Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Pertikaian


__ADS_3

Sean membuka kembali pintu yang hampir tertutup itu, dengan menampilkan sorot mata yang tajam ia menyuruh pria itu masuk kembali ke rumahnya.


"Siapa kau sebenarnya," ucap Sean kemudian.


Pria itu menoleh ke arah sofa, badannya terasa remuk jika ia bercerita sambil berdiri, karena mungkin apa yang akan ia sampaikan pastilah membutuhkan waktu yang cukup lama.


"Apakah kita bisa bicara sambil duduk?" Tanyanya sambil memegang sandaran sofa tersebut. Sean mengangguk menyetujui, barulah pria itu berani meletakkan pantatnya di sofa empuk yang terasa begitu nyaman.


"Namaku Marcus, aku jauh-jauh datang dari Canada hanya untuk menemui mu, Sean Paderson."


Sean tampak penasaran dengan arah pembicaraan Marcus, ia mengambil duduk berhadapan dengan pria itu sambil menopangkan dagunya.


"Lanjutkan!" Perintah Sean kepada pria itu.


"Kau mungkin bingung, bagaimana aku bisa mengetahui tentang rahasiamu. Karena aku sudah memperhatikanmu sejak dulu."


"Sean, ayah kandung mu adalah paman ku, dan saat ini kondisinya sedang kritis, dia membutuhkanmu di sisinya."


Sean terkekeh mendengar penuturan Marcus yang sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang anak yang bahkan tidak pernah diketahui ada atau tidaknya saat ini sedang dibutuhkan oleh ayahnya.


"Aku bahkan menganggapnya tidak ada, kau tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Sekarang pergilah!" Sean sama sekali tidak mau ambil pusing dengan laki-laki yang katanya sebagai ayah kandungnya itu. Ia sejak dulu tidak mengetahui ayah kandungnya dan itu tidak jadi soal jika sampai mati pun ia tidak mengetahuinya.


"Sean dengarkan dulu penjelasanku!" Marcus masih berusaha meyakinkan Sean, ia tahu bahwa itu sulit namun ia harus mencobanya.


"Sepuluh menit, aku memberimu waktu sepuluh menit. Pergunakan waktumu dengan baik." Sean berucap sambil melihat ke arah jam tangannya.


Marcus menegakkan punggungnya, menunjukkan keseriusan arah pembicaraan mereka.


"Sean jika kau tahu paman sangat mencintaimu ibumu, bahkan sampai saat ini paman belum juga menikah karena tidak bisa mencintai wanita lain selain ibumu."


"Jangan mengarang cerita, laki-laki yang merampas kesucian ibuku dengan cara picik tidak pantas disebut sebagai laki-laki. Aku sangat menyayangkan dalam diriku mengalir darah laki-laki seperti itu." Sean mengepalkan tangannya membayangkan tentang kepedihan ibunya saat itu.

__ADS_1


"Sean, paman juga menyadari kesalahannya. Meskipun paman melakukannya beberapa kali dengan ibumu adalah sebuah kesalahan, tetapi ketahuilah bahwa paman melakukannya dengan perasaan cinta meskipun saat itu ibumu tidak menyadarinya."


"Paman sudah beberapa kali bertemu dengan ibumu tanpa sepengetahuan Robert Arthur, paman ingin mengajak ibumu pergi dan menikahinya tetapi ibumu menolak. Ibumu sangat mencintai ayah tirimu itu, meskipun ibumu tahu bahwa Robert mempunyai perempuan simpanan lain, ia tetap menunggu suaminya dan percaya jika suatu saat Robert akan menoleh kepadanya dan mencintainya."


"Saat itu paman ingin sekali melenyapkan Robert karena laki-laki itu telah menyia-nyiakan perempuan secantik dan sebaik ibumu. Tetapi melihat rasa cinta ibumu yang teramat besar untuk suaminya itu, paman mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin melihat ibumu bersedih dan menjadi seorang janda di usia muda. Mungkin jika saat itu paman membunuh Robert, ia bisa langsung membawa ibumu bersamanya lalu menikahinya, tetapi ia sadar jika ibumu tahu bahwa yang membunuh suaminya adalah pamanku, maka pernikahan yang diinginkan paman tidak akan pernah terjadi."


Hati Sean terasa ngilu mendengar penjelasan Marcus, begitu menderitanya ibunya dulu, cinta yang begitu besar dan tulus tidak berbalas sampai akhir hayatnya.


"Oleh karena itu paman memutuskan untuk meninggalkan cintanya, berusaha melupakan ibumu karena ia yakin mencintai istri orang adalah salah, dan cintanya itu tidak akan pernah terbalas."


"Bagaimana kau tahu bahwa aku bukan anak kandung Robert?" Sean menanyakan dengan nada datar tanpa emosi.


"Saat pertama kali melihatmu, aku sudah tahu karena wajahmu begitu mirip dengan wajah pamanku, tetapi aku masih ragu sampai pada akhirnya kau sudah tidak berada di perusahaan Arthur dan kau mengganti nama belakangmu dengan nama ibumu, aku yakin jika kau adalah putra kandung paman."


Marcus kembali menyeka darah yang masih mengalir di hidungnya, lalu ia melanjutkan perkataannya.


"Sean, ikutlah denganku. Kondisi paman sedang kritis, dan saudara-saudaranya banyak yang menginginkan posisi paman saat ini sehingga beberapa kali mereka ingin mencelakai paman. Hanya kau yang bisa menolongnya."


