
"Selamat ya, kondisi istri anda semakin membaik. Perhatikan saja asupan nutrisinya dan jangan lupa dengan multivitamin yang saya berikan untuk diminum secera rutin," dokter memberikan resep multivitamin yang kemudian diberikannya kepada suster yang ada di belakangnya.
"Apakah ada hal lain lagi yang harus dilakukan?" Sean masih berdiri di samping Salwa saat dokter memeriksa kondisi perempuan itu yang saat ini terlihat lebih ceria tanpa beban.
"Usahakan tidak berhubungan sampai melewati tri semester pertama."
"Apa?Apa kau bercanda?" Sean berteriak keras, seolah hal itu sangat mustahil untuk dilakukan. Salwa kemudian mencubit pinggang Sean agar suaminya itu tidak berlebihan menanggapi perkataan sang dokter.
"Kondisi janin masih sangat lemah, berhubungan saat usia janin baru hitungan minggu akan membahayakan janin itu sendiri."
Sean menghembuskan napasnya kasar, bagaimana mungkin ia bisa melakukan itu, sekali sehari saja terasa sangat kurang, apalagi harus menahan hingga berbulan-bulan lamanya.
"Bagaimana dengan dua hari sekali?" Tanya Sean mencoba bernegoisasi. Salwa hanya bisa mengelus dada melihat tingkah suaminya itu.
Dokter menggeleng, menunjukkan ketidak setujuannya.
"Tiga hari sekali?" Dokter masih menggeleng, sampai Sean menunjukkan jari empat, lima, enam dan seterusnya dokter tetap menggeleng.
"Kau bisa membuatku gila jika seperti itu," bentak Sean kepada dokter lelaki itu dengan sedikit mengacak rambutnya 'frustrasi'.
"Mas, ssssttt." Salwa memberi peringatan kepada Sean dengan menutup mulutnya sendiri menggunakan jari telunjuknya agar suaminya itu tidak berkata yang aneh-aneh. Ia cukup malu melihat kelakuan Sean yang kekanak-kanakan padahal usianya sudah dewasa.
"Baiklah, satu bulan sekali? Dua bulan?..."
"Anda bisa melakukannya jika sudah memasuki bulan ke empat, tetapi jangan terlalu sering, mungkin bisa di coba dua minggu sekali" tutur dokter itu memberi kelonggaran.
Sean ingin kembali memrotes tetapi Salwa langsung mencekal lengannya dengan tatapan galaknya yang membuat Sean menipiskan bibirnya 'menyerah'.
"Kalau begitu kami permisi," ucap dokter tersebut yang diikuti oleh suster di belakangnya.
Sean duduk di sisi ranjang Salwa, wajahnya tampak lesu meskipun ada perasaan lega di hatinya karena Salwa sudah baik-baik saja. Mungkin hari-hari berikutnya akan terasa berat baginya. Apalagi ia selalu tidak bisa menahan diri saat berdekatan dengan istrinya itu.
"Apa kau mau mandi dulu sebelum pulang?" Sean bertanya dengan lembut kepada Salwa yang kini sudah terbebas dari jarum infus. Salwa mengangguk, badannya terasa lengket karena sejak kemarin belum merasakan kesegaran air membasuh tubuhnya.
"Aku akan membantumu," ucap Sean kemudian, Sean mengangkat tubuh Salwa perlahan lalu membawanya masuk ke kamar mandi. Ia mendudukkan istrinya itu di kursi berbahan plastik yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Sean menunduk membantu Salwa melepaskan kancing-kancing bajunya, tetapi Salwa kemudian menahan tangan Sean yang sudah bersiap melepaskan satu kancing paling atas.
"Aku bisa melakukannya sendiri, mas bisa menunggu di luar," wajah Salwa tampak teduh menatap suaminya yang begitu sabar memperlakukannya.
Sean membungkukkan tubuhnya, menyetarakan tingginya dengan tinggi Salwa yang sedang duduk. "Untuk kali ini biarkan suamimu yang melayanimu."
"Tapi...?" Salwa ingin menolak, namun sepertinya Sean serius ingin melakukannya membuat Salwa tidak bisa berbuat apa-apa selain menyetujui Sean membantunya membersihkan diri. Salwa yakin mandi kali ini akan membutuhkan waktu lebih lama daripada biasanya.
