Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Berlibur part 1


__ADS_3

"Kenapa kau memukulnya, kita butuh banyak informasi lagi darinya?" Abust berdecak saat melihat Albert sudah terkapar tak sadarkan diri.


"Informasi apa lagi, kau terlalu membuang-buang waktu, sebentar lagi akan ada petugas yang datang untuk membawa Catherine. Sekarang bantu aku mengeluarkan perempuan itu dari balik kandang besi itu"


Abust menghela napas lalu menghembuskkannya kasar, ia mau mengumpat tetapi tidak ada waktu. Fang Yi sudah tahu bahwa tidak ada kunci untuk membuka jeruji besi itu, bagaimana Abust bisa mengeluarkan Catherine dari sana?


"Kau ingin aku meminta kuncinya kepada petugas penanggung jawab lelang itu yang artinya kau menyuruhku masuk ke kandang singa dengan berurusan langsung dengan para mafia itu. Apa kau sudah gila?"


"Berhenti mengoceh, minggir!"


Fang Yi menabrak lengan Abust dengan serampangan lalu menuju ke kandang besi yang digunakan untuk menyekap Catherine. Fang Yi mengeluarkan pistol dari dalam saku jasnya, lalu mengarahkannya ke arah Catherine yang masih meringkuk dan menunduk enggan berasuara. Seolah perempuan itu sudah pasrah dengan nasib buruk yang akan menimpanya.


"Fang Yi, apa yang kau lakukan?Aku meminta bantuanmu menemukannya untuk diselamatkan , bukan untuk dibunuh."


Fang Yi tetap bergeming, pandangannya fokus ke arah Catherine dan ia siap menarik pelatuknya. Abust menarik tangan Fang Yi, agar ia tidak melakukan hal buruk terhadap Catherine. Bagaimana Fang Yi bisa berubah haluan untuk menyakiti Catherine, padahal Sean sudah menaruh kepercayaan penuh kepada perempuan itu untuk membantu segala urusan Abust selama di London.


"Berhenti menghalangiku, atau aku akan menembakkan ini ke kepalamu!" Fang Yi menghardik Abust yang mengganggu pekerjaannya, tetapi Abust malah memarahinya.


"Fang Yi, kau tidak akan berhasil kabur setelah kau mencelakaiku. Sean akan mencarimu hingga ke neraka sekalipun." Abust hanya bisa bicara, karena di detik berikutnya Fang Yi mengarahkan pistol itu ke wajah Abust.


Cahaya infra merah yang berasal dari pistol itu menerpa dahi Abust, tetapi kemudian beralih ke kandang besi yang di tempati Catherine.


Fang Yi menarik pelatuknya, tetapi tidak ada suara sedikitpun yang terdengar. Abust ternganga saat melihat kunci kandang besi itu teriris sempurna sehingga dengan sendirinya pintu besi itu terbuka.


"Senjata apa itu? Kenapa kau tidak melakukannya dari tadi?" Sekali lagi Abust tidak bisa menahan diri untuk tidak protes terhadap apa yang dilakukan oleh Fang Yi.


"Aku hanya menggunakannya di saat situasi darurat,"


"Keluarkan dia, aku akan berjaga di luar!" Tanpa dipersilahkan , Fang Yi seolah mengambil alih tugas pemimpin memerintah Abust.


Abust melangkah mendekat ke arah Catherine, di saat Abust mendekat, menatap lekat punggung putih milik Catherine yang tidak berpenghalang, barulah Abust menyadari bahwa Catherine mengalami kekerasan fisik dengan banyaknya luka bekas cambukan di punggungnya.


Abust melepaskan jasnya lalu ia selimutkan ke tubuh Catherine. Perempuan itu masih bergeming, tidak menatap ataupun berbicara. Perlahan Abust menepuk bahunya lalu mengajaknya bicara.


"Catherine, keluarlah dari situ. Mari kita pulang!" Suara Abust yang lembut sepertinya berhasil menembus kesadaran Catherine membuat perempuan itu menengadah lalu menoleh ke arah Abust.


"Aa...A..bust," ucap Catherine terbata.


"Iya, ini aku. Keluarlah," Abust berucap dengan lembut sambil membungkuk mengulurkan tangannya agar disambut Catherine yang tampak gemetar ketakutan.


Wajah Catherine sangat pucat, bulir air mata langsung membanjiri pipinya, ia terselamatkan.


