
Tubuh Salwa menegang dengan wajah memucat saat perkataan Sean tanpa sengaja ia dengar dari dalam mobil. Tangannya yang menggendong baby Kinan terasa bergetar. Kenangan buruk tentang lelaki itu masih terpatry dengan jelas di ingatan Salwa.
Anders lelaki yang tidak punya rasa belas kasihan kepada siapapun, bahkan kepada wanita hamil yang sudah tidak berdaya. Lelaki itu dengan kejam menjebak Salwa yang tengah hamil tua, membawanya ke ruangan kosong yang pengap dengan membayar dua orang berandal untuk memaksakan kehendaknya kepada Salwa. Tragedi yang sangat memilukan itu membuat Salwa harus merelakan buah hatinya untuk dijemput Tuhan terlebih dahulu. Lelaki itu juga yang telah membuat Sean celaka hingga ia harus di rawat di rumah sakit dengan kondisi kritis.
Anders dengan segala kelicikannya meledakkan jet pribadi yang tengah di tumpangi Sean dan Salwa hingga mereka harus terjebak di pulau misterius yang terisolasi. Jika saja saat itu mereka tidak beruntung mungkin saat ini Sean dan Salwa hanya tinggal nama.
Wajah tertawa Anders yang terlihat mengerikan terbayang kembali di benak Salwa. Lelaki itu telah kabur dari tahanan dan tentunya ia sekarang mungkin sedang berusaha membalaskan dendamnya kepada Sean, karena telah membawanya berada di balik jeruji besi. Entah bagaimana cara Anders bisa meloloskan diri dari penjara, yang pasti saat ini Sean dan Salwa harus lebih waspada.
.....
Sean mengantar Salwa dan baby Kinan untuk naik ke kamarnya, sementara di bawah sudah menunggu Abust dan Leon. Pelarian Anders yang sangat mengejutkan itu membawa banyak masalah bagi banyak orang. Lelaki itu sesungguhnya tidak terlalu kuat tetapi ia mempunyai sifat licik yang membuat musuh-musuhnya kewalahan menghadapinya.
Ia pandai menyamar dengan berkamuflase mengubah wajahnya dengan topeng-topeng yang entah ia dapatkan darimana. Sean pernah terkecoh dengan menerima seorang yang merupakan suruhan Anders mengenakan topeng berwajah Paman Chou untuk ikut bersamanya dan berhasil meledakkan private jet-nya, sehingga ia harus terjebak di pulau terpencil dan terisolasi. Sean harus waspada, apapun bisa dilakukan seorang lelaki yang licik untuk mencapai tujuannya.
Langkah pertama yang harus Sean lakukan adalah mencari keberadaan Anders sebelum lelaki itu berbuat ulah ataupun menyusun rencana balas dendam. Sean tidak akan mengambil resiko dengan berleha-leha menunggu lelaki itu datang untuk menyerangnya, lebih baik ia melumpuhkannya sebelum sempat ia berpikir untuk bertindak.
Sean memeluk Salwa yang tampak pucat pasi, ia sangat mengerti apa yang dicemaskan istrinya itu. Mereka saat ini bukan menghadapi musuh yang kuat dan menyerang secara terang-terangan dengan segala kekuatan terbaiknya, melainkan melawan seseorang dengan pikiran licik dan picik juga kemampuan bersilat lidah yang mumpuni.
Sesungguhnya, menghadapi lawan yang jelas dan sepadan dengan dirinya dalam adu kekuatan lebih memudahkannya daripada lawan yang seperti Anders. Ia bisa membolak-balikkan emosi seseorang dengan kelicikannya, ia juga mampu membuat orang yang saling mencintai menjadi saling membenci. Sean bahkan pernah hampir kehilangan Salwa karena jebakan Anders yang sangat memalukan itu. Ia membuat Sean kehilangan akal sehatnya dengan meniduri perempuan bayaran Anders di depan mata Salwa.
