Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Ke makam Ibu


__ADS_3

"Sudah bangun?" Sean menyapa Salwa sambil membawa baby Kinan dalam gendongannya. Ia menatap lembut istrinya yang tampak bingung karena bangun kesiangan. "Aku terlambat bangun?" ucap Salwa dengan terkejut. Melihat matahari sudah naik ke peraduannya dengan hawa panas yang menerpa wajahnya menandakan hari sudah siang, tetapi Salwa baru membuka mata.


"Kau terlalu lelah, jadi aku tidak tega membangunkanmu."


Tadi malam baby Kinan sedikit rewel sehingga Salwa harus begadang setelah membantu Sean tertidur. Sementara Sean yang sebelumnya selalu terbangun saat ada suara tangisan bayi, ia justru terlelap dengan tenang, sehingga Salwa harus menggendong Kinan seorang diri semalaman. Ia baru meletakkan bayi mungil itu ke dalam boxnya saat hari menjelang subuh.


"Aku akan memandikan Kinan terlebih dulu." Salwa beranjak dari tidurnya ingin memandikan baby Kinan tetapi Sean menahannya.


"Makanlah dulu, kau tentu sudah sangat lapar karena semalaman menyusui Kinan. Aku sudah memandikannya, jadi kau bisa tenang," ucap Sean kemudian.


Salwa melihat anaknya tertidur pulas dengan pakaian yang sudah bersih, baunya juga harum layaknya bau bayi. Salwa mencium pipi gembul Kinan dengan perlahan agar tidak mengusik tidur lelapnya.


"Apa mas sudah makan?" tanyanya kemudian dengan mengambil alih baby Kinan lalu meletakkan bayi mungil itu di box bayi. Mata Sean mengekor kemana baby Kinan berada, menatap penuh sayang anak lelakinya itu.


"Belum, kita bisa makan sama-sama."


Salwa mengangguk, "Aku membersihkan diri dulu," ucapnya sambil melangkah menuju kamar mandi. Sean menunggu Salwa sambil duduk di kursi yang terdapat meja kecil di depannya. Sean sudah meminta pelayan untuk membawakan makan paginya ke kamar, karena ia tidak mungkin untuk meninggalkan anaknya sendiri.


Tidak butuh waktu lama Salwa sudah keluar dari kamar mandi, ia terlihat segar dengan mengenakan jubah handuk berwarna putih. Rambutnya yang basah bersembunyi di balik handuk tebal dengan menyisakan tetesan bulir air yang meluncur di ujung rambut yang tidak tertutup.


Dengan langkah perlahan, ia berjalan melewati Sean begitu saja menuju lemari pakaian. Sean menatap Salwa penuh minat, di saat perempuan itu membuka balutan handuk di kepalanya dengan gerakan mengusap-usap berupaya mengeringkan rambutnya. Sean kembali menelan ludah, hanya melihat itu saja ia sudah tidak tahan ingin menerkam istrinya itu. Ia berdoa dalam hati, semoga Salwa bisa mempercepat masa nifasnya dan lukanya cepat sembuh, dengan begitu ia tidak perlu menahan-nahan lagi seperti saat ini.


Sean mengalihkan perhatiannya ke arah lain, akan berbahaya rasanya jika ia terus memandang Salwa, apalagi setelah ini istrinya itu pasti akan berganti pakaian dan hal itu bisa membuat Sean gelisah sepanjang hari jika menyaksikannya secara langsung.


Sean menscroll layar ponselnya, memeriksa email ataupun pesan dari kantornya tetapi tidak ada hal penting yang berarti membuatnya kembali menutup layar ponsel pintar itu. "Kenapa lama sekali?"gumamnya dalam hati. Entahlah, menunggu Salwa berganti pakaian kali ini terasa begitu lama, bahkan detak jantungnya semakin lama berpacu semakin cepat. Dengan tidak sabar, Sean menolehkan wajahnya ke tempat di mana Salwa berdiri, dan Salwa masih belum juga berganti pakaian membuat Sean tidak tahan lagi jika tidak mendekat.


