
"Sean siapa laki-laki itu?" Tanya Leon yang baru saja tiba bersama Abust dari urusan bisnisnya.
"Bukan urusanmu," ucap Sean lalu berlalu meninggalkan kedua pria itu yang masih curiga dengan apa yang baru saja mereka lihat.
"Tunggu!" Abust menghentikan Sean yang akan menaiki tangga.
"Mungkin hari ini aku dan Leon terakhir menginap di rumahmu, karena besok pagi kami akan kembali," ucap Abust kemudian. Sean menoleh ke arah Abust dan Leon, walaupun suasana hatinya sedang kacau tetapi tetap saja ia masih bisa tersenyum.
"Baguslah kalau urusan kalian sudah selesai, makin cepat kalian kembali makin bagus," jawab Sean dengan menepuk-nepuk bahu Abust lalu kembali melangkah mebaiki tangga untyk menyusul Salwa.
Sean memasuki kamarnya yang terlihat masih menyala terang, ia melihat ke arah ranjang dan mendapati istrinya itu tengkurap dengan wajah yang terbenam di atas bantal. Ia yakin saat ini Salwa masih menangis karena sakit hati atas perilaku Sean yang kasar sebelumnya.
Sean berbaring miring di sisi ranjang yang kosong, tangannya membelai rambut panjang istrinya itu sambil sesekali mencium ujung rambut Salwa yang masih tercium wangi bunga lavender. Salwa sama sekali tidak mau melihat Sean saat ini, perempuan itu tetap di posisi yang sama dengan wajah terbenam di atas bantal. Mungkin istrinya itu masih marah kepadanya.
Sean dengan perlahan membalikkan tubuh Salwa agar menghadapnya. Dan ternyata istrinya itu tengah tertidur karena terlalu lelah menangis. Sean melihat bantal yang Salwa gunakan untuk menutup wajahnya basah karena air mata yang sengaja ia sembunyikan. Sean tersenyum simpul melihat wajah istrinya yang terlihat polos tanpa perlawanan itu. Ia mengusap bekas air mata Salwa yang hampir mengering.
Tanpa disadari Salwa melingkarkan tangannya memeluk Sean sambil membenamkan wajahnya di dada suaminya itu. Mungkin keberuntungan sedang berpihak pada Sean, di saat marah pun Salwa masih tidur dengan memeluknya seperti kebiasaannya setiap hari.
Sean mengangkat dagu Salwa hingga perempuan itu mendongakkan wajahnya. Diciuminya wajah istrinya itu sebagai tanda perminta maafannya. Salwa yang tertidur pun merasa terusik hingga matanya sedikit terbuka.
"Mas..., apa aku tertidur?" Tanya Salwa dengan suara sedikit serak. Sean mengangguk sambil menghadiahi kecupan di kening Salwa.
"Mas... aku..."
Ssttttt, Sean menempelkan jari telunjuk di bibir istrinya itu. Tangan kirinya menangkup pipi Salwa lalu mengusapnya perlahan.
"Maaf, mas tidak bermaksud membentakmu. Kau pasti sangat terluka bukan?" Tanya Sean lembut yang diikuti oleh anggukan Salwa.
__ADS_1
"Aku tidak ada hubungan dengan pria itu mas, aku sama sekali tidak mengenalnya. Kau percaya bukan, kau tidak menuduhku menghianatimu kan?"
Sean mengangguk lalu membelai rambut panjang Salwa lagi. "Mas sudah tahu semuanya, maaf sudah mencurigaimu sebelumnya."
"Pria itu bilang bahwa ingin bertemu denganmu karena menyampaikan kabar ayah kandungmu, jadi aku mengajaknya ke rumah." Salwa mencoba menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya kepada Sean, ia tidak ingin terjadi kesalah pahaman yang membuat retaknya hubungan rumah tangga mereka.
"Mas tahu, untuk itu mas ingin membicarakan sesuatu kepadamu." Sean menegakkan punggungnya dari posisi berbaring menjadi duduk dengan bersandar di kepala ranjang dan begitu juga dengan Salwa yang melakukan hal yang sama.
"Laki-laki itu mengatakan bahwa ayah kandungku sedang kritis dan ingin bertemu denganku. Apa menurutmu aku harus menemuinya untuk yang pertama dan terakhir kali?"
Salwa terkesiap mendengar penuturan Sean, baru kali ini Sean meminta pendapatnya untuk melakukan sesuatu, hati Salwa menghangat merasa dihargai pendapatnya sebagai seorang istri.
