Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Mencurigakan


__ADS_3

Ruangan itu tampak sepi meskipun banyak manusia berlalu-lalang di bawah sana. Karena tempat perawatan Milly di ruangan khusus yang tidak sembarang orang bisa melewatinya. Kamar khusus yang dipesan Abust untuk menangani Milly terletak jauh dari pasien-pasien lain yang juga melakukan rawat inap di rumah sakit tersebut.


Abust meminta Catherine untuk menunggunya di luar bersama Axton dan Ashton sementara dirinya akan menemui Milly seorang diri. Abust berdiri kaku di ambang pintu sebelum ia berani membukanya. Milly sudah sadar dan hal itu berarti saat ini Abust akan berbicara berdua dengannya, dengan ayah kandung yang selama ini ia benci.


Abust menghirup udara banyak-banyak dari rongga hidungnya, mencari kekuatan agar batinnya tidak terlalu bergejolak bercampur dengan luapan emosional yang selama ini ia pendam. Apakah dia mampu menahan perasaan saat berbicara dengan Milly sebagai seorang anak? Apakah Abust sudah bisa menerima Milly sebagai orang tuanya?


Tangannya mendorong gagang pintu yang kemudian terbuka dengan begitu mudahnya membuat Abust menelan ludah. Abust sedikit mengintip ke dalam. Di lihatnya lelaki paruh baya itu sedang tertidur dengan tenang diselingi irama dari suara detak jantungnya yang terdengar dari komputer kecil yang ada di sampingnga.


Abust melangkah perlahan dengan sangat hati-hati menapakkan kaki berharap derap kakinya tidak akan mengganggu tidur Milly sehingga ia lebih mudah untuk menjenguknya.


Sebaiknya Milly tidak menyadari akan kedatangannya sehingga semuanya akan lebih mudah bagi Abust.


Ketika lututnya telah sampai menabrak sisi ranjang Milly barulah Abust menghentikan langkahnya. Milly tampak tenang saat tertidur meskipun kepala dan bagian tubuh lainnya masih berbalut perban, Abust bisa melihat lelaki tua itu kondisinya lebih baik dari sebelumnya.


Sialnya saat melihat Milly berbaring dengan mata terpejam dengan jarak sedekat itu membuat Abust menemukan sosok dirinya sendiri. Wajah tua Milly sangat mirip dengan Abust dan hal itu membuat Abust membenci dirinya sendiri. Mengapa bukan wajah ibunya yang terpatri di wajah Abust? Mengapa harus wajah lelaki yang sedang berbaring lemah di depannya ini sehingga Abust harus mengakui bahwa darah lelaki itulah yang mengalir di dalam dirinya.


Abust ingin segera keluar dari ruangan itu, dadanya terlalu sesak dengan rasa aneh yang muncul di hatinya. Ia ingin segera pergi tanpa harus berbicara dengan Milly.


Ketika Abust membalikkan badan lalu melangkah menuju pintu, hendak menyentuh gagang pintu yang kemudian untuk ditariknya agar terbuka, tiba-tiba suara Milly yang lirih menghentikan langkahnya.


"Air, air.....air."


Lelaki itu tampak kesakitan di bagian tenggorokannya dengan beberapa kali menelan ludah untuk membasahi saluran cernanya yang terasa kering dan mencekik.


Abust menoleh tanpa berniat kembali ke arah ranjang itu, tetapi kemudian Milly terbatuk-batuk karena ludahnya sendiri sepertinya tidak cukup untuk membasahi tenggorokannya sendiri. Dengan langkah cepat Abust menuju nakas, ia tuangkan air di dalam gelas lalu ia masukkan pipa penyedot ke dalamnya yang untuk kemudian ia letakkan ujung pipa penyedot itu ke bibir Milly.


Milly merasakan ada sesuatu yang menempel di bibirnya langsung membuka mulutnya sedikit dan hal itu membuat Abust memasukkan sedikit ujung pipa penyedot itu ke dalam mulut Milly untuk kemudian disesap segera oleh Milly sehingga air yang berada di dalam gelas itu secara perlahan berpindah ke mulut Milly guna membasahi tenggorokannya yang kering.


Milly melepaskan ujung pipa penyedot itu setelah dirasa tenggorokannya tidak sakit lagi dan mulutnya sudah tidak kering. Abust tanpa berbicara sepatah katapun meletakkan gelas yang isinya tinggal separuh itu di atas nakas. Ia ingin segera keluar dari ruangan itu. Melihat wajah tua itu kesulitan hanya untuk minum membuat hatinya perih, Abust sudah tidak sanggup lagi.


