Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Menjenguk Irine


__ADS_3

"San, udah disiapin belum bawaannya?" Salwa masih melanjutkan perjalanan menunju rumah Irine gebetan Ahsan yang sedang sakit, sebagai kakak yang baik ia meluruskan kesalah pahaman kepada papanya Irine atas insiden mangganya pak Dodhik kemarin siang.


"Udah mbak, tadi dibelikan sama kakak ipar," sahut Ahsan dengan menunjukkan parsel buah yang tertata cantik di atas keranjang dihiasi dengan pita bunga berwarna emas. Salwa mengangguk lalu tersenyum , ternyata meskipun Sean selalu menampilkan wajah juteknya terhadap adik-adik Salwa, suaminya itu sebenarnya perhatian. Tanpa diminta pun Sean sudah menyiapkan semuanya tanpa sepengetahuan Salwa. Bagaimana Salwa tidak bertambah jatuh cinta dengan suaminya itu.


Andai saja mereka saat ini hanya berdua, mungkin Salwa akan mencium suaminya itu sebagai tanda terimakasih yang tulus kepadanya.


Sean menghentikan mobilnya setelah berada di sebuah rumah bercat hijau telur asin dengan pagar tinggi bercat putih membentang mengelilingi seluruh isi pekarangan rumah. Ahsan keluar dari mobil lalu memencet bel rumah tersebut. Tak lama setelah bel berbunyi seorang pelayan tergopoh membukakan pagar rumah lebar-lebar.


"Silahkan," ucap pelayan itu sopan setelah pintu pagar terbuka. Sean memasukkan mobilnya menuju halaman rumah kediaman Irine lalu memarkirkannya ke tepian. Ada mobil lain yang berada di tempat itu, sepertinya itu mobil pemilik rumah. Ahsan dan Alfatih turun terlebih dulu dari mobil dengan membawa bingkisan parsel buah yang tampak masih segar. Karena Sean memilihkan buah dengan kualitas terbaik sebagai bingkisan mereka.


"Gimana bang, kita masuk duluan apa nunggu mbak Salwa?" Tanya Alfatih dengan menarik ujung baju Ahsan. Ahsan menoleh ke arah mobil, sepertinya Sean sengaja menutup kaca mobil bagian depannya menggunakan roller blind dengan warna gelap agar tidak terlihat dari luar.


"Sial, mereka ngapain ya di dalam?" Ahsan ingin mengetuk kaca jendela mobil tersebut tetapi ia tidak berani, apalagi wajah kakak iparnya terlihat mengerikan saat menatap mereka.


"Apa kita buat salah, mbak Salwa apa gak kenapa-kenapa di dalam, takut di apa-apain sama kakak ipar," Alfatih juga ikut celingukan melihat apa yang terjadi di dalam mobil, namun pelayan yang membukakan pintu gerbang tadi mengejutkan kedua bocah itu untuk mempersilahkan mereka masuk.


"Mari masuk, saya panggilkan nona Irine," ucap pelayan itu sopan. Ahsan dan Alfatih pun mengikuti pelayan tersebut untuk masuk ke dalam rumah.


"Mas kenapa ditutup?" Salwa yang hendak membuka knop pintu mobil pun batal karena Sean tiba-tiba menutup kaca jendelanya dengan roller blind warna hitam yang tebal. Sean melepaskan seat belt-nya lalu membungkuk ke arah Salwa. Tangannya menahan tubuh Salwa dengan meletakkannya di sandaran kursi sebelah kiri bahu istrinya itu, sementara tangan yang lain menyentuh dagu Salwa.


"Aku tahu kau ingin berterimakasih," ucap Sean dengan mengulas senyum menawannya.


"Apa, terimakasih untuk apa?" Tanya Salwa masih tak mengerti, Sean selalu memberi teka-teki yang membuat dirinya mendadak bodoh.


Sean menaikkan ke dua alisnya, lalu dengan perlahan ibu jarinya mengusap bibir istrinya yang tampak segar merona karena polesan lipstik berwarna coral.


