Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Positif


__ADS_3

Alfatih dan Ahsan bersamaan menelan ludah, wajah Sean yang selalu terlihat dingin itu membuat nyali mereka berdua menciut. Mereka saling pandang dengan tangan yang saling menyikut.


"Kamu aja," ucap Ahsan lirih menyuruh adiknya bicara, namun Alfatih juga melakukan hal yang sama.


"Abang aja."


Sean menahan tawa dengan sedikit menipiskan bibirnya saat melihat kedua adik iparnya saling menyuruh dan tak berani menatapnya. Ia masih menampilkan wajah dingin tak bersahabat kepada ke dua bocah itu.


"Ada apa, kenapa diam." Sean melipat kedua tangannya di dada sambil bersandar di kusen pintu.


"Anu kak, itu... ada perlu sama mbak Salwa." Ahsan sedikit berjinjit mengintip ke dalam mencari keberadaan kakaknya, tetapi tubuh Sean yang besar dan tinggi itu menghalangi pandangannya.


"Perlu apa? Jangan mengintip!" Sean menegur Ahsan yang ketahuan mengintip ke dalam. Tentu saja Sean tidak mau melihat adik iparnya melihat kakaknya sedang bersembunyi di balik selimut tanpa mengenakan pakaian, apalagi pakaian Salwa masih tercecer di lantai akibat ulahnya.


"Nitip salam aja kak, dicariin kami. Mau nagih janji yang kemarin." Ahsan buru-buru berbalik arah sambil menarik lengan Alfatih. Mereka berjalan cepat menuruni tangga menuju meja makan.


"Ya ampun.. suami mbak Salwa serem banget," ucap Ahsan lirih yang diikuti anggukan oleh Alfatih.


"Mbak Salwa gak takut apa ya," imbuh Alfatih yang sudah mendaratkan bokongnya di kursi meja makan.


"Sudah, ayo makan duluan."


.....


Sean menutup kembali pintu kamarnya, ia tidak lupa juga menguncinya.


"Emmm.. mengganggu saja mereka," gumamnya sambil melangkah menuju ranjangnya lagi. Mendengar pintu sudah ditutup Salwa membuka selimutnya sampai sebatas dagu. Bola matanya menurut kemana Sean berjalan.


"Gimana mas, mereka udah pergi?"


"Tentu saja, mereka lari ketakutan," ucap Sean dengan nada bangga. Salwa menganga, maksudnya apa coba mengatakan kedua adiknya lari ketakutan.


"Kamu pasti galak sama ke dua adikku. Jangan galak-galak lah, kasihan mereka." Salwa mencubit perut suaminya itu sambil menyipitkan matanya.


"Kok dicubit?" Sean memasang wajah kesakitan dengan sedikit meringis.


"Hukuman, karena nakut-nakutin adek aku," ucap Salwa sambil melipat tangan di dada. Sean terkekeh, hukuman yang ia terima berbeda dengan sebelumnya.


"Kenapa hukumannya gak sama dengan tadi malam?"


"Hah.. hukuman apa? memang siapa yang dihukum?" Salwa masih bingung dengan yang Sean ucapkan. Tetapi Sean mulai memperagakan hukuman terakhir yang Salwa berikan kepadanya.


"Seperti ini semalam kau menghukumku." Sean menangkupkan ke dua tangannya di pipi halus istrinya dengan gerakan mengusap-usap lembut lalu kemudian mencium bibir ranum itu dengan perlahan. Sean menekan bibirnya menggoda membuat Salwa sedikit membuka mulutnya memberi akses lidah suaminya itu menjelajah di rongga mulutnya, semakin lama terasa semakin dalam hingga Salwa tak bisa menahan diri untuk tidak melengkungkan ke dua lengannya di leher Sean. Ciuman itu berakhir saat Salwa mendorong dada suaminya itu karena kehabisan napas.


Sean mengusap bibir lembab istrinya itu, lalu berbisik dengan nada menggoda.


"Kita lanjutkan lagi yang tadi ya...," ucap Sean lirih di telinga Salwa.

__ADS_1


\=》 Bayangin sendiri yak.. 😁😁 πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


.....


"Wah.. semuanya positif." Sean memandang jajaran tespek yang sudah Salwa gunakan semuanya. Perasaan takjub dan bahagia terpancar jelas di bola matanya. Rasanya begitu haru mengetahui kehamilan sang istri sedini mungkin, sehingga dirinya akan lebih hati-hati menjaga Salwa agar istrinya dan janinnya baik-baik saja. Pengalaman kehilangan anak pertama sebelum melihat dunia membuat Sean semakin protektif terhadap kondisi Salwa.