Abust beranjak dari tempat Milly lalu melangkah keluar dari ruang perawatan Milly. Ia masih bingung dengan perasaanya dengan mencoba menelaah apa yang sebenarnya ia inginkan. Abust menutup pintu ruang perawatan Milly kembali lalu bersandar di bagian luar pintu yang telah tertutup itu. Matanya memejam, tanpa terasa air mata mampu lolos dari sudut matanya. Abust segera menyeka air mata bodoh itu lalu menguatkan hatinya kembali.


Di dalam ruang perawatan itu, tanpa Abust sadari Milly menangis dengan mata masih terpejam rapat, menyadari kedatangan putra yang begitu ia rindukan akan sentuhannya.


"Ayo kita pergi !" ucap Abust lirih kepada Catherine dan kedua anaknya yang sudah menunggunya di luar ruangan.


.....


Ruangan itu terlihat mewah begitu kontras dengan bagian ruangan yang lain, dari segi pencahayaan , kebersihan juga fasilitas yang terdapat di dalamnya.


Seharusnya dengan berada di tempat itu, udara akan lebih bersih karena laboratorium rahasia itu dalam kondisi tertutup, artinya udara di dalamnya belum terkontaminasi dengan udara di area luarnya yang beracun.


Sean bersama dengan Yang Pou Han mempercepat langkah mereka agar segera mencapai laboratorium tersebut dengan mencari bagian pintunya. Dengan setengah berlari Sean menuju knop pintu lalu memutarnya sedikit yang kemudian terbuka dengan mudahnya. Tanpa berpikir panjang kedua orang itu memasuki area laboratorium dan menutup kembali pintu itu dengan rapat.

__ADS_1


Sean dan Yang Pou Han mengatur napasnya untuk membuang udara kotor dan menetralisir udara yang masuk ke paru-parunya agar segera berganti dengan udara bersih yang ada di dalam laboratorium itu.


"Apakah kita selamat? Kerongkonganku rasanya sakit sekali." Yang mengelengkan kepalanya karena terasa berdenyut akibat paparan asap di dalam ruangan tertutup. Dadanya terasa sesak dengan berusaha meghirup napas dalam-dalam untuk menyegarkan paru-parunya dari asap tebal yang dihirupnya.


"Apa kau bisa menghubungi anak buahmu?" Yang menggeleng, ia kesulitan bicara sehingga ia memberikan ponselnya kepada Sean setelah mendial nomor salah satu anak buahnya. Sean yang terlihat lebih bugar segera mengambil ponsel milik Yang Pou Han lalu memberikan perintah kepada anak buah Yang Pou Han yang sedang berjaga di bagian atas.


"Apa yang kau katakan kepada mereka?" tanya Yang setelah mendapati ponselnya kembali.


"Aku menyuruh mereka meledakkan tempat ini dari atas."


"Kalau kau bosan hidup jangan mengajakku, mati saja sendiri. Uhuk-uhuk... Aku akan... sangat bahagia jika kau mati... Biar anak dan istrimu aku yang jaga. Uhuk-uuhuk.." Yang berucap dengan terbatuk-batuk menahan rasa sesak di dada.


Sean menatap tajam ke arah Yang, di saat kondisi darurat seperti ini lelaki di hadapannya ini tetap saja menjadi lelaki yang menyebalkan. Tetapi Sean masih bersikap waras dengan enggan menanggapi perkataan Yang Pou Han


"Apa anak buahmu yang membantu berkelahi tadi selamat?" tanya Sean kemudian.


"Entahlah. Kau tahu aku sudah berkorban banyak ... untuk .... membantumu. Uhuk.. uhuk.. Jadi ..aku pikir ... aku ... berhak .. meminta imbalan ... atas kebaikanku.. ini." Dengan terbata-bata Yang berusaha berbicara kepada Sean.


"Kau sudah hampir sekarat masih saja perhitungan." Sean mendesis dengan sedikit mengumpat.


"Kau tahu ..... aku tidak pernah.... berbuat kebaikan selama hidupku. Aku selalu ... uhuk.. uhuk... melakukan kejahatan dan kecurangan... semua hanya ... agar tujuanku... tercapai. Jadi aku... sudah memutuskan."


"Apa?" Sean segera menyahut perkataan Yang Pou Han yang terdengar berbelit-belit.


Sean mengangkat kedua alisnya, ia tidak menyangka orang seperti Yang Pou Han memikirkan tentang dosa-dosanya. Apakah itu artinya dia bertaubat sebelum ajal menjemput?