Sean melebarkan langkahnya menuju lemari pakaian yang masih terbuka, ia melihat Salwa membungkuk membolak-balikkan isi tas yang ia keluarkan dari dalam lemari. Jubah handuknya tampak terangkat di bagian belakang, membuat Sean kembali menelan ludah. "Cih, apa dia sedang menggodaku," gumam Sean lagi yang kini sudah berada tepat di belakang Salwa.


"Mencari apa?" tanya Sean kemudian yang membuat Salwa segera menegakkan punggungnya lalu menoleh ke belakang.


"Mas lihat pembalut tidak?" Wajah Salwa tampak kebingungan mengingat-ingat di mana ia menyimpan barang pribadinya itu.


"Pembalut?" tanya Sean dengan mengulang perkataan Salwa yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh istrinya itu.


"Tidak, aku tidak melihatnya." Sean menjawab dengan melihat isi tas yang sudah beberapa yang dikeluarkan dari tempatnya tercecer di lantai. Salwa mengangguk lalu memalingkan wajahnya, ia kembali membungkuk mencari-cari di mana barang itu berada. Rambut Salwa yang masih terasa basah menerpa wajah Sean di saat perempuan itu memalingkan wajah untuk mencari barang pribadinya. Sean berdehem menetralkan perasaan yang bergejolak dalam tubuhnya, tetapi ia tidak mampu membendungnya.


Sean membalikkan tubuh Salwa supaya menghadapnya, tanpa peringatan sebelumnya ia sudah melahap dengan rakus bibir istrinya yang terasa segar, manis dan lembab. Ia membuka sedikit jubah handuk itu tetapi Salwa langsung menahannya.


"Mas, aku belum siap." ucap Salwa dengan menyesal. Sean menghembuskan napas berat, ia mengangguk mengerti lalu membawa Salwa dalam pelukannya, menetralisir debaran jantung dan rasa nyeri di bawah sana. Ia harus bersabar dan bersabar lagi, dan itu harus membutuhkan tenaga ekstra agar di bawah sana tidak selalu berontak untuk dipertemukan dengan jodohnya.

__ADS_1


Setelah beberapa menit mereka berpelukan, barulah Sean melepaskan Salwa.


"Kau membutuhkan pembalut? Aku akan bertanya kepada Catherine." ucap Sean setelah memastikan Salwa tidak mendapatkan apa yang ia cari.


Salwa mengangguk, "Aku tunggu di kamar mandi."


"Kamar mandi?" Seketika pikiran Sean kembali kotor dengan bayangan-bayangan liarnya mendengar Salwa menunggunya di kamar mandi.


"Iya, aku tidak mungkin menunggu di sini. Darahnya akan tercecer di karpet nanti."


"Oohh." Sean hanya ber 'oooh' dengan raut wajah kecewa, pikirannya sudah membayangkan hal lain yang sepertinya terlalu jauh dengan apa yang dipikirkan Salwa.


"Baiklah, aku keluar sebentar."


Sean menutup pintu kamarnya dengan rapat, lalu berjalan beberapa langkah menuju kamar di sebelahnya. Ia mengetuk pintu kamar Catherine. Abust seharusnya sudah berangkat bekerja bukan? Sehingga tidak mungkin mereka saat ini sedang melakukan hal-hal aneh di dalam.


Sean kembali mengetuk pintu karena Catherine tidak juga membukakan pintu kamarnya. Sean mendengkus, ia sebenarnya tidak ingin menemui perempuan itu, tetapi saat ini hanya Catherine yang mampu menolongnya.


Sean ingin mengetuk lagi, tetapi tiba-tiba pintu terbuka. Abust keluar dengan memunculkan hanya kepalanya saja untuk melihat siapa yang datang.


"Hey, apa yang kau lakukan?" Abust memasang wajah kesal kepada Sean karena telah mengganggunya.


"Kau masih di sini? Apa kau tidak bekerja?" ucap Sean dengan mengerutkan kedua alisnya. Melihat Sean yang mengganggunya Abust keluar dari kamarnya, lalu buru-buru menutupnya kembali. Lelaki itu tampak berantakan, ia bertelanjang dada dengan celana yang dipakai serampangan seolah ia terburu-buru saat mengenakannya.