"Baiklah, terserah mas saja," ucap Salwa kemudian dengan menahan wajah kemerahannya karena malu.
Salwa sudah berada di dalam mobil di samping kursi kemudi yang saat ini sedang dikendarai suaminya. Sean sengaja membawa mobil sendiri karena ingin mengajak Salwa sekedar berkeliling sebelum pulang ke rumah.
"Sepertinya ini bukan jalan ke rumah, memang kita mau kemana mas?" Salwa memandang sekeliling, ia meyakini bahwa jalan yang mereka lewati bukanlah jalan ke arah rumahnya melainkan ke tempat lain. Sean hanya tersenyum menanggapi pertanyaan istrinya sambil terus mengemudi mobilnya.
"Stop!" Salwa tiba-tiba meminta berhenti saat mobilnya lewat di depan sekolah dasar. Sean dengan hati-hati menepikan mobilnya tepat di bawah pohon yang rindang.
"Ada apa?" tanya Sean kemudian. Mata Salwa terpatri pada satu tempat yang kemudian membuat perempuan itu menelan ludahnya berkali-kali. Sean ikut melihat apa yang sedang menarik perhatian Salwa, dan ternyata istrinya itu sedang memperhatikan seorang penjual yang memakai rombong kecil di atas motornya. Sean membaca tulisan besar yang tertera di samping rombong tersebut.
__ADS_1
CILOK BAKAR
Sean mengerutkan kedua alisnya, ia kemudian menoleh ke arah Salwa yang masih memperhatikan penjual tersebut.
"Mas, mau itu?"akhirnya Salwa berbicara juga dengan menunjuk penjual cilok bakar tersebut. Sean tersenyum lembut dengan mengusap pucuk kepala istrinya itu.
"Sebentar ya!" Sean mengeluarkan ponselnya, ia kemudian mencari istilah 'cilok bakar' di mesin pencari. Sean membaca bahan-bahan yang dipakai untuk membuat jenis makanan tersebut, wajahnya berubah masam setelah mengetahui tentang 'cilok bakar' yang diinginkan istrinya itu.
"Mas belikan yang lain ya, jangan itu. Gak ada gizinya," ucap Sean dengan bersiap melajukan mobilnya .
"Mas, aku mau yang itu. Gak mau yang lain." Salwa mulai merajuk dengan bersedekap dada. Saat ini ia hanya ingin makan cilok bakar, bukan yang lain. Sepertinya hanya makanan itu yang rasanya paling enak. Sedangkan yang lain hambar, sama sekali tidak menarik dan menggugah seleranya.
Sean menghela napasnya panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana agar istrinya itu mengerti bahwa makanan itu tidak bergizi dan tidak baik untuk dirinya juga bayinya.
"Boleh ya?" Salwa melancarkan jurus merayunya dengan mencium pipi Sean sambil mengusap pipi suaminya itu. Sean yang diperlakukan seperti itupun sedikit goyah dengan perkataannya. Mana mungkin Sean bisa tahan jika istrinya itu tiba-tiba bersikap manja dengannya.
"Sekali ini saja ya, mas tidak mau kamu makan itu lagi." Sean melunak namun juga memberikan peringatan. Ia tidak ingin anaknya tidak tumbuh dengan baik jika Salwa hanya memakan makanan yang seperti itu.
Salwa mengangguk, setidaknya keinginannya hari ini sudah terpenuhi. Sehingga ia tidak terlalu memikirkan perkataan Sean.
Air liurnya hampir menetes saat membayangkan bumbu dari cilok bakar itu yang terasa sedap dengan rasa manis, asin, pedas dan gurih bercampur menjadi satu.
Sean melepas seatbelt nya, lalu membuka pintu mobilnya. Ketika kakinya hendak turun menapak ke tanah Salwa kembali menitipkan pesan untuknya, "Mas, jangan lupa sambelnya dipisah."
Sean hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menipiskan bibir seolah pasrah dengan keinginan sang istri.
Butuh waktu cukup lama Sean membeli cilok bakar tersebut, padahal Salwa lihat tidak ada yang mengantri. Entah apa yang mereka bicarakan, atau jangan-jangan Sean memberikan banyak syarat kepada penjual cilok tersebut sehingga membuat penjual cilok itu kebingungan.
