
Malam ini hujan turun begitu lebat, membuat semua orang lebih cepat mengakhiri aktivitasnya agar segera menuju tempat pembaringan. Dengan dibalut selimut tebal ,Sean dan Salwa , dua orang yang sedang berbahagia itu berdekapan saling memberi kehangatan satu sama lain. Sean mengeratkan pelukannya dengan membenamkan wajah Salwa ke dadanya sambil mengelus punggung Salwa lembut agar kantuk segera mendatangi istrinya itu. Waktu yang mereka lewati seharian ini memang terasa sangat menyenangkan sehingga keduanya sulit untuk menghilangkan senyum dari bibirnya. Bahkan saat kedua mata mereka terpejam pun senyum tak kunjung pudar.
"Mas, apakah kau sudah tidur?" Salwa mendongakkan wajahnya memastikan Sean sudah tertidur atau belum. Sean menunduk, dengan lembut ia membelai kepala istrinya.
"Belum, kenapa?"
"Aku... mau mengucapkan sesuatu."
"Hmmm.. katakan!"
Salwa mengulurkan tangannya menyentuh pipi Sean lalu mengusap dengan ibu jarinya.
"Terimakasih, hari ini sangat menyenangkan. Terimakasih, " ucap Salwa tulus. Sean tersenyum dan mengangguk.
"Jika kau senang, kita bisa mengagendakannya lain waktu. Maaf ya, selama ini mas sering mengabaikanmu. Mas janji akan selalu menemanimu sepanjang hari."
Salwa terkekeh, bagaimana Sean bisa menemaninya sepanjang waktu. Apa ia tidak akan melakukan apa-apa setelah ini.
"Kau tidak perlu melakukan itu mas, aku sudah sangat berterimakasih karena dua hari ini kau sudah menemaniku sepanjang hari. Kau tahu, setiap malam aku tidak pernah bisa tidur memikirkanmu, apalagi Marcus bilang kau tidak mau diganggu. Saat itu aku takut, kalau kau akan ... melupakanku."
Sean mengangkat dagu Salwa, menatap bola mata istrinya itu dengan teduh. Ada cinta yang meluap-luap disana yang ditujukan untuk dirinya.
"Itu tidak mungkin, tidak akan dan tidak pernah terjadi. Dan jika itu benar terjadi, mas memberimu wewenang untuk melakukan satu hal," tutur Sean kemudian yang membuat Salwa mengerutkan kedua alisnya.
"Wewenang?" Salwa bertanya seolah tak sabar untuk mendapatkan jawaban dari Sean.
"Iya, mas akan memberimu wewenang untuk memukul kepala ini berkali-kali hingga mas bisa mengingatmu kembali." Sean berkata dengan menunjuk ke kepalanya sendiri. Mendengar perkataan Sean, Salwa segera mencubit perut suaminya itu sehingga Sean meringis kesakitan, karena Salwa memang sengaja mengeraskan cubitannya.
"Kenapa harus dicubit sayang, kenapa gak dicium saja." Sean malah menggoda istrinya lagi.
"Memang siapa yang tega memukulmu mas, kau pikir aku sejahat itu hingga tega memukulmu jika kau melupakanku."
Sean menangkap tangan Salwa lalu mengecup buku-buku jari istrinya itu dengan menyemburkan hawa panas dari napasnya ke permukaan kulit Salwa. "Kau akan sangat jahat jika membiarkanku melupakanmu. Kau tahu, melupakan cinta seseorang yang juga kita cintai adalah hal yang paling menyedihkan di dunia ini. Aku tidak bisa menerima jika suatu saat kau meninggalkanku karena aku sempat melupakanmu. Jadi berjanjilah apapun yang terjadi kau akan bertahan, tetap di sampingku."
Salwa mengangguk, perasaannya terasa hangat mendengar pengakuan langsung dari Sean bahwa dirinya sangat berarti untuk dia. "Jika hal itu terjadi padaku, apa yang akan mas lakukan?" Tanya Salwa kemudian.
"Seandainya kau melupakanku, dan menyuruhku pergi. Aku akan terus bertahan, jika perlu aku akan memaksamu agar jatuh cinta kepadaku lagi. Ingat atau tidak , itu tak jadi masalah asalkan kau tetap disisiku, bersamaku, sampai kapanpun."
Salwa tersenyum senang, ia kembali mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di dada suaminya itu. "Terimakasih mas, terimakasih."
