Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Menjenguk Irine bag. 2


__ADS_3

Papa Irine mengaga, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Kedua orang kakak beradik yang sejak kemarin ia marahi dan hari ini ia usir adalah saudara dari seorang Sean Paderson, seorang pengusaha muda kaya raya yang sedang melebarkan sayap di bidang property dan pendidikan di negara ini. Itu sangat mustahil, dari segi wajah mereka sangat berbeda. Kedua kakak beradik ini sudah jelas adalah warga lokal sedangkan Sean ia pastilah keturunan asing. Ah.. mungkin Sean sedang bercanda.


"Hemm.. anda pasti bercanda, tidak mungkin kedua kakak beradik ini adalah saudara anda. Dari wajah dan postur tubuh tidak ada sama sekali kemiripan, pasti anda sedang membuat sebuah lelucon bukan?" Papa Irine mencoba tertawa garing yang kemudian melangkah mendekati Ahsan dan Al.


"Aku tidak pernah bercanda dengan apa yang aku katakan, dan parsel buah yang kau katakan hasil curian itu, aku yang membeli dan memilihnya. Menurutmu, untuk apa aku repot-repot datang ke rumahmu kalau tidak untuk mengantar kedua saudaraku ini."


"Apa?" Sahut papa Irine terkejut dengan kenyataan yang ada. Memang benar, untuk apa Sean datang ke rumahnya. Padahal mereka berdua tidak saling kenal dan tidak mempunyai janji perihal bisnis. Tidak mungkin Sean tiba-tiba datang hanya untuk menyapanya bukan? Memang siapa dirinya yang sebegitu pentingnya hingga Sean harus repot-repot melakukan hal itu.


"Tuan Paderson, maaf saya tidak tahu, saya..."


Sean mengangkat tangan kanannya dengan memberikan isyarat supaya lelaki tua itu menghentikan kalimatnya dan tetap diam.


"Kau telah menghina dua saudaraku, yang bahkan mereka berbaik hati menengok putrimu yang sedang sakit dengan membawakan bingkisan, apa menurutmu aku bisa memaafkan perbuatanmu itu?"Sean maju selangkah sambil bersedekap dada dengan menampilkan wajah dingin tak bersahabatnya itu.


"Minta maaflah kepada kedua saudaraku, jika mereka memaafkanmu maka aku tidak akan membuat perhitungan denganmu," tutur Sean dengan tegas yang membuat papa Irine gemetar mendengarnya..


"Apa yang akan anda perbuat?"


Sean menipiskan bibir dengan sorot mata berkilat tajam. Mungkin jika hal seperti ini terjadi saat dulu, tanpa mengancam Sean langsung melesatkan pelurunya di kepala orang yang berbuat ulah kepadanya, namun saat ini ia tidak mungkin melakukannya, apalagi ia sudah berjanji kepada Salwa bahwa ia akan menyelesaikan segala masalah dengan kepala dingin tanpa harus melakukan pertumpahan darah. "Apa toko bahan bangunan di depan itu adalah milikmu?"


Papa Irine mengangguk dengan rasa cemas yang tak bisa ditutupi, ia mengenal sosok Sean sebagai seorang pengusaha yang bisa menghancurkan bisnis pesaingnya dengan mudah, padahal perusahaan pesaingnya itu adalah perusahaan besar.


Dan bagaimana dengan dirinya yang hanya seorang pemilik sebuah toko bahan bangunan, tokonya memang cukup besar tetapi melihat bagaimana Sean menjegal semua pesaingnya, pastilah Sean akan sangat mudah jika membuatnya jatuh miskin dengan menghancurkan bisnis satu-satunya itu.


"Aku tinggal mengambil semua konsumenmu dengan mendirikan toko yang sama dengan harga yang lebih murah, lengkap juga pelayanan yang berkelas dan mewah. Menghentikan supliermu untuk menyetok barang di tempatmu dengan mengalihkan bahan-bahannya ke toko yang aku dirikan."


"Tidak, jangan lakukan itu. Saya .. saya akan meminta maaf," lelaki tua itu langsung menghadap ke arah Ahsan dan Al lalu berlutut untuk meminta maaf.


"Maaf, maafkan om ya. Perkataan om yang tadi jangan diambil hati. Kalian berdua boleh datang ke rumah om kapan saja kalian mau, iya kan Ire?" Ucap papa Irine dengan meminta dukungan dari putrinya yang sedari tadi hanya menjadi penonton itu.


"I... iya," sahut Irine dengan cepat.


