Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Wedding Part 4


__ADS_3

"Mau lari kemana kau." Abust menggeretakkan buku-buku jarinya lalu merelakskan tulang lehernya dengan gerakan memutar arah ke kanan dan ke kiri, menatap tajam dengan aura gelap yang tak terperi menghujani ke arah Albert yang masih berusaha berdiri dengan kaki yang gemetaran.


Albert dengan tenaga yang masih tersisa meraih ujung meja untuk menopang berat badannya, berusaha sekuat tenaga menjaga keseimbangan dirinya, supaya tidak kembali goyah dan tidak meruntuhkan segala usahanya untuk mempertahankan diri agar tidak terlihat rapuh dan tidak berdaya di depan semua orang laknat yang sedang memandanginya dengan tatapan merendahkan yang sengaja tidak mereka tutup-tutupi.


Secara bergantian baik Fang Yi, Leon , maupun Yang Pou Han memukuli Albert tanpa ampun. Bagaikan seekor rusa yang sedang dikepung oleh gerombolan singa kelaparan, Albert hanya bisa meratapi nasibnya yang saat ini tidak punya daya hanya untuk menegakkan tubuhnya. Wajahnya memar dengan mata yang lebam dan hampir tidak bisa terbuka karena begitu sembab akibat pukulan-pukulan yang ia terima.


Namun, dengan nyali yang sudah ia kumpulkan kembali setelah sempat tercecer kemana-mana karena pukulan brutal yang menimpanya, Albert masih bisa terkekeh dengan wajah yang terlihat sangat menyebalkan. Lelaki itu beringsut menjauhi para tukang pukul yang sudah bersiap kembali menghajarnya.


"Kalian hanya bisa memukulku secara beramai-ramai. Kalian tidak tahu malu. Semuanya pecundang." Teriak Albert berusaha memprovokasi. Sekali lagi tendangan di dadanya membuat dirinya tersungkur tepat di bawah kaki Catherine. Ia menengadah, menatap Catherine dari bawah dengan memunculkan senyum mengerikan di wajah lebamnya itu.


Catherine mundur selangkah ke belakang, sedikit menjauh dari kepala Albert, akan tetapi lelaki itu tiba-tiba menarik kedua kaki Catherine dengan kuat sehingga membuat Catherine terjerembab ke lantai dengan kesakitan di area tulang ekornya.


Abust segera menolong, namun Albert dengan gerakan begitu cepat merangkak lalu menangkap tubuh Catherine lalu mencekik leher perempuan itu.


Abust melayangkan pukulan ke wajah Albert, tetapi lelaki sialan itu ternyata melakukan sesuatu yang di luar dugaan Abust. Tangan kirinya mencekik leher Catherine dengan kuat, tetapi tangan kanannya membawa sesuatu, sebuah jarum suntik yang berukuran sangat kecil yang di dalamnya sudah berisi cairan berwarna kuning bening.


Abust menghentikan pergerakannya saat melihat Albert menusukkan jarum suntik itu ke leher Catherine yang membuat sensasi rasa panas dan gatal di area permukaan kulit leher Catherine.


"Berdiri!" bentak Albert tepat di wajah Catherine.


Catherine berdiri, berusaha patuh dengan mantan suaminya itu. Ia tidak berani banyak bergerak karena jarum suntik itu menempel di lehernya dengan sedikit menusuk di permukaan kulit Catherine.


Lelaki itu menyeret tubuh Catherine dengan paksa, membawa perempuan itu menjauh sebagai jarak aman dari ke empat orang yang sudah menghajarnya tadi.


Albert terkekeh, melihat orang-orang yang tidak berdaya sekali lagi karena dirinya.

__ADS_1


"Jangan mendekat. Di dalam jarum suntik ini adalah bisa ular yang sangat mematikan, jika sedikit saja cairan ini merasuk ke dalam tubuh jal**** ini, maka ia akan tidak sadarkan diri dengan mulut penuh bisa. Tetapi tentu saja aku tidak berniat menyuntikkan sedikit, aku akan menghabiskan semua cairan yang ada di tabung suntik ini untuk meracuni perempuan tidak tahu diri ini."


"Hentikan! Kau tidak akan pernah selamat jika berani melakukan hal bodoh itu kepada istriku." Abust berteriak lantang, mencoba mengintimidasi Albert yang sebenarnya sudah sangat terpojok dan putus asa.


Albert kembali terkekeh, dengan suara yang terdengar menjengkelkan. "Jika Aku takut kepada kematian, aku tidak akan pernah datang jauh-jauh ke sini hanya untuk menjemput ajalku dengan sia-sia. Karena aku tidak bisa memilikinya, maka kau juga tidak akan pernah mendapatkannya." Albert kembali menyeret Catherine ke belakang. Menjadikan perempuan itu sebagai tameng agar tidak ada yang berani mendekatinya. Jarum itu masih menancap, tetapi cairan di dalamnya masih belum disuntikkan ke leher Catherine.


