
Tidak butuh waktu lama, Salwa sudah keluar dari toilet wanita. Sean menggandeng tangan Salwa, menuntunnya menuju tempat duduknya semula. Sean merasa masih ada yang mengawasinya, tetapi ia belum bisa memastikan dan menemukan bukti siapa yang iseng membuatnya cemas seperti itu. Bukan ia takut jika diserang, tetapi ia hanya mengkhawatirkan Salwa. Istrinya itu haruslah dalam kondisi aman.
Saat Sean dan Salwa kembali ke tempat duduk ternyata proses sakral pengucapan janji suci antara Catherine dan Abust telah selesai, dan prosesi yang ditunggu para jomblowan dan jomblowati akan segera berlangsung. Para gadis-gadis sudah berkumpul untuk berebut buket bunga yang dilemparkan Abust dan juga Catherine, hal itu membuat mereka saling berdesakan dengan tangan yang sudah bersiap menangkap.
Seperti rencana awal, Abust dan Catherine melemparkan bunga itu tepat di tangan Leon. Semua orang yang ikut berebut tampak kecewa, tetapi Sean dan Salwa bertepuk tangan atas keberhasilan Leon mendapatkan buket bunga tersebut.
Pelemparan buket bunga telah usai, yang menandakan prosesi pernikahan telah selesai, dan saat ini Catherine dan Abust sudah resmi sebagai pasangan suami istri. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan menyambut para tamu undangan.
Sean dan Salwa yang merupakan kerabat dekat lebih dulu memberikan ucapan selamat untuk Abust dan juga Catherine. Dengan bergandengan tangan, mereka berdua berjalan mendekat menemui pasangan pengantin yang tengah berbahagia itu.
"Aku senang akhirnya kau mendapatkan pasangan yang cocok, setidaknya kau tidak lagi mengacau dan mengganggu Salwa lagi." Sean berucap sarkas yang langsung mendapat cubitan di lengan dan lemparan tatapan tajam oleh Salwa. Ucapan selamat macam apa itu, seharusnya Sean mendoakan kebahagiaan bagi Abust dan Catherine, bukan malah mengoloknya.
Sean hanya terkekeh sambil mengusap kepala Salwa dengan penuh sayang. Salwa kemudian menyalami Catherine dan memeluknya.
"Selamat ya, semoga kalian berdua bahagia dan tidak akan terpisahkan selamanya," ucap Salwa tulus dengan diikuti anggukan oleh Abust juga Catherine.
"Terima kasih, doa terbaik juga untukmu," jawab Catherine kemudian. Mereka saling melepas pelukan dan melempar senyum bahagia.
Sean dan Salwa berlalu, mereka kembali duduk di tempat semua sambil menikmati hidangan yang tersedia di atas meja.
"Mas, aku ingin ke kamar mandi lagi." Salwa berkata sambil memegangi perutnya, ia memang akhir-akhir ini sering buang air kecil, tetapi hari ini rutinitas itu jadi lebih sering , bahkan hampir lima sampai sepuluh menit sekali Sean harus mengantar istrinya itu ke kamar mandi.
"Apa kita kembali ke hotel saja?" Tanya Sean kemudian, tidak tega melihat Salwa yang bolak-balik ke kamar mandi yang harus berjalan sedikit jauh dari tempat duduknya.
"Aku ingin melihat pestanya, dekorasinya sangat indah. Aku menyukainya," ucap Salwa dengan polosnya.
Sean kembali mengusap kepala Salwa, ia baru sadar dengan ucapan istrinya itu. Mungkin Salwa secara tidak sadar mengatakan keinginannya untuk membuat pesta pernikahan seperti itu, karena pernikahan mereka sama sekali tidak dirayakan dan bisa dikatakan dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Dalam hati Sean berjanji akan membuatkan pesta kejutan untuk istrinya itu setelah kelahiran anaknya sekaligus merayakan ulang tahun pernikahan mereka.
"Baiklah, ayo mas antar ke kamar mandi."
.....