"Hahaha, bukannya kau juga tidak mengajak kakak ipar kemana-mana setelah menikah. Bahkan kalian tidak pernah terlihat berbulan madu ke tempat-tempat indah. Kasihan sekali kakak ipar punya suami pelit." Abust berucap dengan menyindir Sean yang tampak kesal dengan perkataannya.


"Kau tidak perlu mengalihkan pembicaraan, aku dan Salwa akan pergi ke tempat-tempat indah jika situasi dan kondisi memungkinkan," sahut Sean dengan ketus. " Aku ingin bertemu dengan istrimu, suruh dia keluar," imbuhnya lagi.


Abust mengerutkan keningnya, menatap Sean dengan curiga. "Apa yang kau inginkan dari Catherine?"


"Panggil saja, ini terkait Salwa." Sean berucap jujur, tidak mungkin ia mengatakan bahwa dirinya diminta Salwa untuk mencatikan pembalut kepada Abust bukan? Bisa-bisa adik angkatnya itu akan menertawainya dengan wajah yang sangat menjengkelkan. Lebih baik Sean berbicara langsung kepada Catherine.


Abust mengangguk, ia membuka kembali pintu kamarnya lalu menutupnya dengan cepat sebelum mata Sean menatap ke dalam. Tidak butuh waktu lama Catherine keluar dengan mengenakan baju tidur kimononya bersama Abust di sampingnya.


"Kenapa kau ikut keluar? Aku butuh bicara dengan istrimu, bukan denganmu." Sean berucap dengan menunjukkan raut muka tidak suka kepada Abust.


"Kalian bisa bicara di depanku, aku belum percaya denganmu. Jangan-jangan nanti kau apa-apakan istriku." ucap Abust dengan tegas, menolak mentah-mentah keinginan Sean yang ingin berbicara hanya berdua saja dengan Catherine. Sean menghela napas berat, tiada pilihan lain selain mengatakannya langsung. Salwa akan kedinginan jika tidak segera berpakaian dan tentu saja Sean tidak ingin istrinya itu sakit.


"Ehem." Sean sedikit berdehem sebelum mengatakan maksud tujuannya kepada Catherine. Ia kembali memandang Abust dengan tatapan jengkel, lalu beralih menatap Catherine.

__ADS_1


"Aku butuh pembalut seukuran Salwa." Sean berucap dengan memperagakan tangannya seolah menunjukkan ukuran pembalut yang dibutuhkan istrinya. Abust tergelak begitu saja tanpa permisi mendengar Sean mengatakan maksudnya dengan wajah merah padam, dan ia langsung mendapatkan tatapan tajam dari Sean. Catherine hanya menipiskan bibirnya, berusaha menahan rasa ingin tertawanya untuk menghormati Sean.


Catherine mengangguk,"Aku mengerti, tunggulah sebentar!" ucapnya kemudian sambil memasuki kamarnya. Abust yang masih bersama Sean tidak bisa menghentikan tawanya membuat Sean semakin kesal saja. Dengan sengaja Sean menginjak kaki Abust supaya adik angkatnya itu berhenti menertawainya.


Catherine kembali membuka pintu kamarnya dengan membawa sebuah paper bag yang berisi satu kotak pembalut. Ia menyerahkannya kepada Sean. "Ini, terimalah," ucap Catherine dengan ramah. Sean menerimanya lalu sedikit mengintip isi dari paper bag itu. Ia tampak mengerutkan kedua alisnya lalu kembali menatap Catherine.


"Apakah kau yakin ini ukurannya sama dengan yang digunakan Salwa?" Sean berucap dengan polosnya yang membuat Abust tergelak kembali. Catherine yang merasa tidak enak kepada Sean langsung mencubit perut Abust agar suaminya itu berhenti tertawa. Abust bernapas panjang mencoba menghentikan kegelian dalam pikirannya itu. Sungguh kakak angkatnya itu tidak tahu apa-apa masalah wanita, padahal ia menikah sudah lama tetapi masih saja tidak mengerti masalah seperti itu.