"Kau ingin berterimakasih dengan memberikan ciuman untuk suamimu bukan, dan itu terhalang karena ada dua makhluk pengganggu di belakang kita?" Sean menjeda kalimatnya, tampaknya Salwa terkejut dengan perkataan Sean, hal itu bisa dilihat dari mulutnya yang sedikit menganga heran. Bagaimana Sean bisa mengetahui apa yang ia pikirkan, padahal tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya.


"Dan kau bisa melakukannya sekarang, suamimu ini sama sekali... tidak keberatan,"ucap Sean seolah dirinya memang layak mendapatkan hadiah atas apa yang sudah ia lakukan. Sean menyodorkan wajahnya begitu dekat dengan wajah Salwa membuat detak jantung istrinya itu berpacu lebih cepat, Salwa pun tak bisa bergerak kemana-mana karena Sean sudah menahan tubuhnya supaya berada di tempat.


"Mas... aku," Salwa ingin menyusul Ahsan, dia sudah berjanji menyelesaikan masalah Ahsan, takutnya Ahsan dikira mencuri lagi buah tangan yang mereka bawa saat ini.


"Lakukan!" Sean memejamkan mata, menunggu Salwa bereaksi untuk melakukan apa yang ia inginkan. Salwa menipiskan bibirnya menelan ludah, suaminya ini memang benar-benar tukang maksa. Dengan ragu Salwa mendaratkan bibirnya menyentuh bibir suaminya itu dengan cepat.

__ADS_1


Bukan Sean namanya kalau cukup puas hanya dengan kecupan sesaat, ia dengan keahliannya merayu dan menuntun istrinya itu untuk memperdalam ciuman mereka hingga keduanya terhanyut dengan sensasi nikmat yang ditularkan oleh sepasang kekasih yang saling mencintai.


Deru napas mereka semakin tak beraturan hingga kini Salwa sudah terperosok di bawah dengan kepala bersandar di dashboard mobil setelah Sean berhasil melepaskan seat bealt-nya. Tangan Sean mempertahankan tubuh Salwa agar tidak terjatuh, sementara tangan satunya melepaskan kerudung yang membalut kepala istrinya itu. Entahlah, Sean seolah berubah seperti predator kelaparan yang siap memangsa dan menerkam Salwa kapan saja dan dimana saja.


"Mas... kau tak berniat melakukannya di sini bukan?" Salwa menahan wajah suaminya itu yang hendak mengecup leher putihnya. Sean berdehem, ia terlalu larut dengan kesibukannya sendiri hingga ia baru menyadari bahwa mereka saat ini sedang berada di dalam mobil dan dalam rencana menjenguk teman Ahsan yang sedang sakit.


Sean menarik tubuh Salwa agar duduk dengan semestinya, sementara dirinya mengatur napas dan menina bobokkan juniornya agar tidak menegang setelah ciuman erotis mereka.


"Maaf," ucap Sean kemudian dengan mengembalikan kerudung istrinya itu. Salwa tersenyum , ada perasaan senang bercampur malu dengan apa yang barusan mereka lakukan. Mereka hampir melakukan hal itu di dalam mobil, di depan rumah orang. Dan itu adalah tempat yang paling aneh dan tidak lazim jika digunakan untuk melakukan hubungan intim. Mereka sudah menikah dan sah secara hukum juga agama, sebaiknya memilih tempat yang bagus dan nyaman bukan? Bukan tempat sempit, sesak dan dengan sembunyi-sembunyi seperti ini.


Salwa membetulkan kembali pakaiannya yang tampak acak-acakan karena ulah suaminya yang gak kenal tempat itu. Begitu juga dengan Sean, setelah dirasa napasnya sudah mulai normal kembali ia memperbaiki tampilan rambutnya yang juga acak-acakan karena sempat terkena jambakan Salwa saat mereka 'bermain' tadi dengan menyisirnya menggunakan jari. Salwa menyodorkan sapu tangannya kepada Sean dengan menunjuk bibirnya. Sean mengerutkan kening dengan menggerakkan wajahnya seolah mengatakan 'apa', namum sekali lagi Salwa menunjuk bibirnya dengan pandangan mengarah kepada bibir Sean. Sean melihat tampilannya di cermin mobil, ia tersenyum kemudian. Bibirnya ternyata belepotan karena terkena lipstik istrinya. Ia menerima sapu tangan dari Salwa lalu membersihkan noda lipstik di bibirnya.


