
Nisa dan ketiga temannya menganga tak percaya dengan siapa tamu istimewa yang dimaksudkan oleh Angela itu. Bagaimanapun mereka tahu jika Salwa adalah saingan Angela, meskipun Salwa tidak pernah menunjukkannya kepada siapapun, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa perempuan itu menarik banyak lelaki yang ingin mendekatinya. Tetapi dirinya enggan membuka diri, wajahnya selalu sendu seperti banyak beban yang sedang dipikulnya.
Dan yang paling membuat Angela tidak menyukai Salwa adalah karena Varo. Lelaki kaya dan populer yang menjadi incaran Angela itu diam-diam memendam perasaan kepada Salwa. Meskipun Varo mengelak, tetapi teman-temannya tahu bahwa lelaki itu sering sengaja berjalan melewati kelas Salwa, atau berseliweran tak tentu arah hanya karena ingin melihat senyum Salwa saat bercengkrama dengan teman-temannya. Terlihat bodoh memang, tetapi itulah kenyataannya.
"Kau tidak salah menyebut nama kan Angela?" Ririn menempatkan punggung tangannya di kening Angela memastikan gadis itu dalam kondisi baik-baik saja. Angela yang merasa baik-baik saja segera menepis tangan Ririn yang sudah berada di permukaan dahinya.
"Tidak, aku tidak salah ucap. Aku menginginkannya untuk hadir di acara ulang tahunku. Aku ingin membantunya untuk bertemu cinta pertamanya," ucap Angela penuh arti.
"Apa kau sudah gila, apa yang kau maksudkan adalah mempertemukan Salwa dengan Varo? Ya ampun Angela, kalau kamu udah bosen sama Varo, jangan buat Salwa, aku juga mau kalau sama Varo." Jean berucap dengan bersemangat, siapa juga yang tidak mau dengan cowok tampan, populer dan berprestasi, plus tajir lagi. Sungguh rasanya seperti ketiban durian runtuh.
"Varonya mau enggak sama kamu?" Ririn akhirnya ikut menimpali perkataan konyol Jean yang membuat Jean terkekeh karenanya.
"Kalau ada usaha, pasti maulah. Bukannya cinta akan tumbuh seiring waktu. Asalkan aku terus menempel kepadanya, mungkin hati Varo lama-lama akan luluh juga dengan pesonaku."
Ya benar, itulah yang ada di kepala Angela saat ini. Ia akan membuat Sean jatuh cinta kepadanya seiring waktu, asalkan Angela selalu ada di sampingnya. seperti kebanyakan cerita novel romance yang ia baca, pemeran utama pria yang semula sangat membenci pemeran utama wanita, pasti lambat laun akan saling mencintai. Menderita di awal tidak jadi masalah untuknya, asalkan setelahnya ia akan berbahagia karena mendapatkan cinta sejatinya, yaitu pangeran tampan berkuda putih yang kaya raya.
Angela berniat untuk menjebak Salwa saat berada di pesta ulang tahunnya. Perempuan polos itu pasti tidak akan menyadari jika Angela akan memberinya obat tidur di minuman atau makanannya. Angela akan mempengaruhi Varo, agar lelaki itu mau bekerjasama. Ia yakin meskipun Salwa sudah dihamili laki-laki lain, tetapi Varo masih mau dengannya. Sungguh beruntung Salwa, meskipun ia barang bekas tapi masih banyak yang berminat kepadanya.
Di saat obat tidur itu bekerja, Angela meminta Varo untuk menjalankan aksinya dengan meniduri Salwa yang tidak sadarkan diri. Dan pastinya Varo harus mendokumentasikan bagaimana mereka saling memadu cinta yang terlarang itu sebagai bukti yang akan ia berikan kepada Sean Paderson. Angela yakin, melihat istrinya berselingkuh , Sean akan menendang perempuan sampah itu kembali ke tempat asalnya. Ya , sampah harus tetap menjadi sampah, sampah tidak akan menjadi berlian meskipun dikemas dalam wadah cantik nan istimewa, sedangkan berlian akan tetap menjadi berlian meskipun berada di dalam tumpukan sampah.