Milly sudah menunggu giliran memberikan ucapan selamat kepada Abust, dan kini saatnya ia berhadapan langsung dengan putra semata wayangnya itu. Selama mengikuti prosesi pernikahan, air mata Milly tak henti-hentinya terjatuh, ia terharu dengan perasaan yang menyesakkan jiwa. Andai saja ia dulu tidak berbuat bodoh dengan menelantarkan anak satu-satunya itu, pastilah saat ini ia akan menjadi orang tua yang paling bahagia menyaksikan pernikahan putranya dengan wanita yang dicintainya. Tetapi itu hanya bisa disesalinya saja. Bahkan Abust tidak pernah menganggapnya ada dalam kehidupannya.
Milly sudah berada di depan Abust dan Catherine, ingin sekali rasanya ia memeluk putranya itu dan memberikan selamat juga petuah seorang ayah kepada anaknya yang baru menikah. Tetapi ia tak pantas melakukannya, bahkan dirinya belum pernah membangun hubungan rumah tangga dengan wanita manapun. Ia hanya sibuk bergonta-ganti pasangan sampai usianya sudah tidak muda lagi. Ia baru menyadari bahwa pentingnya memiliki pasangan yang bisa menemaninya sampai hari tua. Karena hanyalah seorang istri lah yang mau menemani seorang laki-laki sampai datang masa tuanya nanti.
"Selamat atas pernikahan kalian, semoga kalian bahagia." Milly mengulurkan tangannya kepada Abust, tetapi Abust enggan menyalaminya. Catherine yang merasa tidak enak melihat tangan Milly mengapung di udara segera menyambut tangan lelaki paru baya itu dengan ramah.
"Terima kasih," ucap Catherine dengan senyum ramahnya. Hanya itu saja yang bisa diucapkan oleh Milly, meskipun ada rasa sakit di hatinya diacuhkan oleh anak kandungnya tetapi itu tidak masalah. Ia memang pantas mendapatkannya, karena ia hanya menanamkan benih dan tidak mau merawat dan menjaganya, sehingga ia merasa tidak berhak atas Abust. Milly akhirnya berlalu meninggalkan Catherine dan Abust dengan perasaan kecewa.
Yang Pou Han yang datang bersama asisten Lie bergantian memberi selamat kepada Abust. Dan saat ini giliran Catherine yang enggan menatap wajah lelaki itu. Ia sangat muak melihat wajahnya, senyum palsunya yang pernah membuatnya bertekuk lutut dan patuh itu terlihat sangat menjijikkan.
"Selamat ya, aku tidak menyangka kau mau memungutnya. Tetapi kau tidak akan merasa rugi karena dia sangat ahli di ranjang."
"Kau..," Catherine ingin menampar mulut pedas Yang, tetapi belum sempat ia memukulnya, Abust sudah mencekal batang lehernya yang membuat banyak orang histeris melihatnya.
"Jaga mulut busukmu, aku bisa meledakkan kepalamu di sini." Abust membentak tepat di depan wajah Yang, tetapi lelaki itu malah terkekeh dengan wajah yang sangat menyebalkan. Ia menunjukkan kedua telapak tangannya menghadap ke depan, lalu berkata, "tenang-tenang."
"Aku hanya mengujimu, melihatmu marah seperti ini aku yakin kau benar-benar mencintainya, jaga dia baik-baik. Jangan biarkan orang lain menghinanya."
Abust melepaskan cengkraman tangannya dari leher Yang, " Kau tidak perlu mencemaskan hal itu, sebelum orang berniat menghinanya, aku akan lebih dulu memotong lidahnya sehingga tidak akan ada yang berani menghina dan meremehkan istriku lagi."
"Bagus." Yang membetulkan kembali posisi dasi dan jasnya setelah cengkraman Abust yang membuat pakaiannya tampak sedikit berantakan. Ia kemudian menepuk-nepuk bahu Abust lalu berlalu begitu saja tanpa menyalami Catherine.
__ADS_1
"Maaf," ucap Catherine dengan suara lirih. Abust menoleh, menggenggam jemari Catherine dengan erat. "Aku yang harusnya minta maaf telah membuatmu bertemu dengannya lagi."
