
Salwa sedang mematut dirinya di cermin, wajahnya terlihat merona mengingat bagaimana Sean mengajarinya hal lain dalam berhubungan suami istri dan tentunya hal itu menjadi pengalaman pertama bagi Salwa. Sean menuntunnya untuk menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang selama ini tidak pernah Salwa lakukan.
Dan saat ini ia sedang melihat pantulan suaminya yang masih berbalut handuk dengan sisa air yang menetes segar di dagunya.
Sean menghampiri Salwa yang masih terduduk malu di meja riasnya, pagi ini perasaan mereka berdua bercampur aduk, ada rasa bahagia setelah apa yang mereka lakukan tadi malam begitu membekas diingatan hingga senyum mereka berdua tak kunjung pudar. Namun ada juga rasa sedih menghampiri mengingat hari ini Sean akan meninggalkan istrinya itu seorang diri.
Sean merangkul istrinya itu dari belakang, mengendus aroma segar wangi sabun yang menyenangkan dari tubuh Salwa.
"Rasanya mas tidak akan sanggup jika harus berjauhan denganmu," bisik Sean lirih. Sepertinya apa yang mereka lakukan tadi malam belum cukup sebagai bekal rindu yang akan mereka lewati setelah ini.
Jarak negeri yang terkenal dengan daun maple itu tentulah sangat jauh dari tempatnya saat ini. Hal itu membuat Sean dilema saja. Tetapi tekatnya untuk menyelesaikan semua masalahnya yang bisa mengganggu kehidupannya kelak harus ia selesaikan segera.
Salwa memejamkan matanya saat Sean mencumbui bagian lehernya, pasti setelah ini ia sangat merindukan kebersamaan mereka seperti saat ini.
"Mas, apakah nanti kau akan sering menghubungiku?" Tanya Salwa memastikan, ia tidak ingin hidup dengan penantian yang tak berujung dan tanpa adanya kabar.
"Tentu saja, mungkin kau akan mengomel padaku karena merasa terganggu disebabkan begitu seringnya ponselmu berbunyi oleh panggilanku."
Salwa terkekeh, ia memukul perlahan lengan suaminya itu. "Aku tidak akan mengomel, hanya saja aku akan memarahimu supaya kau takut jika tidak segera kembali pulang."
Sean menundukkan wajahnya, ia tersenyum getir dengan perasaan yang tidak menentu. Ia ingin masalahnya segera berakhir, namun orang-orang yang akan dihadapinya kali ini lebih licik dan pastinya Sean harus lebih berhati-hati.
"Doakan suamimu ini agar bisa kembali secepatnya." Salwa mengangguk dan mengamini ucapan Sean. Berharap segala masalah akan cepat berakhir dan bisa hidup aman bersama keluarga kecilnya.
__ADS_1
Salwa membantu Sean mengenakan kemejanya, ia kembali tersipu saat melihat bekas kemerahan di sekitar leher Sean. Salwa menegakkan kerah kemeja Sean agar bekas kemerahan itu tidak terlihat.
"Hey, kenapa begini?" Sean membenarkan kembali kerah kemeja yang dipakaikan Salwa sehingga tanda kemerahan di lehernya terlihat jelas.
"Ih... jangan. Ditutup saja!" Ucap Salwa yang kembali menegakkan kemeja Sean. Sean mengerutkan keningnya, tidak biasanya Salwa mempermasalahkan kerah kemejanya. Sean memeriksa tampilannya di cermin , barulah ia menyadari di sekitar lehernya terdapat bekas cupangan yang kemarin sempat ia ajarkan kepada Salwa supaya istrinya itu melakukannya di lehernya.
Sean mengulas senyum, ia menegakkan badannya sambil menata ulang kerah kemejanya.
"Kenapa harus di tutup, mas justru ingin menunjukkan tanda ini ke semua orang." Sean berucap dengan nada sedikit menggoda, membuat Salwa semakin salah tingkah saja.
