Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Nasehat


__ADS_3

Setelah pertikaian dengan Angela dan juga Varo, Salwa merasa tenaganya ikut terkuras, kepalanya masih terasa pusing, tetapi ia masih bisa berjalan. Para pengawalnya yang membuntutinya di jarak aman pun mendekatinya, membujuk perempuan itu agar segera memanggil mobil jemputan dan tak perlu peduli dengan perkataan teman-temannya saat dirinya di jemput oleh mobil mewah milik Sean.


"Tidak, aku masih sanggup berjalan. Aku akan menaiki mobil di tempat biasanya," ucap Salwa yang masih keras kepala, ia hanya ingin teman-temannya tidak perlu bertanya tentang kehidupannya, sehingga dirinya tidak perlu lagi berbohong untuk menutupi kebenaran tentang status ataupun suaminya. Salwa lelah jika harus terus menerus berbohong menutupi identitas dan statusnya.


Kedua bodyguardnya pun mengalah, tak mau berdebat atau pun memaksa keinginan mereka meskipun sebenarnya mereka mencemaskan kondisi Salwa. Apalagi nyonya-nya ini sedang hamil muda, jika terjadi sesuatu dengan kehamilannya mereka akan berhadapan dengan kemarahan Sean yang sangat mengerikan itu, hanya ada dua kemungkinan jika itu terjadi antara dipecat atau dihukum mati. Hanya sigap dan tanggap yang mampu mereka lakukan untuk melindungi Salwa.


Mobil jemputan memang tidak langsung menunggu di depan gerbang kampus, tetapi mobil terparkir dengan jarak sekitar dua ratus meter dari gerbang sekolah. Menurut Salwa mobil Sean terlalu mewah untuk diketahui oleh teman-temannya sehingga ia lebih nyaman menyembunyikan keberadaan mobil tersebut.


Dengan susah payah akhirnya Salwa bisa sampai juga di tempat dimana mobilnya itu menanti. Ia langsung membuka pintu mobil tersebut lalu mendaratkan bokongnya dengan nyaman di kabin penumpang.


"Pak mampir ke apotik dulu ya..?" ucap Salwa memberi perintah.


"Baik, nyonya," mobil itupun melaju dengan kecepatan sedang sesuai dengan perintah Sean. Bahkan Sean sudah memberikan pengaturan tentang berapa kecepatan maksimal dan minimal, juga berapa jarak tempuh maksimal perhari yang boleh Salwa lalui selama menggunakan mobil tersebut.


Salwa turun dari mobil saat sudah berada di depan apotik. Dokter mengatakan bahwa ia sedang hamil, padahal saat itu ia belum melakukan serangkaian tes untuk memeriksa apakah benar berita tentang kehamilannya itu. Sehingga saat ini Salwa memutuskan untuk membeli alat tes kehamilan sendiri.


Dan saat ini ada sekitar enam tespek di tangannya, dari yang paling murah hingga paling mahal yang tersedia di apotik tersebut. Salwa memasukkan tespek-tespek tersebut ke dalam tas ranselnya lalu segera berlalu dari apotik tersebut.


Ia menatap bangunan gedung-gedung yang ada di pinggir jalan, sambil menerawang jauh dengan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobilnya.


Sean bilang bahwa rahimnya belum siap untuk mengandung, lalu jika memang benar ada janin yang sedang bertumbuh di rahimnya apakah nanti akan baik-baik saja? Mungkinkah ia bisa mempertahankan calon anaknya yang saat ini sedang berusaha memperjuangkan kehidupan kecilnya itu? Tentunya Salwa tidak ingin kehilangan calon buah hatinya untuk yang ke dua kalinya.


Tangan Salwa tergerak mengusap perutnya yang masih datar, pikirannya masih dipenuhi dengan rasa kekhawatiran yang berlebih. Di saat seperti ini Salwa sangat membutuhkan suaminya. Di dalam perasaan gelisah dan takut, biasanya Sean selalu datang menenangkannya, memeluknya hingga dirinya merasa damai dan tak memikirkan hal buruk yang sedari tadi berputar-putar di dalam pikirannya.


Salwa menghela napasnya lalu kemudian memejamkan mata, apakah sebaiknya ia harus menunggu Sean pulang untuk melakukan serangkaian tes, memastikan tentang keberadaan janin di dalam perutnya itu?


.....