"Tidak, seharusnya aku sadar diri. Aku terlalu kotor untukmu, aku sama sekali tidak pantas untuk bersanding denganmu. Bahkan saat ini aku tidak sanggup menatap para tamu undangan sedikitpun." Catherine menunduk, air matanya sedikit menetes dari sudut matanya. Abust menyentuh dagu Catherine supaya perempuan itu melihatnya, menatap kedalaman matanya.
"Catherine, semua orang mempunyai masa lalu. Dan masa lalumu tidak lebih buruk dari masa laluku. Dan jika kau mau menerimaku dengan segala masa laluku, mengapa aku tidak bisa melakukannya untukmu? Bukan karena kau seorang perempuan sehingga kau merasa lebih kotor daripada aku. Kita sama, kita pernah melakukan hal terlarang yang seharusnya dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah, jadi kau tidak perlu merasa lebih kotor atau tidak pantas, karena kita berdua sama. Sekarang, lupakan masa lalu kita yang kelam itu, kita tatap masa depan dengan saling bergandengan tangan untuk menciptakan masa depan keluarga kita menjadi keluarga yang bahagia dengan dipenuhi kasih sayang dan cinta."
Catherine tersenyum mendengar penuturan Abust, ia tidak menyangka bahwa Abust bisa berpikir sedewasa itu. Ia sangat bersyukur dipertemukan dengannya hingga berakhir di pelaminan seperti saat ini.
Ketika cinta diuji oleh masa lalu, maka hal yang perlu kita lakukan adalah berdamai dengannya.
Masa lalu memang menyimpan banyak kenangan, namun itu bukan alasan untuk tidak terus melangkah ke depan.
Masa lalu boleh kita kenang dengan satu syarat, kenangan tersebut bisa memberdayakan kita, bukan menjatuhkan kita!"
Leon masih membawa buket bunga di tangannya, ia mencari-cari dimana Yeyen berada. Matanya menyapu ke segala penjuru untuk mencari sosok yang ingin ia temui, barulah ia bisa tersenyum saat melihat Yeyen sedang berbicara dengan rekannya yang entah siapa itu.
Leon mengetuk gelas berbentuk piala itu dengan sendok, memohon perhatian kepada semua orang.
"Perhatian semuanya." Semua orang yang sedang bercakap-cakap dengan sesama tamu lainnya memusatkan perhatiannya kepada Leon. Mereka berbisik tentang apa sebenarnya yang akan diumumkan Leon.
"Hari ini adalah hari pernikahan saudara sekaligus sahabat baikku, Abust Arthur. Ahh, pastinya doa terbaik dari ku untuk kalian berdua. Dan di hari penting ini aku juga akan mengumumkan sesuatu yang tidak kalah pentingnya."
Leon mengeluarkan cincin dari saku jasnya lalu berjalan ringan mendekat ke arah Yeyen, semua orang yang melihatnya terdorong dengan sendirinya minggir memberikan jalan kepada Leon menemui pujaan hatinya. Lelaki itu dengan wajah penuh percaya diri melangkah semakin mendekat ke tempat dimana Yeyen berdiri.
"Yeyen," panggil Leon kepada perempuan itu yang sedang bercakap-cakap dengan temannya. Yeyen menoleh, lalu menyunggingkan senyum ke arah Leon. Gadis itu hanya mengamati pergerakan Leon yang mendekat ke arahnya, tanpa berpikir tentang apa yang akan Leon lakukan kepadanya.
Leon tiba-tiba berjongkok dengan satu kaki di tekuk dan menjadikan satu lututnya sebagai tumpuan, tangannya memegang sebuah kotak berwarna merah berbahan beludru yang sudah bisa dipastikan bahwa isinya adalah cincin.
"Leon, apa maksud semua ini?" Yeyen melihat kesana- kemari, agak risih dengan perhatian semua orang yang tertuju kepada mereka berdua, apalagi saat ini Leon bertingkah aneh di depannya. Setahu Yeyen, lelaki itu selalu bersikap apatis kepadanya, dan bahkan ia akan menjadi pria yang sangat menyebalkan dengan membuat Yeyen kesulitan mengerjakan sesuatu karena Leon selalu memberi pekerjaan yang tidak masuk akal kepadanya. Tetapi hari ini, lelaki menyebalkan itu tiba-tiba berlutut di depannya dengan membawa sebuah cincin, apakah yang akan ia lakukan dengan cincin itu?