Ahsan dan Al melihat perlakuan papa Irine berubah lembut merasa tidak enak hati. Ia belum pernah menjadi orang seterhormat itu. Biasanya orang hanya menatap mereka sebelah mata. Apalagi setelah mengetahui latar belakang mereka yang hanya berasal dari sepasang keluarga miskin. Tetapi saat ini, setelah kehadiran kakak ipar , semuanya terasa berbeda. Mereka dipandang layaknya manusia yang mempunyai derajat yang sama.


"Berdirilah om, om tidak pantas berlutut dan duduk di bawah. Saya masih muda, harusnya saya yang berada di bawah. Bukannya orang tua harus di hormati, saya akan menjadi seorang anak yang kurang ajar jika membiarkan orang tua duduk di bawah sementara saya di atas," ucap Ahsan sambil menahan tubuh papa Irine agar tidak berada di bawah.


"Terimakasih nak Ahsan, ternyata om salah menilai mu, kamu adalah anak yang baik, maafkan om yang berbuat kasar terhadap kalian." Papa Irine berkata dengan menunjukkan wajah menyesalnya.


Ahsan mengangguk dan mengatakan tidak apa kepada papa Irine. Melihat semuanya berjalan lancar Sean berniat meninggalkan mereka untuk saling berbicara. Tanpa berpamitan Sean melangkahkan kakinya ke arah pintu hendak keluar, namun suara Ahsan yang memanggilnya menghentikan langkahnya.


"Kak Sean..."


Sean menoleh ke arah Ahsan setelah berhenti sejenak.


"Terimakasih," ucap Ahsan sambil mengulas senyum tulus kepada kakak iparnya itu.


Sean mengangguk lalu tersenyum simpul. Ia kembali melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu. Ahsan melihat punggung kekar kakak iparnya itu dengan penuh haru. Ia tidak menyangka Sean yang selalu terlihat menyeramkan dan bersikap acuh tak bersahabat ternyata peduli kepadanya, bahkan ia tak malu mengatakan bahwa dirinya dan Al adalah saudara.


"Terimakasih kak Sean," gumam Ahsan dalam hati.

__ADS_1


.....


Sean menghubungi anak buahnya untuk melakukan reservasi di sebuah rumah makan mewah, ia ingin mengajak istrinya itu makan malam romantis berdua. Sean berjanji akan membuat hari-hari kehamilan istrinya itu menyenangkan.


Sean teringat bagaimana dulu Salwa menjalani hari terberatnya selama masa kehamilan seorang diri tanpa perlindungan darinya. Bahkan Salwa selalu diliputi ketakutan dan kesedihan karena musuh-musuh Sean berkeliaran dan Salwa hanya seorang diri tanpa penjagaan.


Ia berjanji akan menebus semua kesusahan yang sudah Salwa lewati dengan kebahagian. Sekaranglah saatnya perempuan cantik itu berbahagia, menikmati masa kehamilannya dengan suka cita. Tanpa ada rasa takut seseorang yang melukai diri dan bayinya. Tanpa takut kehilangan cinta seorang suami untuknya.


Sean akan berusaha keras untuk membuat istrinya itu berbahagia, apalagi Salwa sudah mengorbankan pendidikannya untuk mempertahankan calon buah hati mereka. Sean tidak ingin pengorbanan istrinya itu sia-sia, ia akan melindunginya dengan sepenuh hati sampai masanya tiba.


Sebuah mobil berwarna putih dengan body meliuk-liuk melintas di depan pekarangan rumah Irine dan saat ini sedang terparkir di samping mobil mewah Sean. Keluarlah seorang perempuan mengenakan sepatu kets bermerk terkenal dengan dipadukan celana pendek atau dikenal dengan sebutan hot pants juga kaos tanpa lengan yang membalut tubuhnya. Tak lupa dengan kaca mata hitam besar yang bersarang di hidung mancungnya dengan rambut diikat serampangan ke atas.


Perempuan itu berjalan dengan menenteng tas ranselnya. Ia sepertinya terkejut melihat Sean berada di tempat itu. Dengan gaya sedikit centil perempuan itu mendekat ke arah Sean untuk memperjelas pengelihatannya, ia menaikkan kacamatanya ke atas kepala hingga tampaklah wajah cantik perempuan itu sesungguhnya.


"Tuan Paderson," sapa perempuan itu dengan tersenyum senang. Perempuan itu adalah Angela, ia tidak menyangka bahwa bisa bertemu dengan Sean di tempat pamannya. Irine adalah sepupunya dan saat ini ia sedang berkunjung ke rumah pamannya karena suatu hal.


Sean menatap wajah Angela dengan seksama, emm.. tidak salah lagi, Sean sangat mengenal wajah itu. Itu adalah wajah yang sama yang ditunjukkan oleh bodyguard Salwa. Perempuan yang berani menghina istrinya, tidak salah lagi.