Catherine menangkup jas yang dipakaikan Abust agar menutupi tubuh polosnya, ia keluar dengan hati-hati karena rasanya kakinya sudah sangat kram terlalu lama berjongkok di jeruji besi itu.


Abust menuntunnya dengan membantunya keluar sari kandang tersebut, meskipun Catherine menutup tubuhnya dengan jas yang dikenakan Abust, tetapi tdak bisa dipungkiri bahwa barang pribadi Catherine beberapa kali terlihat oleh Abust.


"A...aku selamat?" Tanya Catherine hampir tidak percaya saat dirinya sudah berhasil keluar dari kandang besi itu. Bayangan mengerikan perlakuan Albert di luar batas kemanusiaan membuatnya gemetar, tidak berani berharap untuk bisa selamat dan menghirup udara bebas.


Tetapi saat ini, ia bisa menapakkan kakinya keluar dari kandang besi itu membuatnya terharu.


"Iya, kau selamat." Abust meraih tubuh Catherine lalu memeluknya dengan erat, ia merasakan bagaimana tubuh perempuan itu bergetar hebat saat Abust memeluknya.


"Kalian bisa lebih cepat, waktu kita hanya sedikit!" Fang Yi yang sedari tadi menunggu di luar pintu merasa tidak sabar menunggu Abust keluar membawa Catherine sebelum petugas lelang menyadari insiden yang mereka buat.


"Ayo keluar," ucap Abust kemudian sambil membawa Catherine bersamanya.


"Tunggu, kau tidak bisa keluar membawanya seperti itu." Fang Yi segera mencegah Abust, ia melihat tampilan Catherine yang acak-acakan dengan hanya mengenakan jas saja tanpa pakaian lain di dalamnya. Itu akan mengundang banyak perhatian.

__ADS_1


"Maksudmu?" Abust sedikit kesal, Fang Yi bilang harus cepat karena waktunya sangat sempit, tetapi ia justru menghadangnya saat dirinya akan keluar dari ruangan itu.


"Aku punya ide," ucap Fang Yi dengan menunjukkan senyum tipisnya.


....


Semua barang bawaan Sean dan Salwa sudah dikemas dalam koper masing-masing. Senyum bahagia terpancar dari kedua anak manusia tersebut, sudah bisa dijadikan bukti akan kebahagiaan yang tengah mereka rasakan.


Seperti perjanjian Sean dengan Abust, akhirnya lelaki itu mengajak Ashton dan Axton ikut berlibur bersamanya. Meskipun saat ini mereka berada di mobil yang berbeda dengan mobil yang di tumpangi Sean dan Salwa, tetap saja pasti kedua bocah itu akan merepotkan Sean nantinya. Sehingga Sean memanfaatkan ketidak adaan dua makhluk pengganggu itu di mobilnya dengan bermesraan bersama istrinya.


Sean mengeratkan pelukannya ke pinggang Salwa yang saat ini duduk berada di atas pangkuannya. Sean tak henti-hentinya menggoda Salwa dengan beberapa kali menciumi bibir ranum istrinya itu dengan rakus, seolah tidak ada hari esok untuk melakukannya lagi, dan ia harus menikmatinya dan menyesap sarinya hingga puas. Tetapi kata puas itu sepertinya tidak ada dalam kamus Sean, membuat Salwa jengah sendiri akhirnya.


"Apakah aku bisa duduk di sebelahmu saja mas?" Ekor mata Salwa menunjuk ke kursi kosong yang ada di samping Sean, karena sejak Sean menutup kabin penumpang sebagai area privasinya, Salwa sudah dipaksa duduk di pangkuan suaminya itu dengan tangan yang melingkar di leher Sean.


"Tidak bisa, itu terlalu jauh."


Perkataan Sean yang asal itu membuat Salwa terkekeh, bagaimana mungkin bisa dikatakan terlalu jauh, bahkan Salwa tinggal menggeser bokongnya saja untuk bisa sampai di kursi yang ada di sebelah tempat duduk Sean.


"Kau akan kelelahan dengan posisiku yang seperti ini. Lihat saja, badanku semakin berat karena setiap hari kau menyuruhku makan yang banyak."


"Tidak, kau sama sekali tidak berat. Aku akan merasa keberatan jika kau berjauhan denganku." Perkataan Sean tersebut sukses membuat istrinya itu tersipu.


"Iihh.. gombal," ucap Salwa sambil menunduk menyembunyikan rona merah di dada suaminya itu.