Yeyen ternganga, terkesiap dengan perkataan Leon. Tidak, itu tidak mungkin. Leon pasti bercanda. Dengan semua yang selama ini terjadi di antara mereka berdua sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa Leon menyukainya. Bahkan Yeyen merasa Leon bersikap sangat menyebalkan karena lelaki itu membencinya.
"Kau sedang bercanda bukan?" ucap Yeyen dengan alis yang terangkat ke atas.
"Tidak, aku serius dengan apa yang aku katakan, apakah kau mau menerimaku?" Leon masih menampilkan senyumnya di kala Yeyen masih kebingungan dengan jawaban apa yang akan ia ucapkan. Melihat begitu banyak pasang mata menatapnya, seolah menuntut jawaban "iya" dari bibirnya membuat Yeyen semakin tersudut. Apalagi saat ini ada mantan atasannya yaitu Sean yang sedang menggandeng istrinya ikut menyaksikan adegan konyol Leon yang berlutut di depannya membuat Yeyen semakin gugup saja.
Yeyen berdehem sejenak, mengontrol emosi dan mengembalikan kesadarannya. Tatapannya tertuju ke arah cincin yang Leon pegang lalu beralih ke wajah Leon.
"Leon, apakah kita bisa membicarakan ini di tempat lain? Di sini terlalu banyak orang." ucap Yeyen dengan sedikit mengiba.
Leon tersenyum, sepertinya gadis di depannya ini sedang merasa malu jika kisah asmaranya terkuak oleh orang luar. Namun, itulah yang diinginkan Leon. Ia ingin menunjukkan kepada semuanya bahwa dirinya berhasil menaklukkan hati seorang gadis cantik dengan cara yang romantis.
"Kau bisa menjawabnya sekarang, di depan banyak orang. Aku akan menerima segala keputusanmu."
Tidak ada cara lain untuk menghindar, Leon sudah kekeh dengan pendiriannya. Sehingga tidak ada yang bisa dilakukan Yeyen selain menjawabnya.
"Leon, kita sudah lama saling mengenal. Dan selama ini kau tidak pernah mengatakan perasaanmu kepadaku, dan aku mengira bahwa kau tidak menyukaiku. Jadi aku memutuskan untuk menerima pinangan lelaki lain. Dan kami akan meresmikan hubungan kami bulan depan. Jadi, maaf aku tidak bisa menerimamu."
Wajah Leon berubah masam dengan jawaban yang tidak terduga yang keluar dari mulut Yeyen, ia terlambat mengutarakan cintanya kepada gadis itu. Leon terlalu sibuk menimbang-nimbang perasaanya, sehingga akhirnya Yeyen sudah diambil orang terlebih dulu.
"Siapa lelaki beruntung yang mendapatkanmu?" ucap Leon menanggapi jawaban dari Yeyen, meskipun getir dan sedikit malu karena ditolak di depan umum, tetapi ia mencoba bersikap dewasa dengan melapangkan hati untuk menerima segala keputusan Yeyen.
"Dia ada di sini, bersamaku." Yeyen menoleh ke arah seorang pria yang mengenakan stelan jas berwarna biru tua dengan dasi kupu-kupu melingkar di lehernya. Lelaki itu tersenyum manis dengan tatapan lembutnya yang ditujukan kepada Yeyen kekasihnya. Leon menegakkan tubuhnya, ia harus ikhlas melihat siapa pesaingnya yang telah mencuri start darinya. Lelaki itu berjalan mendekat, keluar dari kerumunan para tamu undangan. Dengan sikap tenang dan senyum yang tidak pudar dari bibirnya, lelaki itu mengulurkan tangannya ke arah Leon.
__ADS_1
"Hans, maaf aku telah mendapatkan hatinya terlebih dahulu." ucap lelaki itu memperkenalkan dirinya. Dengan sedikit malas Leon menjabat tangan lelaki yang bernama Hans tersebut berupaya menjadi laki-laki yang bermartabat.
