Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Aku Mencintai mu


__ADS_3

Helikopter yang sedari tadi berputar mendekati area roof top mulai meninggalkan peraduannya. Mungkin seseorang yang sedang ditungguinya sudah tidak mungkin untuk ikut terbang bersamanya, sehingga sang pilot memtuskan untuk meninggalkan Albert yang saat ini entah masih hidup atau tidak.


Abust menyaksikan sendiri bagaimana Milly melemparkan dirinya keluar dengan menarik Albert bersamanya. Lelaki itu berusaha menghempaskan segala kengerian dan ketakutan dalam dirinya, di saat membayangkan bagaimana tubuhnya akan melayang lalu terjun bebas di ketinggian tiga puluh meter dari permukaan tanah dan akan berakhir dengan kepala pecah atau mungkin akan hancur tak berbentuk.


Jika kematian langsung menjemput, mungkin itu lebih baik baginya, tetapi jika ia berakhir di ranjang rumah sakit dengan tubuh cacat permanen, bukannya itu adalah hal yang pasti akan sangat disesalinya?


Abust berlari ke arah tempat di mana ayahnya itu mengorbankan dirinya demi melindungi Catherine, perempuan yang baru saja dinikahinya. Ia ingin menatap kebawah, tetapi tidak sanggup untuk melakukannya.


Perasaannya sebagai seorang anak berkecamuk tak terkendali, ada perasaan menyesal yang tidak bisa ia ungkapkan , marah kepada Milly juga dirinya sendiri. Seseorang ayah yang selama ini tidak pernah ia anggap karena hatinya terlalu tertutup untuk menerima kembali lelaki yang telah membuat ibunya itu menderita, ternyata sekarang justru telah mengorbankan nyawa demi kebahagiaannya.


Hati Abust tidak terima akan sikap Milly yang tidak berpikir panjang, dengan bertindak bodoh menjatuhkan dirinya sendiri untuk menyelesaikan masalah. Perasaan sakit dan sesak di dada membuat dirinya tidak sanggup berkata apa-apa. Abust tidak sempat mengenal lelaki itu lebih dekat, tidak sempat menyapanya dan tidak sempat mengucapkan kata 'maaf', sebuah kata yang sangat sederhana tetapi mampu mengubah segalanya. Apakah ia benar-benar telah terlambat menyadari akan kasih sayang yang sebenarnya Milly tunjukkan kepadanya?


Abust menghela napasnya berat, menelan ludah dengan sekali tegukan besar. Apa yang akan ia katakan nanti kepada ibunya, bahwa ia telah mengorbankan ayah kandungnya untuk kebahagiaannya.


Meskipun Milly menelantarkan Abust dan ibunya, tetapi tak pernah sekalipun ibunya mengajari Abust untuk membenci Milly. Karena bagi ibunya, kehadiran Abust bukan hanya sebuah kesalahan, tetapi sebuah karunia yang diberikan Tuhan untuknya. Dia tidak menyesalinya, tetapi sangat mensyukurinya.


Barulah di saat Fang Yi mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Abust, lelaki itu memberanikan diri menatap ke bawah di mana ayahnya tergeletak tak berdaya di sana. Di lihatnya anak buah Fang Yi sedang membereskan beberapa matras yang tadinya disusun berjajar untuk menangkap Milly dan juga Albert yang baru saja terjun dari atas tempatnya berdiri. Abust menoleh ke arah Fang Yi, wajahnya penuh dengan pertanyaan tetapi tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Namun, seolah mengerti apa yang dipikirkan Abust, Fang Yi mengangguk lalu mengucapkan, "Milly masih hidup."


....


"Apa kalian tidak bisa berbuat apa-apa?" Sean tampak frustrasi melihat Salwa kesakitan, air ketubannya sudah pecah tetapi dokter tidak melakukan tindakan operasi seperti perkiraan Sean.


"Tuan, tunggulah sebentar lagi. Istri anda bisa melahirkan secara normal."


Sean menatap tajam ke arah dokter tersebut, menunggu? Sampai kapan Sean harus menunggu dengan melihat Salwa kesakitan seperti itu dengan waktu yang tidak bisa ditentukan?


"Kenapa kau tidak mengambil bayinya sekarang? Apa kau tidak melihat istriku sangat menderita?" Sean mengusap-usap rambutnya ke depan dan ke belakang, ia hanya bisa mengumpat dan memarahi petugas medis karena tidak tahan melihat Salwa mengalami kontraksi terus menerus dengan wajah yang terlihat sangat kesakitan.


Sean menggenggam tangan Salwa, mengusap peluh istrinya itu yang terasa dingin. Sean sama sekali tidak tahan melihat kondisi seperti ini, bibirnya bergetar, air matanya memanas dan berontak seolah ingin keluar merembes di kedua sudut matanya. Namun Sean enggan mengeluarkannya, ia menatap langit-langit rumah sakit untuk menahan air matanya supaya tidak sampai terjatuh.


