Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Mengganggu


__ADS_3

"Apa maumu?" Suara Catherine terdengar gemetar, karena melihat lelaki itu mengeluarkan pisau yang berkilat tajam dari dalam sakunya. Tangan lelaki itu menggenggam pisaunya dengan erat, lalu mengayunkannya di depan wajah Catherine yang hampir melukai permukaan kulit perempuan itu.


"Aku menginginkanmu, ikut aku!"


"Jika tidak, aku akan menusukkan mata pisau ini ke perut kecil mereka."


Catherine menghela napasnya yang terasa sesak, melawan pun percuma, bukan karena ia takut dengan Albert tetapi nyawa kedua anaknya sedang dipertaruhkan disini.


"Kau gila, mereka juga anak-anakmu. Mengapa kau tega kepada dua malaikat kecil yang tidak tahu apa-apa seperti mereka, apa kau tidak bisa melihat wajah polos tanpa dosa kedua anakmu itu, sehingga kau tega melukai mereka?" Catherine tidak kuat menahan tangisnya, dadanya begitu sesak melihat kedua anaknya sedang tergeletak tidak berdaya dengan luka di kepala mereka karena Albert mendorongnya dengan kuat mengakibatkan benturan keras di bagian kepala yang mengenai meja dan vas bunga.


"Anak-anakku? Aku bahkan tidak tahu kau sudah tidur dengan berapa laki-laki setelah kita menikah?" Albert menekan lebih kuat tangan Catherine ke belakang membuat perempuan itu merintih kesakitan.


"Aku tidak pernah melakukan itu, lepaskan aku !" Catherine meronta dengan kuat, tetapi semua kekuatan yang ia kerahkan seakan sia-sia. Tenaga Albert jauh lebih kuat darinya. Ia harus berpuas hati dengan tetap dalam kungkungan tangan lelaki itu.


Albert dengan paksa menarik tangan Catherine agar perempuan itu mengikutinya, ia tidak lagi meronta, karena dirinya sudah pasrah akan dibawa kemana oleh Albert. Dalam pikirannya hanya ada keselamatan kedua anaknya yang saat ini masih berbaring di lantai tak sadarkan diri. Catherine hanya berharap Abust akan mau merawat kedua putranya sampai ia berhasil melarikan diri dari mantan suaminya itu.


.....


"Ambil ini." Abust memberikan uang kepada penjaga toko bunga yang sudah membuatkan bucket bunga yang sangat cantik untuknya.


"Terimakasih, semoga hari anda menyenangkan."


Abust tersenyum menanggapi keramah-tamahan penjual bunga tersebut. Wajahnya tampak cerah dengan senyum yang masih bertengger di kedua sudut bibirnya. Ia memasukkan bucket bunga tersebut di samping kursi kemudi lalu mulai menjalankan mobilnya.


Tumpukan mainan dan pakaian yang sengaja ia beli sebagai hadiah untuk Catherine dan kedua putranya, ia letakkan di kabin penumpang. Abust sudah membayangkan betapa bahagianya kedua bocah tampan itu saat menerima hadiah darinya. Abust bukanlah seorang penyuka anak kecil, tetapi saat melihat kedua anak Catherine, seperti ada yang berbeda dengan kedua anak itu yang membuat Abust ingin membahagiakan mereka. Mungkin persamaan nasib yang membuatnya simpati kepada kedua anak Catherine atau karena ia menyukai ibunya. Entahlah, sampai saat ini Abust belum bisa memetakkan perasaannya sendiri. Ia hanya menjalani dan melakukan apa yang menurut kata hatinya benar.


Abust memarkirkan mobilnya di area parkir basemant hotel lalu menaiki lift khusus yang akan membawanya menuju lobby. Membawa bucket bunga dengan setumpuk barang yang sudah ia masukkan ke dalam sebuah kantong plastik, Abust tampak kesulitan berjalan. Tetapi karena hatinya sedang berbahagia membuat ia tidak mepermasalahkannya.


Abust berjalan sedikit tergopoh meskipun dirinya sedang membawa banyak barang, bahkan untuk menekan tombol lift, ia meminta seseorang yang ada di sampingnya untuk membantunya. Tangannya terlalu penuh membuatnya kesulitan untuk menekan tombol lantai yang ia tuju.


