Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Hamil ?


__ADS_3

Varo dan Angela saling menatap tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Bagi Varo, Salwa adalah gadis baik-baik, tidak mungkin ia hamil begitu saja seperti perempuan yang tidak mempunyai iman. Bahkan saat berbicara dengannya Salwa tak pernah melihat wajahnya, bagaimana mungkin Salwa bisa berhubungan dengan laki-laki sampai diluar batas seperti itu?


"Dokter, apa kau sungguh-sungguh telah memeriksanya. Salwa adalah wanita baik-baik dan belum menikah, bagaimana mungkin bisa ada janin di dalam rahimnya?" Varo merasa analisa dokter tersebut salah besar, ia yakin Salwa tidak hamil.


"Varo, jika dokter mengatakan aku hamil. Mungkin kenyatannya memang demikian." Salwa menunduk, ia bingung mau berkata apa. Janjinya kepada Sean bahwa hubungannya harus tetap menjadi rahasia, selama Sean belum kembali bersamanya. Itu semua Sean lakukan demi keselamatan Salwa dan juga keluarganya.


"Apa... kau berbohong kan?" ucap Varo lagi dengan mengguncang bahu Salwa. Sorot matanya menatap lurus mencari kejujuran dari bola mata perempuan itu.


Salwa menggeleng, ia melepaskan cengkraman tangan Varo dari bahunya. Sambil menunduk ia berucap "Varo, aku sudah menikah."


Mulut Varo terngangah dengan mata yang melebar, ia sungguh tidak percaya, perempuan yang ia incar ternyata sudah menjadi milik orang lain. Ia terlambat memiliki, tetapi bagaimana Salwa bisa menikah di usia yang begitu muda, apa ia dipaksa menikah karena ekonominya yang sedang terpuruk?


"Siapa suamimu, katakan?" tanya Varo lagi. Varo yakin jika suami Salwa adalah orang yang sudah berumur, pastilah perempuan itu menikah paksa. Dan Salwa tidak bahagia dengan pernikahannya.


Salwa kembali menggeleng, ia tidak bisa mengatakan siapa suaminya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa dan melanggar janjinya. Apalagi saat ini Sean sedang sakit, ia tidak ingin menambah masalah baru untuk suaminya itu.


"Lihatlah Varo, dia tidak tahu siapa suaminya. Hem, jangan-jangan dia juga tidak tahu siapa ayah dari bayi yang ia kandung. Perempuan murahan, apakah kau tidak malu melahirkan seorang anak haram." Angela berdecih dan menghina Salwa dengan nada mengejek yang kental.


PLAAK..

__ADS_1


Salwa menampar pipi Angela dengan keras, hingga tapak tangannya membekas di kulit halus Angela. Salwa ingin bersikap apatis , tetapi ia tidak membiarkan orang lain mengatakan anak yang dikandungnya adalah anak haram. Anaknya adalah anak yang suci, dia bukanlah bayi yang tidak diinginkan, janin yang dikandungnya adalah sebuah anugerah dari Tuhan yang sangat dinanti-nantikan oleh Sean dan juga dirinya sendiri.


"Berani sekali kau perempuan murahan" Angela ingin membalas, tetapi bodyguard Salwa dengan sigap langsung mencengkram lengan Angela hingga ia tidak bisa mengayunkan tapak tangannya ke pipi Salwa. Dokter yang sedari tadi diam saja pun ikut melerai pertikaian mereka.


"Sudah, jangan ribut disini. Kalian bisa melanjutkannya di luar klinik," dokter jaga itupun menyuruh mereka semua keluar dari ruangannya.


"Sekarang katakan, siapa yang menikahimu, siapa laki-laki yang menghamilimu?" ucap Varo saat sudah berada di luar klinik tersebut.


Tetapi lagi-lagi Salwa menggeleng, ia enggan membuka suara membuat Varo sangat kecewa.