"Terimakasih," ucapnya sambil mengembalikan sapu tangan milik Salwa. Salwa menerimanya dan meletakkannya di atas dashboard mobil, lalu mengancingkan kemeja Sean dan merapikannya karena tampak sedikit lecek.


"Sudah rapi," ucap Salwa kemudian. Sean menghadiahi kecupan di dahi Salwa sebagai ucapan terimakasih karena Salwa selalu mengurusnya dari hal yang paling kecil sekalipun. Ia mengangkat sedikit dagu Salwa supaya istrinya itu menatapnya.


"Tunggu disini, mas yang akan turun. Jaga kondisimu jangan terlalu lelah karena nanti malam kita akan melakukan makan malam yang romantis." Sean berkata dengan mengedipkan sebelah matanya. Salwa tersenyum dan mengangguk. Mungkin memang lebih baik Sean lah yang menemani kedua adiknya itu, karena Salwa sendiri masih berantakan. Ia butuh waktu lebih lama untuk berbenah diri.


.....


Sementara Alfatih khawatir dengan mbak Salwanya, ia sedari tadi melirik ke arah mobil yang pintunya masih tertutup. Takut jika kakak iparnya yang jutek itu akan memarahi mbak Salwanya sebab telah merepotkannya dengan urusan anak-anak. Karena Al tahu bahwa kakak iparnya itu begitu sibuk dengan segala urusan perusahaannya, jadi mungkin ia akan memarahi mbak Salwanya karena telah membuang waktu berharga Sean dengan sia-sia.


Irine datang dengan mengenakan stelan babydol bergambar little bunny, wajahnya masih pucat karena memang masih sakit, tetapi ia masih bisa mengulas senyum kepada Ahsan dan Alfatih. Ia duduk bersebrangan dengan dua anak laki-laki itu.


"Ahsan, kamu datang lagi?" Ucap Irine ramah dengan bersandar di sandaran sofa. Ahsan mengangguk. Ia bisa merasakan detak jantungnya berdebaran saat melihat Irine sedekat itu.


"Aku ingin minta maaf dengan apa yang terjadi kemarin, dan ini sebagai gantinya," Ahsan menyerahkan bingkisan parcel buah itu kepada Irine yang membuat gadis itu melebarkan matanya.


"Ahsan, kamu gak perlu repot-repot. Tapi terimakasih ya!" Irine hendak mengambil parsel buah pemberian Ahsan, tetapi tiba-tiba papanya datang dan menghentikannya.


"Jangan, letakkan kembali Ire." Papa Irine datang dengan wajah masam, matanya melotot seolah ingin memakan ke dua adik Salwa.


"Kalian berdua, punya nyali datang lagi kesini. Udah buat malu, baru kali ini saya makan mangga curian, itu semua karena ulah kalian berdua. Sekarang pergi, keluar dan jangan temui anak saya lagi," teriak papa Irine membuat Ahsan dan Alfatih takut dan malu. Irine tampak menahan papanya yang sedang menunjuk-nunjuk wajah Ahsan, bagaimana pun juga Ahsan sudah berniat baik dengan datang menjenguknya, bahkan lelaki itu dengan keberaniannya mau meminta maaf dan mengganti mangga curiannya yang sudah dimakan oleh Irine dan papanya dengan yang lebih bagus.

__ADS_1


"Papa, Ahsan mau minta maaf, dia sudah repot-repot dengan membawakan parsel buah ini buat Ire," ucap Irine membela Ahsan dan itu berhasil membuat papanya semakin geram.


"Jangan diterima , itu pasti juga hasil mencuri," papa Irine sudah naik darah, ia bahkan mengabaikan permohonan puterinya untuk memaafkan Ahsan.