Dengan bersemangat ia berjalan menuju kamarnya dengan senyum yang merekah. Abust mengetuk pintu kamarnya setelah meletakkan barang-barangnya di atas lantai dan hanya menyisakan bucket bunga besar di tangan kirinya. Baru satu ketukan kamar itu terbuka dengan sendirinya, ia terkejut setelah melihat kondisi kamarnya berantakan dengan si kembar tergeletak tak sadarkan diri.


"Ashton, Axton," pekik Abust dengan berhambur dan mengguncang tubuh kedua bocah itu secara bergantian. Ia melihat ke sekeliling, pandangannya menyapu ke penjuru ruangan tetapi ia tidak mendapati Catherine disana. Tidak berpikir panjang, Abust menghubungi pihak resepsionis untuk meminta bantuan.


....


"Bagaimana kondisi mereka dokter?"


Dokter Marquez , begitulah yang tertulis di name tag-nya. Lelaki paruh baya itu tersenyum lembut menanggapi pertanyaan Abust. Wajahnya yang selalu menampilkan wajah senyum itu membuat semua pasien yang dilanda kecemasan menjadi lebih tenang.

__ADS_1


"Mereka sangat baik, hanya luka kecil yang ada di bagian dahi dan kepala. Semuanya sudah ditangani dengan baik, mungkin kita lebih mencemaskan kondisi psikis pasien. Mereka berdua tampak ketakutan dan terus meminta tolong dengan menyebut mamanya. Nanti kita agendakan mereka bertemu dengan dokter psikiater anak untuk mengobati traumanya."


Abust mengangguk, menyetujui saran dokter tersebut. "Lakukan yang terbaik untuk mereka dokter."


Abust kemudian berpamitan setelah segala informasi yang ingin ia ketahui sudah ia dapatkan. Trauma dengan kekerasan fisik, siapa pelakunya? Tidak mungkin Catherine yang melakukannya. Abust dengan mata kepalanya sendiri melihat begitu sayangnya Catherine dengan kedua anaknya. Bahkan dulu perempuan itu mau menjadi pembunuh bayaran hanya untuk menyelamatkan kedua anaknya yang menjadi sandera Yang Pou Han. Bagaimana Catherine mampu melukai kedua buah hatinya sendiri dan meninggalkan mereka dalam kondisi tidak berdaya seperti itu?


Langkah Abust terhenti di ambang pintu ruang perawatan Ashton dan Axton. Meskipun dalam pengaruh obat tidur ekspresi ketakutan mereka masih terlihat dengan jelas, bahkan dalam kondisi tidur seperti ini bayangan menyeramkan selalu hadir dalam pikiran mereka. Abust sangat menyayangkan tidak bisa berbuat banyak saat itu, ia tidak pernah berpikir bahwa kejadian seperti ini akan terjadi dengan kedua bocah ini.


....


Akhir pekan yang dinanti-nantikan datang juga, semalam Sean bahkan pulang menjelang subuh hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia ingin menepati janji kepada Salwa untuk menyediakan waktunya untuk menemani istrinya itu, karena selama hampir sebulan penuh ia tidak pernah mengambil waktu libur, berangkat bekerja pagi-pagi buta kemudian pulang saat hari sudah sangat larut bahkan menjelang pagi. Dan saat ini lelaki itu masih meringkuk di atas ranjang tidurnya dengan mata terpejam rapat seolah menggantikan waktu tidurnya yang sudah ia habiskan untuk bekerja.


Salwa menutup tirai jendela yang semalam ia buka lebar agar cahaya rembulan bisa masuk menerangi ruangan menembus bias-bias kaca bening kamarnya dan sekarang sudah berganti dengan sinar matahari yang begitu terang yang menyilaukan mata.


Sean mengerutkan keningnya saat seberkas cahaya terang masuk ke celah-celah tirai yang tidak berpenghalang menerpa wajahnya. Mau tidak mau akhirnya ia bangun juga dengan mata yang masih sangat berat untuk terbuka. Sedikit ia picingkan mata , samar-samar ia melihat istrinya sedang sibuk mengatur makanan di atas meja makan yang ada di dalam kamarnya.


"Jam berapa ini?" Sean mengeliat sambil sedikit menguap yang ditahan dengan menaikkan kedua tangannya ke atas guna merelaksasikan otot-ototnya yang terasa kaku.


Salwa tersenyum sembari melangkah mendatangi suaminya itu dengan tangan membawakan secangkir teh yang masih hangat yang kemudian ia berikan kepada Sean.


"Pukul sembilan, apa mas mau sarapan dulu?"