"Itu benar sayang, lihatlah setelah kita sampai dan keluar dari mobil pasti anak-anak Abust itu akan mengganggu, dan kita tidak bisa melakukan ini." Sean mengangkat dagu Salwa yang masih bersembunyi di dadanya, lalu kembali menciumi bibir istrinya itu lagi dan lagi, sampai tangan Salwa menahan dada Sean agar menghentikan ciumannya itu. Bukannya tidak senang, tetapi Salwa merasa di bawah sana sudah menegang dan naik mengganjal di bawah paha Salwa.


"Kau bertanggung jawab atas mereka, jadi sebaiknya kita harus mengurus mereka dengan baik sampai ibunya datang menjemput." Salwa menangkupkan tangannya di pipi kanan dan kiri Sean dengan tatapan lembut untuk menasehati suaminya itu agar tidak mengeluh akan tanggung jawabnya terhadap kedua anak Catherine yang dititipkan kepada mereka.


"Iya, aku tahu. Tetapi kau juga harus bertanggung jawab denganku." Sean mengambil tangan kanan Salwa yang menangkup pipinya lalu memberikan kecupan hangat di telapak tangannya.


"Tanggung jawab?"


"Apa... tidak apa?" Tanya Salwa malu-malu.


"Tentu, kau juga akan menikmatinya nanti."


Salwa kembali memukul dada suaminya itu dengan pelan, "Iih.. kau selalu membuat pikiranku kotor."


Sean kembali terkekeh, ia mengusap pipi Salwa yang mulai gembul dan halus itu. "Tetapi kau menyukainya kan?"


"Enggak, jangan terlalu banyak mengajariku hal yang aneh-aneh. Setiap kau tidak bersamaku, aku jadi sering membayangkan hal-hal aneh yang kau katakan."


Wajah Sean semakin senang mendengar kejujuran istrinya yang terasa polos itu. "Benarkah? Emm, kita bisa mempraktekkan semuanya nanti malam. Jadi kau tidak perlu hanya membayangkannya saja, kita bisa melakukannya langsung, sehingga kau tidak sebegitu penasarannya dengan apa yang aku katakan." Sean mengedipkan sebelah matanya menggoda.


"Idiihh.. maunya."


Mereka pun akhirnya tertawa, menghabiskan waktu diperjalanan dengan saling melempar candaan dan tertawa riang sambil berpelukan mengobati rasa rindu yang selama ini mereka tahan.


.....


Iring-iringan mobil yang mengantar Sean dan Salwa beserta dua anak Catherine yaitu Axton dan Ashton berhenti di sebuah vila di kawasan elit . Vila yang mereka sewa berukuran besar , mempunyai banyak kamar dan tentunya lebih dari cukup untuk tempat beristirahat Sean beserta rombongannya.


Sean turun terlebih dahulu yang kemudian diikuti oleh Salwa di belakangnya. Udara terasa sejuk menerpa kulit Salwa yang mengenakan gamis berbahan ceruti, membuatnya sedikit kedinginan. Meskipun mereka sampai di sana sudah hampir tengah hari, tetapi udara masih terasa dingin dengan kabut tebal dan awan yang mulai menghitam, mingkin sebentar lagi hujan akan turun.


Beberapa pelayan mulai bersiap untuk melakukan pekerjaan mereka dengan menyiapkan makan siang seluruh rombongan. Mereka berbondong-bondong menuju dapur umum dengan dibantu oleh para bodyguard.


"Paman, aku mau ke kamar kecil." Ashton memegangi celananya yang dekat dengan *********** karena menahan kencing sejak di mobil.

__ADS_1


Sean menggaruk kepalanya, bodyguardnya sudah pergi menyiapkan barang-barang yang ia bawa. Sementara Salwa, ah.. tidak mungkin Sean menyuruh Salwa mengurus anak kecil itu.


"Paman, ayo... aku sudah tidak tahan." Ashton kembali menghentakkan kakinya secara bergantian karena ia sudah tidak bisa menahannya.


Salwa yang melihat gelagat Ashton berinisiatif untuk mengajaknya ke kamar mandi, tetapi Sean mencegahnya.


"Ajak saudaranya masuk, biar aku yang mengantarnya ke kamar mandi."


Sean kemudian membungkuk di depan wajah Ashton.


"Tahan, jangan ngompol!"