"Selamat, kalian pasangan yang cocok."
Leon melepaskan jabatan tangannya lalu beralih ke arah Yeyen yang tampak menunduk diliputi oleh rasa bersalah. " Semoga kau bahagia dengan pilihanmu."
Dengan sikap yang berusaha ia tegar-tegarkan, Leon berjalan gontai dengan memasukkan kembali kotak cincinnya ke dalam saku jasnya. Berharap akan ada cinta lain yang akan ia temukan ke depannya.
Salwa yang melihat adegan memilukan itu sempat tidak percaya, ia bisa melihat lelaki itu lagi. Lelaki yang dulu membantunya tanpa pamrih yang belum sempat ia ucapkan terimakasih secara langsung.
"Mas, itu Hans." ucap Salwa kepada Sean yang ikut melihat ketidak suksesan Leon merebut hati Yeyen.
Sean mengangguk, ia memang belum pernah bertemu langsung dengan Hans. Ia sempat cemburu dengan lelaki itu saat Salwa menceritakan segala kebaikan Hans secara terang-terangan kepadanya.Tetapi saat ini, di saat pikirannya sudah jernih, ia menyadari bahwa Hans sudah banyak membantu Salwa di saat dirinya tidak bisa menjaga istrinya itu. Sean merasa berhutang banyak kepada lelaki itu.
"Kita akan menemuinya nanti." ucap Sean mengungkapkan sebuah janji kepada Salwa.
Leon kembali duduk di kursi yang sebelumnya ia duduki, meneguk cairan yang berwarna merah dengan rasa buah di dalamnya. Ia meletakkan gelas tersebut dengan hentakan sedikit keras.
"Bodoh, lamban, tidak berguna." ucap gadis yang duduk di sebelah Leon. Leon menoleh ke arah gadis aneh itu.
"Kau lagi? Apa kau sedang membicarakan ku?" Leon membentak gadis yang sempat berdebat dengannya sebelumnya.
"Menurutmu?" ucap gadis itu tanpa dosa. Leon berdehem sejenak, lalu mencengkram lengan gadis itu, tidak terima jika ia dikatakan bodoh, lamban dan tidak berguna. Tetapi di luar dugaan, gadis itu justru membalikkan posisi tangan Leon ke belakang punggung Leon sebelum Leon berhasil mencengkram lengannya.
"Aah.. kau gila." umpat Leon kasar, yang dibalas desisan oleh gadis itu.
"Kau memang tak berguna, bagaimana Sean bisa mengangkat dua lelaki tidak berguna seperti kalian sebagai adik." gadis itu melepaskan tangan Leon yang sempat terpelintir ke belakang.
Leon memegangi lengannya yang masih terasa sakit itu, sambil menatap kesal kepada gadis aneh itu.
"Kau perempuan gila, kenapa di sekeliling Sean selalu banyak perempuan aneh seperti ini, apakah sean tidak bisa mencari perempuan normal yang bisa dijadikan rekannya." ucap Leon dengan menggerutu namun diucapkan dengan jelas dan keras.
"Apa kau bilang? Dasar tidak berguna."
"Perempuan gila."
"Bodoh."
"Gila."
"Lamban."
Ketika Leon hendak menyahut perkataan cemoohan, tiba-tiba suara Abust ikut menyelanya.
"Fang Yi, Leon kalian sangat serasi, sebaiknya kalian menikah saja."
"Cih, gadis gila ini namanya Fang Yi." Leon melirik dengan tatapan jijiknya.
"Apa, mau apa kau." Fang Yi membentak dengan raut muka yang ingin melawan. Tetapi sebelum semuanya berakhir dengan pertengkaran, Sean segera menengahi mereka.
"Jika kalian ribut terus, maka secara paksa aku akan menikahkan kalian sekarang juga."
"Apa..." teriak Leon dan Fang Yi bersamaan.
__ADS_1
\=》Bersambung...
Chapternya panjang-panjang ya.. moga gak gumoh karena kepanjangan... hehehe... ☺😁😁