Anak buah Yang Pou Han sedang berusaha menyingkirkan sampah yang menumpuk di bagian titik yang Sean sebutkan menggunakan alat berat. Mereka akan menanam sebuah peledak di kedalaman tertentu di titik yang berada di berapa puluh meter dari lokasi Sean berada sehingga dipastikan ruang bawah tanah tersebut akan berlubang di bagian atasnya tanpa membuat kerusakan berarti di bagian laboratorium untuk memudahkan Sean dan Yang Pou Han keluar dari tempat itu. Mereka kesulitan menemukan atasan mereka itu jika melewati pintu utama. Karena harus melewati labirin panjang , dan itu hanya akan memakan waktu saja.


Sean memeriksa seluruh bagian ruangan lab tersebut dengan meneliti barang-barang yang berada di dalamnya. Ada tabung oksigen yang lengkap dengan masker selangnya yang berada di dalam almari besar . Segera ia mengambilnya lalu memasangkan selangnya segera untuk kemudian ia berikan kepada Yang Pou Han.


"Kau tidak akan mati secepat itu." Sean memakaikan masker oksigen itu kepada Yang Pou Han, karena sepertinya lelaki itu lebih membutuhkannya daripada dirinya.


Sean kembali berdiri mengamati benda-benda di sekelilingnya. Matanya terpaku dengan benda-benda yang ada di ujung ruangan itu yang menarik perhatiannya. Ia melangkahkan kakinya ke tempat tersebut lalu berhenti tepat di sebuah benda yang tanpa sengaja terjatuh karena ada getaran hebat dari atas ruangan itu.


"Topeng wajah manusia. Jangan-jangan dua lelaki petugas kebersihan itu adalah.... Tidak, Salwa...." perkataan Sean terputus karena ledakan dahsyat menghantam ruang bawah tanah itu sehingga semua benda di laboratorium itu terjatuh berhamburan akibat getaran dari ledakan itu.


...............


"Tidak, ada yang aneh dari sikap Sean." Fang Yi masih menatap punggung Sean yang kemudian menghilang di balik dinding di lantai atas.


"Apa? Sebaiknya kita pulang. Apa kau mau menunggu di sini seperti orang bodoh?" Leon segera menghabiskan makanannya agar ia cepat meninggalkan rumah Abust. Sean sudah pulang dan itu berarti ia tidak perlu repot-repot menjaga Salwa dan bayinya sehingga dirinya bisa mengistirahatkan tubuhnya di tempat tidur yang nyaman.


Fang Yi berdiri, tanpa menunggu Leon perempuan itu bergegas keluar karena merasa ada yang tidak beres. Begitu juga dengan Leon yang mengikuti Fang Yi dari belakang karena ingin segera pulang tanpa menunggu kedatangan Abust.

__ADS_1


"Siapa kau?" Fang Yi menatap intens wajah seseorang yang mengenakan pakaian bodyguard yang masih berdiri di luar, sementara yang lain tidak ada. "Aneh, kemana semua bodyguard Abust yang disuruh berjaga di sini?"


Fang Yi mencengkram batang leher bodyguard itu lalu menahannya di dinding.


"Fang Yi , apa yang kau lakukan?" Leon mencegah Fang Yi bertindak brutal kepada anak buah Abust yang ditugaskan berjaga itu.


"Diam, aku sedang menanyainya! Dia bukan bodyguard yang dipekerjakan Abust. Siapa kau?" sorot mata Fang Yi menajam dengan mengeratkan cengkramannya di leher lelaki yang berpakaian sebagai bodyguard Abust.


"Aku pengawal ... di sini. Nona." ucap lelaki itu dengan tersendat-sendat.


"Fang Yi, begitu banyak bodyguard Abust. Kau tidak mungkin menghafalkan wajah mereka satu per satu? Jadi lepaskan dia , biarkan dia mengerjakan tugasnya."


Fang Yi melirik tajam ke arah Leon, kesal dengan lelaki di sampingnya itu yang tidak mempercayai dengan perkataannya.


"Kau tidak tahu apa-apa, jangan ikut campur!" Fang Yi kembali menatap lelaki yang masih ia cengkram lehernya, tampak kesulitan bernapas. Tetapi kemudian lelaki itu menghempaskan tangan Fang Yi sehingga perempuan itu terjatuh, beruntung Leon dengan sigap menangkapnya.


"Lepaskan, aku tidak butuh bantuanmu!" Fang Yi berucap ketus membuat Leon kesal dengannya tetapi laki-laki itu masih bisa menahan kesabaran menghadapi sikap bar-bar perempuan itu.