Angela mengulurkan tangan hendak menyalami Sean, ia sangat senang bisa bertemu dengan Sean dan ternyata pria itu lebih tampan dari fotonya. Ya , Angela hanya melihat Sean dari foto profil yang tersebar di internet. Pengusaha muda, kaya raya dan... tampan. Ah.. seandainya Angela bisa menjadi pasangannya pastilah hal itu sangat menyenangkan.


Sean mencoba bersikap ramah dengan menerima jabat tangan Angela, namun di detik berikutnya Angela tiba-tiba terjungkal sehingga tubuhnya hampir menabrak Sean. Beruntung Sean dengan sigap memegang ke dua bahu Angela hingga perempuan itu tak sempat terjatuh dalam pelukannya. Entah Angela sengaja atau tidak, Sean tidak ingin seseorang yang saat ini sedang menunggu di dalam mobilnya akan salah paham jika melihatnya.


"Hati-hati," ucap Sean kemudian memperingatkan Angela. Angela menggigit bibir bawahnya. Ya ampun jantungnya berdetak tak karuan. Lelaki itu terlihat sangat tampan dan gagah, entah berapa usianya tak jadi masalah. Pastilah dirinya akan sangat bangga jika memperkenalkan ke semua orang seandainya tuan Paderson ini menjadi kekasihnya.


Bagaimana dengan Varo? Ah.. sampai saat ini hubungan mereka hanya jalan di tempat, jika ada yang lebih baik dan lebih kaya kenapa harus menunggu Varo yang tidak pasti.


"Maaf," ucap Angela kemudian. Sean hanya mengangguk, ia kemudian melangkah menjauhi Angela karena ingin bergabung dengan istrinya sambil menunggu kedua adik iparnya itu.


"Saya Angela, anak dari Alif Reynan. Saya sempat ke rumah anda saat anda sedang bepergian ke luar negeri untuk mengajukan kerjasama yang ditawarkan oleh papa saya. Ah.. sangat beruntung ternyata saya bisa bertemu dengan anda disini."


Sean tersenyum lalu mengangguk, ada sorot mata dengan kilat yang aneh dari matanya. Tetapi Angela tidak memperhatikannya, ia terlalu terbuai dengan pikirannya sendiri bahwa Sean akan tertarik dengannya sehingga tak mempedulikan hal tak kasat mata yang harusnya ia perhatikan.


Sean melihat ke dua adik iparnya sudah keluar dari rumah Irine dan berjalan menuju mobilnya.


"Maaf nona, mungkin lain kali kita bicarakan. Saya sedang ada perlu," ucap Sean sopan dengan mengangguk. Angela pun ikut tersenyum karena Sean ternyata begitu sopan dan lembut tidak seperti desas-desus yang selama ini beredar. Ia yakin akan lebih mudah mendapatkan perhatian dari lelaki itu, apalagi dia punya modal cantik, kaya dan berpendidikan. Ia hanya harus bersabar dan berusaha.


....


"Cantik ya?" Salwa berucap dengan kesal, bibirnya mengerucut dengan pipi menggembung.


"Kamu?" Ucap Sean menggoda.


"Jangan ngeles deh mas, tadi ngapain pegang-pegang Angela, dikira aku gak tahu apa." Sean terkekeh, dirinya sudah menduga bahwa Salwa memperhatikannya sejak tadi. Sean menekan tombol yang membuat penghalang antara bangku kemudi dan kabin penumpang menutup sempurna hingga saat ini Ahsan dan Al tidak akan melihat maupun mendengar apa yang dirinya dan Salwa lakukan maupun bicarakan.


Sean menyangga kepalanya yang melihat miring ke arah Salwa dengan tangannya.


"Cemburu?"


"Enggak, kesal aja. Kamu genit sih." Salwa semakin mengembungkan pipinya yang membuat Sean jadi gemas karenanya.

__ADS_1


Cup


Sean mengecup pipi Salwa yang terlihat seperti bakpao itu, lalu merambat ke tengah yaitu ke bibir yang selalu terasa manis bagi Sean saat mereka berciuman.


"Mas cuma genit ke kamu saja, jangan marah ya. Kalau kamu marah kita gak akan ke restoran tetapi ... akan ke hotel." Sean mengedipkan sebelah matanya nakal. Salwa menipiskan bibir menahan senyum, ia tidak marah lagi karena Sean selalu berhasil membuatnya terhibur.


"Apaan sih," ucap Salwa sambil menepuk lengan suaminya itu.


....


