
"Hai.. pencuri. Kembalikan!" Abust yang baru saja keluar dari salah satu minimarket yang ada di pusat kota berteriak lantang saat barang belanjaannya diambil paksa oleh dua orang anak laki-laki. Kedua anak itu berlari setelah berhasil mendapatkan yang mereka mau. Abust mengejarnya dengan cepat, ia berlari melewati trotoar untuk meringkus dua pencuri kecil itu. Sebenarnya bisa saja Abust membiarkan barang-barangnya diambil karena ia masih bisa membelinya lagi. Tetapi rasa kesalnya karena berhasil dikelabuhi oleh dua bocah ingusan itu membuatnya ingin menangkap maling kecil tersebut.
Abust menghentikan langkahnya saat kedua bocah itu sudah tidak berkutik karena mereka melewati jalan buntu. Nafas mereka sama-sama ngos-ngosan karena sudah berlari kencang cukup jauh. Bahkan Abust tidak menyadari bahwa mobilnya terparkir jauh di depan minimarket tadi.
"Mau kemana kalian." Abust membungkuk dengan merentangkan kedua tangannya berusaha menangkap dua anak kecil tersebut.
Bukannya takut, kedua anak kecil itu justru menjulurkan lidah mereka memprovokasi, membuat Abust semakin kesal saja. Dengan cepat Abust segera menangkap kedua anak itu dengan tangannya.
"Aaahhhh...." Abust berteriak cukup keras, dia memang berhasil menangkap kedua bocah itu tetapi keduanya malah menggigit lengannya yang tidak terlindung dengan kain karena saat ini ia mengenakan t-shirt lengan pendek. Abust melepaskan kedua anak itu lalu meniup-niup bekas gigitan di kedua lengannya.
"Sial," Abust mengumpat sambil sesekali menghembuskan udara sejuk di bekas gigitan itu.
"Ampun ma, ampun."
Abust menoleh disaat mendengar suara dua bocah tadi berteriak meminta ampun. Ia melihat seorang perempuan muda yang mengenakan celana panjang menjewer dua makhluk kecil yang mencuri barang belanjaannya tadi.
"Siapa yang mengajari kalian mencuri?" omel wanita itu dengan semakin keras menjewer telinga kedua bocah tersebut.
"Ampun ma, ampun, adek lapar ma," rengek kedua bocah itu sambil menangis memegangi telinganya yang kesakitan. Wanita itu termenung dan melepaskan tangannya dari telinga kedua anak itu. Ia kemudian memeluk memereka yang masih menangis.
"Maafkan mama ya, mama pulang terlambat. Lihat ini, mama sudah membawakan makanan untuk kalian," perempuan itu menunjukkan sebuah kantung kertas berwarna coklat kepada kedua anak itu yang merupakan anak-anaknya. Kedua bocah itu yang tadinya menangis akhirnya tersenyum senang, segera diraihnya makanan yang ada ditangan mamanya dengan suka cita.
"Aku dulu," ucap bocah itu.
"Aku dulu," ucap bocah yang lain, mereka seperti tidak sabar ingin memakan makanan yang dibawakan oleh mamanya.
"Jangan berebut sayang, mama membeli dua . Kalian bisa mengambil masing-masing satu," perempuan itu membuka kantung kertas itu, lalu mengeluarkan dua buah roti isi yang berukuran sedang untuk diberikan kepada kedua anaknya. Kedua bocah itu tampak senang dan lahap memakan roti isi itu seperti memakan makanan yang sangat lezat.
Perempuan itu tersenyum melihat kedua anaknya memakan makanannya dengan begitu lahapnya, kemudian wajahnya berubah pilu dengan meneteskan air mata di sudut matanya yang langsung ia hapus begitu saja sebelum kedua anaknya melihatnya menangis.
Abust menelan ludah, menatap nanar dengan adegan yang baru ditontonnya. Ia sangat malu dengan dirinya sendiri, mengejar seorang anak kecil yang sedang kelaparan karena telah mengambil barang belanjaannya. Ia seharusnya membiarkan kedua bocah itu mengambilnya, toh dirinya bisa membeli lagi karena ia memiliki banyak uang. Sementara kedua bocah itu?