"Apa kau yakin sudah baik-baik saja?" Marcus mengantar Sean ke Bandara. Dengan masih berbalut perban di kepala Sean bersikeras untuk pulang ke negaranya. Ia merasa semakin lama tinggal di Kanada, semakin dirinya merasa tidak tenang. Pikirannya seolah tertinggal di rumahnya tanpa berniat untuk mengikuti kemana raganya itu pergi.


"Aku akan semakin sakit jika tidak segera kembali." Sean menjawab dengan menepuk-nepuk bahu Marcus. Ia sudah memikirkan dengan matang. Kepalanya masih terasa pusing, tetapi ia masih bisa mengatasinya. Dirinya akan semakin pusing jika terlalu lama berjauhan dengan Salwa. Apalagi ada hal penting yang ingin ia lakukan setelah lebih dari satu bulan mereka berpisah.

__ADS_1


Sean akan memastikan dugaannya tentang kehamilan kedua Salwa. Ia ingin ada di samping Salwa saat mereka berdua mengetahui kebenaran itu. Apapun hasilnya nanti, Sean akan menerimanya dengan penuh syukur. Dan jika memang benar Salwa hamil, ia akan selalu berada di sampingnya dan membantu segala kesusahan yang pastinya akan terjadi di awal-awal kehamilan.


Sean ingin menebus kesalahannya dulu, dimana Salwa melalui kesusahan saat awal-awal kehamilan sendiri, tanpa ada dirinya. Harusnya Sean menjaga dan melindungi istrinya itu di kala sedang kesakitan mempertahankan calon buah hati mereka. Mengingat hal itu Sean merasa dirinya sangat bodoh, dan mempunyai banyak salah terhadap Salwa. Ia ingin menebus kesalahan masa lalu dengan berbuat yang lebih baik di masa sekarang.


"Jaga ayahku, aku akan menjemputnya di saat yang tepat, di saat ia sudah dalam kondisi yang memungkinkan untuk melakukan penerbangan dan perjalanan jauh."


Marcus mengangguk, ia tersenyum dengan melihat Sean yang nampak berbeda kali ini. Sean terlihat lebih tampan, karena aura kebahagiaannya terpancar begitu nyata. Sepertinya beban rasa sakit yang dipendam lelaki itu telah musnah seiring waktu.


"Kau bisa mengandalkan ku," ucap Marcus kemudian.


....


Salwa menjajar tespek yang baru saja ia beli di atas kasur tempat tidurnya. Menurut si penjual, alat tersebut bisa digunakan saat pagi hari, yaitu ketika Salwa bangun tidur. Sebenarnya Salwa sudah tidak sabar ingin mencobanya, ia begitu penasaran. Apakah perkataan dokter tersebut benar adanya atau salah. Tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu hari esok itu datang.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya sehingga Salwa buru-buru membereskan tespek-tespek tersebut dengan memasukkannya ke dalam laci. Salwa segera membuka pintu kamarnya, dan ia mendapati Ahsan dan Alfatih sudah berdiri manis di depan kamarnya sambil saling mendorong satu sama lain.


"Ada apa?" Tanya Salwa setelah menyuruh dua orang adiknya itu masuk.


"Mbak, tadi bang Ahsan di kejar-kejar orang," ucap Alfatih mengadu yang diikuti mulut monyong dari Ahsan.


"Kenapa?" Salwa tampak geli melihat tingkah ke dua adiknya, setidaknya dengan adanya mereka berdua menjadi hiburan tersendiri buat Salwa. Salwa jadi merasa tidak kesepian di rumah sebesar itu.


"Bang Ahsan nyolong mangga orang, lalu ketahuan sama yang punya, jadi di kejar-kejar deh," cerocos Alfatih menceritakan kejadian yang dialami Ahsan.


"Bener tuh San, kamu nyolong mangga?" tanya Salwa lagi dengan menampilkan wajah galaknya. Ahsan hanya menunduk sambil menggerutu atas ulah sang adik yang tukang adu itu.


"Cuma dikit kok mbak, gak banyak."


"Ya sama aja kali San, mau banyak dikit itu semua bukan punya kamu, tetep aja namanya mencuri, kalo kamu mau mangga kenapa gak beli aja sih?" Salwa memarahi adiknya itu sambil geleng-geleng kepala. Adiknya yang satu ini memang nakal.


"Gak keburu mbak, tadi temen-temen mau jengukin temen yang sakit."

