Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
PDKT


__ADS_3

Varo sudah sedari tadi berdiri di gerbang utama kampus, kakinya mulai terasa kram tetapi hal itu sama sekali tidak mempengaruhi tekatnya. Ia ingin bertemu lagi dengan Salwa kali ini, dan ia akan mengantar perempuan itu sampai masuk ke kelasnya.


Varo berkali-kali memeriksa jam di tangannya, entah jam berapa Salwa akan datang, tetapi Varo tetap memasang mata agar jangan sampai kehadiran Salwa terlewat begitu saja. Ia yakin pendekatannya kali ini akan berhasil, lagi pula sepertinya setelah dua tahun bekerja di luar negeri Salwa terlihat lebih sejahtera dari segi ekonomi. Hal itu bisa dilihat dari pakaian bermerk yang dikenakannya juga tas dan aksessoris yang menempel di tubuhnya. Pastinya Varo tidak akan malu lagi jika nanti mereka akan jadian dan mengajaknya pergi berkencan.


Waktu yang ditunggu-tunggu datang juga, Salwa kembali datang dengan terburu-buru sambil sedikit berlari sehingga Varo berusaha menjajarkan langkahnya agar seirama dengan Salwa.


"Salwa, bisakah kita bicara sebentar?" Varo berteriak agar perempuan itu memperhatikan kehadiran dirinya.


"Varo, apa yang kau lakukan?" Salwa menghentikan langkahnya sejenak, memberi kesempatan Varo untuk berbicara. Varo tersenyum senang saat berhasil menghentikan Salwa dan mendapat kesempatan berbicara dengannya.


"Apa kau ada waktu nanti setelah selesai kelas?"


Salwa melihat jam di tangannya, sehingga ia tidak terlalu fokus dengan pembicaraannya dengan Varo, ia akan terlambat jika terus meladeni temannya itu. Kunjungannya ke klinik kandungan membuatnya harus kembali berangkat kesiangan dan berlari-larian agar tidak terlambat.


"Salwa" Varo memanggil nama Salwa lagi agar perhatian perempuan itu terpusat padanya.


"Eh.. aku sudah terlambat, bisa kah kita bicara nanti"


Mendengar jawaban Salwa tentu saja Varo merasa senang, itu memang yang ia inginkan dan tanpa memintanya Salwa sepertinya sudah memberikan lampu hijau untuknya. Varo pun mengangguk dan menjawabnya kemudian.


"Baiklah, aku akan menunggumu"


Salwa tersenyum dan mengangguk lalu segera berlalu meninggalkan Varo.


"Salwa aku akan mengantarmu hingga kelas" Varo berharap bisa berjalan sambil mengobrol dengan gadis itu, tetapi sepertinya Salwa tidak menginginkannya.


"Tidak perlu, aku sedang terburu-buru dan kelas dimulai tiga menit lagi. Kita bisa bertemu dua jam lagi di.... sana" Salwa menunjuk kedai makanan yang ada di ujung jalan. Sepertinya itu tempat yang sesuai, karena banyak orang dan ia bisa menunggu jemputan disana.


Varo sedikit kecewa, tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena setelah sekian lama akhirnya ia bisa berbicara dengan Salwa lagi berdua. Varo tidak ingin kehilangan jejak sehingga ia memutuskan mengikuti Salwa dari belakang untuk mengetahui dimana kelas perempuan itu berada.


Varo berjalan santai sambil pura-pura menerima panggilan dari seseorang agar Salwa tak merasa dibuntuti. Setelah Salwa tak melihatnya barulah ia mempercepat langkahnya agar tidak kehilangan jejak Salwa. Ia berjalan dengan bersembunyi tanpa menimbulkan suara.


"Varo..." seorang gadis cantik dengan rambut tergerai indah menepuk punggung Varo yang sedang mengendap-endap membuntuti Salwa. Varo hampir berjingkrak karena terkejut dengan suara yang tiba-tiba muncul memanggil namanya.