"Beristirahatlah, semua akan baik-baik saja." ucap Sean menenangkan hati istrinya yang dilanda kecemasan. Salwa mengangguk, berusaha bersikap tenang dan menghilangkan rasa cemas berlebihan yang bergelayut di pikirannya, tetapi semua itu rasanya sia-sia.
"Mas, kita akan selalu bersama-sama bukan? Tidak akan ada yang bisa mencelakai Kinan bukan?" Salwa berucap dengan gemetar, wajahnya diliputi kecemasan yang begitu ketara. Pengalaman pahitnya yang pernah ia lalui membuat Salwa merasakan takut yang berlebihan, apalagi saat ini sudah ada baby Kinan bersama mereka yang sangat membutuhkan perlindungan dari ancaman Anders sialan itu.
Sean mengangguk, lalu tersenyum penuh ironi. Jika saja ia bisa membuat Salwa lebih tenang saat ini tentu akan ia lakukan. Tetapi untuk sementara Sean hanya bisa memberikan kepastian bahwa Salwa dan Kinan akan baik-baik saja. Tekadnya mencari Anders, menaklukan lelaki itu sebelum ia mencelakai seseorang sudah bulat. Sean akan memulai rencananya secepat mungkin.
.....
Sean membuka peta digital di ruang kerja Abust yang diperbesar menggunakan proyektor. Mereka mengadakan rapat dadakan seperti sedang dalam melakukan penyergapan rahasia. Mungkin saat ini pihak berwajib sedang berupaya melakukan pencarian Anders dan memasukkan lelaki itu dalam daftar pencarian orang berstatus kriminal. Tetapi tentu saja Sean tidak akan tinggal diam, ia harus bertindak cepat, karena nyawa Salwa dan anaknya mungkin dalam bahaya. Bukan hanya itu, bisa jadi Anders sedang mengincar nyawa Sean sendiri.
"Kita akan melakukan penyisiran , semua tempat di mana markas-markas penjahat bersembunyi akan kita telusuri satu per satu." Sean menunjukkan beberapa wilayah yang selama ini diketahuinya sebagai sarang para mafia bertemu. Tidak lupa juga ia menjelaskan siapa dan apa yang menjadi titik lemah ataupun kekuatan dari orang-orang yang sedang mereka hadapi.
"Apakah kau masih akan meminta Fang Yi ikut dalam misi ini? Melihat bagaimana dirinya membantuku mencari Catherine aku yakin dia akan sangat berguna." ucap Abust memberi masukan kepada Sean, karena ia yakin Fang Yi bisa lebih diandalkan melihat sepak terjangnya selama ini di dunia bawah tanah daripada mereka berdua.
"Fang Yi? Cih, aku berharap tidak akan bertemu dengan perempuan bar-bar itu!" Leon mendengkus saat mendengar nama Fang Yi disebut, pertemuan mereka yang tidak mengenakkan membuat Leon enggan untuk bertemu dengan Fang Yi sekali lagi. Ia akan merasa tekanan darahnya meninggi jika harus bertemu dan berinteraksi dengan perempuan itu lagi.
"Jangan terlalu membenci seseorang Leon. Kau mungkin suatu saat berbalik arah mengejar-ngejar Fang Yi karena begitu menginginkannya." Abust kembali mengatakn statement yang membuat Leon hanya bisa memutar bola matanya malas.
"Aku akan memintanya bergabung. Dan seseorang yang akan sangat membantu." Sean berucap dengan tatapan tajam penuh arti dengan mengepalkan tangannya.
.....
Di ruangan gelap yang tampak luas, beberapa orang sedang berkumpul mengadakan sebuah pertemuan rahasia. Ruangan itu seperti dibiarkan kotor dengan bau pengap menyelimuti, sarang laba-laba dibiarkan begitu saja tanpa berniat ingin membersihkan. Padahal di tempat itu berkumpullah manusia-manusia bertubuh sehat dengan wajah yang penuh dengan tanda tato ataupun bekas luka. Mereka bernaung dalam satu tempat yang tidak layak dengan beralaskan tikar lusuh yang entah sudah berapa puluh tahun dipakai tanpa berniat menggantinya.
