tidak mempedulikannya hingga perempuan itu menghilang di balik kelokan lorong kampus.


Varo masih melihat bekas bayangan Salwa dengan tatapan tak percaya. Teman sekaligus seseorang yang sempat didekatinya dulu ternyata berada di kampus yang sama dengannya.


Dua tahun, waktu yang cukup lama bagi mereka berdua tak bertemu setelah kelulusan sekolah. Varo yang diam-diam tertarik dengan gadis polos berhijab itu hanya bisa bertegur sapa saja dengannya tanpa berani mengungkapkan rasa.


Salwa memang di kenal sebagai gadis pendiam, tak banyak bergaul namun selalu menjadi juara umum di sekolahnya. Nilainya selalu terbaik dari seluruh siswa yang satu angkatan dengannya. Hal itu menjadi daya tarik tersendiri bagi perempuan itu yang mampu memikat seseorang tanpa harus bersusah payah memoles diri.


Namun saat itu bagi Varo yang merupakan siswa populer di sekolah agak sedikit malu jika harus mengakui perasaannya kepada Salwa yang hanya anak seorang tukang becak, jadi ia lebih memilih bergaul dengan Angela, gadis cantik yang juga populer di kalangan siswa laki-laki.


Tetapi setelah sekolah usai Varo sempat bertandang ke rumah Salwa dan ia dikejutkan bahwa keluarga Salwa pindah karena pemilik kontrakan mengusir mereka disebabkan pembayaran yang menunggak beberapa bulan. Varo juga mendapat informasi bahwa Salwa menjadi asisten rumah tangga di luar negeri. Sayang memang, gadis sepintar Salwa harus putus pendidikan karena ingin membantu keuangan keluarga.


Tetapi saat ini, setelah ia mendapati Salwa berada satu kampus dengannya, Varo merasa lega. Setidaknya Salwa melanjutkan pendidikannya setelah sempat terhenti selama dua tahun.


Varo mengembangkan senyumnya, sepertinya takdir memang sengaja mempertemukan mereka, ada kalanya waktu memisahkan mereka, dan akan dipertemukan lagi di lain waktu yang lebih tepat. Varo yakin kali ini ia bisa mendekati Salwa lagi,bahkan mungkin ia akan berusaha lebih keras dari sebelumnya.

__ADS_1


Apalagi melihat penampilan Salwa saat ini terlihat jauh lebih cantik dari sebelumnya. Mungkin karena sudah beranjak dewasa sehingga kecantikannya semakin terpancar meskipun perempuan itu hanya menatapnya sebentar tanpa berniat menebarkan pesonanya.


.....


"Sean... masuklah." Marcus mempersilahkan Sean yang sedari tadi hanya berdiri mematung di depan pintu. Matanya terpatri dengan sosok tua yang sedang terbujur tak berdaya di ranjang rumah sakit. Tubuhnya kurus dengan rambut yang memutih sebagian. Mulutnya sedikit ternganga di balik masker oksigen yang menutupinya.


Sebelumnya Sean enggan untuk bertemu dengan pria tua itu, ia datang hanya untuk memastikan keamanan istrinya saja. Salwa terlalu sering menderita karena ulah musuh-musuhnya dan ia ingin bisa membahagiakan perempuan yang sangat ia cintai itu dengan membuatnya aman dan tidak merasa ketakutan dengan banyaknya musuh yang seolah tak kunjung habis.


Tetapi saat ini, di depan mata kepalanya sendiri ia melihat sosok tua yang rapuh dan tak berdaya dengan banyaknya kabel dan selang berserakan di atas tubuh tua itu sebagai alat penunjang kehidupan, hatinya terasa teriris pilu. Orang yang ia anggap tidak pernah ada dan bahkan jika pun orang itu masih hidup dan ia bertemu dengannya pastilah ia sangat membencinya.


Sean mendekat dengan melangkahkan kakinya perlahan, ia menarik kursi sebagai tempatnya duduk. Dengan mengenakan baju steril serba hijau dengan masker medis yang menutupi wajahnya ia masih tak mampu menyembunyikan air mata yang lolos dari sudut matanya.


Sean menundukkan pandangannya. Dengan menghembuskan nafas berat ia menyentuh tangan tua itu lalu menggenggamnya. Hatinya terasa meledak-ledak karena emosi yang tak bisa diterjemahkan.


"Sean, bicaralah. Paman akan senang jika tahu kau menjenguknya." Marcus menepuk bahu Sean. Memberi kekuatan kepada pria itu agar bisa menerima kenyataan pahit dan mengikhlaskan takdir yang seolah sedang mempermainkan kehidupannya.


"Aku keluar!" Sean beranjak dari duduknya lalu melepaskan genggaman tangannya. Langkahnya sedikit terburu-buru membuat Marcus setengah berlari mengejarnya.


"Sean, tunggu!" Marcus berusaha menghentikan Sean dengan membentangkan tangannya menghadang.

__ADS_1


Sean mencengkram bahu Marcus lalu mendorongnya ke dinding.


"Apa maumu?"


Sorot mata Sean terlihat tajam dan mengerikan dengan napas sedikit terengah karena menahan emosi yang bergejolak di dalam hatinya.


"Sean kendalikan dirimu." Marcus memberanikan diri untuk menyadarkan Sean, bagaimanapun juga ini adalah rumah sakit, meskipun mereka saat ini ada di lorong yang sepi tetapi tetap saja akan menimbulkan keributan jika Sean tak bisa mengendalikan emosinya.


Sean melepaskan cengkramannya dari bahu Marcus. Ia berjongkok sambil meletakkan ke dua tangannya untuk menyagga dahinya.


"Kapan keluargamu akan datang?" Tanya Sean kemudian setelah dirasa hati dan pikirannya mulai tenang.


"Aku akan mengatur pertemuan kalian." Marcus menghela napasnya lalu berkata, " Sean meskipun aku tidak menyukai mereka tetapi aku harap tidak akan ada pertumpahan darah nantinya. Bagaimanapun juga mereka adalah keluargaku dan tentu saja keluargamu juga," ucap Marcus mengungkapkan harapannya kepada Sean.


Sean mengangguk, tanpa ingin berdebat dengan Marcus." Hubungi aku jika waktunya telah tiba!" Ucap Sean kemudian berlalu meninggalkan Marcus seorang diri.


.....


》maaf dikit-dikit.. Sambil momong nie 😂😂

__ADS_1


__ADS_2