"Sudah mas?" tanya Salwa setelah mendapati suaminya itu sudah duduk kembali di balik kemudi.
Sean mengangguk, "Kita pulang ya, kata penjualnya tadi lebih enak kalau dimakan waktu masih hangat."
Wajah Salwa tampak sudah tidak sabar untuk memakannya, ia menelan ludahnya sendiri lalu mengangguk menyetujui ucapan suaminya.
"Bik Sri ambilkan barang saya yang ketinggalan di bagasi mobil," pinta Sean kepada kepala pelayannya. Sean menuntun Salwa untuk memasuki rumahnya setelah pulang dari rumah sakit. Tangannya melingkar di bahu Salwa, sementara tangan satunya ia gunakan untuk menggenggam tangan istrinya.
"Hati-hati," ucap Sean saat Salwa hampir terjungkal karena tidak melihat tanjakan di bawahnya.
"Mas, langsung ke meja makan ya. Aku mau makan yang tadi," Salwa sedikit merengek kepada Sean seperti anak kecil saja, hal itu membuat Sean gemas dan ingin menciumi wajah istrinya itu.
"Baiklah," Sean hanya menuruti saja permintaan Salwa, mungkin ia juga sudah lapar karena sudah waktunya makan siang.
Bik Sri membawa sebuah kantung plastik milik Sean dengan susah payah, lalu meletakkannya di atas meja makan sesuai perintah dari majikannya itu. Salwa yang melihatnya tampak keheranan sehingga ia tidak tahan untuk tidak menanyai suaminya itu.
"Apa itu mas?"
Sean hanya menatap sekilas lalu tersenyum, "Bukalah!"
Salwa yang sudah penasaran sebelumnya langsung saja membuka isi dari kantung plastik itu, sementara Sean mengambil menu makan siang yang sudah disiapkan pelayan untuk mereka berdua.
"Apa...? Bukannya tadi mas melarangku makan cilok bakar, kenapa sekarang beli banyak sekali?" Salwa terkejut melihat begitu banyaknya Sean membelikannya jajanan satu ini, bukannya tadi Sean mengatakan tidak boleh? Lalu kenapa justru suaminya itu membeli sampai satu kantung plastik penuh.
__ADS_1
"Penjual itu yang memberi sebanyak itu, mas juga gak tahu, kasihkan pelayan saja. Ambillah sedikit sisanya kasih mereka," ucap Sean membela diri. Tetapi Salwa mengangguk saja menyetujui perkataan suaminya itu. Ia memindahkan beberapa tusuk di piringnya lalu sisanya yang masih banyak itu ia bagikan ke pelayan yang lain.
"Memang mas tadi beli berapa?"
"Hanya tiga," Sean menunjukkan jarinya sebanyak tiga kepada Salwa.
"Tiga puluh ribu?" Salwa mulai menebak, tetapi Sean hanya menggeleng yang menunjukkan tebakan Salwa salah.
"Tiga ratus ribu?" tebak Salwa lagi yang kini mendapat anggukan dari Sean.
"Mas kan malu kalau cuma beli pakai uang recehan," ungkap Sean jujur sambil tersenyum tanpa dosa. Hemm... pantas saja Sean mendapatkannya sebanyak itu, Sean sama saja memborong hampir semua dagangan pedagang cilok tersebut. Mungkin memang rezeki dari tukang cilok yang disalurkan oleh Tuhan melalui tangan suaminya.
"Kenapa gak sekalian dibeli sama rombongnya mas?" Salwa berkata sambil geleng-geleng kepala, ada saja alasan suaminya itu.
.....
Angela berjalan dengan percaya diri mengenakan pakaian formalnya yaitu rok span di atas lutut berwarna hitam dipadukan dengan kemeja lengan panjang yang ia biarkan dua kancing bagian atasnya terbuka. Dengan high heels bermerk terkenal yang juga ikut menunjang penampilannya.
Hari ini ia melanjutkan misinya yaitu bertemu dengan Sean di rumahnya, selain untuk melanjutkan pembicaraan tentang kerjasama tentang proyek papanya, ia juga mempunyai misi tersendiri. Angela ingin membuat Salwa dipecat dari rumah Sean. Ia akan menunjukkan betapa murahannya dan menjijikkannya perempuan itu sehingga Sean akan segera mengusir Salwa dari rumahnya.