Di tempat yang minim pencahayaan itu terdapat satu ruangan khusus yang kondisinya sangat bertolak belakang dengan kondisi di sekitarnya. Ruangan itu begitu terang, tertata rapi berbagai jenis penelitian dengan tabung-tabung dan pipa-pipa kaca yang saat ini sedang dialiri oleh zat-zat kimiawi yang entah apa itu. Tampak seseorang sedang mengendus aroma hasil penelitiannya lalu meneteskannya di suatu cawan bening yang sudah diberikan cairan khusus berwarna merah terang beraroma pekat. Seorang misterius itu mencampurkannya menggunakan stick khusus lalu menggoyang-goyangkan perlahan hingga cairan itu tercampur dengan satu dan lainnya. Wajahnya menyeringai setelah apa yang dilakukannya sudah dalam tahap hampir selesai.
"Bawa dia kemari!" perintahnya dengan nada kejam tak terbantahkan.
Seseorang laki-laki yang berada di balik ruangan lain dalam kondisi terikat kuat diseret dengan paksa menemui lelaki misterius itu. Lelaki malang itu berlutut , mengiba meminta dibebaskan dengan memohon ampun kepada lelaki misterius itu. Tetapi hanya seringai mengerikan yang muncul daro bibirnya. Ia menyedot cairan hasil penelitiannya itu di sebuah tabung suntik dengan dosis tertentu lalu menjentikkan jari-jarinya ke tabung tersebut.
"Pegangi dia!"perintahnya lagi yang langsung membuat wajah lelaki malang itu memucat, wajahnya memancarkan ketakutan dengan beringsut menjauh sebisanya, namun ia terhenti karena ada tubuh lain yang menghadangnya dari belakang. Lelaki malang itu diseret kembali oleh dua orang berbadan tegap yang wajahnya penuh dengan gambar aneh yang menakutkan.
"Jangan takut, ini tidak akan sakit. Hanya seperti digigit serangga." Lelaki itu dengan cekatan menusukkan jarum suntik itu ke lengan lelaki malang yang sudah tidak berdaya di bawah kendalinya, memindahkan seluruh cairan di tabung suntik itu ke dalam tubuh manusia malang tersebut.
"Lepaskan pengikatnya, aku ingin tahu reaksinya!"
Lelaki malang itu tampak limbung setelah semua cairan terserap ke dalam tubuhnya, namun di detik berikutnya tubuh lelaki itu menegang kaku, hawa panas merasuk di sekujur tubuh membuat lelaki itu tidak tahan dengan pakaian yang menempel di permukaan kulitnya. Dengan paksa ia merobek pakaiannya dengan melepaskan satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya hingga kini lelaki itu nyaris telajang.
Pria itu mengerang kesakitan yang luar biasa, wajahnya merah padam dengan mata melotot seperti menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Cairan suntikan itu berhasil merangsang hormon seksualnya meningkat berkali-kali lipat, hal itu membuat dirinya memukul-mukul kepalanya sendiri karena tidak menemukan pelampiasan di tempat itu.
__ADS_1
Lelaki itu kembali mengerang, seolah kesakitan yang tak berkesudahan kembali menghantam dirinya. Kondisinya sangat menyedihkan, dengan tubuh telanjang ia menggosokkan alat kelaminnya di dinding untuk menuntaskan hasrat yang begitu besar. Kepalanya berdenyut dengan kuat mengakibatkan rasa pusing yang teramat sangat. Erangan kembali terdengar dan makin lama makin keras, lelaki itu mencengkram rambutnya lalu menariknya untuk menghilangkan rasa sakit yang berdentum di kepalanya.
Pria misterius itu menyeringai, "Bawa lelaki menjijikkan itu pergi! Habisi saja dia, aku ingin muntah melihat tingkahnya." Bak perintah tirani, dua orang bertubuh besar datang lalu bergegas menyeret lelaki malang itu dengan paksa keluar dari ruang penelitian. Dengan kejam mereka mengeksekusi lelaki malang tak berdaya itu di tempat lain yang sudah mereka sediakan.