"Terimakasih," ucap Sean setelah menerima secangkir teh hangat dari Salwa. Ia menyesap teh bunga chamomile yang sangat harum itu hingga tersisa separuh saja.


Salwa kembali menyiapkan makan paginya yang kali ini terasa lebih istimewa, karena sejak kepulangannya dari rumah sakit Sean hampir tidak pernah sarapan di rumah. Lelaki itu selalu berangkat terburu-buru dengan perut yang masih kosong sehingga Salwa membawakan bekal untuk suaminya itu agar bisa menyantapnya di tempat kerjanya.


Tok-tok-tok


Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali, membuat Salwa segera menyambar cardigan panjangnya lalu mengenakannya dengan cepat beserta jilbab instannya. Ia kemudian buru-buru membuka pintu kamarnya itu karena suara ketukannya terasa semakin memburu seolah tidak sabar lagi untuk menunggu Salwa membukanya.


"Kau," Salwa terkejut saat mendapati Abust sudah berada di depan kamarnya.


"Kakak ipar, dimana Sean?" Abust dengan tidak tahu malu menyelonong ke kamar Salwa lalu duduk di atas kursi yang akan digunakan Salwa dan Sean menyantap makan pagi romantis mereka.


"Sedang mandi," ucap Salwa kemudian dengan sedikit cemberut. Penantiannya sebulan untuk berduaan dengan suaminya musnalah sudah dengan kedatangan Abust yang tiba-tiba.


"Oh... kalau begitu aku makan duluan saja." Abust tanpa memperhatikan etika bertamu langsung mengambil beberapa menu makanan untuk ia pindahkan ke piringnya, dengan lahap ia memakan hidangan yang disediakan Salwa untuk dirinya dan suaminya.


Salwa menghela napasnya kasar, ia membanting bokongnya di tepi ranjang sambil menunggui Sean keluar dari kamar mandi. Abust benar-benar merusak mood-nya kali ini. Salwa hanya melirik lelaki yang tidak tahu malu itu menghabiskan banyak makanan tanpa permisi, seandainya tadi Abust menunggu di ruang tamu mungkin lain ceritanya. Salwa akan menjamu Abust layaknya tamu yang datang dari jauh, tetapi melihat Abust yang tanpa dipersilahkan sudah masuk dan memakan semaunya membuat Salwa hanya bisa menunggu dan memanyunkan bibirnya, kesal.

__ADS_1


...


Sean membersihkan dirinya dengan sebersih-bersihnya, ia ingin menghabiskan seharian ini untuk bermesraan dengan sang istri , ia sudah merencanakan banyak hal yang akan ia lakukan hari ini. Bahkan Sean sudah memesan vila untuk dirinya dan Salwa berlibur di daerah pegunungan.


Setelah bekerja keras selama beberapa minggu membuatnya ingin merefresh otaknya dengan berlibur menghirup udara segar pegunungan, pastilah sangat menyenangkan melihat suasana pedesaan yang hijau dan sejuk sekaligus menyenangkan istrinya yang beberapa minggu ini selalu sendirian di rumah. Salwa mungkin sangat bosan dan kesepian di rumah tanpa melakukan kegiatan yang berarti sehingga membuat Sean bekerja keras agar ia bisa mengambil hari liburnya untuk menemani perempuan kesayangannya itu.


Sean belum memberi tahu perihal rencananya itu kepada istrinya, ia ingin membuat kejutan indah sebagai rasa terimakasihnya kepada Salwa karena telah menjadi istri yang baik, dan selalu mengerti dirinya. Bahkan perempuan itu tidak pernah protes apapun keputusan Sean untuknya, Salwa menjadi istri yang penurut dan tidak menyusahkan sama sekali, dan itu membuat Sean semakin merasa bersyukur telah memilikinya.


Dan hari ini, ia ingin menyenangkan istrinya itu dengan mengajaknya berlibur sebagai kejutan romantis yang sudah ia rencanakan jauh-jauh hari. Sean sudah tidak sabar melihat ekspresi Salwa yang berbahagia dengan kejutan yang akan ia berikan. Ia segera menyelesaikan mandinya agar mereka cepat berangkat dan menyelesaikan kejutan manisnya itu.