Angela tidak rela melihat Sean menunjukkan perhatiannya kepada Salwa saat di kampus dengan menggendong Salwa yang pingsan. Ia ingin Sean ikut merasakan jijik terhadap perempuan itu. Perempuan sok polos dan sok suci ternyata adalah perempuan murahan yang bahkan bisa hamil di luar nikah. Bukankah perempuan seperti itu tidak pantas mendapat perhatian dari lelaki keren seperti seorang Sean Paderson.
Varo yang ia incar selama ini pun ikut terperdaya dengan penampilan Salwa. Ia tidak ingin lelaki yang satu ini pun juga ikut terperangkap dengan memberikan empatinya kepada seorang perempuan seperti itu. Sebelum Sean masuk ke dalam lubang yang sama dengan Varo, Angela akan menyelamatkannya. Sebaiknya dia lah yang akan membuat Sean menyukainya, karena demi apapun ia yakin bahwa dirinya jauh-jauh lebih segala-galanya daripada Salwa.
Angela sudah berada di depan pintu utama kediaman Sean. Ia berdehem sejenak menghilangkan rasa gugupnya. Ya, pertemuan terakhirnya saat di rumah pamannya sangat berkesan di hati Angela sehingga jantungnya saat ini sudah berdegup cepat hanya katena membayangkan wajah Sean berada di depannya.
Saking senangnya Angela saat itu, sehingga tidak terpikirkan olehnya untuk menanyai pamannya tentang maksud dan tujuan Sean bertandang ke rumah pamannya.
Angela membunyikan bel pintu yang terletak di depan rumah Sean. Butuh beberapa saat ia menunggu sampai akhirnya ada seorang pelayan yang mengenakan seragam kerjanya membukakan pintu lebar-lebar.
"Selamat siang, nona mencari siapa?" Ucap pelayan itu sopan. Dengan wajah sedikit angkuh Angela mengatakan ingin bertemu dengan Sean Paderson pemilik rumah ini. Pelayan tersebut pun akhirnya mempersilahkan Angela masuk untuk menunggu di ruang tamu.
Tidak jauh berbeda dengan tampilan luarnya yang tampak eksklusif dan berbeda dengan rumah-rumah lain di sekitarnya. Bangunan dalam rumah Sean benar-benar sangat istimewa. Angela hampir terperangah melihat keindahan dan desain yang dipertunjukkan oleh rumah tersebut. Perabotan yang terbilang berharga fantastis tertata apik di setiap bagian rumah itu.
Angela memang anak orang kaya, tetapi rumah ini jauh lebih bagus dan lebih mewah dari rumahnya. Ia sudah membayangkan betapa bangganya ia nanti jika menjadi pasangan dari pria kaya tersebut. Tentunya ia akan menunjukkan kepada Varo bahwa ia bisa mendapatkan lebih baik dari dirinya. Dan Salwa, perempuan itu bahkan nantinya akan tetap menjadi perempuan sampah di matanya.
Sean yang saat itu baru selesai menghabiskan makan siangnya bersama Salwa pun sedikit heran saat mendapat laporan bahwa ada tamu yang sedang menunggunya di luar.
"Temuin gih, kasihan tamunya nunggu lama," ucap Salwa saat Sean merasa malas menemui tamu tak diundang itu.
"Iya, kamu habiskan makanannya, jangan cuma makan cilok bakar itu saja."
Salwa mengangguk mengiyakan perintah suaminya, meskipun dalam hati ia enggan tetapi ia harus memaksa dirinya untuk menghabiskan makan siangnya.
Sean dengan langkah malas berjalan menuju ruang tamu, memeriksa siapa yang iseng mengganggu waktu santainya bersama istrinya.
Sean tersenyum tipis yang hampir tak terlihat mengetahui siapa yang tengah menunggunya di ruang tamu. Ia berjalan lebih tegas sekarang sampai perempuan yang sedari tadi memikirkannya dengan jantung berdetak tak karuan menoleh ke arahnya.
▪》 Bersambung...
lanjutannya masih diketik ya, kemarin sibuk banget 😠ðŸ˜
__ADS_1