Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Evelyn


__ADS_3

Sean bersandar di dinding hotel tempatnya menginap, menunggu Marcus datang. Setelah melihat bagaimana laki-laki itu mendatanginya jauh-jauh, hingga nekat menculik Salwa agar bisa bertemu dengannya, Sean merasa Marcus tidak tahu-menahu masalah penculikan itu.


Tetapi ada hal janggal yang masih menjadi tanda tanya di benak Sean dan itu akan ia tanyakan hari ini juga saat Marcus menemuinya.


Tok-tok-tok


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Sean, ia melihat ke kamera pintu intercom untuk memastikan siapa yang datang. Setelah tamu yang ia tunggu sudah di depan pintu Sean segera mempersilahkannya masuk.


"Ada hal penting apa yang akan kau bicarakan padaku hingga menyuruhku datang malam-malam begini?" Marcus terlihat kesal karena seharian ini ia sibuk mencari pamannya sementara Sean dengan seenaknya meninggalkan tempat setelah tahu bahwa David diculik, apalagi sampai sekarang Marcus belum juga mendapat informasi apapun dari anak buahnya.


Sean duduk dengan tenang di sofa panjang yang terletak di sisi kanan ruangan. Ia mempersilahkan Marcus untuk duduk terlebih dahulu sebelum dirinya menginteogasi laki-laki itu.


"Cepat katakan, apa yang ingin kau bicarakan!" tanya Marcus lagi dengan mengulang pertanyaan yang sama.


Sean menatap Marcus dengan ekspresi serius, sorot matanya berubah dingin saat laki-laki itu ingin mengorek banyak informasi dari lawan bicaranya. Marcus yang tadinya tampak kesal dan marah, mendadak nyalinya menciut. Ia sadar bahwa Sean, laki-laki di depannya ini adalah laki-laki yang berbahaya.


Marcus sudah menelusuri sepak terjang Sean di dunia bawah tanah, sehingga ia merasa harus lebih berhati-hati, meskipun ia tahu saat ini Sean berada di pihaknya.


Walau masa lalu Sean sangatlah gelap tetapi Marcus tahu, ada sisi penyayang di balik aura mengerikan yang selalu Sean tampilkan. Ia pun sempat tidak percaya dan tidak menyangka laki-laki seperti Sean bisa takluk oleh perempuan seperti Salwa. Entah bagaimana mereka bisa bersatu, dengan segala perbedaan watak dan tabiat ataupun status sosial yang terlalu senjang mereka bisa hidup bersama dan saling mencintai.


Marcus melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Sean memperlakukan istrinya itu dengan lembut dan menjaganya seperti orang yang sangat penting dan begitu berarti untuknya, sehingga ia mau diajak bertemu David dengan alasan demi keamanan istrinya.


"Marcus, apa kau yakin tidak terlibat dengan penculikan David?" Sean menatap lurus ke arah Marcus tanpa sedetikpun mengalihkan perhatiannya dari laki-laki itu. Dengan posisi seperti itu, Sean bisa menangkap dengan jelas ekspresi lawan bicaranya sehingga ia bisa mengidentifikasi apakah laki-laki itu sedang berbicara jujur atau berbohong.

__ADS_1


"Apa maksudmu, setelah apa yang aku lakukan kau masih mencurigai ku?" Marcus menggeleng-gelengkan kepalanya, bagaimana Sean bisa mencurigainya padahal seharian ini ia sangat sibuk mencari pamannya sampai terlupa untuk mandi dan makan.


"Aku hanya bertanya, kau tidak perlu semarah itu." Sean menjeda perkatannya lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Marcus, sehingga wajah mereka lebih berdekatan.


"Tetapi apa kau pikir seorang penjaga yang sudah puluhan tahun mengabdi kepada keluarga Deslaurier bisa berhianat, apalagi penjaga yang kau pilih adalah penjaga terbaik, berdedikasi tinggi dengan kemampuan dan kesetiaannya?"


Sean menegakkan lagi punggungnya untuk bersandar dengan tangan yang ia sedekapkan di dada dan sorot mata tetap mengarah ke arah Marcus.


"Tentu saja itu tidak mungkin bukan? Dan hal itu mungkin terjadi jika seseorang yang statusnya dianggap lebih tinggi darimu dan merupakan keluargamu yang memerintahkan mereka untuk melakukannya."


Deg....


Marcus terkejut mendengar penuturan Sean dan semua yang diungkapkan Sean ada benarnya. Ia tampak menimbang-nimbang orang-orang disekitarnya yang mungkin mampu melakukan hal itu.


.......