Sementara Sean Paderson sudah sangat membenci Salwa karena telah berani menghianatinya, Angela akan datang sebagai perempuan baik-baik yang akan selalu ada untuknya. Angela akan menjadi pijakan hatinya yang sedang kesakitan dan akan menjadi pelipur lara yang paling setia.
Jika hal itu tidak berhasil, mungkin Angela bisa menjebak Sean juga dengan memberinya obat yang meningkatkan hormon seksualnya sehingga Angela dengan mudah menjadikan dirinya sebagai umpan pancingan untuk dijadikan pemuas Sean Paderson agar birahinya tersalurkan. Dan setelah semua terjadi diantara mereka, Angela bisa meminta pertanggungjawaban Sean agar menikahinya.
Angela menipiskan bibir, sungguh rencana yang sempurna. Ia sudah sangat tidak sabar untuk memulainya. Sean akan menjadi miliknya sementara Salwa, Angela tidak peduli mau bagaimana nasib perempuan itu selanjutnya. Prioritasnya hanyalah Sean Paderson bukan yang lain.
"Angela, Angela." Jean menggerakkan telapak tangannya yang terbuka dengan gerakan ke kanan dan ke kiri di depan wajah Angela yang sedang termenung dengan senyum-senyum sendiri.
Angela seketika tersadar dari lamunannya, ia kemudian menggeleng - gelengkan kepalanya sedikit, lalu menarik kedua sudut bibirnya yang semakin lama membentuk sebuah lengkungan yang tipis.
"Nisa, pastikan Salwa datang. Dia pasti akan sangat bahagia jika ternyata bisa bersatu dengan cinta pertamanya." Angela berusaha memprovokasi Nisa, perempuan itu hanya mengangguk tanpa berucap janji. Tetapi ia memutuskan akan mengusahakannya, karena Nisa juga menginginkan kebahagiaan untuk Sakwa.
Nisa memanglah bukan teman akrab Salwa, tetapi ia tahu bahwa gadis itu adalah gadis yang baik, gadis yang mempunyai tekad kuat dalam dirinya untuk memperjuangkan kehidupan keluarganya. Bahkan Nisa pernah mengetahui Salwa menjajakan kopi dan es teh di jalanan hanya untuk mendapatkan uang tambahan. Gadis itu sama sekali tidak malu melakukannya, padahal ia merupakan siswa berprestasi di sekolah, parasnya juga lumayan cantik meskipun tubuhnya terlihat kurus kurang gizi.
__ADS_1
Mungkin karena tekanan kehidupan yang membuatnya menjadi perempuan tangguh di usianya yang masih sangat muda. Nisa memang kagum dengan sosok Salwa yang sangat sabar menjalani roda kehidupan yang keras ini tanpa mengeluh sedikitpun. Nisa bahkan sangat malu kepada dirinya sendiri karena sempat marah kepada ayahnya gara-gara tidak dibelikan motor baru sesuai keinginannya. Ah, rasanya Nisa harus belajar sabar, ikhlas dan bersyukur dari Salwa. Entah, bagaimana nasib Salwa sekarang. Nisa berharap gadis itu mempunyai kehidupan lebih baik dari sebelumnya.
"Kamu yakin bakal ngelepas Varo buat Salwa, kan sayang banget. Kalian udah deket selama bertahun-tahun loh, masak harus bubar gitu aja sih?" Ririn mengomel seolah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Karena Varo tidak mencintaiku, sepertinya aku harus mengaku kalah dengan Salwa, sehingga aku harus memilih untuk menyerah dengan perasaanku dan membantu mereka berdua untuk bersatu." Angela berkata dengan bijaknya membuat semua orang yang mendengar terkagum-kagum dengan nya.
"Aku mengira kau adalah gadis sombong yang angkuh, tetapi setelah melihatmu dan mengenalmu lebih dekat, ternyata engkau adalah gadis yang sangat baik Angela. Aku salah menilaimu selama ini. Semoga kau menuai apa yang telah engkau perbuat. Salwa pasti akan sangat bahagia jika mengetahui bahwa ada orang lain yang peduli dengan kebahagiannya." Nisa tersenyum haru mengatakan itu semua kepada Angela. Ia akan mencari tahu alamat Salwa dan akan berbicara dengan gadis itu untuk ikut acara reuni.
Nisa akan meminjami Salwa baju terbaiknya jika perempuan itu bingung harus mengenakan pakaian apa, karena Nisa tahu Salwa bahkan tidak memiliki baju baru setiap tahunnya.
