Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Wedding Part 1


__ADS_3

"Sudah bangun?" Sean bertanya saat melihat pergerakan Salwa yang setengah mengeliatkan tubuhnya dengan kelopak mata mengerjap memulihkan kesadarannya yang sempat hilang beberapa waktu.


"Apakah aku ketiduran?"


Sean bersandar pada headboard ranjang dengan tangan kanan memegang laptop yang ada di pangkuannya sementara tangan kirinya mengusap-usap kepala Salwa.


"Bagaimana kakinya, apa sudah lebih baik?"tanya Sean lagi.


"Iya, terimakasih telah merawatku," ucap Salwa sambil tersenyum. Sean hanya mengangguk menanggapi ucapan terimakasih Salwa kepadanya.


Wajah Sean tampak murung tetapi ia sembunyikan dengan menipiskan bibir tersenyum datar. Salwa bisa merasakan kegelisahan di wajah Sean, sehingga membuat dirinya tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu mas?"


Salwa membenarkan posisinya dari berbaring menjadi duduk bersandar seperti yang dilakukan oleh Sean. Matanya menangkap tulisan-tulisan berwarna hitam, biru dan merah yang ada di layar laptop Sean dengan bahasa pemograman yang sama sekali tidak ia mengerti.


"Tidak, mas hanya sedang memikirkanmu." Sean mematikan laptopnya lalu meletakkannya di atas nakas. Kacamata yang bertengger di hidungnya pun ia lepas yang kemudian ia letakkan di atas laptopnya.


"Kemarilah," ucap Sean dengan merangkul bahu Salwa supaya lebih merapat kepadanya. Salwa menurut dengan menggeser tubuhnya mendekat. Perlahan Sean menyentuh dagu Salwa supaya menengadah menatapnya karena ada sesuatu yang sedang ingin ia bicarakan dengan serius.


"Apa?" Tanya Salwa dengan sedikit bingung, ia merasa sedang tidak ada masalah, tetapi Sean terlihat sangat mencemaskannya.


"Dua minggu lagi, kita akan menjadi orang tua bukan?"


Salwa mengangguk, mengiyakan pertanyaan suaminya, menanti perkataan selanjutnya yang terlihat membebani pikiran suaminya itu.


"Aku hanya tidak bisa meninggalkanmu saja. Karena lusa adalah hari pernikahan Abust. Dan sepertinya aku tidak bisa menghadirinya."


Salwa memeluk lengan Sean dan menyandarkan kepalanya di sana. Ia tahu bahwa Sean sangat mencemaskannya, sehingga membuat Salwa merasa sangat beruntung menjadi istrinya.


"Kau tidak perlu meninggalkanku, dan tidak perlu tidak datang. Abust pasti sangat menginginkan kehadiranmu. Bagaimanapun juga kau adalah bagian dari mereka, tidak lengkap rasanya jika kau tidak menghadiri pernikahan itu karena alasan kehamilanku."


Sean sepertinya masih belum puas dengan jawaban Salwa, hari perkiraan persalinan masih dua minggu lagi tetapi justru semakin dekat dengan hari kelahiran anaknya membuat hati Sean semakin gelisah.


Bayangan menggendong putri pertamanya dalam kondisi tidak bernyawa sudah menjadi pukulan besar bagi Sean, dan sampai saat ini Sean tidak bisa melupakan bayangan buruk itu. Putrinya meninggal dan Salwa hampir meregang nyawa dan dinyatakan meninggal oleh tim dokter. Itu adalah hal paling mengerikan dalam hidup Sean, dan karena kejadian itulah Sean sudah berniat membawa Salwa jauh dari orang-orang munafik dan licik dan meninggalkan semua kekuasaanya di sana. Ia sama sekali tidak peduli dengan hal itu, yang Sean inginkan hanyalah kejadian itu tidak terulang kembali, Salwa dan bayinya harus selamat.


Sean merasakan pergerakan yang sangat keras dari perut Salwa menendang lengannya yang saat ini masih di peluk oleh istrinya. Tangannya secara implusif mengelus lembut perut Salwa yang sudah membuncit itu penuh sayang.