Sean belum tahu dimana toiletnya, ia kemudian langsung menggendong Ashton agar anak lelaki itu lebih cepat sampai ke tempat tujuan, yaitu ke kamar mandi. Salwa yang melihat bagaimana cara Sean menggendong Ashton yang sebesar itu membuatnya tersenyum senang. Pasti suaminya itu nanti akan menjadi hot daddy yang sangat menyayangi anak-anak mereka nantinya. Salwa mengusap perutnya yang masih sangat kecil itu, merasa tidak sabar akan kehadiran sang buah hati.


Sean merasa ada sesuatu yang hangat yang mengenai lengannya dan mengalir makin lama makin banyak. Ia mengerutkan keningnya, perasaannya tidak enak , apalagi bau mulai menyengat merasuk indra penciumannya.


"Kau kencing?"


Ashton dengan wajah ketakutan melihat aura Sean yang berubah dingin berusaha tersenyum dengan memperlihatkan deretan gigi susunya.


"Aku sudah tidak tahan paman," ucapnya memelas.


"Sial." Sean mengumpat lalu menurunkan Ashton yang hampir berada di depan pintu kamar mandi.


"Mengapa kau jorok sekali."


Sean segera melepas kemejanya lalu membuangnya ke tempat sampah. Ia membasuh lengannya kemudian dibilas dengan sabun hingga bersih dan wangi.


"Masuk!" Sean sedikit membentak karena kesal, ia menyuruh Ashton masuk ke dalam kamar mandi. Dengan ragu Ashton menurut, ia sama sekali tidak berani membantah ataupun bertanya kepada Sean. Lelaki itu terlihat sangat menyeramkan, apalagi melihat tato yang menghiasi lengan dan tubuhnya membuat Sean semakin menyeramkan di mata anak kecil tersebut.


"Lepas pakaianmu!"


Ashton dengan perlahan membuka pakaiannya, seketika hawa dingin menerpa tubuh kecilnya. Sean segera memutar kran dan langsung menyeret tubuh kecil itu untuk berada di bawah guyuran shower.


Gigi Ashton gemeretak, dengan lutut gemetar merasakan hawa dingin yang teramat sangat merasuk di tubuhnya menembus tulang-tulang kecilnya. Salwa yang baru saja masuk ke dalam rumah karena ingin melihat kondisi Ashton terkejut melihat bagaimana Sean memperlakukan anak kecil itu dengan kasar.


"Mas, apa yang kau lakukan?" Salwa segera menyambar handuk, lalu membawa Ashton bersamanya dengan menyelimuti tubuh menggigil Ashton dengan handuk tebal itu.


"Dia kencing di celana, jadi aku menyuruhnya mandi."


Salwa menipiskan bibir, menggeleng lalu menghela napasnya panjang saat mendengar jawaban dari suaminya itu, baru saja ia memuji saat Sean menggendong Ashton dan mau mengantarnya untuk buang air kecil, tetapi ternyata suaminya itu tidak semanis yang ia bayangkan.


Salwa menatap tajam ke arah Sean saat melihat tubuh Ashton menggigil kedinginan. Sean yang ditatap seperti itu hanya meringis tanpa dosa, ia tidak mau berdebat dengan istrinya, sehingga ia saat ini sedang mempersiapkan telinganya untuk mendapatkan omelan Salwa.


"Jangan takut ya, ganti baju sama tante." Salwa membujuk anak itu dengan sikap lembut keibuan, membuat Ashton mengangguk tidak takut lagi. Ia bersiap untuk menggendong Ashton, tetapi Sean kemudian mencegahnya.


"Jangan , biar aku saja!" Dengan cepat Sean mengangkat Ashton dalam gendongannya lalu berjalan menuju di mana kamar Ashton dan Axton berada. Salwa mengekor di belakang Sean, karena ia masih cemas dengan sikap suaminya yang tidak bisa lembut kepada anak kecil.


"Jangan masuk, tunggu di luar!" Perintah Sean kemudian di saat Salwa ingin masuk ke dalam kamar anak lelaki itu.


"Tapi, jangan terlalu keras kepada mereka, mereka masih anak-anak?"


"Iya, tahu." Sean kemudian menutup pintu kamar Ashton dan meninggalkan Salwa di luar. Butuh waktu sepuluh menit bagi Sean untuk menggantikan baju Ashton, dan ia keluar dari kamar itu dengan senyum cerah penuh kepuasan.


"Sudah?" Tanya Salwa kemudian.


"Tentu saja, itu pekerjaan mudah, kau bisa mengandalkanku untuk mengurus anak," ucap Sean dengan bangga.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2