"Bagaimana menurutmu?" tanya pria misterius itu kepada rekannya.
"Sempurna. Kita bisa menggunakan dosis lebih tinggi untuk menyiksa musuhku, agar dia tahu siapa yang tengah dihadapinya."
"Apa kau ingin membunuhnya?" tanyanya lagi setelah mendengar permintaan temannya untuk menambah dosis yang telah ia tentukan.
Lelaki itu menipiskan bibirnya, lalu berjalan mendekat ke arah pria misterius yang masih membawa alat suntik. Sorot matanya memancarkan dendam yang begitu dalam, dengan tangan terkepal dan raut muka serius, lelaki itu berucap, "Aku ingin dia mati dalam kondisi yang menjijikkan."
.....
Pengumuman Terselubung 📣📣
.....
Haloo pembaca setia The Recovery Of Love, Karena musim ke dua ini akan segera berakhir author mau ngasih pengumuman 😁.
Novel musim ke dua akan tamat insya Allah dikebut sampai akhir Desember, author berencana menabung episode dulu seperti yang sebelum-sebelumnya sampai konflik semua selesai, jadi biar gak menggantung ceritanya 😄.
Ekstra Chapter akan diberikan setelah novel statusnya udah tamat ya, yang berarti kisah Sean dan Salwa udah selesai. Nanti akan ada musim ke tiga tetapi bukan Sean dan Salwa yang jadi prioritas melainkan Kisah cinta Yang Pou Han dan Nindy. Bagi nanti yang kangen sama Sean dan Salwa akan diselipkan sedikit di sana karena mereka masih ada hubungannya.
\=》Eh, kok udah mau tamat aja thor? Lalu kapan kisah Yang Pou Han dan Nindy mulai rilis?
Awal tahun baru Author ada project novel baru yang berjudul K.O.M.A , sebelumnya udah pernah author promoin di grup FB Noveltoon, mungkin ada yang sempat baca, heheheh 😁.
Mengingat di NT ini kebanyakan mengangkat masalah Perjodohan, nikah paksa, Ceo, mafia-mafiaan, istri yang menderita dll yang merupakan jadi favorit pembaca di sini, jadi author ingin mengangkat tema yang berbeda yang insya Allah belum ada kemiripan dengan judul-judul lain yang sejenis 😊.
Okey, ini ada promosi terselubung juga untuk project yang akan datang. Semoga cocok dengan cerita yang author bikin 😄😊.
Bab : 2 (Nona Trotoar)
Peringatan ini bukan cerita hantu ya...
.....
Hari sudah menjelang malam, namun hujan tidak juga kunjung berhenti, membuat opsir Zack menungguinya hingga reda. Jam sudah menunjukkan melewati waktu pulang, tetapi ia masih setia menatap langit dari balik jendela kaca ruang kerjanya.
Sambil menyesap secangkir kopi panas ia kembali membaca kasus-kasus yang belum selesai ia tangani. Suara petir kembali bersautan dan angin kencang sepertinya berhembus tak mau kalah. Kemungkinan hujan ini akan berlangsung lebih lama.
Opsir Zack memutuskan untuk merebahkan sejenak tubuhnya di atas sofa empuk yang ada di sisi ruangan untuk melepas penat yang sedari tadi sudah bergelayut di sekujur tubuhnya. Tanpa ia sadari kantuk mulai menyerang sehingga ia tidak mampu menahan diri untuk tidak memejamkan mata sampai ia tertidur lelap.
.....
"Pak, hujan sudah reda. Apakah Bapak akan pulang sekarang?" Seorang anak buahnya membangunkan opsir itu, dibukalah matanya yang terasa sangat berat. Ia memutar-mutar lehernya dari kiri ke kanan dan sebaliknya berulang kali untuk melemaskan otot-ototnya yang terasa kaku.
Zack melirik ke arah jam tangannya, sudah hampir pukul sepuluh malam. Ia ternyata tertidur cukup lama sehingga tidak menyadari waktu telah berjalan secepat itu.
"Aku akan pulang, terimakasih telah membangunkanku," lelaki itu menampilkan wajah lelah tetapi masih bersikap tegas seperti biasanya.
