
》cie-cieee... pasti lagi nungguin adegan mantap-mantap yaak.. ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Gak deh.. tar gak dilolos riview lagi, sensor aja yess.. 😄😄✌✌✌🙈🙈
.......
Sean terbangun lebih dulu, karena sebelumnya ia sudah lama tidur di pesawat hingga membuatnya tak mengantuk lagi. Ia menyibakkan selimut tebal yang menutupi tubuh mereka berdua lalu menapakkan kaki telanjangnya di karpet bulu yang membentang menutupi hampir keseluruhan lantai kamarnya.
Sean membungkuk dan menghadiahkan kecupan di kening Salwa yang masih terlelap dalam tidurnya. Sean tidak menyangka istri kecilnya itu ternyata lebih gahar saat mengantuk, bahkan Sean hampir tak mengenali Salwa yang biasanya hanya menurut dengan apapun perlakuan Sean kepadanya saat bercinta, tetapi semalam Salwa justru mendominasi permainan.
Senyum Sean tak kunjung pudar, rasanya rindu yang selama ini terpendam terbayar sudah. Ia cukup puas dengan apa yang mereka lakukan semalam, apalagi melihat bagaimana Salwa memperlakukannya dengan begitu agresif dan tak seperti biasanya. Sepertinya ilmu yang diajarkan Sean sudah terserap sempurna di otak istrinya itu. (Hahhaa... ilmu apa'an coba 😄)
Sean meraih jubah handuk yang tergantung di gantungan baju lalu mengenakannya untuk menutupi tubuh polosnya itu. Ia berniat membersihkan tubuhnya dahulu menggunakan air dingin untuk menghilangkan keinginannya bercinta lagi. Cukup sekali saja, ia tidak ingin membuat Salwa terlalu kecapekan karena ulahnya yang tak bisa mengendalikan diri untuk melakukannya lagi dan lagi.
Pada dasarnya hasrat yang ada dalam diri Sean selalu muncul kapan saja dan dimana saja, asalkan selalu dekat dengan istrinya. Tetapi untuk saat ini, ia harus bersabar. Terlalu memforsir Salwa tentunya tidak baik untuk kehamilannya bukan, Sean akan menunggu dengan Sabar. Sekali sehari itu harusnya sudah cukup untuk menuntaskan kerinduannya dan hasrat yang berkobar dalam dirinya.
Salwa terbangun saat alarm ponselnya berbunyi. Ia mengeliat sebelum akhirnya membuka matanya. Rasanya ia tertidur sudah lama, tetapi seolah baru dua jam saja ia memejamkan mata. Bahkan saat ini sekujur tubuhnya terasa pegal-pegal. Salwa bangun lalu duduk bersila, ia merasa ada yang aneh karena tiba-tiba hawa dingin merasuk ke tubuhnya saat selimut yang membalut tubuhnya melorot sampai ke pinggang.
"Aaaaaarrgghh!" Salwa terkejut mendapati tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun yang menutupinya, ia buru-buru menutup kembali tubuhnya itu menggunakan selimut.
"Selamat pagi." Sean tersenyum sambil menopangkan dagu dengan kedua tangannya sebagai penyangga. Lelaki itu sudah mandi dan mengenakan jubah handuk putih dengan rambut basah berantakan yang belum tersisir rapi. Aroma bunga lavender menguar dari tubuhnya.
Salwa menganga melihat siapa yang berada di sampingnya. Ia mengucek matanya berkali-kali, apa dirinya sedang bermimpi? Tetapi saat ini ia yakin sudah terbangun bahkan ia merasakan sakit saat menepuk-nepuk pipinya sendiri karena takut ini hanya mimpi.
"Mas... kau... tidak mungkin... kau pulang.," ucap Salwa terbata dengan raut muka tak percaya. Bukannya Sean sedang sakit, dan ia masih dalam perawatan medis di rumah sakit Kanada. Bagaimana mungkin saat ini justru sedang berada di sebelahnya dan tersenyum padanya?
