
Sean sengaja membuat pesta kejutan untuk Salwa dengan memerintahkan seluruh anak buah dan pelayannya membuat dan mengatur semuanya. Ia juga mengundang keluarga Salwa untuk merasakan kebahagiaan yang tengah ia dan Salwa rasakan.
Mendapatkan anugerah seorang bayi tampan berbadan sehat dengan ibu yang sehat pula membuat Sean tak henti-hentinya mengucapkan syukur. Ia berjanji akan menjadi ayah yang baik, yang menyayangi dan menjaga anak serta istrinya dengan sepenuh hati.
Kedatangan seseorang yang tidak terencana dan tidak disangka-sangkanya membuat Sean semakin terharu senang.
Sejak terakhir bertemu, Sean tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di negeri daun maple itu. Dengan alasan terlalu jauh dan tentu saja kehamilan Salwa yang membutuhkan banyak perhatian darinya membuat Sean menyerahkan segala sesuatu yang berhubungan dengan ayahnya kepada Marcus. Dan tentu saja Sean selalu berkomunikasi dengan Marcus maupun David melalui telepon maupun panggilan video untuk mengetahui perkembangan kondisi David.
"Ayah!" Sean berdiri kaku menatap seseorang yang berjalan menuju ke arahnya. Laki-laki tua itu tampak lebih gemuk dan sehat dari terakhir Sean melihatnya. Memikirkan bahwa ia memiliki seorang anak membuat lelaki tua itu bersemangat untuk sembuh, apalagi Sean memberinya kabar bahwa istrinya sedang hamil membuat David ingin segera terbebas dari obat-obatan yang setiap hari dikonsumsinya.
David menjadi pasien yang paling penurut. Menghabiskan makanan dan minum obat tepat waktu. Ia juga rajin berolahraga pagi setelah keluar dari rumah sakit. Berhenti mengonsumsi alkohol ataupun makanan yang bisa merusak organ dalamnya. Tekadnya memiliki tubuh yang sehat dan kuat agar bisa menggendong calon cucunya nanti membuatnya bisa sembuh lebih cepat dari perkiraan dokter yang menanganinya.
David berjalan didampingi oleh Marcus , perlahan ia menapakkan kakinya yang berbalut sepatu berbahan kulit warna hitam metalic, mengarahkan pandangannya ke arah anak semata wayangnya yang sangat ia rindukan. Air matanya hampir menetes merasakan gejolak emosi yang meluap-luap karena terlalu bahagia.
Sean pun merasakan hal yang sama. Dunianya terasa lengkap saat ini. Tanpa terasa tangannya tergerak untuk mengusap air mata yang sudah meluncur dengan derasnya di sudut matanya. Sean tersenyum bahagia, dengan langkah tak sabar ia menuju lelaki tua itu yang masih berjalan perlahan ke arahnya.
Berhamburlah dirinya memeluk sang ayah. Ayah yang begitu ia rindukan, ayah yang menyayanginya dan mencintai ibunya. Ayah yang terlambat diketahuinya, tetapi ia tidak pernah menyesal akan hal itu. Mungkin sudah jalan takdirnya seperti itu hingga ia berakhir tinggal di negara keluarga Arthur dan bertemu dengan Salwa yang saat itu menjadi pelayannya.
Sean tidak akan pernah menyalakan suratan takdir yang sudah digariskan untuknya, ia malah mensyukuri semuanya karena ia akhirnya mendapatkan kebahagiaan meskipun itu dilaluinya dengan jalan terjal dan berliku yang harus ia lewati dengan bersusah payah.
Sean memejamkan matanya merasakan pelukan kembali seorang ayah. Bagaimana rasanya jika saat dirinya masih kecil mendapatkan pelukan hangat seorang ayah seperti ini? Pastinya sangat menyenangkan bukan? Sean akan merasa dilindungi dan mempunyai sosok idola yang bisa dijadikannya panutan untuk dipamerkan kepada teman-temannya. Sayangnya itu tidak pernah dan tidak akan pernah terjadi karena saat ini ia sudah dewasa. Tugasnyalah yang akan melindungi semua keluarganya dan memastikan semuanya dalam kondisi aman dan nyaman juga tidak kurang suatu apapun.