Zack menengadah saat sudah berada di luar kantor ruangan kerjanya menatap langit-langit yang menggelap, tetapi bintang-bintang sudah mulai bermunculan. Sepertinya hujan deras tadi sudah mengikis awan gelap yang terlihat menakutkan sehingga saat ini hamparan bintang yang bertabur di sekitar bulan sabit membuat langit sedikit cerah.
Zack mengendarai motor 400 cc-nya dengan kecepatan konstan menembus jalan raya yang saat ini tidak terlalu padat. Ia membelokkan motornya ke sebuah minimarket di pinggir jalan mengingat tadi ia belum sempat makan malam. Zack ingin membeli roti isi dengan susu hangat yang biasanya disediakan di minimarket tersebut.
Dari kejauhan ia melihat seorang gadis sedang duduk di pinggiran trotoar sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Gadis berambut panjang dengan mengenakan dress selutut tanpa lengan itu tampak sedang menangis seorang diri.
Zack menatap gadis itu dari kejauhan, ia seorang opsir, pastinya ia ingin tahu apa yang membuat gadis itu terlihat sedih seorang diri tanpa ada yang menemani. Apakah gadis itu salah satu korban perkosaan yang mana malam hari biasanya ada preman jalanan yang mencari mangsa, sehingga gadis itu yang tanpa perlindungan menjadi korbannya.
__ADS_1
Zack memutuskan untuk masuk ke minimarket tersebut guna membeli dua buah roti isi dan dua gelas minuman hangat . Setelah melakukan pembayaran menggunakan debit cardnya, Zack berjalan menghampiri gadis trotoar itu dan meninggalkan motornya di parkiran minimarket.
"Nona, minumlah," Zack menyodorkan satu gelas minuman yang masih hangat itu ke depan gadis trotoar yang masih menunduk. Gadis itu tampak bergeming, ia hanya menangis tanpa mempedulikan Zack yang sedang menawarkan minuman untuknya.
Zack menghembuskan napasnya dengan kasar, sepertinya gadis ini tidak bisa diajak bicara dengan cara halus, mungkin ia harus lebih tegas untuk membujuk nona trotoar itu agar memperhatikannya.
"Nona, berhentilah menangis dan dengarkan aku," Zack menaikkan intonasi suaranya yang membuat gadis itu mendongak terkejut. Bukannya menjawab atau memusatkan perhatiannya pada Zack, gadis itu justru menoleh ke kanan dan ke kiri seperti orang yang sedang kebingungan.
"Nona, siapa yang kau cari. Aku ada disini sedang berbicara padamu," ucap Zack lagi dengan sedikit kesal karena merasa diabaikan.
Wajah gadis itu nampak sedikit pucat, mungkin karena terlalu lama menangis, apalagi hari sudah malam dan ia hanya mengenakan dress pendek yang tipis tanpa mengenakan alas kaki. Zack beransumsi bahwa gadis itu sedang sakit, atau kondisi tubuhnya sedang tidak sehat dan kedinginan.
Gadis itu menatap Zack dengan heran, ia melambaikan tangannya ke kanan dan ke kiri di depan wajah Zack.
"Kau berbicara denganku tuan?" Suara gadis itu terdengar serak tetapi terasa halus dan samar namun Zack masih bisa dengan jelas mendengarnya.
"Nona, hanya kau yang ada di sini bersama ku. Apa menurutmu aku sudah gila berbicara dengan tiang listrik di sampingmu," Zack menggelengkan kepalanya, ia tidak mengira berbicara dengan seorang gadis trotoar di depannya itu terasa menjengkelkan.
Sorot mata gadis itu terlihat kosong tetapi seolah tatapannya langsung menembus ke kedalaman mata Zack. Zack sempat terhipnotis beberapa detik dengan aura yang dipancarkan gadis itu, namun di detik berikutnya ia tersadar.
"Apa kau bisa melihat ku?" Gadis itu kembali bertanya dengan pertanyaan yang sepertinya tidak membutuhkan jawaban.