Sean pindah duduk di samping Salwa, lalu memegang jemari istrinya itu, membawanya ke bibir lembabnya kemudian memberikan kecupan hangat di buku-buku jari Salwa. Kecupan di tangannya seolah menjadi sengatan mengejutkan bagi Salwa, ia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Sean, suaminya itu sudah pulang. Sean tidak melupakannya.
Melihat Salwa masih terbengong karena kebingungan membuat Sean tidak tega, ia menangkup wajah Salwa lalu mencium dahi istrinya itu. Sean menunduk, menyatukan kening mereka hingga tatapannya lekat ke arah Salwa.
"Mas sudah pulang, untuk mu," ucap Sean lembut dengan menyentuhkan bibirnya ke permukaan bibir Salwa dengan sentuhan seringan bulu.
__ADS_1
Salwa tersenyum, ia bahagia hingga air matanya tiba-tiba menetes. Salwa berhambur memeluk suaminya itu erat, ia sangat rindu. Rindu yang begitu besar hingga ia tak sanggup berkata-kata. Sean membalas pelukan istrinya itu dengan sama eratnya. Ia meletakkan dagunya di atas pucuk kepala Salwa sambil memejamkan matanya. Ia juga sama, sangat-sangat merindukan istrinya itu.
"Mandilah, bersuci.. kita sholat sama-sama!" Salwa mendongakkan wajahnya, masih tidak mengerti dengan perkataan Sean. Tetapi sedetik kemudian ia tersadar bahwa dirinya bangun tidur tadi dalam kondisi telanjang.
"Mas, apa semalam kita...." Sean mengangguk, ia tersenyum kemudian. Bagaimana istrinya itu bisa melupakan adegan panas yang mereka lakukan tadi malam.
"Kau curang, bagaimana kau bisa melakukan itu saat aku tertidur mas!" hemm.. padahal dirinya ingin melakukannya dalam kondisi benar-benar sadar karena ia begitu merindukan suaminya itu.
Sean terkekeh, istrinya itu benar-benar konyol. Tetapi ia harus mengalah, tidak baik berdebat pagi-pagi bukan? Apalagi dengan istri yang hamil muda.
"Sudahlah, ayo mandi sana!" Sean memberi kesempatan Salwa untuk membersihkan diri. Memeluk Salwa dalam kondisi tanpa busana seperti itu sangatlah berbahaya, jadi Sean menjaga diri supaya tidak terbuai dan menginginkan hal itu lagi.
Sean bersandar di headboard ranjang tidurnya sambil memeluk Salwa yang saat ini sedang bersandar di dadanya. Aroma bunga yang menguar dari rambut basah istrinya membuatnya kembali tergoda, tetapi Sean berusaha menahannya. Melepas rindu tidak harus dengan bercinta bukan? Mereka bisa saling berbicara dan bercanda. Ya.. Sean bisa mengalihkan keinginannya yang satu itu dengan mengajak istrinya bercerita dan bersenda gurau.
"Apa kau sudah memeriksanya?" tanya Sean dengan menunjuk tespek-tespek yang dijajar Salwa di atas nakas. Salwa menggeleng, ia terlupa padahal semalam ia sudah tidak sabar ingin mencobanya. Tetapi kedatangan Sean yang tiba-tiba membuatnya terlalu senang hingga melupakan hal yang penting itu.
"Aku... apakah aku benar-benar hamil?" ucap Salwa tidak yakin, ia memang gampang lelah dan sedikit pusing, tetapi ia tidak mual-mual seperti di awal-awal kehamilan yang pertama.
"Kenapa tidak, jika memang belum semalam kita sudah membuatnya lagi bukan? Dan jika belum berhasil juga, kita akan mencobanya lagi dan lagi. Mas akan siap kapanpun kau mau mencoba." Salwa terkekeh dengan memukul dada suaminya itu, bagaimana Sean begitu semangatnya jika membahas masalah ranjang.
Sean mengambil kamera yang tak jauh dari jangkauannya, lalu ia tunjukkan sebuah rekaman kepada Salwa. Ternyata Sean sengaja mengabadikan kejadian tadi malam untuk ia pertunjukkan kepada istrinya itu.