"Tentu saja, aku memilihkan yang seukuran dengan Salwa." ucap Catherine yang memilih untuk mengiyakan agar Sean tidak terlalu malu jika mengatakan bahwa semua pembalut sama saja baik tua, muda, gemuk, kurus semuanya memakai pembalut yang sama.


"Bagus. Terima Kasih." Sean segera pergi menuju kamarnya menemui Salwa yang sudah menunggu di sana.


Abust terkekeh saat Sean sudah menghilang di balik pintu. "Kau lihat, mereka berdua pasangan yang aneh bukan?"


"Tidak, mereka pasangan yang manis. Kau harus belajar banyak dari Sean. Melihat sebengis apa dia dulu dan sekarang berakhir dengan rela mencarikan pembalut untuk Salwa, tentunya Sean sangat mencintai istrinya. Kau pasti tidak menyangka bukan, wanita polos seperti itu bisa menaklukan hati seorang Sean?"


Abust mengangguk, tangannya merangkul pinggang Catherine. " Aku juga tidak menyangka bisa takluk denganmu." Catherine tersenyum mendengar jawaban Abust, ia memberi isyarat dengan mata kepada suaminya itu untuk kembali ke kamar yang tentunya dijawab dengan senyum sumringah oleh Abust.


.....


Sean menunduk, berjongkok dengan memejamkan mata. Air matanya tiba-tiba lolos dari sudut matanya. Salwa yang berada di atas kursi roda dengan membawa baby Kinan bersamanya, menepuk bahu Sean memberikan kekuatan untuk suaminya itu. Sean menoleh, menyentuh dengan lembut tangan Salwa yang menempel di bahunya.


"Ibu aku datang lagi, kali ini aku membawa istri beserta anakku. Lihatlah dia sangat mirip denganku bukan?"


"Ini Salwa, istriku. Aku pernah mengajaknya ke sini untuk menengokmu. Dia sangat baik dan penyabar menghadapi anakmu ini. Kami sudah bahagia. Aku harap ibu juga berbahagia di sana." ucap Sean dengan menahan sesak di dadanya. Setiap ia berkunjung ke makam ibunya, ia tidak bisa menutup-nutupi kesedihannya.


Mengingat bagaimana menderitanya ibunya dulu, dan Sean belum sempat membahagiakannya karena usianya masih sangat kecil membuat batin Sean tersiksa. Andai saja Sarah diberi umur panjang, Sean akan membahagiakan perempuan itu dengan sepenuh hatinya. Mempertemukan dengan cinta sejatinya, seseorang yang benar-benar tulus menyayangi dan mencintainya, bukan yang hanya memanfaatkannya dan hanya bisa memberikan rasa sakit saja.


Salwa mencengkram bahu Sean di saat merasakan bahu Sean tergoncang, bergetar karena tangis yang ditahan. Ia hanya bisa memberikan dorongan kepada suaminya agar tidak larut dalam kesedihan.


"Mas, kita doakan sama-sama. Agar selalu diberi kelapangan dan kebahagiaan di sana." ucap Salwa lembut yang kemudian diikuti anggukan oleh Sean.


"Mari kita pulang." Sean beranjak, menegakkan tubuhnya setelah menyelesaikan doanya untuk Sarah. Ia mendorong kursi roda Salwa dengan perlahan menuju mobilnya yang di sana sudah menunggu sopir dan juga bodyguardnya.


Sean membantu Salwa dan baby Kinan memasuki mobil terlebih dulu, setelah semua selesai Sean segera menyusul memasukkan kepalanya, tetapi tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring yang membuat Sean mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil. Ia mengeluarkan kembali kepalanya lalu menegakkan tubuhnya dengan meletakkan gawainya di telinga.


"Halo."


Terdengarlah suara dari seberang sana yang sedang mengucapkan sesuatu membuat ekspresi Sean menegang dengan wajah yang merah padam dipenuhi dengan kecemasan yang nyata.

__ADS_1


"Apa, Anders kabur dari penjara?" teriak Sean dengan terkejut mendengar kabar yang baru saja ia dapatkan.


\=》Bersambung...


__ADS_2