Pun demikian dengan Salwa, ia berjanji akan selalu berhati-hati untuk menjaga calon buah hati mereka. Ia mengusap-usap perutnya yang masih datar dengan perasaan senang bercampur syukur yang tak terhingga. Tuhan telah memberikan kesempatan dirinya untuk memiliki anak lagi, dan kali ini kehamilannya akan terasa menyenangkan karena Sean berada disisinya. Ia tidak akan menangis setiap malam seperti sebelumnya, takut dengan masa depan anaknya dan bagaimana ia harus bertahan hidup di saat ia berjauhan dengan suaminya itu.


Namun, tiba-tiba wajah Salwa berubah murung membuat Sean menjadi ragu. Apakah Salwa tidak menginginkan kehamilan itu? Apakah Salwa menyesal telah mengandung anaknya?


"Ada apa, apa yang membebani pikiranmu?" Sean berucap lembut dengan memegang ke dua bahu Salwa. Salwa yang tadinya menunduk, menengadah memandang wajah Sean yang tampak cemas karenanya.


"Mas, apakah setelah mengetahui kehamilanku, aku masih boleh kuliah?" Salwa menatap dalam ke bola mata Sean, meminta izin dengan perasaan berharap banyak meskipun ia tahu bahwa Sean pasti melarangnya karena janinnya masih sangat lemah, apalagi dokter Alan mengatakan bahwa rahimnya belum siap untuk menahan janin yang akan bertumbuh di dalam perutnya.


Sean tampak berpikir, ia juga bingung. Di satu sisi ia sangat menginginkan bayi itu. Ia akan menyayangi sepenuh hati dan menjaga anaknya dengan segala kemampuannya. Sean tidak ingin anaknya itu menjadi sepertinya yaitu sebagai anak yang tak diinginkan dan tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Sean akan memberikan seluruh kasih sayang dan perhatiannya untuk buah hati mereka.


Tetapi di sisi lain, ia tidak tega jika harus mengorbankan keinginan istrinya sejak dulu yaitu melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda. Apalagi Sean sudah berjanji mengizinkan Salwa untuk melanjutkan pendidikannya. Tidak mungkin ia menjilat ludahnya sendiri dengan melarang Salwa kuliah.


Sean mengulas senyum teduh di bibirnya. Tangannya merapikan anak rambut Salwa dengan menyelipkannya di belakang telinga.


"Mas menyayangimu, sangat menyayangimu. Percayalah, apapun yang mas lakukan adalah demi kebaikanmu." Sean menghadiahi kecupan di dahi Salwa yang membuat Salwa meneteskan air mata. Apakah usahanya untuk masuk ke perguruan tinggi yang ia inginkan akan sia-sia karena terhenti sekarang? Ada rasa kecewa dalam diri Salwa, keinginannya yang sejak dulu sepertinya tidak akan pernah terlaksana.


"Tidak, jangan menangis. Kau tahu bahwa mas tidak sanggup melihat air mata kesedihan keluar dari matamu." Sean mengusap air mata Salwa dengan ke dua ibu jarinya lalu mencium kedua kelopak mata Salwa secara bergantian.


Salwa memeluk Sean dengan membenamkan wajahnya di dada lelaki itu, ia masih terisak. Entahlah sepertinya ia benar-benar kecewa.


Sean menepuk-nepuk punggung istrinya itu lembut, ia mengerti dengan perasaan Salwa. Istrinya itu sebelumnya adalah seorang siswa yang giat dan rajin belajar. Ia mempunyai keinginan dan cita-cita yang besar, tetapi karena suatu kondisi , Salwa harus merelakan cita-citanya pupus di tengah jalan. Dan saat ia mempunyai kesempatan untuk mengejar cita-citanya kembali, tentunya ia sangat bahagia tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena ia terjebak dengan kehamilan yang tak direncanakan itu. Sedikit banyak pastilah Salwa akan merasakan kekecewaan di dalam lubuk hatinya yang paling dalam meskipun ia tahu anaknya adalah yang terpenting dan menjadi prioritas utama saat ini.


"Menangislah, jika itu membuat hatimu tenang." Sean berucap lirih sambil memeluk erat istrinya itu yang masih menangis di dalam dekapannya.


.....