Sean membuka pintu kamar mandinya dengan hanya mengenakan handuk yang ia lilitkan di pinggang , mengekspos tubuh bagian atasnya yang terlihat kekar dan menggoda. Meskipun hampir setiap hari melihat pemandangan seperti itu, tetapi tetap saja Salwa selalu merona saat melihat Sean hanya mengenakan handuk seperti itu, Sean pun tidak jarang memanfaatkan kesempatan itu untuk menggoda istrinya yang terlihat malu saat menatap tubuhnya.


Sean melangkah mendekat ke arah Salwa, ingin sedikit menggoda istrinya itu, tetapi di saat Sean membungkuk dan menengadahkan wajah Salwa yang menunduk, Salwa menggerakkan ekor matanya ke samping seolah memberikan isyarat kepada Sean agar lelaki itu melihat ke arah yang Salwa maksudkan. Sean menurut, tetapi sebelum ia menoleh , Sean sudah menghadiahi kecupan lembut di bibir istrinya itu dengan gerakan menggoda yang biasa mereka lakukan. Salwa yang menyadari kondisi yang tidak memungkinkan segera mendorong wajah suaminya itu agar menjauhinya dan melepas pertautan bibirnya.


Salwa menggerakkan wajah Sean agar segera menoleh ke arah samping, dan barulah Sean menyadari mengapa Salwa menolak ciumannya yang selalu berhasil memabukkan istrinya itu.


"Kau?" Sean menegakkan tubuhnya, sorot matanya yang semula terlihat lembut berubah dingin melihat Abust yang sedang mengunyah makanan dengan melihat adegan ciumannya yang gagal.


Abust tersenyum dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya tanpa dosa.


"Hai bos, aku merindukanmu," ucap Abust sembari menelan makanannya.


"Kau mengganggu saja, sejak kapan kau ada di kamarku, apa kau tidak malu memasuki kamar pasangan suami istri?" Sean memarahi Abust yang tidak tahu tata krama itu, ia kesal dengan ulah adik angkatnya itu, firasatnya pun tidak enak, mungkin segala rencana romantisnya akan gagal karena kedatangan Abust yang tiba-tiba.


"Aku lupa kalau kalian sudah menikah" kilah Abust dengan asal, melihat Sean kesal karena gagal bermesraan dengan istrinya menjadi hiburan tersendiri bagi Abust, meskipun hatinya masih sangat terpukul dengan kepergian Catherine dengan lelaki yang ia lihat dari rekaman cctv hotel. Catherine bahkan hanya menurut dan berjalan biasa saja saat lelaki itu menggandeng tangannya. Tidak ada tanda-tanda meronta ataupun menolak dari diri Catherine, padahal di dalam anaknya sedang terkapar dengan luka berdarah di kepalanya.


"Sial, kau bahkan menghabiskan makan pagiku dengan Salwa." Sean semakin kesal saja melihat makanan yang susah payah dihidangkan oleh Salwa untuk mereka berdua dilahap oleh Abust dengan rakusnya.


"Aku lapar, kau kan sangat kaya, jangan terlalu pelit hanya soal makanan," Abust menyelesaikan makannya dengan meneguk air yang ada di depannya.


"Cih, kau sangat tidak tahu malu."


"Ayo sayang kita makan di bawah," ucap Sean sambil menarik tangan Salwa, tetapi Salwa kembali menahannya membuat Sean mengerutkan keningnya.


"Kenapa?"


"Pakai bajumu dulu," ucap Salwa dengan menahan senyum. Abust yang melihatnya pun terkekeh, kakak angkatnya itu semakin lama semakin konyol saja. Jiwa dinginnya yang dulu seakan musnah jika sudah bersama isyrinya.


"Tidak perlu, aku lebih senang begini," Sean tentu saja tidak ingin dipermalukan di depan Abust, sehingga ia memilih untuk tidak berganti pakaian. Salwa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang sok gengsi itu. Ia kemudian menarik tangan Sean supaya lelaki itu mengikutinya menuju ruang ganti.

__ADS_1


"Pakai pakaianmu dulu, aku akan menyiapkan makanan di bawah," ucap Salwa sambil menghadiahi kecupan singkat di bibir suaminya itu yang terasa manis dan segar karena baru selesai mandi. Sean ingin melanjutkannya tetapi Salwa buru-buru menghindar dan keluar dari ruang ganti tersebut. Sean tersenyum dengan mengusap-usap rambutnya dengan gerakan ke depan dan ke belakang secara bergantian. Setiap hari dirinya selalu merasa kasmaran jika sudah berada di dekat istrinya.


》 Bersambung...


__ADS_2