__ADS_1


"Gebetannya bang Ahsan tuh mbak yang sakit," sela Alfatih yang kemudian terkena cubitan dari Ahsan.


Salwa menipiskan bibirnya, benar juga kata Sean dulu. Anak seumuran Ahsan memang sudah mulai suka dengan lawan jenis. Bukan hanya Ahsan, Salwa dulu juga sempat menyukai Varo waktu SMA dan itu tidak bisa disalahkan karena merupakan naluri alamiah manusia normal yang sudah memasuki masa puber.


"Lalu?" Salwa ingin Ahsan meneruskan ceritanya.


"Ya.. temen-temen udah pada berangkat, akunya ketinggalan. Tadinya mau langsung nyusul mereka ,tetapi kalau aku sampai di sana ternyata mereka sudah pada pulang kan gak enak mbak kalau gak bawa sesuatu. Kalau mau beli ya gak keburu jadi ..... ya ngambil mangga pak Dodhik." Ahsan menunduk sedikit malu mengakui perbuatannya. Salwa sebagai kakak yang baik pastinya harus menasehati adiknya yang bandel itu.


"Memang harus mangga ya, kan bisa kamu beliin yang lain." Salwa mendengkus sambil menatap tajam ke arah Ahsan yang saat ini jadi terdakwa.


"Kata bang Ahsan anaknya pengen mangga mbak, tapi belum kesampekan. Makanya bang Ahsan bela-belain manjat mangga pak Dodhik." Alfatih menyela lagi dan sekali lagi dapat cubitan di perut dari Ahsan.


"Cuma dua biji doang kok mbak, gak banyak.. orangnya aja yang pelit, mangga satu pohon diambil dua biji aja ngejar sampe rumah Irine, kan malu mbak akunya dikataain nyolong mangga di depan calon mertua, apalagi mangganya tadi udah aku kasihkan ke papanya Irine dan langsung dikupas terus dimakan habis. Papanya udah bilang makasih berkali-kali sama aku, ehh.. tiba-tiba pak Dodhik nongol ngata-ngatain aku nyolong mangga dia, gimana gak malu coba mbak." Ahsan menjelaskan dengan memasang raut wajah kesalnya.


Salwa menahan tawanya dengan menipiskan bibirnya, ia bisa meraskan bagaimana malunya si Ahsan saat itu, pasti kesan pertama yang udah dicitrakan kepada papanya Irine rusak seketika saat kedatangan Pak Dodhik yang sedang marah-marah itu.


"Ya memang salah kamu San, meskipun dua biji itu juga bukan punya kamu. Nanti kita ke rumah Pak Dodhik minta maaf, sekalian bayar mangga yang kamu ambil," ucap Salwa kemudian.


"Gak usah mbak, orang mangga dia masih banyak. Justru aku yang rugi , udah kena malu berlapis-lapis di depan Irine sama papanya juga. Mau di taruh kemana muka ku nanti kalo ketemu Irine." Gerutu Ahsan dengan wajah super cemberut. Pasti papa Irine tidak akan merestui jika Ahsan nanti ngedeketin anaknya.


"Banyak sih mbak mangganya, tapi yang mateng dua biji doang yang diambil bang Ahsan itu aja, yang lainnya masih kecil-kecil. Pantes aja pak Dodhik marah sampe ke ubun-ubun." Alfatih ikut menimpali.


"Diam kamu!" ketus Ahsan yang masih kesal dengan kejadian yang memalukan itu.


Salwa mengetuk kepala Ahsan denngan jari telunjuknya, adiknya itu harus dihadapi dengan sabar. "Udah, nanti kamu minta maaf sama pak Dodhik. Entar mbak yang nganter, masalah Irine nanti kita jenguk sama-sama."


Ahsan melebarkan matanya dengan senyuman yang mengembang "Jadi gak apa mbak aku pacaran?"


"Gak boleh, sekolah yang bener kamu. Jangan ajarin adek kamu pacaran. Kalo kamu udah kerja mau nikahin gebetan kamu ya terserah kamu." Ahsan kembali mengerucutkan bibirnya karena tidak dapat dukungan dari kakaknya itu.


"Iya, iya deh mbakku yang paling cantik," ucap Ahsan kemudian yang dibalas senyuman oleh Salwa.

__ADS_1


"Gitu dong."..


Bersambung...


__ADS_2