"Angela, kau mengagetkan ku saja" Varo mendengkus, hampir saja ia ketahuan kalau sedang membuntuti Salwa jika saja ia tidak segera membungkam mulutnya sendiri agar tidak berteriak karena dikejutkan Angela.

__ADS_1


Angela terkekeh, wajah Varo yang sedang kesal itu terlalu cute menurutnya.


"Kamu sedang apa mengendap-endap seperti itu" tanya Angela kemudian.


Varo mengangkat bahunya seolah mengatakan "tidak ada" lalu berjalan meninggalkan Angela.


"Hey, tunggu. Aku belum selesai bicara" Angela mendahului langkah Varo lalu mengulurkan dua buah benda tipis di depan wajah Varo. Sebuah tiket nonton untuk dua orang, Angela itu masih saja mendekati Varo padahal dari tahun ke tahun hubungan mereka hanya sebatas teman tidak ada perkembangan yang berarti.


"Aku sudah minta izin sama tante Rani, jadi kita bisa pergi nonton nanti malam" Angela berkata dengan bersemangat, hubungan mereka memang sudah mendapat lampu hijau dari orang tua Varo sehingga Angela sampai saat ini masih berusaha mendekati Varo meskipun Varo hanya menganggapnya sebagai teman.


Varo menghela nafasnya, Angela selalu merusak suasana hatinya, padahal ia berencana mengajak Salwa untuk keluar sore ini selepas kuliah, tetapi hal itu tidak akan berjalan lancar karena Angela mengacaukannya.


Bukannya Varo tidak tegas dengan perasaannya, tetapi hubungan baik antara keluarga Varo dan Angela membuat Varo tidak bisa menolak ajakan Angela. Mama dan papanya pastilah akan marah kepadanya jika membuat Angela menangis, sehingga dengan terpaksa Varo menuruti kemauan Angela kecuali harus berpacaran dengan gadis itu. Tidak ada yang salah dengan Angela, dia gadis yang cantik dan sangat baik dengannya, tetapi perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Varo hanya tertarik pada satu orang, dan saat ini ia akan berusaha mendapatkannya sebelum perempuan itu diambil orang.


.....


Waktu dua jam telah usai, Salwa memasukkan buku-bukunya ke dalam tas ransel leather warna navy miliknya. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal ia segera keluar dari ruang kelasnya. Sebenarnya Salwa hampir terlupa akan janjinya dengan Varo, tetapi tiba-tiba saja Varo sudah muncul di depan kelasnya sambil menunjukkan senyumnya yang mempesona.


Teman-teman perempuan Salwa yang melihat kedatangan Varo pun pada berebut ingin berkenalan, hingga Salwa tersingkir dari kerumunan mahasiswi tersebut. Salwa hanya geleng-geleng kepala melihat ulah teman-temannya itu. Varo memang cukup populer, selain tampan ia juga termasuk mahasiswa berprestasi dan yang paling penting dia anak orang kaya, anak seorang pengusaha emas yang terkenal seantero negeri.


Varo menembus kerumunan mahasiswi yang sedang mengerubunginya lalu berjalan ke arah Salwa. Semua mata mengarah ke arah Salwa membuat perempuan itu agak sedikit risih.


Meskipun saat ini Sean memintanya untuk merahasiakan hubungannya, tetap saja Salwa harus menjaga diri karena hal itu merupakan kehormatan seorang wanita yang sudah menjadi istri.


"Maaf" ucap Varo seketika saat melihat Salwa melepaskan tangan Varo agar tidak menggandengnya. Bukannya marah atau kesal mendapat penolakan dari Salwa tetapi justru ia merasa cintanya sedang diuji sehingga ia semakin penasaran dengan gadis itu.


"Tidak apa"


Salwa berjalan beriringan dengan Varo sampai di kedai penjual makanan yang ada di seberang jalan. Salwa hanya memesan minuman saja karena ia ingin segera pulang.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Salwa menyesap es teh yang ia pesan di kedai makanan tersebut sambil mengalihkan perhatiannya ke arah jalan raya. Sebenarnya ia merasa tidak nyaman berduan dengan Varo seperti ini, meskipun mereka berada di tempat umum. Apalagi laki-laki itu pernah singgah dihatinya dulu saat sebelum ia bertemu dengan Sean suaminya.