Albert sebenarnya tidak mengincar Salwa. Ia sama sekali tidak berhubungan dengan wanita itu. Menunggu kesempatan mendekati mempelai sangatlah susah dengan pengawalan keamanan yang begitu ketat. Bahkan ia tidak bisa membawa pistol ataupun pisau di tempat itu. Semua benda berbahaya sudah di geledah sebelum memasuki area pesta pernikahan.


Albert yang menyamar sebagai pelayanpun juga sama digeledahnya. Karena semua makanan yang tersaji sudah siap santap sehingga tidak ada senjata tajam satupun yang bisa lolos dari penggeledahan dengan alasan sebagai alat pemotong buah ataupun sayuran. Sampai ia bisa menyelinapkan alat suntik berukuran sangat kecil yang hampir tidak teraba.


Albert ingin langsung mendekati Catherine, tetapi itu sangat berbahaya. Ia bisa dengan mudah ketahuan sebelum rencana berjalan. Sehingga ia lebih mencari rencana lain. Melihat Salwa berkali-kali meninggalkan tempat untuk ke toilet,yang sepertinya mempunyai hubungan dekat dengan kedua mempelai, membuatnya menyeringai senang. Ia bisa menjadikan perempuan itu sebagai senjatanya.


Albert memperhatikan pergerakan Salwa sejak awal, tetapi lagi-lagi ia harus menelan rasa kecewanya. Salwa yang sedang ke toilet itu pun dikawal dengan ketat oleh suami dan juga bodyguard di belakangnya. Dan sialnya, meskipun perempuan itu pergi ke toilet berkali-kali, suaminya itu dengan setia menemaninya dan memberikan pengawalan ketat kepada istrinya itu membuat rencana cadangan yang disusun Albert tidak berjalan mulus.


Bukannya robekan dari benda tajam yang tumpul akan sulit di hentikan pendarahannya jika sudah mengenai lapisan kulit dan pembuluh darah, dan jika dokter telah melakukan upaya menjahit bagian yang terkena robekan itu akan meninggalkan bekas luka yang mengerikan dan tidak enak dipandang apalagi jika bekas luka itu ia sematkan di bagian wajah. Tentunya korban yang mengalami luka robek itu akan mendapatkan wajah cacat seumur hidupnya.


Albert menggunakan kesempatan itu sebagai upaya untuk mendekatkan dirinya ke tempat Catherine, dan ternyata usahanya itu digagalkan dengan mudah oleh Yang Pou Han. Tetapi seolah takdir berkata lain, melihat saat ini Catherine berhasil ia gunakan sebagai sanderanya dan perempuan itu berada dalam rengkuhannya membuktikan rencananya tidak sia-sia.


Albert terlihat kembali menyeringai saat suara helikopter mendekati roof top area hotel. Albert tidak sendiri, ia mendapat sokongan dari seorang taipan kaya yang mengikuti acara lelang itu yang juga menginginkan Catherine. Dengan imbalan banyak uang dan intimidasi sebuah kematian yang mengerikan jika sampai Albert tidak berhasil membawa Catherine kembali membuat Albert lebih memilih mempertaruhkan nyawa satu-satunya itu untuk membawa mantan istrinya kembali apapun caranya.


Sangat sulit menemukan Catherine, bahkan ia menggunakan waktu berbulan-bulan lamanya hingga ia bisa mendapat informasi bahwa perempuan itu akan melangsungkan pernikahan dengan seorang pengusaha muda hari ini, di atas gedung hotel ini. Dan itu membuatnya merencanakan tindakan nekat dengan memasuki kandang singa seperti ini. Dengan mendapatkan tekanan dari banyak pihak, membuat diri Albert semakin terpojok dan terintimidasi sehingga ia tidak merasa takut lagi akan kematian. Sehingga ia bisa melakukan hal nekat yang sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya dalam logika akal sehatnya.


Albert bergerak ke belakang, sambil menunggu helikopter tersebut mendekat ke samping ujung rooftop. Hembusan angin dari baling-baling dengan suara yang memekakkan telinga itu disambut dengan tawa membahana dari bibir Albert.


Ia akan membawa Catherine bersamanya, dan mendapatkan imbalan banyak uang setelahnya. Ia akan berpesta dan berfoya-foya dengan banyaknya uang itu. Albert tidak sabar lagi untuk melakukan apa yang ia idam-idamkan selama ini.

__ADS_1


Semua orang tampak memicingkan mata melihat helikopter mendekat ke arah tempat pesta pernikahan Abust dan Catherine yang berubah haluan dengan kekacauan dimana-mana dan suasana mencekam tak terelakkan. Abust terlihat semakin putus asa melihat mempelai wanitanya diseret dengan paksa dengan racun yang siap disuntikkan kapan saja jika ia berani mendekat.