Sean melonggarkan pelukannya yang kemudian ia melepaskan tangannya dari David. David tersenyum lalu menepuk-nepuk bahu anak kandungnya itu yang dibalas anggukan oleh Sean. Lelaki tua itu tampak lebih muda karena aura kebahagiaan telah terpancar dari wajahnya.
"Sean apa kabar?" Marcus yang berdiri di samping David menunggu giliran untuk sekedar menyapa saudara sepupunya itu. Sean menoleh ke arahnya lalu memeluk lelaki itu dengan hangat sembari menepuk-nepuk punggungnya.
"Terima kasih telah menjaganya dengan baik." Sean berbisik lirih ke telinga Marcus. Ada rasa syukur dalam dirinya masih memiliki saudara yang tulus dan baik seperti Marcus, karena memang tidak semua manusia memiliki sifat tamak akan harta. Masih ada beberapa orang yang menggunakan hatinya untuk menentukan langkah hidup sehingga tidak silau akan harta yang bukan haknya untuk dinikmati sendiri.
"Aku sudah bilang kepadamu, paman sudah ku anggap sebagai ayahku sendiri. Jadi kau tidak perlu berterima kasih."
Sean mengangguk lalu mengajak kedua orang yang penting dalam hidupnya itu untuk berbaur dengan yang lain sementara dirinya mencari Salwa yang sangat sibuk melepas rindu dengan keluarganya.
"Sayang, kau terlalu bahagia hingga melupakanku." Sean sedikit merajuk melihat Salwa sibuk bercerita dengan adik-adiknya dan kedua orang tuanya sehingga tidak menghiraukannya.
Samsul Arifin yang melihat kedatangan menantu kesayangannya itu berdiri lalu mengajak Sean duduk bersama dengan mereka.
"Nak Sean, terima kasih kau sudah menjaga Salwa dengan sangat baik. Dia menceritakan bagaimana kau selalu bersikap baik kepadanya. Bapak sangat terharu dan bahagia melihat Salwa hidup dengan lelaki yang tepat. Salwa sangat beruntung memiliki suami sepertimu." ucap Samsul Arifin dengan menyeka bulir air matanya yang hampir terjatuh.
"Tidak perlu berterima kasih, sudah sepatutnya aku melakukannya. Terima kasih kalian sudah melahirkan dan menjaga wanita sepertinya. Jika bukan karena kalian, mungkin aku tidak akan mendapatkan istri seperti Salwa." Meskipun sedikit kaku, Sean berusaha ramah kepada mertuanya.
Sean memang sejak dulu kesulitan untuk bersosialisasi dengan orang lain, ia selalu bersikap kasar, bossy , dan memasang wajah dingin. Tetapi entah jika bersama Salwa dia bisa menjadi pribadi yang lain. Pribadi yang lembut dan terkadang seperti anak kecil yang selalu ingin diperhatikan dan dimanja. Mungkin karena itulah Sean sama sekali tidak bisa jauh dari Salwa. Karena hanya kepada Salwalah dia merasa nyaman dan menjadi pribadi lain yang mungkin tidak pernah terbayangkan dalam benak orang lain.
Melihat kedatangan suaminya, Salwa segera beranjak dari tempat duduknya, lalu mendekat ke arah Sean. "Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya merindukan mereka. Jangan marah ya?" ucap Salwa kemudian dengan tersenyum menggunakan matanya menunjukkan rasa bersalahnya.
__ADS_1
"Kemarilah, aku ingin memperkenalkanmu kepada ayah!" Sean menggandeng tangan Salwa untuk mengajaknya bertemu dengan David yang sedang duduk di sofa yang saat ini telah ditarik ke sisi ruangan membelakangi mereka.
Salwa membeku mendengar perkataan Sean, ia terlalu sibuk dengan perasaannya sendiri hingga tidak menyadari keberadaan David di rumahnya.