"Kamu apa kabar?" Varo berbasa-basi terlebih dahulu, ia tidak ingin terburu-buru, ia tahu bahwa Salwa gadis yang unik, ia pendiam dan tidak banyak bergaul. Dan lihatlah sekarang, Salwa sama sekali tidak berani menatapnya dan lebih memilih melihat jalan raya yang masih sangat sepi.


Varo yakin jika ia bisa menaklukkan hati gadis di depannya ini dan mereka akan menikah suatu saat nanti, Salwa pasti bisa menjadi istri dan ibu yang baik bagi anak-anak mereka.

__ADS_1


Membayangkannya saja membuat wajah Varo bersemu merah, bagaimana jika itu menjadi kenyataan, pastilah akan sangat membahagiakan bukan?


"Baik, alhamdulillah. Emm.. aku pikir kau akan melanjutkan kuliah di jepang?" Varo memang pernah mengatakan bahwa ia akan melanjutkan study-nya di jepang waktu itu, sehingga Salwa sedikit terkejut melihat Varo berada satu kampus dengannya.


"Eh.. papaku tidak mengizinkan, kau tahu kan kalau aku pewaris tunggal perusahaan papa, dan papa memintaku kuliah sambil belajar di perusahaannya" Varo menjawab dengan sedikit menyombongkan diri agar Salwa merasa terkesan dengannya.


Perempuan mana yang tidak akan tertarik dengan pria yang tampan, tajir dan pintar. Varo yakin dengan bekal itu ia bisa menarik setiap wanita yang ia inginkan, termasuk Salwa.


Salwa hanya ber "Ooh" ria tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Tampaknya jawaban Varo tidak membuat gadis itu terkesima ataupun terpukau, hingga membuat Varo menjadi terheran-heran.


"Sepertinya kamu banyak berubah setelah dua tahun berlalu"


"Iya kah, apa aku semakin gendut" Salwa memperhatikan tubuhnya, mungkin bisa jadi ia semakin gendut karena setiap hari Sean memberikan banyak makanan lezat untuknya.


Varo terkekeh, sepertinya suasana mulai mencair sehingga membuatnya semakin gencar menebarkan pesonanya.


"Bukan, bukan itu..."


"Lalu?" Salwa menaikkan ke dua alisnya menunggu jawaban dari Varo.


"Kamu semakin cantik"


Varo yakin Salwa akan termakan rayuannya. Bukannya setiap wanita akan merasa tersanjung saat ada seorang laki-laki yang memuji kecantikannya secara langsung seperti itu?


Mungkin jika Varo mengatakan hal itu dua tahun yang lalu Salwa akan merasa tersanjung dan membuat hatinya berbunga-bunga, dan dia akan menjadi wanita yang paling bahagia karena di puji oleh laki-laki yang disukainya. Tetapi saat ini, justru membuat Salwa tidak nyaman.


Salwa tersenyum datar, lalu melirik ke arah jam tangannya.


"Maaf Varo, aku harus pulang. Mungkin kita bisa melanjutkan obrolan kita lain waktu" ucap Salwa kemudian dengan memakai ranselnya.


"Aku antar" Varo kembali berusaha melancarkan pendekatannya. Jika Salwa diantar olehnya mungkin ia bisa tahu alamat rumah Salwa yang baru sehingga ia bisa leluasa bermain ke rumahnya lain kali.


"Aku... akan dijemput, terimakasih atas minumannya" Salwa beranjak dari duduknya lalu berjalan pergi meninggalkan Varo yang masih menyantap makanan pesanannya.


Dari kejauhan tampaklah seseorang yang melihat kedekatan Salwa dan Varo dengan tatapan tidak suka. Ia mengumpat berkali-kali dengan sumpah serapah yang ia tujukan kepada Salwa.

__ADS_1


.....


Hehehe.. maaf 1 part isinya Varo sama Salwa saja 😊


__ADS_2