"Sean, kau tahu perusahan Deslaurier?"


Sean tampak mengingat-ingat perusahaan yang namanya terasa tidak asing di telinganya. Ia kembali membuka memori-memori lamanya dalam ingatannya. Ya perusahaan itu sempat berada di urutan pertama yang menjadi prioritas perusahaan Arthur saat Robert yang memegangnya, dan arsipnya pun masih tersimpan rapi di ruang kerja Sean. Tetapi tiba-tiba saja perusahaan tersebut mengakhiri kerjasamanya begitu saja dan itu terjadi sudah sangat lama.


"Pamanku David Deslaurier adalah pemiliknya, ia merintis perusahaan dari nol sampai berkembang begitu pesat hingga sekarang. Jika terjadi sesuatu dengan pamanku kedua orang saudaranya akan mengambil alih perusahaan tersebut dan mungkin perusahaan yang dengan susah payah dibangun oleh paman akan porak poranda bahkan bisa hancur seperti perusahaan Arthur yang merosot drastis setelah kau tinggal." Marcus masih menatap Sean dengan serius, ia tidak mempedulikan rasa nyeri di wajahnya akibat pukulan-pukulan Sean.


"Apakah kau menginginkanku untuk memohon harta warisan pamanmu itu, apa kau pikir aku tidak bisa menghidupi keluargaku dengan jerih payahku sendiri? Aku sama sekali tidak membutuhkan dan peduli dengan perusahaan Deslaurier yang kau bicarakan itu." Sean merasa kesal dengan perkataan Marcus. Sungguh uang tidak begitu berarti bagi Sean saat ini, ia sudah meninggalkan perusahaan Arthur dan memulai semuanya dari awal. Mencoba hidup lebih baik dan damai bersama istrinya.


"Aku tahu kau tidak peduli, tetapi dengan tidak ada pewaris utama yang merupakan anak kandung dari paman maka kedua saudaranya akan saling berebut tanpa tahu malu."


"Sudah aku bilang, aku tidak peduli," bentak Sean lagi. Ia ingin segera menyelesaikan perdebatan ini. Ini sudah lebih dari sepuluh menit dari waktu yang ia janjikan.


"Tetapi aku peduli, aku jauh-jauh datang kesini dengan tujuan tertentu. Aku ditugaskan untuk menyelidikimu dan.... membunuhmu beserta istri dan anakmu."

__ADS_1


BRAAAKK


Sean menggebrak meja di depannya hingga membuat Marcus terkejut.


"Apa kau bilang, jangan harap kau bisa keluar dari sini hidup-hidup." Sorot mata Sean terlihat tajam dan menakutkan yang membuat Marcus merasa ngeri, mungkin benar dengan desas-desus yang ia dengar selama ini bahwa Sean salah satu ketua dari sekelompok organisasi bawah tanah yang disegani dan ditakuti oleh musuh-musuhnya.


"Dengarkan aku, jika aku mau aku sudah melakukannya saat menculik istrimu. Tetapi aku tidak melakukannya, Sean ku mohon ikutlah denganku. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa jika kau menunjukkan dirimu di depan mereka, dan paman pasti sangat bahagia bisa bertemu denganmu." Marcus terus memohon kepada Sean supaya laki-laki itu mau membantunya.


"Apakah kau ingin aku ikut denganmu, lalu membahayakan nyawa istriku disini?"


"Tidak, hanya aku yang tahu bahwa kau sudah menikah. Pernikahanmu sama sekali tidak tercium oleh media sehingga tidak ada satu orangpun yang tahu bahwa kau sudah menikah. Selama kau tidak mengumumkan siapa istrimu maka istrimu akan aman." Marcus menegakkan punggungnya lalu berdiri mendekati Sean.


"Selama mereka tahu bahwa paman mempunyai anak dan masih hidup dan surat wasiat itu belum mendapatkan ahli warisnya maka jangan harap hidupmu akan tenang dimanapun kau tinggal," ucap Marcus memperingatkan Sean.


"Tunggu!" Sean memanggil Marcus saat pria itu hendak pergi. Marcus menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Sean.


"Kau bilang dia pamanmu, lalu apa yang kau maksud ke dua saudaranya yang mengincar perusahaannya salah satunya adalah ayahmu?" Tanya Sean kemudian.


Marcus mengulas senyum, sepertinya usahanya akan berhasil melihat Sean antusias dengan ceritanya.


"Iya, dan saat ini mereka sedang menunggu hasil dari pekerjaanku yang memata-mataimu."


"Lalu mengapa kau melakukan ini, akan lebih baik bagimu jika aku tidak datang dan kalian bisa menghabiskan semua harta itu tanpa sisa."


Ya, jika Marcus salah satu orang yang menginginkan harta itu akan lebih baik jika Sean tidak ada sehingga pasti ia akan mendapatkan lebih banyak harta dari pamannya.


"Aku menginginkannya, tetapi aku sadar diri. Aku tidak sanggup mengelola perusahaan sebesar itu. Dan kau mampu melakukannya Sean Deslaurier."


"Aku menunggumu besok tepat jam sembilan pagi di airport. Datang atau tidaknya dirimu akan menjadi jawaban untukku." Marcus membalikkan badannya lalu berlalu meninggalkan Sean yang masih menatapnya dengan begitu banyak pertanyaan.


》lanjut ya, tp tinggalkan jejak buat author 🤭🤭🤭😘

__ADS_1


__ADS_2