"Ya ampun beb, aku gak nyangka kamu makin dewasa dan bijaksana. Aku makin bangga bisa temenan sama kamu. Varo nyesel banget nanti udah sia-siain cewek sebaik dan secantik kamu." Olivia berkata sambil memeluk Angela dengan hangat sebagai sahabat. Angela hanya menipiskan bibirnya, menanggapi pujian demi pujian yang dilontarkan oleh satu persatu temannya kepada dirinya.
Setelah berbagai obrolan mereka bicarakan, berakhir sudah pertemuan kelima orang tersebut. Angela menuju kasir untuk membayar seluruh tagihan makanan yang telah mereka habiskan. Ia mengeluarkan credit card-nya untuk diserahkan kepada penjaga kasir. Petugas kasir melakukan pembayaran dengan segera menggunakan kartu kredit yang diberikan Angela, tetapi gagal.
"Maaf nona, credit card anda sepertinya sudah batas limit." Kasir itu menyerahkan kartu itu kepada Angela. Angela mengerutkan kening, lalu ia mengeluarkan kartu kredit yang lain dari dalam dompetnya.
"Gunakan yang ini!" Perintah Angela dengan ketus.
"Maaf, kartu ini juga tidak bisa digunakan, apa ada kartu yang lain atau nona membayar dengan uang cash saja?" Kasir itu berbicara sopan dengan memberikan kembali kartu kredit milik Angela.
"Terimakasih nona, ini debit card anda," kasir itu berucap sopan sambil memberikan kembali debit card milik Angela setelah berhasil melakukan pembayaran.
Angela langsung pergi tanpa menjawab ataupun mengangguk perkataan petugas kasir. Menjawab atau meladeni perkataan orang miskin hanya membuatnya membuang-buang waktu berharganya dengan sia-sia. Kakinya melangkah dengan jangka maksimal yang bisa ia lakukan tanpa peduli norma keanggunannya karena ia buru-buru ingin pulang.
Tinggal sedikit lagi Angela akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia harus percaya diri dengan kemampuannya, selama ini dirinya menjadi pusat perhatian kaum adam, tetapi hanya dua orang lelaki yang sempat menarik perhatiannya yaitu Alvaro dan Sean Paderson. Dan untuk yang satu ini ia akan berjuang mati-matian untuk mendapatkan cinta sejatinya.
Angela melajukan mobilnya dengan sedikit cepat, hal yang pertama akan ia lakukan adalah menemui papanya yang sepertinya sekarang adalah jam istirahat. Iya harus meminta jawaban atas apa yang terjadi dengan credit card-nya yang tidak bisa digunakan. Apakah papanya sengaja tidak membayar tagihan atau mengurangi batas limit card credit miliknya agar Angela lebih berhemat lagi. Tidak, itu tidak boleh terjadi, karena saat ini dirinya membutuhkan banyak uang untuk menarik mangsanya jatuh dalam jebakannya. Jika ia kekurangan dana semuanya akan sia-sia saja. Harapannya menjadi nyonya Paderson yang kaya raya akan pupus seketika.
.....
"Papa, apa yang papa lakukan dengan kartu kredit Enji?" Engela menerobos masuk ke ruangan papanya yang saat ini sedang menerima tamu. Papa Angela, Alif Reynan menatap putri semata wayangnya itu dengan tatapan tidak suka. Ekor matanya mengisyaratkan agar Angela segera keluar dari ruangannya.
Angela bergeming, ia masih berada di depan meja Alif , tidak peduli dengan situasi yang sedang terjadi. Dengan geram Alif yang sebelumnya berpamitan dengan tamunya itu berdiri menarik lengan Angela dengan kasar menuju ke ruang sebelahnya yang kosong.
__ADS_1
"Papa lepaskan!" Angela membentak Alif dengan menarik lengannya sendiri dari cengkraman papanya.
"Sejak kapan papa mengajarimu tidak menghormati tamu." Alif membebaskan lengan Angela setelah lelaki paruh baya itu menutup pintu ruangan kosong di samping ruang kerjanya.
Angela tidak menjawab, ia hanya melihat bekas cengkraman papanya yang membekas di lengannya.