"Tidak om, saya tidak mencuri. Ini menggunakan uang halal. Saya berani bersumpah," Ahsan pun membela diri. Benar kata mbak Salwanya. Meskipun cuma dua biji mangga tetap aja itu mencuri dan karena dua biji mangga laknat itu Ahsan jadi terkena murka papanya Irine.


"Saya tidak percaya, cepat pergi!" Papa Irine menunjuk ke arah pintu dan bersamaan dengan itu Sean ternyata sudah berdiri di depan pintu. Sorot mata Sean tampak tajam dan berkilat. Gerahamnya mengeras menahan emosi melihat kedua adik iparnya diperlakukan kasar, padahal mereka tidak bersalah dan berniat baik dengan membawakan bingkisan untuk anaknya yang sedang sakit.


Wajah papa Irine mendadak ramah saat melihat Sean yang berpenampilan rapi, berparas bule dengan postur tinggi dan tegap bertamu ke rumahnya. Emm... ada angin segar apa sehingga ia mendapati tamu terhormat seperti itu.


"Tuan Paderson? Wah sebuah kehormatan anda datang ke rumah saya," ucap papa Irine sambil melangkah ke arah pintu. Lelaki paru baya itu ternyata mengenal sosok Sean sebagai pengusaha muda sukses yang baru beberapa bulan menetap di Indonesia. Ia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Sean, namun Sean enggan membalasnya. Matanya masih menatap kedua adiknya yang tampak menyedihkan dan tidak dihormati.


Separah itukah orang-orang memperlakukan orang biasa. Bahkan Sean datang tanpa membawa apapun diperlakukan begitu istimewa sedangkan Ahsan dan Alfatih yang repot-repot membawa bingkisan hanya mendapatkan penghinaan. Ya.. mungkin mereka ini adalah salah satu golongan dari "penjilat". Mereka akan baik di depan dan buruk di belakang. Mereka akan menempel terus seperti parasit sampai pohon yang mereka tempeli kehabisan nutrisi dan mati.


"Apa yang kau lakukan kepada mereka?" Sean bertanya tanpa memandang papa Irine yang tangannya masih menggantung di udara. Dengan sedikit malu-malu tangan lelaki tua itu turun sedikit demi sedikit sambil mempertahankan senyumnya.


"Ada sedikit insiden tadi, mohon maaf kalau membuat anda tidak nyaman."


Bahkan dengan sikap Sean yang dingin dan tanpa tahu sopan santun, pria paruh baya itu masih saja bersikap lembut dan hormat kepadanya. Dan pria itu juga justru mengatakan ketidak enakannya kepada Sean atas apa yang baru saja terjadi. Padahal pria itu bersalah pada Ahsan dan Al, tetapi malah meminta maaf kepada Sean.


Sean tersenyum penuh ironi, bagaimana seseorang bisa bersikap munafik dan bermuka dua. Sean menipiskan bibirnya lalu menatap papa Irine tajam.


"Apakah anda tahu siapa mereka?" Sean bertanya dengan intonasi datar tanpa emosi.


"Tentu saja, mereka hanya anak-anak nakal yang sedang mendekati putri saya. Saya sebagai orang tua tentu akan melindungi puteri semata wayang saya dari anak-anak seperti mereka bukan?" Ucap papa Irine dengan tersenyum bangga. Ia yakin jawabannya begitu mengena dan tepat sasaran.


Sean melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu dan berjalan mendekati Ahsan dan Al yang masih tertunduk dan mengabaikan tuan rumah. Ia menepuk bahu Ahsan dan mempertahankan posisi tangannya di bahu adik iparnya itu hingga membuat Ahsan menengadah melihatnya.


"Mereka berdua yang kau anggap sebagai anak-anak nakal dan berusaha mendekati putri semata wayangmu adalah ...saudaraku."


\=》 Bersambung...


updatenya kemalaman yahh... hahaha.. author baru sempet nih 🙈🙈

__ADS_1


tetep tinggalin jejak cantiknya yaa 😘😘


__ADS_2