"Nona apakah kau hantu?"
Gadis itu menggeleng kuat-kuat "Tentu saja bukan, aku masih hidup."
Zack tergelak mendengar jawaban gadis itu, biasanya seseorang yang disebut hantu pasti akan marah dan menjawab, "Tentu saja aku manusia," tetapi gadis di depannya ini menjawab bahwa dirinya masih hidup.
"Nona jika kau bukan hantu, tentu saja aku bisa melihatmu." Zack menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan cepat. Sorot matanya kembali dingin dan tegas.
"Aku seorang opsir polisi, sangat berbahaya gadis seperti mu berada di tepi jalan malam-malam seperti ini seorang diri. Kau bisa memberikan peluang seseorang berbuat buruk kepadamu. Sebaiknya kau cepat pulang."Zack memperingati gadis itu supaya segera kembali ke rumahnya. Tetapi gadis itu justru mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan si opsir.
"Nayla Shair," gadis itu memperkenalkan dirinya tanpa diminta. Zack dengan malas menyambut uluran tangan gadis itu karena tidak sopan membiarkan tangan seorang wanita terlalu lama mengapung di udara hanya untuk menunggu berjabatan tangan dengannya.
"Zack Abraham, panggil saja Zack."
Wajah gadis itu berubah semakin takjub, bukan dengan nama Zack, tetapi ketakjubannya hanya tertuju pada tangan Zack yang menjabat tangannya.
"Kau... kau bisa menyentuhku," ucap gadis itu terheran-heran.
"Maaf, kau yang menjabat tanganku duluan." Zack segera menurunkan tangannya karena merasa tidak sopan jika bersalaman dengan tangan seorang gadis terlalu lama.
"Tidak, bukan itu maksudku.... kau bisa melihatku dan menyentuhku?" Gadis itu menatap Zack seolah tak percaya. Zack mengerutkan alisnya, bagaimana ia bisa bertemu dengan gadis aneh seperti itu, apakah gadis ini kelainan jiwa dan mungkin saat ini ia tengah melarikan diri dari perawatannya di rumah sakit jiwa.
"Nona, sebaiknya kau segera pulang, bicaramu semakin ngawur saja. Aku akan mengantarmu." Zack menarik lengan Nayla supaya cepat pergi dari tempat itu karena hari sudah sangat larut, dan dirinya juga sudah terlalu lelah ingin segera pulang dan mengistirahatkan tubuhnya.
"Zack... tunggu," gadis itu menarik lengannya kasar. "Orang-orang akan menganggapmu gila jika menarik tanganku seperti ini."
Zack melihat beberapa orang yang kebetulan lewat melihatnya sedikit aneh, lalu berlalu begitu saja. Zack tidak menghiraukannya dan terus menarik lengan gadis itu agar ikut dengannya menuju parkiran motornya.
Tanpa sengaja Zack menatap kaca spion motornya yang ia parkirkan di depan minimarket. Ia menatap sekali lagi, dan hal itu membuatnya tak percaya. Ia kembali membelalakkan matanya setelah beberapa kali ia kucek kedua matanya itu dengan jari telunjuk untuk menatap pantulan dirinya di kaca spion motor.
Bayangan gadis yang ia tarik lengannya itu sama sekali tidak tertangkap di kaca spion dan tangannya sendiri terlihat mengapung di udara tanpa ada sesuatu pun yang ia sentuh bahkan ia tarik.
Zack menipiskan bibirnya, menelan ludah. Ia sering mengatakan bahwa hantu itu tidak ada, omong kosong, namun saat ini sepertinya ia harus menarik kembali perkataannya itu. Perlahan ia menoleh ke belakang memastikan gadis yang sedang ia pertahankan tangannya masih ada di tempat.
Gadis itu tersenyum dengan memperlihatkan gigi-giginya dan berhasil membuat Zack merinding. Ia belum pernah melihat hantu, tetapi kali ini... di depannya seorang gadis yang fisiknya tidak bisa di tangkap oleh cermin, apakah ini bisa disebut dengan hantu?
__ADS_1