"Kenapa?" Sean menoleh ke arah Salwa ketika merasa tubuh Salwa terlalu berat untuk melangkah.
"A..yah ada di.. sini?" tanya Salwa memastikan.
"Iya, dia sedang duduk di sana." Sean menunjukkan kursi empuk yang saat ini sedang diduduki oleh David dan Marcus yang berada di sisi ujung ruang tamu.
Salwa masih mematung, tidak bergerak. Wajahnya tiba-tiba berubah pasi dengan beberapa kali terbengong seolah ada banyak pikiran yang bergelayut di kepalanya.
"Ada apa?" tanya Sean dengan hati-hati. Entah apa yang dipikirkan Salwa sehingga perempuan itu mendadak ketakutan seperti itu. Salwa menelan ludah lalu menatap wajah suaminya yang saat ini tampak cemas kepadanya.
"Apa ayah akan menerimaku, tidak mempermasalahkan status sosialku?"
Salwa tentu sadar diri, ia masih trauma dengan sikap penolakan nyonya Arthur dulu. Beruntung saat itu ia hanya mendengar penghinaan dan penolakan nyonya besar itu seorang diri. Tidak, bukan sendiri melainkan ada Hans bersamanya. Tetapi saat ini jika tragedi menyedihkan itu terulang kembali dengan disaksikan oleh keluarganya yaitu bapak, ibu dan juga ketiga adiknya tentunya Salwa tidak akan sanggup menanggungnya.
Bukan dirinya malu, tetapi orang tuanya akan merasakan sedih untuknya karena menjadi menantu yang tidak diharapkan. Bukankah itu hal menyakitkan bagi orang tua, menyaksikan anaknya dipandang sebelah mata bahkan dicaci oleh mertuanya?
Sean tersenyum mendengar kekhawatiran Salwa yang tidak beralasan itu. David bukanlah nyonya Arthur, ayahnya itu lebih bijaksana dengan pemikiran yang luas. Ia menilai seseorang bukan dari penampilan fisik ataupun harta yang dimiliki. David bukanlah tipe orang yang memandang sebelah mata orang lain karena status sosialnya.
"Dia akan sangat menyukaimu, percayalah." ucap Sean meyakinkan Salwa untuk tidak perlu mencemaskan apapun. Salwa tampak ragu mendengar perkataan Sean, tetapi kemudian ia mengangguk, pasrah dengan apa yang akan terjadi. Lagipula Sean ada bersamanya, tentunya jika Salwa memang tidak diinginkan pastinya Sean akan selalu membelanya dan mendukungnya bukan? Jadi sepertinya memang tidak perlu ada yang dicemaskan Salwa saat ini.
Detak jantung Salwa mulai berpacu beriringan dengan deru napasnya. Sean menggenggam jemari Salwa untuk menenangkan istrinya yang tampak gugup , kurang percaya diri saat dipertemukan dengan ayahnya. Langkahnya semakin berat saat jarak antara dirinya dengan sofa itu kurang dua langkah saja.
"Mas, aku sangat... gugup." ucap Salwa sambil memandang ke arah Sean.
"Percaya kepadaku, semuanya akan baik-baik saja." perkataan Sean kembali membuatnya sedikit tenang. Ia genggam jemari Sean dengan erat sambil merapalkan doa dan meyakinkan dirinya, 'Salwa kamu bisa, kamu pasti bisa', ungkapnya dalam hati.
"Ayah!" panggilan Sean langsung berbalas. Lelaki tua itu menoleh ke arah Sean dan Salwa lalu beranjak dari duduknya. Sean mengajak Salwa mendekat dengan mengitari sofa untuk kemudian sampai berada di depan David.
"Ini istriku, Salwa. Dia cantik bukan?" Sean berusaha membesarkan hati Salwa di depan ayahnya agar istrinya itu tidak kehilangan rasa percaya dirinya. Salwa tersenyum ke arah David dengan sedikit mengangguk, sementara David memperhatikan Salwa dari atas hingga ke bawah membuat Salwa merasa tidak nyaman. Apakah ayah mertuanya ini akan menyukainya?