Abust berdehem sejenak, sehingga membuat perempuan muda tadi menoleh ke arahnya.
"Maaf tuan, ini barang belanjaan anda. Maafkan anak-anak saya, mereka tidak bermaksud mencuri. Tolong masalah ini jangan diperbesar," perempuan itu mengembalikan kantung belanjaan milik Abust dengan menunduk tanpa berani menatap Abust secara langsung.
Abust tidak segera menerimanya, ia memindai penampilan perempuan itu dari bawah hingga atas dan berhenti tepat di wajahnya.
"Catherine?"
Perempuan itu menengadah saat merasa namanya dipanggil. Ia melihat ke arah Abust dan sungguh ia tidak menyangka bahwa mereka akan berjumpa lagi dengan situasi yang tidak mengenakkan.
__ADS_1
"Tuan Abust!"
Ketika Abust ingin menjawab, tiba-tiba Chaterine mengajak kedua putranya untuk berlari meninggalkan Abust, bahkan roti isi yang sedang dimakan oleh salah satu putranya jatuh, tetapi ia tidak menghiraukannya.
"Chaterine, tunggu," Abust berteriak dengan berusaha mengejar langkah Chaterine, memang cukup cepat tetapi karena Chaterine sambil menggandeng dua bocah itu sehingga membuat Abust dengan mudah menyusul mereka.
Chaterine Wilson, seorang perempuan suruhan Yang Pou Han yang pernah menyerang Sean saat malam hari. Perempuan itu diancam dengan keselamatan keluarganya jika tidak mampu membunuh kakak angkatnya itu. Karena ulah Chaterine jugalah membuat Abust secara brutal menyiksa Salwa yang saat itu masih menjadi pelayan Sean. Sean sudah memaafkannya, bahkan lelaki itu dengan baik hati mengirim Chaterine dan keluarganya kembali ke negaranya. Sean juga sudah menyiapkan pekerjaan dan tempat tinggal untuk mereka, tetapi saat ini ia mendapati perempuan itu dalam kondisi begitu menyedihkan.
Baju yang dikenakan Chaterine tampak kumal dan kedua anaknya bahkan berniat mencuri barang belanjaan Abust hanya untuk mengisi perutnya yang tengah kelaparan. Apa yang terjadi dengam Chaterine sesungguhnya? Mengapa dalam rentang waktu dua tahun ini kehidupannya berubah menyedihkan seperti itu?
Ketika tangan Abust menarik lengan Chaterine, salah satu anaknya menggigit kembali tangan Abust, tetapi Abust tetap bertahan. Ia tidak membiarkan perempuan itu kabur darinya, sepertinya kemunculan Chaterine begitu menarik perhatian Abust, sehingga ia menahan kesakitan demi mempertahankan perempuan itu.
"Ashton, hentikan!" mendengar teriakan Chaterine kepadanya, seketika Ashton membuka mulutnya untuk melepaskan gigitannya di lengan Abust. Tampaklah bekas gigitannya yang kemerahan dengan sedikit berdarah.
"Tuan Abust, maafkan anakku, sekali lagi mereka melakukan kesalahan kepadamu," Chaterine kembali meminta maaf kepada Abust atas sikap anak-anaknya. Apalagi ia melihat bekas gigitan Ashton mengeluarkan darah segar yang membuktikan bahwa luka gigitan Ashton cukup serius.
"Aku butuh pertolongan untuk merawat luka-lukaku."
"A...apa?"
.....
Salwa memang memutuskan untuk berhenti kuliah, tetapi hal itu tidak membuat semangat belajarnya luntur. Ia mempelajari buku-buku koleksi suaminya itu satu persatu, dan jika ia merasa ada yang tidak ia mengerti Sean selalu mengajari dan membimbingnya. Salwa sangat beruntung memiliki tutor sehebat suaminya, meskipun Sean sering meminta imbalan sebagai upah waktu dan pikirannya dalam mengajari istrinya itu. Tentu saja bukan uang yang diinginkannya melainkan hal yang lain.
Suara ketukan di pintu utama membuat Salwa menoleh dengan cepat. Siapa yang datang ke rumahnya, ia tidak mempunyai janji dengan siapapun, tetapi siapapun orangnya ia harus menghormati dan menghargai tamu yang datang ke rumahnya.