"Dia akan datang dalam kondisi sehat, aku sangat menantikannya. Berjanjilah kepadaku sayang, kau akan berjuang dan tidak pernah menyerah. Kita akan menjadi keluarga yang sangat bahagia nantinya dengan anak-anak yang lucu dan menggemaskan."


Salwa mengangguk, ia juga sangat menantikan hal itu. Meskipun usianya masih sangat muda tetapi ia ingin menjadi seorang istri yang sesungguhnya. Seorang istri yang bisa memberikan keturunan bagi suaminya, seorang istri yang juga menjadi ibu bagi anak-anaknya, pastilah itu akan menambah kebahagiaan di keluarga kecil mereka.


"Aku akan berjuang dan tidak akan menyerah," ucap Salwa penuh tekad dengan keseriusan yang sama.


"Datanglah ke pernikahan Abust, aku tidak akan menghalangimu."

__ADS_1


Sean menggeleng, tidak menyetujui perkataan Salwa, baginya menemani Salwa lebih penting daripada menghadiri pernikahan saudara angkatnya itu.


"Aku akan ikut denganmu, sehingga kau tidak perlu mencemaskanku. Lagi pula aku akan selalu berada di sampingmu, jadi kita bisa berangkat ke pernikahan Abust bersama-sama."


Sean tampak berpikir, apakah yang dikatakan oleh istrinya itu merupakan pilihan terbaik untuk saat ini atau justru akan membahayakan Salwa dan janinnya, tetapi akhirnya Sean menyetujui untuk membawa Salwa ikut bersamanya ke pernikahan Abust dan Catherine.


"Berjanjilah , tetap di sampingku dan tidak kemana-mana. Karena aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan kalian berdua."


Salwa mengangguk patuh, "Aku akan selalu berada di sisimu, dan tidak akan pergi kemana-mana tanpamu."


Sean tersenyum, mengusap-usap kepala istrinya itu dengan sayang lalu menghadiahkan kecupan di dahi Salwa.


"Beristirahatlah, besok pagi kita berangkat."


.....


Hari ini adalah hari pernikahan Abust dan Catherine, pernikahan di adakan di roof top salah satu hotel berbintang di kawasan pusat kota. Abust yang merupakan salah satu pengusaha muda dan mempunyai banyak rekan dan kolega tentunya menjadikan pesta pernikahannya sebagai pesta yang meriah. Semua tamu wajib menggenakan pakaian formal dengan membawa undangan pernikahan sebagai tiket masuk di acara tersebut.


Catherine masih berada di depan cermin dengan dibantu perias wajah profesional sebagai persiapannya sebelum berucap janji suci dengan Abust. Senyum tak henti-hentinya tersemat di bibirnya, meskipun ini adalah pernikahan ke dua bagi Catherine, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa rasa cemas dan detak jantung yang berdetak tak beraturan itu tetap ia rasakan.


Abust lebih muda dua tahun darinya, sedikit terbesit dalam pikirannya bahwa mungkin Abust akan bosan dengannya dan mencari perempuan lain yang lebih muda darinya. Tetapi segala keraguan itu ia tepis kuat-kuat. Melihat bagaimana keseriusan dan kesungguhan Abust dalam mencarinya dan menyelamatkannya saat ia sedang terpuruk dan tidak berdaya sudah membuktikan bahwa Abust benar-benar mencintainya.


Pesta yang megah dan mewah di hari pernikahannya ini pun juga bisa dijadikan bukti bahwa Abust tidak memandang rendah dirinya, Abust melihatnya sebagai perempuan yang dicintainya dan akan menjadi ibu dari anak-anak mereka kelak.


Bukan hanya Abust dan Catherine saja yang saat ini sedang sibuk mempersiapkan diri, tetapi juga Leon. Nanti pada saat Abust dan Catherine melempar buket bunga, ia sudah mengatur supaya mereka melempar bunga itu ke arahnya, dan dengan bunga itulah dirinya akan melamar seseorang yang selama ini disukainya tanpa sadar.


Meski pernikahan bukanlah sesuatu yang perlu di lombakan, siapa cepat dia yang menang, tetapi melihat Abust sudah mendapatkan pasangan dan segera melangsungkan pernikahannya dan secara tidak langsung mengubah statusnya, membuat Leon ingin juga segera berumah tangga dengan wanita pilihannya.