"Cantik, kau pandai memilih istri," puji David kemudian membuat Salwa sedikit lega.
"Tapi,...." David ingin melanjutkan perkataannya yang terdengar mengambang membuat Salwa merasa was-was. "Di mana cucuku, aku ingin menggendongnya."
Fyuuh, Salwa menghembuskan napasnya lega. Ia memandang ke arah Sean pun demikian dengan Sean yang memandang ke arahnya. Mereka berdua saling melempar senyum penuh kelegaan dalam hatinya. David menyukai Salwa sehingga Sean tidak perlu menentang ayahnya untuk mempertahankan rumah tangganya yang sudah sangat sempurna ini.
Sean memanggil pengasuh baby Kinan, dengan cepat perempuan itu melangkah mendekati majikannya dan menyerahkan bayi mungil nan menggemaskan itu ke tangan Sean.
Perlahan Sean menyerahkan baby Kinan ke David yang terlihat penuh minat ke arah baby Kinan. David menatap bayi itu dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan. Ia akhirnya bisa menggendong seorang bayi yang merupakan cucu kandungnya sendiri. Selama ini ia berpikir akan hidup sendiri selamanya tanpa keturunan dan meninggal begitu saja tanpa ada tanda bukti eksistensinya pernah hidup di dunia.
__ADS_1
Nama David akan hilang begitu saja setelah Tuhan memanggilnya, tetapi setelah bertemu dengan Sean dan menggendong baby Kinan, ia patut berbangga diri bahwa dirinya tidak sendiri. Dia memiliki keturunan dan genetiknya tidak lenyap begitu saja karena anak cucunya kelak akan mewarisinya menggantikan keberadaannya di dunia.
Tanpa terasa air mata David mengalir begitu derasnya, rasa haru meliputi hati dan jiwanya. Ia tidak pernah membayangkan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. "Terima kasih, aku sangat bahagia." ucap David kemudian.
"Kau tahu Sean, demi menyusulmu ke sini. Paman rela melakukan kursus bahasa Indonesia selama enam bulan. Semua ia lakukan karena ingin lebih akrab dengan cucu dan juga menantunya."Marcus yang duduk di samping David akhirnya ikut menimpali.
Sean dan Salwa saling memandang lalu melempar senyum, keluarga mereka sudah lengkap dengan saling menjaga, mengasihi dan mencintai satu sama lain. Bukankah itu terlalu sempurna untuk dibayangkan? Sean yang sebelumnya merasa terpuruk dengan statusnya yang tidak jelas di keluarga Arthur kini memiliki kehidupan sendiri dengan dikelilingi orang-orang yang menyayanginya dan mencintainya. Sean merengkuh pinggang Salwa untuk kemudian ia rapatkan ke arahnya.
"Terima kasih, semuanya terasa sangat indah." bisiknya kemudian di telinga Salwa.
🌹🌹🌹🌹
Salwa menyiapkan baju tidur untuk dipakai oleh Sean di atas ranjangnya, sementara Sean masih di kamar mandi entah sedang melakukan apa. Melihat ranjang yang sudah lama ia tinggalkan membuat Salwa tidak tahan untuk tidak membanting tubuhnya di kasur empuk itu lalu membenamkan wajahnya di bantal kesayangannya sambil berguling dan akhirnya tengkurap. Ia hirup kuat-kuat aromanya meskipun ia yakin sarung bantal itu baru tadi siang digantikan oleh pelayan.
Baby Kinan sedang tidur bersama orang tuanya yang saling berebut untuk mengasuh bayi tampan itu barang semalam saja. Jadi diputuskan malam ini Samsul Arifin dan Darminilah yang berkesempatan tidur bersama baby Kinan, sementara esoknya David dan Marcus yang juga bersiap dan tidak sabar untuk menjaga dan menghabiskan waktunya bersama bayi lucu itu.
Sean keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggangnya. Sepertinya laki-laki itu menyempatkan dirinya untuk mandi terlebih dulu sebelum tidur. Matanya langsung mengarah ke arah ranjang dan mendapati Salwa sedang tidur tengkurap memeluk guling dengan wajah terbenam di bantal. Gaun tidurnya sedikit terangkat seolah memancing gairah siapa pun yang melihatnya.