Mungkin inilah yang dirasakan Sean saat Salwa menjadi sandera lelaki itu. Sean akan cemas setengah mati dengan dirinya hanya bisa melihat dan tidak sanggup berbuat apa-apa untuk istri dan calon anaknya yang akan segera lahir itu. Bahkan mungkin Sean merasakan lebih yang dari saat ini Abust rasakan , karena dua nyawa orang yang ia sayangi sedang dalam bahaya.


Angin berhembus semakin kencang, mengibarkan tirai-tirai berwarna putih dan bunga-bunga krisan yang menghiasi altar dimana Abust dan Catherine melangsungkan janji suci sehidup semati mereka.


Di saat suasana semakin mencekam dengan kepanikan yang mendera, tiba-tiba seseorang dengan tindakan heroiknya menarik lengan Albert dari arah belakang yang sedang menancapkan suntikan ke leher Catherine sehingga suntikan itu terjatuh ke lantai. Lelaki itu mendekap tubuh Albert agar Catherine bisa segera menjauh dari lelaki biadap itu, tanpa berpikir panjang Catherine berlari dari sergapan Albert yang masih berusaha melepaskan cengkraman lelaki yang tengah mendekapnya.


Abust menyambut Catherine dengan berlari mendatangi istrinya itu. Memeluknya dengan sangat erat dan menciumi wajahnya penuh kekhawatiran. Leon dan Fang Yi ingin membantu lelaki yang menolong Catherine itu, tetapi di luar dugaan Albert bisa menguasai keadaan sehingga lelaki itu sekarang tidak berdaya dengan tubuh hampir keluar dari pagar area roof top. Dengan sedikit dorongan saja lelaki itu akan jatuh dari ketinggian tiga puluh meter dari permukaan tanah. Dan tentunya tidak akan ada yang bisa selamat dari kecelakaan seperti itu.


Abust tertegun melihat siapa lelaki yang sudah menolong istrinya itu. Wajahnya berubah semakin tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Lelaki itu adalah Milly, seseorang yang sangat dibenci oleh Abust, ternyata mau mempertaruhkan nyawa demi menolong istrinya.


Albert semakin tidak terkendali, siapa saja yang bisa ia jangkau, maka akan ia jadikan sebagai tamengnya. Milly dengan tenaga rapuhnya berusaha melawan Albert, tetapi usahanya tampak sia-sia. Lelaki itu mendorongnya hingga hampir terjatuh jika Milky tidak mengeratkan tangannya di pagar pembatas roof top.


Semua orang tampak panik dengan situasi yang semakin tidak kondusif itu, beruntungnya dari semua wajah panik itu masih ada satu orang yang menggunakan akal sehatnya dengan benar. Fang Yi melirik ke arah anak buahnya dan membisikkan sesuatu sebagai sebuah intruksi khusus yang kemudian terlihat anggukan dari reaksi anak buahnya sebagai bentuk petanda mengerti dan akan segera dilaksanakan.


Helikopter hampir mendekat, mungkin Albert berniat melarikan diri menggunakan helikopter tersebut. Seringai mengerikan kembali muncul di wajahnya, ia sudah tidak membutuhkan lelaki tua itu lagi sebagai tamengnya jika ia sudah bisa menaiki helikopter tersebut, maka lelaki tua itu akan ia lemparkan ke bawah. Gerakannya mulai terbaca oleh Milly, lelaki tua itu dengan tekad kuat sambil memejamkan mata, menahan tangan Albert yang mendorong tubuhnya agar tidak bisa pergi darinya. Lelaki itu menarik diri dengan menghentakkan kakinya dengan kuat ke lantai sehingga ia memilih menjatuhkan diri dengan Albert bersamanya.


Keputusan implusif yang dilakukan Milly membuat semua orang terkejut. Lelaki tua itu memilih mati dengan membawa musuh mereka bersamanya, terjun bebas di lantai atas gedung hotel berbintang lima dengan berharap setelah pengorbanan yang dilakukannya ini, tidak akan ada yang bisa mengganggu kehidupan Abust dan istrinya lagi. Mungkin selama hidupnya ia memang tidak berguna sebagai seorang ayah, tetapi kali ini di akhir hayatnya ia ingin sekali saja bisa berguna untuk Abust yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang darinya sejak kecil.


Abust yang melihat tindakan Milly yang tidak sanggup dicegahnya berteriak lantang. Mengucapkan sesuatu yang selama ini tidak sudi ia sebutkan, dan kata itu sekarang mengalir ringan dari bibirnya, sebuah panggilan yang selama ini ingin di dengar Milly dari anak semata wayangnya itu.


"Ayaaahh."


》Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2