Sean mengantar Salwa bersama dua orang adiknya ke rumah pak Dodik. Sesuai janjinya Salwa akan meminta maaf dan membayar mangga yang telah dicuri oleh Ahsan. Sean yang berada di balik kemudi menatap dari kaca spion dua adik iparnya itu yang agak ketakutan. Mereka bukan ketakutan karena akan bertemu dengan pak Dhodik, melainkan takut dengan tatapan dingin Sean yang ditujukan kepada mereka berdua.


"Gila, aku sama sekali gak berani menatap ke depan," ucap Ahsan lirih dengan menunduk. Alfatih pun sama, ia hanya melirik ke arah Ahsan dan tak berani menatap ke depan. Sean sudah seperti monster yang siap menerkam mereka kapan saja.


"San, dimana rumah pak Dodhik?" Salwa menoleh ke belakang di kabin penumpang yang saat ini sedang di duduki oleh Alfatih dan Ahsan.


"Eh.. ohh... apa mbak?" Ucap Ahsan terbata. Salwa mengerutkan ke dua alisnya, adiknya ini terlihat aneh.


"Kenapa kalian berdua?" Tanya Salwa lagi dengan menolehkan kepala sekaligus sedikit membalikkan badan agar lebih jelas menatap ke dua adiknya.


Ahsan dan Alfatih hanya menggelengkan kepala, tetapi Salwa bukanlah orang bodoh yang akan puas dengan jawaban gelengan kepala saja. Ia menatap suaminya yang sedang menyetir, barulah Salwa paham kenapa kedua adiknya itu seperti orang ketakutan.


"Mas," Salwa mencolek pinggang Sean yang sedang menyetir. Tetapi Sean hanya ber"heeemmm" ria tanpa berniat menjawab.


"Mas..., jangan galak-galak. Lihat tuh adek-adek aku, takut sama kamu," ucap Salwa menampilkan wajah garangnya kepada suaminya. Sean menoleh kepada istrinya itu lalu tersenyum.

__ADS_1


"Gitu kan bagus." Salwa mengusap-usap pipi Sean yang mau tersenyum dan menghilangkan wajah juteknya itu di depan adik-adiknya. Sean dengan cepat menangkap tangan Salwa lalu memberikan kecupan di buku jari Salwa beberapa kali. Kedua adiknya yang melihat hal itu langsung menganga tak percaya bahwa kakak iparnya yang galak itu bisa semanis itu dengan mbak Salwanya. Salwa segera menurunkan tangannya saat mengetahui kedua adiknya itu memperhatikan perlakuan Sean kepadanya. Salwa hanya tidak ingin pikiran polos mereka terkontaminasi dengan hal-hal seperti itu, apalagi Ahsan. Adiknya yang satu itu sudah mulai berani berpikir tentang pacaran.


Sean menghentikan mobilnya tepat di rumah yang ditunjukkan oleh Ahsan. Sebuah rumah yang rindang dengan pohon mangga yang berbuah lebat.


"Kalian turun dulu sana, mbak nyusul nanti." Ahsan dan Alfatih mengangguk lalu turun dari mobil, melangkah perlahan-perlahan agar lama sampai di teras pak Dodik. Melihat dua pengganggu sudah pergi, Sean langsung menangkup kepala Salwa lalu mencium bibir Salwa dengan gerakan menyes*** dan melum**** namun di lakukan dengan cepat.


"Itu hukuman, karena menggodaku saat menyetir." Salwa ternganga, kapan juga dirinya menggoda. Tetapi ia tidak mau ambil pusing karena Sean selalu saja menganggap berlebihan saat Salwa menyentuh dirinya.


"Aku akan cepat kembali, tunggu disini ya," ucap Salwa dengan menghadiahi kecupan singkat di pipi Sean lalu segera keluar dan menutup pintu sebelum Sean menangkapnya lagi. Sean mengusap pipi bekas bibir istrinya itu sambil tersenyum senang. Ia kemudian bersandar sambil menunggu ketiga orang yang ia sayangi itu menyelesaikan urusannya.


"Assalamualaikum." Ahsan berteriak sambil mengetuk pintu rumah pak Dodhik beberapa kali.


"Wa"alaikumsalam," jawaban dari dalam rumah yang terdengar jelas oleh Ahsan dan Alfatih. Pintu rumah terbuka dan muncullah sosok laki-laki berusia sekitar empat puluh tahunan mengenakan kain sarung dan kaos tanpa lengan. Wajah pria itu berubah galak saat melihat Ahsan dan Alfatih yang tengah bertandang ke rumahnya.