Melihat pertengkaran Fang Yi dan Leon memberikan kesempatan bodyguard itu untuk kabur, tetapi dengan cepat Fang Yi mengejarnya, tangannya berhasil menahan kepala bodyguard itu dengan menarik rambutnya.


"Sial! Leon hentikan dia!" Fang Yi berteriak kepada Leon setelah mendapati rambut itu terlepas dengan mudahnya dari kepala bodyguard itu yang menjadi satu dengan topeng wajah. Leon mengangguk lalu mengejar bodyguard gadungan itu dengan berteriak meminta bantuan kepada scurity Abust yang berjaga di depan, karena entah di mana semua bodyguard Abust yang diperintahkan untuk berjaga di luar.


.....


Dengan beberapa kali memasuki kamar yang salah, akhirnya sampailah Sean memasuki kamar yang tepat. Ia membuka perlahan pintu kamar tersebut, matanya terpaku ke sebuah box bayi. Dengan bibir menyeringai mengerikan lelaki itu melangkahkan kaki memasuki kamar tersebut lalu menguncinya dari dalam. Kakinya melangkah ringan, menapakkan kakinya di atas karpet bulu sehingga tidak menimbulkan suara sedikit pun.


Sean berjalan lurus ke depan hingga lututnya terbentur pinggiran box bayi. Sorot matanya menajam saat melihat bayi mungil itu terlelap dan mirip sekali dengan wajah yang kini bertengger di wajahnya.


"Mengapa kau selalu diliputi dengan keberuntungan, lelaki bodoh." gumamnya lirih. Tangannya terulur untuk membelai pipi halus bayi itu lalu bergerak turun ke arah leher untuk kemudian dicekiknya. Ketika tangannya sampai di leher baby Kinan, tiba-tiba ia dikejutkan dengan panggilan Salwa.


"Mas kau sudah pulang. Kenapa tidak membangunkanku?" ucap Salwa sambil menggelung rambut panjangnya membentuk cepolan.


Sean menoleh ke arah perempuan yang saat ini menatapnya dengan sayup-sayup karena baru saja terbangun dari tidurnya. Sean tersenyum ke arah Salwa, melihat perempuan itu memandangnya dengan memperlihatkan leher jenjangnya membuat aliran darahnya berdesir. Mungkin tidak ada ruginya jika dia mencicipi sebentar perempuan di depannya ini sebelum melanjutkan rencana awalnya. Apalagi ia sudah lama tidak berhubungan dengan wanita dan tentunya perempuan di depannya ini pasti tidak akan menolaknya karena sekarang ia berwajah Sean suaminya.


"Aku tidak ingin mengganggumu," ucap lelaki itu dengan berjalan ke arah Salwa, ia mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Salwa lalu menariknya hingga perempuan itu mau tak mau berdiri mendekat kepadanya. Lelaki itu menelan ludah di kala melihat wajah Salwa dari dekat. "Sial, dia sangat cantik. Kau sangat beruntung Sean. Dan aku akan mengambil semua keberuntunganmu dalam sekejab." gumamnya dalam hati sambil menampilkan senyum menawannya.


Ia menelusupkan jemarinya ke rambut Salwa lalu melepaskan cepolan di rambut itu untuk kemudian membiarkan rambut panjang dan hitam itu terurai indah. Lelaki itu menundukkan wajahnya menatap ke kedalaman mata Salwa lalu beralih ke bibir yang terlihat menggoda seolah menunggu untuk dilumatnya habis-habisan, ia merapatkan tubuhnya dengan memeluk tubuh Salwa begitu erat sampai detak jantung keduanya bisa terdengar satu sama lain. Ia semakin mendekatkan wajahnya dengan tertuju pada bibir Salwa, yang kemudian semakin dekat hingga hampir tidak ada jarak di antara mereka. Ia memiringkan wajahnya agar hidung mereka tidak bertabrakan dengan bibir yang mengerang karena tidak tahan untuk segera saling menyatu.


"Kau milikku malam ini." ucapnya lembut dengan memempelkan bibirnya ke bibir yang terlihat lembut itu. Ketika bibir mereka hampir bersentuhan tiba-tiba Salwa menahan dada lelaki itu menggunakan kedua tangannya dengan tatapan marah yang tertuju kepadanya.


"Mas, kau minum?" ucap Salwa kemudian setelah mengendus bau alkohol yang menguar dari mulut Sean.


.....

__ADS_1


\=》Bersambung...


__ADS_2