Sean melangkah dengan cepat, menapakkan kakinya di karpet bulu itu dengan jangka lebar tanpa suara seolah sudah tidak sabar menuju tempat yang menjadi incarannya. Ia duduk di sisi ranjang lalu menepuk bahu Salwa lembut yang membuat istrinya itu mengangkat kepala menatapnya.
"Apa kau sudah mengantuk?" tanya Sean dengan sedikit menelan ludah. Itu adalah gaun tidur yang biasa Salwa gunakan, gaun tidur tanpa lengan yang hanya dikaitkan dengan tali tipis yang melingkar di bahu kanan dan kirinya dengan potongan leher rendah dan mengekspose separuh punggungnya.
"Belum, kenapa mas mandi? Bukannya ini terlalu malam untuk membersihkan diri lagi?" tanya Salwa dengan tanpa dosa.
Sean memutuskan mandi karena ia tidak tahan dengan rasa nyeri di bawah sana karena belum pernah menuntaskan hasratnya melakukan hubungan suami istri seperti sebelum-sebelumnya. Dan melihat Salwa berpenampilan seperti ini dengan memasang wajah polos tanpa dosa membuat usahanya mandi air dingin itu sepertinya sia-sia. 'Dia' mulai memberontak untuk dijamah dan dipertemukan dengan jodohnya.
Sean tanpa bisa menahan lagi merengkuh tubuh Salwa untuk kemudian ia rapatkan ke tubuhnya yang dingin dan lembab karena baru menyelesaikan mandinya. Ia menunduk menatap teduh dengan pandangan sedikit berkabut seolah ada nafsu menggebu di sana yang menuntut untuk segera dipuaskan.
Sean merapatkan wajahnya memagut bibir istrinya yang sedang sedikit terbuka karena terkejut dengan perlakuan tiba-tiba Sean yang sedikit agresif. Tanpa ada perlawanan Sean menyesap dengan rakusnya, menikmati ciuman hangat nan menggoda yang selalu membuatnya ketagihan untuk melakukannya lagi dan lagi. Ia melepaskan pertautan bibirnya setelah beberapa kali keduanya mengeluarkan desahan yang terdengar sayup-sayup.
Sean masih menunduk dengan meletakkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan pipi Salwa, menggesekkan ujung hidungnya. "Apa sudah bisa?"
Dengan wajah memerah Salwa akhirnya mengangguk yang membuat Sean segera tersenyum lega. "Aku akan melakukannya dengan sangat perlahan dan hati-hati, hingga kau tidak merasakan kesakitan sedikit pun." ucap Sean kemudian.
Akhirnya penantian panjang sudah berakhir, kesabarannya selama ini akhirnya membuahkan hasil. Sean dengan sikap tidak sabar membuang dengan serampangan handuk yang melilit pinggangnya lalu mengambil selimut untuk kemudian dipakainya menyelimuti dua tubuh yang saling merindukan untuk saling berbagi kehangatan dan kenikmatan yang sudah lama tidak mereka rasakan.
-Selesai-
\=》 Masih ada dua chapter ekstra lagi ya.
insya Allah akan dikebut malam ini..
dua ekstra chapter itu tentang reuni akbar bersmaa teman-teman Salwa dan keluarga bahagia. Semoga bisa tepat waktu dan gak molor... hihihi karena nulisnya juga sambil nyuri-nyuri waktu di balik kerepotannya author di dunia nyata..
__ADS_1
Nanti juga ada cuplikan ekstra untuk cerita Yang Pou Han bersama cewek misterius, seperti apa sih keseruannya? Terima kasih yang udah dukung Author selama ini, yang selalu ninggalin komentar dan like yang membuat author jadi bersemangat ngelanjutin cerita ini hingga tamat.
Terima kasih buat yang nyisihin poin buat ngevote karya receh author, tanpa kalian karya ini bukanlah apa-apa. Terima kasih semua, kalian luar biasa 😘