"Mas... sakit." Salwa kembali mengerang saat kontraksi kembali ia rasakan, Sean hanya bisa menangkup wajah Salwa sambil mencium kening istrinya itu, memberikan dorongan agar tetap bertahan dan berusaha.


"Bertahan ya, mas di sini untukmu."


Sepertinya perkataan Sean yang lembut dan penuh kasih itu tidak sanggup meredam kesakitan yang dialami oleh Salwa. Perempuan itu terus mengerang, karena semakin lama kontraksinya semakin menguat.

__ADS_1


"Dokter bayinya akan keluar." ucap perawat yang membantu proses melahirkan itu.


Dokter perempuan itu mengangguk petanda mengerti. Ia memerintahkan suster untuk mengatur posisi Salwa dengan menahan kedua kakinya membuka sangat lebar agar memudahkan proses keluarnya bayi. Salwa semakin mengeratkan genggaman tangannya yang digenggam oleh Sean dengan mengerang semakin kuat.


Sean melihat dokter mengambil gunting lalu menggunting jalan lahir dengan mengeluarkan bunyi yang membuat Sean merasa ngilu. Ia sudah berkali-kali terkena luka tembak dan banyak bekas jahitan yang ada di tubuhnya. Tetapi, melihat bagaimana Salwa mengalami semua kesulitam seperti ini, tetap saja membuat Sean tidak tahan dan ingin segera mengakhiri semuanya.


Inikah yang dia inginkan, seorang anak dari keturunanya sendiri yang proses mengeluarkannya membutuhkan perjuangan yang begitu hebat. Bahkan ia sangat malu kepada Salwa saat ini. Ia menginginkan seorang anak, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong kesakitan yang dirasakan Salwa. Ia merasa tidak berguna sebagai seorang suami, istrinya kesakitan, tetapi ia hanya berdiri di sampingnya dan tidak bisa berbuat apa-apa selain menjadi penonton.


Salwa masih berusaha mengejan dengan kuat, mengatur napasnya sesuai instruksi dokter agar bayinya bisa segera keluar. Suara erangan yang terasa menyakitkan itu terdengar berkali-kali disaat Salwa merasakan dorongan kuat di bawah sana. Sean dengan wajah yang sama pucatnya dengan Salwa karena begitu mencemaskan istrinya itu menggenggam kuat tangan Salwa, memberikan dukungan penuh kepada istrinya agar mampu menjalani proses menyakitkan itu dengan selamat.


Suara tangisan bayi yang sangat kuat mengalihkan perhatian Sean, air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya berhasil menerobos keluar mengalir dengan begitu derasnya. Perasaan haru yang melingkupi dirinya membuatnya tak mampu berucap apa-apa . Sean hanya berdiri mematung tanpa berkedip melihat suster menggendong bayi mungil yang masih berlumuran darah dengan mata terpejam rapat.


Sentuhan tangan Salwa yang lemah terasa di tangan Sean membuat lelaki itu menoleh. Wajah pucat istrinya itu menampilkan senyum yang tidak bisa ditutup-tutupi. "Mas, itu anak kita?"


Sean mengangguk dengan mulut yang masih terbuka, menatap keajaiban Tuhan yang diberikan untuknya. Sean mendadak menjadi orang ling-lung yang tak mampu menguasai gejolak di hatinya melihat darah dagingnya sudah di depan mata. Bahkan Salwa harus sekali lagi menyadarkan suaminya itu dengan menggerakkan tangannya dengan sedikit keras agar Sean kembali menatapnya.


"Mas, lakukan kewajibanmu." ucap Salwa lirih, meminta Sean agar melafalkan adzan di telinga malaikat kecilnya.


Sean tersenyum lalu menyeka air matanya dengan tangan kanannya, ia berjalan mendekat ke tempat di mana sang buah hatinya sedang dibersihkan dan dipakaikan baju khusus bayi baru lahir.


Rasa haru itu kembali muncul menyelimuti hati Sean. Perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Di detik pertama bayi mungil itu berada dalam gendongannya, Sean sudah merasakan kasih sayang yang meledak-ledak dalam hatinya. Kasih sayang yang begitu besar seorang ayah kepada anaknya, cinta yang sungguh luar biasa yang akan ia curahkan untuk sang buah hati.


Sean mengecup kening bayi mungil itu, lalu mendekatkan bibirnya di telinga sang bayi. Ia lantunkan adzan dengan suara lirih namun khidmat. Setiap kalimat suci yang ia ucapkan selalu diakhiri dengan senggukan dan air mata yang berderai membasahi pipi.


Sean akhirnya sudah menjadi seorang ayah.


...


"Apa? Kau akan menjahit jalan lahirnya tanpa membiusnya? Apa kau sudah gila?" Sean kembali memaki tenaga medis saat akan mulai melakukan tahap penyelesaian proses melahirkan normal yang baru saja dijalani oleh Salwa.