Wajah Salwa memanas dengan semburat rona merah, ia ternganga tak percaya. Bagaimana ia bisa seagresif itu. Video berdurasi hampir tiga puluh menit itu tak sanggup ia tonton semuanya. Ia cukup malu jika melihatnya sampai habis.
"Kenapa dimatikan?" Ucap Sean menggoda. Ia tahu bahwa Salwa saat ini sangat malu. Salwa menggeleng dengan mendorong kamera itu jauh-jauh.
"Udah, hapus aja itu. Kau curang bagaimana aku bisa seperti itu." Salwa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dia bahkan tidak berani menatap suaminya itu.
"Kau tidak perlu malu, mas menyukainya." Sean membuka tangan Salwa yang menutupi wajah istrinya itu, pandangannya tampak teduh dan menghangat. Sean benar-benar bahagia.
"Mana kameranya, mau aku hapus videonya." Salwa berusaha menggapai kamera yang berada di belakang Sean yang tadinya ia dorong menjauh, namun Sean dengan cepat mengambilnya dan mengangkatnya ke atas.
__ADS_1
"Gak boleh, mas akan mengamankannya. Ini buat kenang-kenangan," ucap Sean dengan mempertahankan kamera itu di atas tangannya. Salwa berusaha menggapainya dengan berdiri di atas kasur, tetapi Sean tidak mau kalah. Ia juga ikut berdiri dengan tangan tetap mempertahankan kamera itu di atas.
"Mas, jangan usil. Kesiniin kameranya!" pinta Salwa dengan sedikit memelas membuat Sean terkekeh. Istrinya itu benar-benar lucu.
"Ambil sendiri kalau mau." Sean kembali menggoda Salwa dengan enggan memberikan kameranya itu, sayang sekali bukan, video sebagus itu mau dihapus, itu momen langka yang harus diabadikan keberadaannya.
Salwa tidak kehilangan akal, ia menarik kaki Sean dengan kuat sehingga lelaki itu terperosok dan jatuh di atas kasur, namun ia tidak jatuh seorang diri, karena tiba-tiba Sean menarik Salwa saat dirinya terjatuh hingga Salwa ikut terjerembab di atas tubuhnya.
Sean menggulingkan tubuhnya hingga kini mereka berganti posisi, Sean berada di atas dan Salwa di bawahnya.
"Apa kita bisa memulainya lagi?" ucap Sean menggoda, dengan malu-malu Salwa mengangguk mengiyakan.
Sean menyatukan kening mereka, bagaimanapun juga sedari tadi ia menahan diri untuk menjamah istrinya. Tetapi setelah mendapat lampu hijau dari Salwa tentunya ia merasa berkobar lagi hasrat yang sudah ditaham-tahannya sejak tadi.
"Kau, sangat cantik." Sean berbisik pelan di telinga Salwa membuat istrinya itu melayang berbunga-bunga. Ia mulai mencumbui Salwa dengan begitu rakusnya. Sean sepertinya tidak akan pernah bosan dengan hal yang satu itu. Namun disaat mereka sudah sama-sama bergairah tiba-tiba....
Tok-tok-tok
"Mbak, mbak Salwa belum bangun... ayoo sarapan. Al sama bang Ahsan sudah lapar nungguin mbak keluar."
Salwa mendorong dada suaminya itu yang nafasnya terasa memburu. "Mas adik-adik udah nungguin."
"Biarkan saja." Sean masih setia mencumbui Salwa.
"Mas pintunya kan tidak dikunci, kalau mereka masuk gimana?"
Ssshhttt. Sean sedikit mengumpat. Selalu saja gagal disaat gairah sudah memuncak.
"Mas saja yang bukain." Sean dengan lemas mengenakan kembali pakaiannya, dan Salwa segera menutupi tubuh dan kepalanya dengan selimut. Tidak sempat jika harus mengenakan pakaiannya kembali. Dengan gontai Sean melangkahkan kakinya menuju pintu lalu membukanya.
"Ada apa?" kedua adik Salwa yang melihat Sean yang membukakan pintu terkesiap dengan mulut ternganga.
__ADS_1
"Kak Sean..."
Bersambung....