"Biar saya saja Bik," ucap Salwa dengan beranjak berdiri dari sofa tempatnya membaca. Ia meletakkan kacamata bacanya di atas meja lalu beranjak menuju pintu utama. Sebelum membukanya, Salwa mengintip sebentar dari kamera interkom yang sudah dipasang di luar untuk mengetahui siapa yang datang.
"Angela," Salwa berbisik pelan di dalam hatinya. Untuk apa Angela datang lagi kemari, bukannya dua hari yang lalu dirinya sudah diusir dan diperlakukan buruk oleh Sean. Apakah ia datang untuk mengajukan kerjasama lagi, tetapi kenapa harus datang ke rumah? Sean saat ini masih berada di kantornya, jadi tidak mungkin Angela datang hanya untuk mencarinya bukan?
Salwa akhirnya membukakan pintu utama tersebut, ia berusaha bersikap normal dengan menyunggingkan senyumnya saat wajah angela muncul di balik pintu.
"Angela, apa kamu ingin mencari...."
"Apa aku boleh masuk?" Angela segera menyahut perkataan Salwa, suasana hatinya masih buruk sehingga ia tidak ingin berbasa- basi dengan perempuan di depannya ini.
"Tentu saja, masuklah silahkan," Salwa berjalan mundur dengan kembali membukakan pintu rumahnya lebar-lebar untuk Angela yang masih berdiri di luar.
Salwa masuk terlebih dahulu yang diikuti Angela yang mengekor di belakangnya kemudian kedua orang tersebut duduk secara bersebrangan untuk melakukan suatu pembicaraan.
"Apakah ada masalah Angela sehingga kamu mencariku?"
__ADS_1
"Tentu saja, karena kau selalu membuat masalah untuk semua orang, bahkan saat ini papaku juga terkena masalah karenamu," Angela langsung menuduh Salwa secara bertubi-tubi membuat perempuan itu kebingungan karenanya.
"Angela, apa yang sudah aku lakukan? aku sama sekali tidak mengerti dengan perkataanmu."
"Cih, kau tentu tahu apa yang telah dilakukan suamimu kepada perusahaan papa. Jangan pura-pura bodoh, di depan matamu Salwa, suamimu telah mengatakan akan membuat proyek papa tidak akan pernah mendapat investor dan sekarang, dalam waktu sekejab saja suamimu telah berhasil membuat perusahaan papa hampir bangkrut. Menurutmu, apa salah papa kepada kalian sehingga kalian menghancurkan bisnis keluargaku dengan begitu kejamnya."
Salwa hanya mendengar, tidak tahu harus berbicara apa. Sean sama sekali tidak mengatakan apa-apa kepada dirinya. Jika tahu Sean berbuat sejauh itu, maka Salwa pasti tidak akan menyetujuinya karena ia tidak ingin membuat orang lain kesusahan disebabkan olehnya.
"Angela, tenanglah. Mungkin semua ini salah paham, suamiku sangat baik. Dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu," Salwa hanya bisa membela suaminya, meakipun ia ragu dengan apa yang ia ucapkan. Sean terkadang suka melakukan hal yang di luar batas, apalagi saat ia sedang marah. Karena Salwa tahu Angela sudah mengusik kehidupan pribadinya dan itu jelas membuat suaminya tidak suka. Rasa cinta dan sayangnya Sean kepadanya membuat lelaki itu sangat protective terhadap Salwa.
"Bahkan kau mengelak, perempuan seperti apa kau ini. Kau sama sekali tidak punya rasa empati dengan sesama manusia. Kau sekarang menjadi perempuan sombong yang tidak tahu diri."
"Cukup Angela, ini rumahku. Kau tidak pantas berkata yang tidak-tidak di rumah orang lain."
Perkataan Angela semakin lama semakin pedas saja membuat Salwa menjadi tidak tahan jika terus mendengarnya.