"Kalian lagi, berani sekali kalian...." pak Dodhik tidak jadi melanjutkan perkataannya saat melihat Salwa muncul di belakang dua orang yang ingin ia marahi itu. Wajahnya mendadak ramah dengan senyum dibuat semempesona mungkin. Salwa memang terlihat cantik hari ini, ia mengaplikasikan sedikit make up untuk memoles wajahnya karena ia sedang pergi bersama suaminya, pun tak lupa mengenakan pakaian terbaiknya yang terlihat anggun, cantik dan manis.


Salwa tersenyum ramah kepada pak Dodhik sambil menyatukan dua telapak tangannya ke depan memberikan salam.


"Maaf pak Dodhik, saya Salwa dan mereka berdua adalah adik-adik saya. Saya kesini ingin minta maaf atas ulah mereka yang telah mengambil mangga pak Dodhik tanpa izin, sekaligus ingin membayar mangga tersebut sebagai ganti rugi bapak." Salwa berucap sopan sekali membuat lelaki itu tak mampu berucap kata-kata selain membuka mulutnya lebar-lebar karena.... terpesona.


"Pak.. pak Dodhik" Salwa menggerak-gerakkan telapak tangannya di depan wajah Pak Dodhik karena lelaki itu sepertinya sedang bengong tak mendengarnya.


"Eh.. eh iya neng Salwa, gak apa. Gak perlu diganti. Ini malah saya suruh ngambil yang banyak kalau mau, tetapi mereka cuma ngambil dua," ucap Pak Dodhik dengan ramah. Ahsan dan Al hanya menjulurkan lidah, lalu berekspresi muntah mendengar perkataan Pak Dodhik.


"Tapi saya harus tetap membayarnya kan Pak, karena mangganya sudah habis yang mereka ambil kemarin."


"Enggak... enggak usah neng Salwa, cuma mangga aja. Kalau neng Salwa mau nanti saya ambilkan yang paling besar dan manis kayak neng," pak Dodhik mulai melancarkan jurus buayanya. Pak Dodhik memang seorang duda beranak satu, jadi sikap genitnya kepada seorang perempuan dikarenakan dalam proses mencari pengganti istri yang telah lama bercerai.


"Beneran nih pak, gak perlu diganti?" Tanya Salwa lagi.


"Beneran... emm.. neng Salwa jangan panggil pak dong, masak saya setua itu. Panggil mas atau abang gitu." Pak Dodhik berucap dengan mengulas senyum buayanya. Salwa hanya menaikkan ke dua alisnya, agak geli mendengar permintaan Pak Dodhik yang aneh itu. Tetapi baiklah, Salwa hanya perlu bersikap baik dan ramah saja setelah itu pamit pulang.


"Ayo.. ayo masuk, saya buatkan minum," pak Dodhik mempersilahkan ketiga tamunya itu masuk, lumayan lah buat pendekatan, pikirnya.


"Maaf, tidak perlu repot-repot. Saya sudah ditunggu suami saya di mobil. Emm.. terimakasih kalau gitu pak Dodhik atas kebaikan hatinya, kami permisi dulu. Asaalamualaikum," ucap Salwa kemudian lalu mengajak ke dua adiknya itu segera meninggalkan tempat.


"Waalaikum salam," pak Dodhik yang melihat paras laki-laki yang berada di dalam mobil itu pun merasa tingkat kePeDeannya luntur, ia merasa kalah bersaing dan akhirnya berbalik badan masuk ke dalam rumah dengan wajah memelas.


\=》Bersambung..


Maaf yak kemarin gak update, sinyal ngadat gak bisa buka aplikasi, tp ini partnya panjang loh.. jangan bilang seuprit atau sejumput lagi.. tar Author jd kezeeell... tau gak sih yang setiap hari kalian bilang seuprit atau sejumput itu author butuh waktu empat sampai lima jam mikir sambil nulis, belum saat ada iklan si kecil rewel, tuh bisa ngaret nulisnya sampe beberapa jam kemudian.. hehehe.. sorry curhat... pokoknya Author usahain update rutin yak..


Thaks yang udah ngeramein lapak Author, seneng deh kalo banyak yang komen, ninggalin jejak likenya.. apalagi yang udah berbaik hati nyumbangin vote,, author jadi terharu.. 😭😭😭


Semoga gak bosen yah, nanti Author mau lanjut lagi.. udah jam tiga pagi soalnya.. mau lanjut 😴😴😴😴


Selamat membaca 😘😘

__ADS_1


__ADS_2