Evelyn sedang menikmati jus alpukat favoritnya, ia menikmati waktu santainya dengan berenang di salah satu hotel berbintang milik pamannya David. Kolam renang yang terletak di atas rooftop dengan menampilkan pemandangan indah di sekitarnya yang langsung mengarah ke arah hutan buatan. Kolam renang tersebut merupakan salah satu fasilitas VVIP hotel tersebut. Tidak semua orang bisa menikmatinya, hanya orang yang bisa membayar dengan harga yang cukup fantastis yang bisa menimati fasilitas tersebut. Dan saat ini Evelyn bisa mendapatkannya dengan gratis. Bahkan ia sudah menutup semua akses kolam renang itu hanya untuk dipakainya sendiri.


Tanpa ia sadari seseorang menyelinap masuk ke dalam area kolam renang.


Byuurrr..


Suara air yang memantul karena seseorang telah menceburkan diri ke dalam kolam renang itu membuat Evelyn menoleh. Perempuan itu tampak terkejut setelah sebuah kepala muncul ke permukaan. Namun di detik berikutnya wajahnya berangsur-angsur berubah senang setelah mengetahui siapa yang telah ikut bergabung dengannya.

__ADS_1


"Sean.." Evelyn menyunggingkan senyum dengan semburat rona merah di wajahnya. Ia tidak menyangka Sean yang ia kagumi ternyata datang sendiri kepadanya tanpa ia harus mendekatinya. Padahal tadi malam ibu Evelyn menyuruh dirinya untuk mendekati pria itu untuk membuatnya tergila-gila hingga bertekuk lutut tanpa perlawanan di hadapan Evelyn.



Dan saat ini, di depannya Sean menunjukkan senyum menawannya untuk Evelyn, ia yakin bahwa Sean sudah menyukainya saat pertama kali mereka bertemu. Hal itu berarti perasaan Evelyn tidak bertepuk sebelah tangan, dan tugas yang diembankan sang ibu kepadanya akan mudah untuk terlaksana. Tanpa umpan, ikan mendekati kailnya. Begitulah kiranya apa yang dipikirkan Evelyn saat ini.


Sean mendekat ke arah Evelyn, ia menatap lekat gadis itu hingga wajahnya semakin merona karena tatapan Sean yang tak beralih sedikitpun dari wajahnya. Tatapan pria itu sungguh memesona, membuat hatinya melompat kegirangan.


"Sean, kau kah itu?" Evelyn dengan ekspresi sedikit manja menyentuhkan telapak tangannya ke dada bidang yang tampak menggoda itu. Ia merasa beruntung karena saat ini gaun renang yang ia pakai sangat-sangat seksi, dan ia yakin bentuk tubuhnya yang indah berbalut gaun renang two pieces yang minim seperti ini akan membuat Sean semakin tergila-gila dengannya.


Sean mengangguk, ia semakin mendekati Evelyn hingga tubuh mereka hanya berjarak satu jengkal saja. Sean menundukkan wajahnya hingga wajah mereka saling berdekatan. Evelyn secara implusif menutup matanya, ia yakin setelah ini Sean akan menciumnya dan akan berlanjut dengan hal-hal lain yang sangat menyenangkan baginya.


Tetapi, semuanya tak sesuai dengan ekspektasi Evelyn. Hal yang Evelyn inginkan tidak kunjung terjadi. Ia merasa ada sesuatu yang menempel di perutnya, semakin lama terasa semakin menekan. Evelyn membuka matanya dan memeriksa perutnya yang masih berada di dalam air dengan tangannya. Sebuah pistol, ya Evelyn yakin sesuatu yang menusuk perutnya adalah sebuah pistol.


Evelyn menatap Sean yang masih tersenyum ke arahnya, kali ini perempuan itu tidak lagi ikut tersenyum senang, wajahnya tampak pasi dengan tubuh tubuh sedikit gemetar.


"Sean, apakah kau sedang bercanda. Itu... sama sekali ..... tidak lucu." Evelyn berkata dengan sedikit terbata, tubuhnya benar-benar gemetar. Pasalnya kolam renang ini tidak ada satu orangpun selain mereka berdua. Dan jika Sean berniat untuk menghabisinya sekarang juga, pasti tidak akan ada orang yang menolongnya.


Wajah Sean berubah dingin, sorot matanya menajam seperti hendak menelan hidup-hidup Evelyn hingga perempuan itu merasa ngeri dan tak berani menatapnya langsung.


"Aku ingin membawamu bersamaku dan kau akan mengetahuinya setelah ini"


.....

__ADS_1


》kalian juga akan tahu setelah lanjut baca 🤭🤭🤭


__ADS_2