"Rumahmu? Bahkan menghayal saja ini terlalu jauh untukmu. Salwa kau jangan menjadi kacang yang lupa akan kulitnya. Jika bukan karena papa kau tidak akan bisa menamatkan pendidikanmu di SMA. Kau dengan wajah bodohmu itu datang menemui papa untuk mendapatkan beasiswa pendidikan bukan?, Dan jika papa tidak menyetujui namamu masuk ke dalam daftar penerima beasiswa kau tidak akan bisa melanjutkan sekolahmu. Apa kau tidak mengingat jasa papaku kepadamu?"
Salwa menggertakkan giginya, ia sangat tersakiti dengan perkataan Angela. Salwa tidak lupa dengan itu semua, ia sangat mengingatnya. Dengan langkah takut-takut ia memasuki ruang kepala sekolah untuk mengajukan biaya keringanan dengan mendaftar sebagai salah satu penerima beasiswa di sekolah tersebut.
Salwa berhasil mendapatkan beasiswa itu setelah mengikuti serangkaian tes, dan itu ia lewati tidak dengan mudah. Salwa bersaing dengan ratusan anak lain yang menginginkan beasiswa tersebut karena hanya dibatasi sepuluh anak saja.
Salwa sangat mengingatnya, sekolah membebaskan biaya operasional seperti uang bulanan yang biasa dipungut oleh pihak sekolah kepada para siswa sebagai iuran spp. Salwa juga tidak pernah lupa, bagaimana perjuangannya dulu untuk membayar buku-buku sekolahnya yang harganya sangat mahal baginya. Ia rela berjualan makanan dan minuman ringan saat pulang sekolah, ia tidak ingin membebani orang tuanya yang juga harus menyekolahkan ketiga adiknya. Sebagai anak sulung dari keempat bersaudara, Salwa harus bisa mencukupi kebutuhannya sendiri.
"Aku tidak pernah melupakannya Angela, karena itu semua bagian dari kehidupanku. Kau tidak perlu mengingatkanku sampai seperti itu."
"Bagus jika kau mengingatnya, jadi apa kau akan membalas kebaikan papa dengan membuat perusahaannya bangkrut begitu saja. Salwa, kau benar-benar wanita yang sangat picik. Kau membalas air susu dengan air tubah, kau tak ubahnya seperti ular..."
"Cukup. Kau pikir semua masalah yang terjadi dengan perusahaan Pak Alif karena diriku. Kau tidak pernah berubah Angela, kau selalu menyalahkan orang lain atas kegagalan dirimu sendiri. Suamiku tidak akan berbuat yang merugikan orang lain jika orang tersebut tidak memulainya. Kau Angela yang telah merusak bisnis papamu sendiri, bukan aku."
Salwa menguatkan hatinya agar sepenuhnya percaya dengan suaminya. Sean tidak mungkin menjahati seseorang jika tidak ada alasannya, tetapi Salwa berjanji akan menanyakan masalah ini kepada suaminya nanti sepulang kerja.
"Kau, berani sekali kau mengatakan itu kepadaku. Kau hanya wanita murahan yang kebetulan dipungut oleh orang kaya dan dijadikan istri. Berkacalah Salwa , kau sama sekali tidak pantas bersanding dengan Sean Paderson. Menjadi pembantunya saja sudah cukup baik untukmu, tetapi untuk menjadi istrinya kau sama sekali tidak pantas." Angela dengan keahliannya berkata buruk mengata-ngatai Salwa sepuasnya. Ia sama sekali tidak peduli akan perasaan lawan bicaranya itu.
Salwa menipiskan bibirnya, berusaha menguasai emosi dan gejolak amarah dihatinya, "Lalu siapa menurutmu yang pantas bersanding dengan Sean Paderson, jika itu bukan aku?"
"Kau ingin tahu siapa yang pantas. Aku, akulah yang pantas mendampingi Sean Paderson, bukan seorang babu sepertimu."
Salwa sudah tidak tahan dengan sikap Angela, perempuan di depannya ini sungguh tidak tahu malu dan tidak mengerti tentang aturan bertamu.
"Keluar, Keluar dari rumahku Angela dan jangan pernah datang lagi. Jangan mengharap kepada seorang laki-laki yang sudah beristri. Karena aku sebagai istri sahnya tidak akan tinggal diam jika ada perempuan lain yang mendekat dan merayu suamiku, pergi, pergi dari sini!"
__ADS_1