Sean menutup mata Salwa menggunakan kain berwarna hitam. Ia kemudian menuntun istrinya itu perlahan dengan memegang ke dua bahu Salwa menuju jalur khusus tamu VIP yang akan langsung membawa mereka ke lantai atas. Sean memesan satu ruangan khusus yang sangat privasi untuk mereka berdua. Anak buahnya sudah menyiapkan segalanya dengan baik sesuai dengan keinginannya.


Salwa tidak ingin terlalu mewah, hingga Sean memutuskan hanya memesan satu ruangan khusus saja. Tetapi itu sudah cukup memenuhi segala hal yang dibutuhkan oleh Sean, tenang dan romantis.


Sean menahan Salwa untuk berhenti, ia melangkah sedikit maju berada di depan Salwa. Hingga saat ini mereka saling berhadap-hadapan. Sean melepas kain hitam yang menutupi mata istrinya itu, dan dengan perlahan Salwa mulai membuka matanya. Mulutnya ternganga melihat begitu indahnya tata ruang tempat yang sedang ia pijak itu.


Bunga-bunga cantik dan segar menghiasi di setiap sudut ruangan, karpet merah membentang hampir memenuhi ruangan dengan semburat kelopak bunga mawar putih yang sengaja dibiarkan untuk memperindah dekorasi. Cahaya lampu yang temaram dengan ratusan lilin yang berjajar indah menambah kesan romantis.


Sean menund uk sambil berbisik di dekat telinga Salwa. "Welcome my queen."


Salwa tersenyum senang, ia tidak menyangka bahwa mendapatkan kejutan yang indah. Ia menengadah melihat suaminya yang sedang menatapnya sambil tersenyum.


"Apa kau menyukainya, sayang?" Sean berucap lembut sambil memeluk Salwa dari belakang lalu sedikit membungkuk dengan meletakkan kepalanya di bahu kiri istrinya itu.


Salwa mengangguk sambil berucap "Terimakasih, aku menyukainya."


Sean mengajak Salwa untuk duduk di kursi yang sudah ia tarik ke belakang agar ditempati oleh istrinya itu, sementara Sean sendiri duduk di seberang tempat Salwa hingga kini mereka saling berhadapan. Mereka mulai menikmati hidangan lezat dan menggugah selera yang telah dimasak oleh koki terbaik dan berpengalaman di kota itu.


Sean menyuapi istrinya dengan lembut pun dengan Salwa juga melakukan hal yang sama, mereka saling bercerita, bercanda dan tertawa bersama. Tidak ada sedikitpun kesedihan yang mereka rasakan saat ini, yang ada hanyalah perasaan bahagia.


"Apa kau ingin berdansa?" Tanya Sean kemudian setelah mereka menandaskan beberapa menu makanan lezat yang tersaji di ataa meja.


"Aku... aku tidak pernah melakukannya," ucap Salwa dengan malu-malu. Berdansa , tentu ia tidak pernah melakukannya, membayangkannya pun tidak. Ia hanya melihat seseorang berdansa di film-film hollywood saja, kalau di dunia nyata ia belum pernah melihatnya sendiri.


Sean mengulurkan tangannya ke arah Salwa sambil berlutut dengan satu kaki sebagai tumpuan. "Hai cantik, maukah engkau berdansa dengan laki-laki sepertiku ini?"


Salwa terkekeh , tetapi setelah itu ia menyambut uluran tangan suaminya. "Tentu saja, dengan senang hati."


Mereka pun mulai berdansa diiringi dengan lagu "a thausand years" yang di populerkan oleh Christina Perri.


Sean memeluk pinggang istrinya itu dengan lebih mendekat ke tubuhnya. Begitu juga dengan Salwa yang kini melingkarkan tangannya ke leher suaminya itu. Mata mereka saling memandang dengan penuh cinta yang begitu luar biasa. Sean menunduk , menyatukan kening mereka hingga napasnya menerpa permukaan wajah Salwa hangat.


"Kau terlihat sangat cantik, aku sangat mencintaimu... istriku."


"Aku juga sangat mencintaimu... suamiku."


Sean tersenyum senang, ia memiringkan wajahnya agar hidung mereka tidak saling bertabrakan. Keduanya sama-sama menutup mata hingga akhirnya bibir mereka bertemu, menyatu dengan saling menyalurkan kenikmatan dan kebahagian pada diri mereka masing-masing.


.....

__ADS_1


udah gak usaah baper.. 🤭


ini bersambung dulu ya.. lanjutannya masih diketik.. hehehe... jangan bilang seuprit lagi.. ini udah 2000 kata lebih 🙄. Moga Author bisa update tepat waktu yaa.. Terimakasih.. kalian luar biasa 😘😘


__ADS_2