Dengan senyum sumringah Leon memasukkan kotak cincin itu ke dalam saku jasnya dan akan mengeluarkannya di saat yang tepat.


...


Hari ini Abust terlihat begitu tampan dengan mengenakan stelan tuxedo berwarna merah marun dengan rambut di sisir rapi. Para undangan sudah hadir dan duduk di tempat yang disediakan. Dari kejauhan Abust bisa melihat Milly , ayah kandungnya yang sangat ia benci sedang tersenyum kepadanya, tetapi seolah Abust enggan membalas senyumannya itu. Tatapannya ia palingkan ke arah tamu yang lain, agar suasana hatinya tidak memburuk melihat lelaki yang wajahnya mirip sekali dengannya itu.


Abust juga melihat Yang Pou Han beserta asisten setianya hadir dalam acara pernikahannya sebagai perwakilan dari perusahaan yang sedang bekerja sama dengan perusahaan Abust.


Sejak Yang berdamai dengan Sean, Abust mulai menjalin bisnis dengan bekerja sama dengan lelaki itu. Tidak cukup buruk, Yang mempunyai tingkat ketelitian yang cukup tinggi sehingga di saat ia sedang gila kerja, banyak proyek yang dikerjakannya dengan hasil yang memuaskan. Segala idenya selalu bisa menembus pasar global sehingga membuat Abust tidak meragukan lagi jika melakukan kerjasama lanjutan dengan lelaki itu.


Di kursi deretan paling depan ia bisa melihat Sean dan Salwa yang tengah hamil tua sedang duduk berdampingan dengan tangan saling menggenggam dan kepala Salwa bersandar di lengan Sean. Bahkan di saat hari pernikahan Abust, mereka berdua masih saja memamerkan kemesraan sehingga membuat Abust merasa kalah mesra dengan kakak angkatnya itu. Dalam hati Abust berjanji akan menyaingi kemesraan mereka berdua setelah Catherine sah menjadi istrinya.


Abust juga melihat Fang Yi, perempuan yang telah berjasa membantunya menyelamatkan calon istrinya. Abust tersenyum dan mengangguk saat tatapan mereka bertemu. Fang Yi tampak berbeda hari ini, perempuan itu mengenakan gaun berwarna hitam tanpa lengan yang membuat Fang Yi terlihat cantik dan anggun. Kebiasannya yang hanya mengenakan celana dan kaos dipadukan dengan jaket hoodie membuatnya kali ini sangat berbeda, bahkan Abust pun sempat terkejut dengan penampilan Fang Yi saat ini.


Sesuatu yang Abust nanti-nantikan pun akhirnya datang juga, ia tersenyum saat melihat Catherine memasuki altar dengan Leon sebagai pengantarnya, perempuan itu menyanggul rambutnya ke atas dengan mahkota tersemat di kepalanya, ia mengenakan gaun berwarna putih dengan ekor panjang menjuntai ke belakang yang saat ini dipegangi oleh kedua putra kembarnya yaitu Ashton dan Axton. Kedua anak itu mengenakan tuxedo merah marun yang serupa dengan yang dikenakan oleh Abust.


Abust mengulurkan tangannya menyambut Catherine yang saat ini sudah berada di dekatnya. Mereka berdua tersenyum bahagia menunggu pengucapan janji suci untuk hidup berdampingan selamanya, saling mengasihi dan mencintai sampai maut memisahkan.

__ADS_1


Sean yang melihat Abust dari kursi tamu undangan tersenyum haru, lelaki itu sudah seperti ayah pengganti bagi Abust. Mungkin jika saat itu Sean tidak mengambilnya dan mengangkatnya sebagai adiknya , Abust tidak akan menjadi Abust yang sekarang. Dan mungkin ia akan menjadi lelaki tidak berguna dengan dendam kesumat yang ada dalam jiwanya terhadap ayah kandungnya yang tidak mau mengakuinya.


Salwa menggenggam tangan Sean, memberikan kekuatan untuk suaminya itu yang saat ini hampir menangis haru. Sean merasa seperti sedang melihat pernikahan anaknya saja, karena baik Abust dan Leon sudah ia urus sejak masih anak-anak.