"Sama-sama, sekarang tidurlah. Wanita hamil tidak boleh tidur terlalu malam, tidak baik bagi kesehatan."
Salwa mengangguk, ia kemudian memejamkan matanya agar kantuk segera datang menghampirinya. Sean juga kembali mebepuk-nepuk punggung Salwa perlahan agar istrinya itu segera terbuai di alam mimpi. Namun, lagi-lagi ada satu hal yang mengganjal di pikiran Salwa , sehingga membuatnya kembali menengadahkan wajahnya.
"Mas.." Salwa memanggil suaminya lagi, Sean yang hampir terbuai dengan rasa ngantuk pun sedikit terkejut dengan panggilan Salwa yang tiba-tiba. Dengan sedikit malas Sean akhirnya menjawab "hmmm.. ada apa?"
"Aku lupa menanyakan tentang ayah, apakah dia baik-baik saja?"
Mata Sean yang sudah hampir terpejam, ia paksa untuk membuka kembali. Sean memang sangat merindukan istrinya saat itu, dan terlalu bahagia mendengar kabar kehamilan Salwa sehingga ia terlupa menceritakan perihal ayahnya.
"Dia baik, ternyata ayah sangat mencintai ibuku. Sayang sekali ibuku tidak menyadarinya, hingga akhir hayatnya ibu merasa tidak ada satu orangpun yang mencintainya dengan tulus." Wajah Sean terlihat sedih mengingat itu semua. Andai waktu bisa diputar ulang, mungkin ia akan memperbaiki semuanya, mengajak ibunya untuk mencari ayah kandungnya dan meninggalkan si brengs** Robert itu.
"Syukurlah. Jadi....kalian berbaikan."
__ADS_1
Sean mengangguk, terulas senyum tulus di wajahnya.
"Iya, kami berbaikan dan saling memeluk. Mas bersyukur bisa menemukannya, kau tahu baru kali ini mas merasakan kasih sayang seorang ayah, merasakan dikhawatirkan oleh seorang ayah, dia orang baik. Mas akan mengenalkanmu kepadanya suatu saat nanti." Ucap Sean dengan memainkan rambut istrinya menggunakan jemarinya.
Salwa ikut senang mendengarnya, setidaknya pertemuan Sean dan ayahnya adalah hal yang bisa membahagiakan suaminya itu sehingga Sean tidak sia-sia pergi jauh-jauh dan hampir kehilangan nyawanya untuk bertemu dengan sang ayah.
"Mas, apakah ayahmu akan merestui hubungan kita? Apakah dia tidak akan marah kepadamu karena menikahi seseorang sepertiku ini?" Salwa teringat dengan bagaimana sikap nyonya Arthur waktu itu kepadanya, mereka orang-orang kaya pasti akan memilihkan pasangan untuk anak-anak mereka dengan perempuan yang dianggap sederajat. Dan Salwa sama sekali tidak termasuk dalam kriteria dari golongan perempuan sederajat itu.
Sean menarik kedua sudut bibirnya, dengan tetap memainkan rambut Salwa.
"Seseorang sepertimu? Memang kau seseorang seperti apa?"
Salwa menghela napasnya sambil menatap mata teduh suaminya.
"Kau pasti tahu, aku hanya wanita biasa, tidak ada kelebihan apapun dalam diriku, bukankah setiap orang kaya menginginkan menantu yang sederajat dengan mereka, agar tidak mempermalukan jika diperkenalkan dengan rekan-rekannya. Dan pastinya...."
Ssstttt
Sean menempelkan jari telunjuknya ke bibir Salwa. Membuat Salwa tak lagi melanjutkan perkataannya.
"Jangan pernah berkata seperti itu, jika kau bilang bahwa kau tidak mempunyai kelebihan itu salah."
Sean menyentuh dagu Salwa agar perempuan itu menatapnya.
"Di mataku kau adalah perempuan yang paling sempurna. Kecantikanmu, kepolosanmu dan kebaikan hatimu adalah nilai lebih untukmu. Dan yang terpenting..." Sean meraih tangan Salwa lalu meletakkannya di atas dadanya "Hati ini milikmu."
Salwa tersenyum, dan saat ini tidak ada lagi kekhawatiran dalam benaknya. Karena ia yakin apapun yang terjadi Sean akan berada di pihaknya, bersamanya dan selalu menemaninya. Mereka kembali saling memeluk dan menghangatkan satu sama lain dengan perasaan haru dan bahagia.