"Tuan, ini sudah biasa dilakukan." ucap suster itu dengan berusaha sabar. Ia tahu dengan siapa yang saat ini sedang dihadapinya. Dia adalah lelaki yang sama yang memaki para tenaga medis saat Salwa sedang kehilangan banyak darah akibat tembakan Leon. Lelaki yang mengatakan akan membakar rumah sakit jika istrinya itu tidak dapat disembuhkan. Ya, lelaki yang sibuk mengumpat dan memaki semua petugas medis yang sedang membantu proses operasi pengangkatan peluru di tubuh Salwa.


Suster tersebut sebelumnya bekerja di rumah sakit kecil di daerah pinggiran yaitu di mana Salwa dirawat karena tragedi penembakan Leon. Dan sekarang ia sudah bekerja di rumah sakit terbesar di pusat kota, sayangnya ia harus kembali menangani pasien dengan keluarga yang sangat menguras kesabarannya.


"Sudah biasa kau bilang? Rumah sakit macam apa ini membiarkan suster menyiksa pasiennya?" Sean kembali memaki petugas medis tersebut.

__ADS_1


Sean masih mengingat bagaimana rasanya Alan menjahit lukanya di saat ia sedang terisolasi di pulau tak berpenghuni itu. Rasanya benar-benar sakit, dan saat ini Salwa akan menjalani proses menyakitkan itu setelah hal mengerikan dan penuh dengan perjuangan yang baru saja ia lalui. Sean tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Salwa tidak boleh mengalami kesakitan lagi.


"Berikan dia bius total. Aku tidak ingin istriku melihat atau merasakan kesakitan sekali lagi."


....


Butuh waktu hampir tujuh jam lamanya hingga Salwa akhirnya sadarkan diri. Kini dirinya sudah beralih di atas ranjang di ruang perawatan. Matanya mengerjap beberapa kali untuk segera mendapatkan kesadarannya kembali.


Saat Salwa sudah bisa menangkap bayangan benda di depannya. Matanya bersirobok dengan mata Sean yang tampak teduh. Lelaki itu masih setia menungguinya dengan senyum mengembang. Tangannya terulur meraih tangan Salwa yang masih tidak bertenaga. Dibawanya tangan istrinya itu lalu memberikan kecupan di sana berkali-kali dengan penuh sayang.


"Aku mencintaimu." ucap Sean lembut. Salwa mengangguk dengan memunculkan senyum di sudut bibirnya, tetapi ia belum bisa mengucapkan sepatah katapun.


"Aku mencintaimu, mencintaimu sangat mencintaimu." Sean berucap berkali-kali, seolah hanya kata itu yang sanggup ia ucapkan. Lelaki itu seperti kehilangan kosa kata lain yang bisa diungkapkan untuk menunjukkan kasih sayang dan cintanya kepada istrinya.


Salwa ingin mengucapkan sesuatu, tetapi sentuhan di tangan sebelah sisi yang berlawanan dengan tempat Sean duduk, yaitu dimana jarum infus itu menancap ditangannya mengalihkan perhatiannya.


Dua orang suster yang sedang bertugas di ruang perawatannya melepaskan selang infus yang tersemat di tangan Salwa. Apakah dua orang tersebut sedari tadi melihat dan mendengar apa yang dikatakan Sean kepadanya?


Wajah Salwa tiba-tiba merona, ternyata ada orang lain di ruangan itu. Tetapi Sean dengan tidak tahu malu mengungkapkan cinta kepadanya berkali-kali, bahkan Salwa belum sempat menjawabnya lelaki itu kembali mengatakan bahwa ia mencintai Salwa.


Sean masih menggenggam jemari Salwa, lalu menghadiahi kecupan hangat di sana. Ia berdiri lalu sedikit membungkuk mencium kening Salwa, lalu beralih ke pelipis, turun ke pipi dan berakhir di bibir yang selalu terasa lembut dan manis baginya. Salwa melebarkan mata penuh isyarat saat bibir Sean mendarat di bibirnya. Suaminya itu benar-benar sedikit gila. Mereka tidak sedang berdua, tetapi Sean seolah tak peduli dengan kedua suster yang sedang bekerja di sampingnya.


Bahkan kedua suster itu mengalihkan wajahnya saat Sean melakukan gerakan sedikit melum*** bibir istrinya itu, menyecap rasa manis dan sedikit lembab di sana.


"Mas!" Salwa mendorong dada Sean saat bibirnya sudah terlepas dari pungutan bibir Sean. Sean kembali menyunggingkan senyumnya dan perkataan yang sama juga terucap untuk yang ke sekian kalinya. Bahkan Salwa lupa berapa kali Sean mengucapkannya.


"Aku mencintaimu, mencintaimu, sangat mencintaimu."


Dengan sedikit malu yang ditahan, akhirnya Salwa juga membalas ungkapan cinta Sean kepadanya agar suaminya itu berhenti mengatakan hal itu lagi.


"Aku juga mencintaimu."



\=》Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2