"Kau tidak perlu mengetahuinya, Varo... kau cukup tahu bahwa aku sudah menikah, dan ini adalah hasil dari pernikahan kami." Salwa ingin segera pergi dari tempat itu, namun suara Varo menghentikan langkahnya.


"Salwa, aku kecewa kepadamu. Kau bahkan tidak bisa menjaga kehormatanmu sendiri sebagai seorang perempuan. Kau menodai jilbabmu, kau berkamuflase sebagai wanita baik-baik agar laki-laki tertarik kepadamu. Tapi sebenarnya kau hanya perempuan murahan yang menutupi aibmu dengan wajah sok polosmu itu. Aku benar-benar membencimu," setelah mencurahkan segala kekesalannya kepada Salwa, Varo pun pergi meninggalkan Salwa, lalu diikuti Angela yang melirik sinis dengan tatapan mencemooh kepada Salwa.


Sean mulai mengerjapkan matanya, mengatur banyaknya cahaya yang masuk ke dalam pupil lalu berangsur menyesuaikan dengan sendirinya. Dalam beberapa detik ia sudah bisa membuka matanya dengan sempurna. Ia menatap sekelilingnya, hanya benda-benda berwarna putih saja yang tampak olehnya. Tetapi ada satu hal yang menarik perhatiannya, seseorang yang sedang menungguinya dan saat ini orang tersebut sedang tertidur dengan tangan menggenggam tangan kirinya.


"A...ayaah." Suara Sean terdengar lirih dan lemas, tetapi gerakan tangan Sean yang menyatu dengan tangan David berhasil membangunkan pria tua itu.


"Sean.. kau sudah siuman." David mengulas senyum bahagia melihat putranya sudah membuka mata, ia segera berbalik untuk memanggil suster yang merawat Sean.

__ADS_1


"A..ayah.., aku ingin.. minum." suara Sean masih begitu lemah, tetapi David masih bisa mendengarnya. Ia segera mengambil botol yang berisi air mineral lalu diberikan kepada Sean.


"Aku akan memanggil dokter untuk membantumu minum dan memeriksamu, tunggulah sebentar!"


"Tidak perlu, aku.. bisa meminumnya sendiri. Anakmu ini bukanlah anak yang manja." Sean berusaha duduk dari pembaringannya, meskipun kepalanya terasa pusing, tetapi ia masih sanggup melakukannya. Ia kemudian menyesap air mineral itu sekedarnya, hanya untuk membasahi tenggorokannya yang telah kering.


"Bagaimana kondisimu?" David mendekatkan kursi rodanya pas di sisi kiri ranjang Sean, ia menerima botol minuman yang Sean gunakan tadi lalu meletakkannya di atas nakas.


Sean tersenyum simpul, baru kali ini ia merasakan bagaimana dikhawatirkan oleh seorang ayah. Hatinya terasa menghangat dipenuhi dengan kebahagiaan. Ia tidak menyangka bertemu dengan ayah kandungnya sebegitu menyenangkannya sehingga rasa marahnya dulu berangsur-angsur menghilang.


"Aku baik-baik saja." Sean menghela napasnya kemudian melanjutkan perkataannya "Aku ingin kau bertemu dengan seseorang."


"Seseorang, siapa?" Tanya David dengan wajah yang penuh rasa ingin tahu.


Sean melebarkan senyumnya, raut wajahnya terlihat cerah dan sorot matanya berbinar dipenuhi dengan rasa cinta yang sangat ketara. "Seseorang yang sangat berarti bagi ku, yang sudah merubah kehidupanku, bahkan aku merasa nyawaku ada bersamanya?"


Wajah Sean yang dipenuhi dengan kebahagiaan ternyata menular kepada David, ia pun ikut tersenyum senang dengan pikiran masih bertanya-tanya. "Apakah yang kau maksudkan adalah seorang kekasih?"


"Lebih dari itu, bahkan aku sudah menikahinya." wajah Sean menerawang, menatap langit-langit kamar ruang perawatannya.

__ADS_1


"Aku sangat mencintainya dan merindukannya."


》bersambung...


__ADS_2