
Sean kembali ke hotel, hati dan pikirannya terasa kacau. Dalam situasi seperti ini ia sangat membutuhkan Salwa di sisinya. Perempuan itu yang terlihat lemah di luar, tetapi sanggup membuat hati Sean yang kaku menjadi lembut, yang gelisah menjadi tenang.
Saat ini ia hanya ingin satu hal. Ingin mendapat pelukan hangat dan tulus dari perempuan yang ia cintai. Sean melirik ke arah jam tangannya , masih pukul sembilan malam dan itu berarti di tempat Salwa sudah pukul delapan pagi.
Sean menghubungi nomor Salwa sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Sambil menunggu panggilannya diangkat ia menyesap kopi yang sudah dipesannya di restoran hotel tersebut.
.....
"Mas, apa kau baik-baik saja." Salwa cukup jeli saat Sean tak juga merespon salamnya ketika Salwa sudah menjawab panggilannya.
"Eh... maaf, apa aku mengganggumu?" Sean berpikir mungkin saat ini Salwa sedang ada kelas sehingga ia buru-buru meminta maaf setelah ia tersadar dari lamunannya.
"Tidak, aku sedang mengantri."
"Mengantri?" Sean membeo dengan menirukan perkataan Salwa.
"Maksudku menunggu panggilan," ucap Salwa lagi membenarkan kalimatnya.
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Aku... aku melihat catatan... jadwal pemberian kontrasepsi di laci kamar, dan ternyata jadwalnya sudah terlewat beberapa hari yang lalu. Dan saat ini aku ke klinik sendiri untuk melakukan pemberian suntikan kontrasepsi itu agar..."
"Tidak..." Salwa belum menyelesaikan perkataannya namun Sean segera menyelanya.
Salwa tidak boleh melakukan suntikan kontrasepsi selama Sean belum mengetahui kepastian akan hamil atau tidaknya Salwa, jika Salwa hamil hal itu bisa saja membahayakan janinnya dan Sean tidak ingin kehilangan anaknya untuk yang ke dua kalinya.
"Maksudku, tunggu mas pulang. Mas yang akan mengantarmu ke klinik yang bagus," kilah Sean menutupi kecemasannya. Untuk sementara Salwa tidak perlu tahu sampai Sean benar-benar mendapatkan bukti akurat akan kehamilan istrinya itu.
"Tapi sebentar lagi aku akan dipanggil?" Sayang kan sudah menunggu antrian begitu lama saat dipanggil justru ia sendiri yang membatalkannya.
"Tunggu mas pulang, kita akan mencari dokter kandungan terbaik yang akan menanganimu nanti."
"Baiklah, aku akan menunggumu."
Sean tersenyum, beruntung memang mempunyai istri yang penurut hingga ia tidak perlu panjang lebar mencari alasan, tetapi baru saja Sean merasa lega karena Salwa tidak jadi mendapatkan suntikan kontrasepsi, ia dikejutkan dengan perkataan Salwa selanjutnya.
"Mas, aku sudah mendaftarkan diri ikut klub bela diri kampus. Dan besok sudah mulai aktif latihan." Salwa berkata dengan bersemangat, ia yakin Sean akan mendukungnya apalagi itu bisa melindungi Salwa dari orang-orang jahat.
"Tidak, kau tidak boleh mengikuti kegiatan seperti itu." Sean buru-buru menyela sebelum Salwa melabuhkan harapannya. Latihan bela diri merupakan kegiatan yang menguras tenaga dan itu pasti sangat tidak dianjurkan untuk ibu hamil. Apalagi nanti akan ada latihan satu lawan satu dan jika Salwa terkena tendangan di perutnya pasti akan sangat berbahaya dengan kehamilannya.
__ADS_1
"Apa, .. kenapa?" Tanya Salwa heran, Sean bukan tipe pengekang dan bahkan ia sangat mendukung apapun keinginan Salwa asalkan itu positif. Tetapi kali ini Salwa merasa suaminya itu berubah.
"Mas sudah menyewa banyak bodyguard untuk melindungimu, kalau kau pintar bela diri lalu untuk apa mas mahal-mahal membayar mereka."
Salwa terkekeh, ada-ada saja alasan suaminya itu. Bukannya itu lebih bagus hingga Sean tidak perlu terlalu mencemaskannya dengan menempatkan banyak bodyguard untuk melindunginya.
"Kalau klub pecinta alam, seperti panjat tebing. Apakah boleh?"
Apa... Sean lama-lama bisa gila mendengar keinginan istrinya itu. Mengapa yang Salwa sukai adalah hal-hal yang berbau ekstrem seperti itu. Padahal sebelumnya Sean mengenal istrinya itu sedikit penakut dengan ketinggian, tetapi saat ini Salwa justru menginginkan ikut masuk ke dalam klub panjat tebing.
Tentu saja Sean tidak mengizinkannya, bagaimana kalau istrinya itu benar-benar hamil, lalu terjatuh dan keguguran.. aaah... Sean sungguh tidak mau ambil resiko dengan mengizinkan istrinya mengikuti kegiatan yang berbahaya seperti itu.
"Tidak, kau tidak boleh mengikuti hal semacam itu, itu terlalu berbahaya. Cari kegiatan lain yang tidak membutuhkan tenaga dan energi banyak."
Sekali lagi Salwa harus kecewa,entahlah ia merasa ingin berpartisipasi dalam kegiatan tersebut tetapi Sean malah melarangnya. Dengan berat hati Salwa menyetujui apapun yang Sean katakan kepadanya.
.....
》Maaf dikit-dikit, yang penting update yak.. kalau author punya waktu lebih akan update lebih banyak...
__ADS_1
tapi tetep kasih jejak cantik buat author yaa... 😘😘🙈🙈🙈