Salwa menangkup tangan Sean dengan kedua tangannya. Ia menyunggingkan senyumnya dengan tulus.
"Datanglah, temui dia. Bagaimanapun seseorang berhak atas satu kesempatan, dan mungkin kesempatan ini tidak akan terulang lagi di kemudian hari."
"Tetapi mas akan menemuinya seorang diri, dan meninggalkan mu di sini."
"Apa..." Salwa menatap netra biru suaminya itu dengan penuh pertanyaan. Sean menangkup wajah istrinya itu lalu menciumnya beberapa kali.
"Sayang dengarkan, saat ini banyak yang mengincar nyawa mas dan nyawa orang-orang yang mas kasihi, untuk itu selama mas tidak di sampingmu berjanjilah tidak memberi tahu siapapun tentang hubungan kita baik itu teman-temanmu atau siapapun, selama hubungan kita menjadi rahasia kau akan tetap aman dari incaran musuh-musuhku."
Salwa menunduk, ia sedikit kecewa. Bagaimana mungkin Sean menginginkan agar hubungannya menjadi sebuah rahasia yang tidak boleh diketahui oleh siapapun. Pernikahan yang dirahasiakan pastilah akan menyakitkan kedepannya.
"Sayang..." Sean menegur istrinya itu yang masih termenung dengan pikiran-pikirannya sendiri.
"Kapan mas akan berangkat?" Tanya Salwa kemudian dengan menatap wajah Sean kembali.
__ADS_1
"Besok pagi."
"Secepat itu?" Mata Salwa terasa panas, tanpa ia sadari bulir air mata jatuh dari pelupuk matanya dan terdengar sedikit senggukan yang keluar dari mulutnya.
Sean merangkuh tubuh Salwa lalu memeluknya dengan erat, ia tahu itu berat tetapi ia ingin segera menyelesaikan semuanya agar bisa hidup damai bersama istri dan anak-anaknya kelak.
"Selama mereka tahu bahwa paman mempunyai anak dan masih hidup dan surat wasiat itu belum mendapatkan ahli warisnya maka jangan harap hidupmu akan tenang dimanapun kau tinggal" perkataan Marcus terus terngiang di telinga Sean membuatnya semakin gelisah saja. Bukan harta ayah kandungnya yang ia inginkan, ia hanya ingin menyelesaikan segala pertikaian yang bisa mengganggu ketentraman hidupnya dan keluarga kecilnya nanti.
"Aku... aku akan sangat merindukanmu," ucap salwa lirih sambil menyeka air matanya.
"Mas juga akan sangat-sangat merindukanmu." Sean mengecup berkali-kali pucuk kepala istrinya itu sambil mendekap tubuh Salwa semakin erat. Ia bisa merasakan bagaimana tubuh Salwa sedikit bergetar menahan tangisnya agar tidak pecah. Sampailah saat Salwa sudah mulai bisa menguasai dirinya.
"Mas... apa kau bisa... melakukan itu sekarang?" Pinta Salwa dengan ragu-ragu. Sean cukup terkejut dengan permintaan Salwa, ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia mengendorkan pelukannya, menatap wajah istrinya itu lekat-lekat.
"Apa.... coba katakan sekali lagi!" Bukan tidak mendengar hanya Sean tidak ingin salah pengertian. Dengan wajah bersemu merah Salwa kembali mengatakannya.
"Apa... mas mau... melakukan itu malam ini?"
Tidak, Sean tidak salah dengar. Istrinya itu meminta bercinta dengannya malam ini. Wajah Sean terlihat cerah dengan sorot mata yang berbinar, baru kali ini Salwa memintanya terlebih dahulu, sebelumnya hanya Sean yang memintanya. Tentu saja Sean merasa bahagia mendengarnya.
"Apa kau yakin?" Tanya Sean memastikan. Dengan malu-malu Salwa mengangguk meyakinkan suaminya bahwa ia menginginkan hal itu malam ini. Ia tahu bahwa Sean akan lama disana, dan malam ini ia ingin menghabiskan dengan memadu kasih, mencurahkan kasih sayang dan cinta mereka sebelum akhirnya mereka berpisah untuk sementara waktu.
"Tentu saja, mungkin mas akan membuat malam ini menjadi malam yang paling panjang hingga kau tidak akan pernah melupakannya," ucap Sean dengan sedikit menggoda.
γMereka ngapain ya setelah ini... Hehehe.. bayangin sendiri saja, author mau bersih-bersih rumah dulu πππ€π€
Tinggalin jejak cantik buat Author ya π€π€π€
__ADS_1