"Papa tega sekali menyakitiku," ucapnya dengan mengusap lengannya yang kemerahan itu. Alif menghela napasnya, anaknya ini memang sedikit manja. Alif ikut andil dalam sifat Angela yang masih manja ini. Alif dan istrinya Aleena memang sudah lama menantikan anak, hampir sembilan tahun mereka tidak mempunyai anak karena penyakit yang di derita Aleena, sehingga mereka memutuskan melakukan program in fitro vertilization untuk mendapatkan keturunan. Dan ternyata program yang mereka jalani berhasil, Angela dilahirkan tepat saat ulang tahun pernikahan mereka yang kesepuluh.
Karena hanya Angela yang mereka miliki dan penantian memiliki anak yang begitu panjang membuat keduanya sangat protective dan memanjakan Angela, sehingga Angela tidak pernah mendengar kata tidak dari kedua orang tuanya.
Dengan cara mendidik seperti itu membuat Angela tumbuh menjadi gadis sombong yang harus terpenuhi segala sesuatu yang ia minta. Ia tidak ingin mendengar penolakan dari siapapun , meskipun itu dari kedua orang tuanya sendiri.
"Baiklah, mengapa kamu datang ke tempat kerja papa. Apakah kamu tidak bisa menunggu sampai papa pulang?" Alif mendaratkan bokongnya di salah satu kursi yang ada di ruangan itu, mungkin dengan duduk amarahnya akan sedikit mereda.
"Apa yang papa lakukan dengan kartu-kartu kreditku, semuanya tidak bisa digunakan." Angela mengeluarkan semua credit card-nya untuk ditunjukkan kepada Alif, tetapi di luar dugaannya, Alif hanya melihatnya sekilas sambil menipiskan bibirnya seolah hal itu sudah diketahuinya sebelumnya.
"Hal itu yang ingin papa tanyakan kepadamu."
"Maksud papa, semua credit card yang aku miliki tidak berfungsi karena kesalahanku? Omong kosong apalagi ini?" Angela tidak terima jika ia dipersalahkan, karena ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun sebelumnya.
"Apakah kamu berhasil mendapatkan proyek dari tuan Paderson?"
Angela menunduk, dirinya memang gagal. Tetapi kegagalannya itu bukan semata-mata karena dia yang kurang pintar, tetapi semuanya karena gadis kampungan itu yang membuat Sean Paderson menolak bekerjasama dengannya.
"Papa, hal itu tidak menjelaskan semuanya. Tidak ada kaitannya gagalnya kerjasama dengan tuan Paderson dengan credit card Enji."
"Kamu pura-pura tidak tahu atau memang tidak tahu . Papa hanya menyuruhmu menjalin kerjasama dengan tuan Paderson, bukan mengurusi masalah rumah tangganya. Papa tidak pernah mengajarimu untuk merusak rumah tangga orang lain. Kamu tahu akibat dari kebodohanmu itu, Semua komisaris dan investor kita mulai menarik sahamnya di perusahaan papa. Dan proyek yang ingin papa mulai tidak ada satupun investor yang mau meliriknya. Dan tadi, saat papa mencoba bernegoisasi dengan salah satu pemilik saham, kamu datang dan mengacaukannya. Jika hal ini berlangsung terus- menerus, papa tidak tahu akan dibawa kemana perusahaan ini nanti. Mungkin jika papa tidak bisa membalikkan keadaan, papa akan hanya menjadi seorang kepala sekolah biasa."
Angela terngaga mendengar semua perkataan papanya. Tidak, ia tidak boleh bangkrut, Salwa pastinakan semakin menertawainya. Angela butuh banyak modal untuk merayakan pesta ulang tahunnya sekaligus melaksanakan rencananya.
"Papa tidak boleh bangkrut, berpikirlah pa, Enji tidak mau jatuh miskin papa." Angela menangis, ia tidak ingin harapannya musnah. Rencananya sudah sangat sempurna, jika papanya bangkrut bagaimana ia bisa menjalankan misi pentingnya itu. Harapan dan masa depannya yang bahagia menjadi istri dari Sean Paderson hanya akan menjadi sebuah mimpi saja dan tidak akan pernah terwujud.
\=ใBersambung...
__ADS_1
Tinggalin jejak ya kakak, di setiap chapternya ๐๐