Berbeda dengan Sean dan Salwa yang diliputi dengan kebahagian. Di tempat lain, seseorang sedang dilanda gelisah seolah begitu banyak pikiran yang bergelayut di kepalanya. Lelaki itu tak kunjung bisa memejamkan matanya, perasaannya bercampur aduk antara cinta, marah dan juga kecewa.
....
Salwa Humaira, gadis cantik namun pendiam itu menarik perhatian Varo. Saat itu Varo sedang membagikan formulir pendaftaran anggota baru ekskul beladiri. Varo yang lebih dulu masuk ke dalam klub beladiri bertugas mencari anggota baru. Ia tidak mengira bahwa gadis polos berhijab itu tertarik dengan formulir yang ia bawa.
"Apakah aku boleh meminta satu?" Salwa bertanya kepada Varo yang sedang membawa map berisi formulir pendaftaran. Varo menatap Salwa dengan tatapan tak percaya. Gadis itu mengenakan seragam yang tampak kebesaran, tetapi hal itu tidak bisa menyembunyikan tubuh kurusnya.
"Untuk apa?" Tanya Varo kemudian.
Dengan malu Salwa berkata, "Tentu saja untuk mendaftar, bukannya kalian sedang mencari anggota baru. Aku ingin menjadi salah satu anggota itu."
"Hah... apa kau yakin?" Varo mengerutkan keningnya, dari segi fisik ia yakin bahwa gadis di depannya ini tak mampu melakukan latihan fisik untuk menunjang ilmu beladirinya, ia bisa mengalami patah tulang jika tidak berhati-hati mengingat tubuhnya yang kurus kering seperti itu.
"Tentu saja," jawab Salwa dengan sangat yakin. Varo akhirnya memberikan juga formulir tesebut kepada Salwa.
"Kumpulkan di basecamp kami besok, semoga kau tidak menyesal," ucap Varo dengan menepuk-nepuk bahu Salwa.
Itu adalah awal mereka bertatap muka sekaligus bertegur sapa. Varo dan Salwa memang satu angkatan tetapi mereka tidak satu kelas sehingga mereka hanya sekedar tahu tanpa saling mengenal.
....
Salwa dan teman-teman anggota baru sudah berkumpul di padepokan yang merupakan basecamp klub beladiri dengan jenis pencak silat di sekolah tersebut. Guru instruktur memberikan pelatihan awal kepada mereka, seperti latihan kuda-kuda, pola langkah, tendangan dan masih banyak lagi.
"Kamu maju!" Instruktur pelatih memanggil Salwa yang sedari tadi melakukan gerakan yang salah.
__ADS_1
"Saya?" Salwa menjawab dengan menunjuk ke wajahnya.
"Iya, kamu."
Dengan ragu Salwa akhirnya maju juga memenuhi panggilan pelatihnya. Ia berdiri di depan teman-temannya yang semua tatapannya terarah pada dirinya dengan perasaan serba ingin tahu.
"Coba lakukan gerakan yang baru saja aku ajarkan!" Pelatih kemudian memberikan hitungan mundur untuk aba-aba. Salwa sebisa mungkin melakukan apa yang tadi dipelajarinya.
"Perhatikan lagi kuda-kudamu, jika kau melakukannya seperti ini musuh akan dengan mudah menjatuhkanmu. Varo, tunjukkan pasang kuda-kuda dengan benar!" Pelatih memerintah Varo agar menunjukkan posisi yang benar kepada Salwa dan juga teman-temannya.
Dengan mudah Varo menunjukkan gerakan-gerakan yang diajarkan oleh sang pelatih dengan baik dan benar tanpa ada sedikitpun koreksi dari pelatih. Mungkin karena Varo lebih senior dari mereka sehingga Varo sudah menguasai gerakan-gerakan dasar seperti itu.
"Sekarang gerakan jurus dasar," sesuai instruksi Varo memperagakan gerakan jurus untuk pemula dengan baik sesuai arahan sang pelatih. Salwa dan juga teman-temannya meniru gerakan tersebut yang sudah diperagakan oleh Varo.
"Baiklah, istirahat sebentar. Setelah ini kalian bisa berlatih untuk mengaplikasikan gerakan jurus dasar dengan pasangan masing-masing." Sang pelatih memberikan salam dengan membungkuk ke arah anggota klub pencak silat yang diikuti dengan gerakan yang sama oleh mereka.