"Jangan mas, pasti mereka yang melihat akan beranggapan yang tidak-tidak." Salwa memrotes perkataan Sean sambil mencari syal yang ada di almari Sean. Ia merasa malu kepada kedua orang adik angkatnya itu jika melihat tanda yang ia tinggalkan di leher Sean, pastilah mereka mengira bahwa Salwa ternyata begitu agresif di ranjang.
Sean terkekeh saat melihat Salwa mengambilkan syal untuk dikenakan di lehernya. Istrinya itu memang sangat pemalu membuat Sean semakin gemas saja.
"Mas gak mau memakainya." Sean menahan senyum saat mengatakannya, karena ia yakin Salwa pasti akan mencari cara lain agar bisa menutupi tanda itu.
"Ayo turun, pasti Leon dan Abust sudah menunggu di meja makan." Sean menarik lengan Salwa agar segera mengikutinya keluar dari kamar mereka.
"Bos, apakah kau yakin akan pergi seorang diri?" Saat ini Sean, Salwa, Abust dan Leon sedang menikmati sarapan paginya. Abust bertanya dengan sedikit khawatir. Bagaimanapun orang-orang yang akan Sean temui adalah orang asing , dan Sean seharusnya tidak boleh kesana seorang diri.
"Aku sudah memutuskannya," jawab Sean kemudian. Sebenarnya dalam hati baru kali ini ia merasa gelisah saat bepergian jauh, mungkin karena ia akan berpisah dengan istrinya itu sehingga membuat batinnya tidak rela.
"Lalu kakak ipar, siapa yang menjaganya?" Tanya Abust lagi.
__ADS_1
"Salwa akan aman disini, kau tidak perlu mengkhawatirkannya."
"Tidak, sebaiknya harus ada yang menjaganya. Atau kau bisa memintaku untuk tetap tinggal disini guna menjaga kakak ipar." Abust berkata seolah ia sangat dibutuhkan, ya mungkin jika Sean mengijinkan itu pasti akan sangat menyenangkan baginya.
"Jangan mengharap hal yang tidak mungkin, kembali saja ke tempat asalmu," tukas Sean dengan tegas. Mana mungkin Sean membiarkan Abust itu berduan dengan istrinya sementara ia tidak ada di rumah. Sean sudah meminta keluarga Salwa terutama adik-adiknya yang laki-laki untuk menginap di rumahnya agar Salwa tidak merasa kesepian.
"Aku hanya menawarkan bantuan, kau tidak perlu mengusir seperti itu."
"Aku akan baik-baik saja, tidak ada yang perlu dicemaskan." Salwa menengahi perseteruan kedua orang kakak beradik itu dengan mengulas senyumnya. Ia merasa beruntung banyak orang yang menyayanginya, tetapi dalam hati tetap saja ia merasa sedih karena akan ditinggal oleh suaminya selama beberapa waktu ke depan.
Sean sudah bersiap untuk pergi, begitu juga dengan Leon dan Abust.
"Mas pergi, jaga dirimu baik-baik, jangan nakal jika di kampus, ingat mas akan selalu mengawasimu," ucap Sean sambil memegang kedua tangan Salwa.
Salwa terkekeh, masih saja Sean mengultimatum dirinya, padahal saat ini yang dipikirkan Salwa hanyalah Sean saja tidak ada yang lain. Bulir air mata Salwa tak terasa terjatuh meskipun bibirnya masih menyunggingkan senyum. Ia memeluk suaminya itu sebelum akhirnya mereka berpisah.
"Aku akan sangat merindukanmu," ucapnya lirih. Sean mengeratkan pelukannya, mencium wajah dan bibir istrinya untuk terakhir kali sebelum dirinya berangkat.
"Jangan menangis, mas akan cepat kembali."
Sean mengusap air mata Salwa yang mulai membanjiri wajahnya dengan kedua ibu jarinya. Sebelum ia melangkahkan kaki keluar dari rumah, ia kecup kening Salwa lalu berpamitan.
Salwa melambaikan tangannya di depan pintu sampai akhirnya mobil suaminya itu menghilang di luar gerbang rumahnya.
__ADS_1
》lanjut....
Tinggalin jejak .. hihihi 🤭🤭