Sean mengangguk dan mencoba tersenyum meskipun sangat tipis saat jemari Salwa menangkup tangannya. Ia membalas sentuhan istrinya itu dengan menangkupkan tangan satunya ke atas tangan Salwa yang sedang menggenggam tangannya.


"Kau hebat mas, aku bangga menjadi istrimu," bisik Salwa tepat di telinga Sean dengan mencondongkan tubuhnya ke samping.


"Aku hebat karena ada istri yang luar biasa yang selalu mendukungku di belakangku, terima kasih," ucap Sean sambil mengangkat tangan Salwa yang sedang menggenggam tangannya lalu mencium punggung tangan istrinya itu dengan suka cita.


Leon yang saat ini duduk di belakang Sean setelah mengantarkan Catherine tanpa sengaja melihat adegan romantis yang bukan dilakukan oleh pengantin melainkan oleh Sean dan Salwa hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya saja.


"Cih, sok mesra," ucap Leon lirih, tetapi kemudian ada suara yang menyahut di sampingnya.


"Memang mesra, kalau iri bilang saja."


Leon segera menoleh ke arah suara yang tiba-tiba ikut campur dengan perkataannya.


"Siapa kau?" Leon mengerutkan keningnya melihat perempuan aneh yang duduk di sampingnya, perempuan itu hanya mengangkat bahu tanpa peduli dengan pertanyaan Leon lalu kembali memperhatikan ke depan melihat kelanjutan acara yaitu pengucapan janji suci.


"Aneh," gumam Leon dalam hati.


Salwa yang sedang menyaksikan pengucapan janji suci antara Abust dan juga Catherine tiba-tiba merasa ingin buang air kecil. Sejak kehamilannya sudah membesar, ia jadi sering bolak-balik ke toilet dan itu bisa dimaklumi oleh Sean. Sean sudah membaca dan mempelajari perihal kehamilan baik melalui internet maupun konsultasi dengan dokter kandungan sehingga ia tahu bagaimana cara merawat Salwa yang tengah hamil tua.


"Mas, aku mau ke toilet."


"Aku antar," ucap Sean kemudian dengan mengulurkan tangannya menunggu Salwa berdiri.


"Apa mas tidak menunggu disini saja, aku bisa ke toilet sendiri."


Sean menggeleng, meskipun saat ini adalah saat-saat sakral untuk adik angkatnya itu tetapi istrinya lebih penting. Salwa membutuhkannya, apalagi Sean berjanji tidak akan meninggalkan istrinya itu sedikit pun.


"Mas antar, tidak ada penolakan," jawab Sean dengan tegas yang diikuti anggukan oleh Salwa. Dengan hati-hati Salwa berdiri dengan dibantu oleh Sean lalu melangkah pergi menuju toilet.


Di saat Sean mengantar Salwa, ada sepasang mata memperhatikan mereka berdua. Sorot matanya tampak mengerikan dengan tangan menggenggam lap kain yang ada di tangannya. Sean membalikkan badan, merasa ada yang memperhatikan dirinya dan Salwa. Tetapi, ia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Mungkin itu hanya firasatnya saja.


"Ada apa mas?" Tanya Salwa saat akan memasuki ruang toilet wanita. Sean menggeleng lalu tersenyum," Masuklah, mas tunggu di sini!"


Salwa menurut lalu masuk ke dalam ruang toilet wanita. Sangat aneh memang, firasat tidak enak yang tiba-tiba muncul di pikiran Sean membuatnya kian hati-hati menjaga Salwa. Semua tamu yang hadir sudah diperiksa dengan ketat, tidak ada yang membawa senjata tajam yang bisa disalah gunakan nantinya jika kemungkinan terjadi keributan. Sean seharusnya tidak perlu mencemaskan apapun, apalagi ia sudah menyiapkan bodyguard terbaiknya untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu.


》Bersambung....


sabar kawan, lanjutannya masih diketik, 😁.


Dua hari sibuk banget, jd gak bisa update mohon maaf ya,☺☺😊

__ADS_1


Visual Abust.



__ADS_2