"Hai, aku tidak menyangka kau akhirnya datang juga." Varo menyapa Salwa yang saat itu masih berlatih gerakan-gerakan yang ia pelajari.
"Tentu saja, aku tidak akan melewatkannya. Emmm, apakah kau bisa membantuku?"
"Apa?"Varo mendekat ke arah Salwa dengan menunggu jawaban sari gadis itu.
"Aku kesulitan melakukan gerakan ini, apakah kau bisa memberitahuku kesalahnnya dimana?"
Varo menipiskan bibirnya, ia baru melihat seorang gadis sangat kekeh mengikuti latihan ilmu beladiri, sampai ia tidak ikut beristirahat dengan yang lain dan terus saja berlatih.
"Tentu saja, aku akan membantumu." Varo membantu Salwa dengan mengajari gerakan-gerakan yang belum Salwa kuasai. Sepertinya Salwa memang berbakat, sedikit saja Varo mengajarinya ia sudah bisa melakukannya.
"Sekarang lawan aku," ucap Varo kemudian. Salwa mengangguk mengiyakan. Mereka mulai mencoba gerakan-gerakan jurus dasar untuk diaplikasikan saat bertanding. Namun sepertinya Varo tidak berkonsentrasi saat Salwa melakukan serangan balik sehingga kepalan tangan Salwa melesat di wajahnya.
"Aauuhh." Varo menaduh dengan memegangi keningnya.
"Hah, maaf. Kau tak apa?" Salwa yang merasa bersalah jadi tidak enak melihat Varo terluka karenanya. Pelipis Varo kemerahan karena pukulan Salwa, dan mungkin setelah ini akan membiru gelap.
"Ayo, ikut aku!" Salwa menarik lengan Varo agar mengikutinya, ia mengajak Varo ke UKS untuk mengobati memar pada wajah Varo.
"Hati-hati," ucap Varo saat Salwa menyapu bekas lebam kemerahan itu dengan handuk yang sudah direndam dengan air hangat.
"Maaf, aku tak sengaja." Salwa kembali memijat bagian memar itu menggunakan handuk hangat dengan perlahan sambil sedikit meniup memar itu agar rasa sakitnya sedikit menghilang.
Varo yang melihat wajah Salwa sedekat itu tiba-tiba ada perasaan aneh dalam hatinya. Gadis itu terlihat manis, wajahnya mungil dengan kulit kuning langsat dan bersih. Pandangannya tampak teduh, apalagi saat ia merawat luka Varo dengan begitu telaten membuat Varo tak bisa mengalihkan perhatiannya dari wajah Salwa.
"Apakah sudah membaik?" Tanya Salwa kemudian yang berhasil membuyarkan lamunan Varo seketika.
"Eh.. iya." Varo menjawab dengan kikuk, ia takut ketahuan karena sedari tadi memandang Salwa tanpa berkedip.
"Syukurlah, kau harusnya lebih konsentrasi jadi hal seperti ini tidak terulang lagi. Apakah kau ada masalah dengan pacarmu sehingga fokusmu hilang? Baiklah, aku membereskan ini dulu." Salwa segera mengambil bekas yang berisi air hangat untuk mengompres luka Varo tadi lalu membuangnya di wastafel.
"Katakan!"
"Mengapa kau masuk ke klub bela diri dan aku lihat kau berlatih cukup keras dari yang lain. Apa kau sangat menyukai bela diri?" Varo bertanya dengan penasaran akan jawaban Salwa. Baru kali ini ia melihat sosok seperti Salwa. Gadis lain mungkin akan memilih mengikuti ekskul lain seperti paduan suara, chiliders, menari atau yang berbau perempuan. Tetapi Salwa malah memilih beladiri.
"Karena jalan masuk ke rumahku ada preman yang sering menggangguku, aku harus bersembunyi dahulu agar mereka pergi. Aku ingin memberikan mereka pelajaran agar tidak menggangguku terus. Karena mereka aku tidak berani keluar jika tidak diantar oleh bapakku," ucap Salwa panjang lebar, wajahnya terlihat tak berdaya akan suatu keadaan, tetapi sorot mata Salwa memancarkan keteguhan hati yang begitu kuat.
__ADS_1
.....
Bersambung...