
"Bagaimana, apa masih sakit?" Chaterine mengoleskan salep dingin ke permukaan luka Abust bekas gigitan kedua anak kembarnya yaitu Ashton dan Axton sambil sesekali meniup luka itu untuk mengurangi rasa perih di kulit.
"Sedikit," Abust kembali menatap Chaterine yang masih sibuk dengan perlengkapan p3k-nya, tangannya sibuk merapikan semua peralatan itu dan memasukkannya kembali ke tempat asalnya.
Saat ini Abust mengajak Chaterine dengan kedua putranya ke hotel tempat ia menginap. Abust yang masih dalam perjalanan bisnis ke negara itu, tidak menyangka akan bertemu dengan perempuan di depannya ini, ia mengira perpisahaan saat mengantarnya ke bandara dulu adalah terakhir kalinya mereka berjumpa, tetapi sepertinya Tuhan berkehendak lain. Mereka kembali bertemu meskipun dalam situasi yang tidak tepat.
"Sekarang katakan kepadaku. Apa yang terjadi denganmu selama tinggal disini? Apa semuanya baik-baik saja?" Abust menatap wajah Chaterine dengan sendu, meminta penjelasan yang masuk akal dari perempuan itu.
Wajah Chaterine seketika berubah, saat ia mengingat bagaimana dirinya bisa berakhir sebegitu menyedihkannya seperti sekarang ini. Mungkinkah semuanya itu takdir yang harus ia jalani. Chaterine menatap langit-langit kamar dengan posisi duduk di sisi ranjang Abust, kedua tangannya ditarik ke belakang sebagai tumpuan berat badannya.
"Mantan suamiku datang mencariku, ia mengatakan ingin kembali bersamaku, tetapi aku menolaknya. Aku mengusirnya dari rumahku, ibuku setuju jika aku tidak kembali kepadanya. Ia tidak mungkin berubah, karena sampai saat ini pekerjaannya hanya bergonta-ganti pasangan dan mabuk-mabukan. Ia marah, bahkan akan membunuh semua orang yang aku sayangi jika tidak mau kembali menjadi istrinya, tetapi aku tidak takut. Aku tetap tidak mau kembali dengannya."
Chaterine mengusap air mata yang lolos dari kelopak matanya, bulu matanya mengerjap beberapa kali seolah berusaha menahan bulir-bulir air yang mulai membendung dan bersiap untuk meluncur, menetes membasahi pipinya.
"Mantan suamiku itu terus menerorku, tetapi aku tidak menghiraukannya. Fokus utamaku hanya ingin membesarkan kedua putraku dan membahagiakan ibuku, aku sudah tidak peduli dengan perasaan
menyukai lelaki untuk kepentingan diriku sendiri. Dan suatu saat, dimana aku sedang berada di tempat kerja, ibuku dibunuh dengan kejam olehnya."
Chaterine menarik napas panjang, lalu melanjutkan ceritanya dengan suara lirih karena pita suaranya terasa tercekat di tenggorokan, "Aku pergi dari rumah, tetapi tidak tahu harus pergi kemana, dalam pikiranku, aku hanya ingin agar kedua anakku selamat. Aku tidak mau kehilangan mereka, tetapi karena itu mereka malah seperti ini. Kami tidak punya tempat berteduh, dan makanpun kami kesusahan karena aku memutuskan untuk keluar dari pekerjaan karena dia pasti akan mencariku kesana."
Chaterine menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya, sepertinya ia sudah tidak sanggup menutupi kesedihannya. Ia menangis dengan tubuh yang terguncang keras, tetapi tidak menimbulkan sedikitpun suara, karena kedua buah hatinya saat ini sedang tidur terlelap di atas ranjang milik Abust.
Meskipun Abust mempunyai watak yang keras, tetapi melihat perempuan yang menangis tidak berdaya seperti itu, ia ikut merasakan kepedihan di hatinya. Ia mengingat bagaimana perjuangan ibunya membesarkan dirinya dengan segala keterbatasan, sampai ia ditinggalkan sebatang kara tanpa perlindungan. Tanpa sadar Abust menarik tubuh Chaterine lalu mendekapnya erat dengan menepuk-nepuk punggung perempuan itu untuk menenangkannya, memberikan kekuatan batin kepada Chaterine.
Chaterine merasakan ada kehangatan disana, tubuh tegap Abust yang seolah memberinya wadah untuk mencurahkan kesedihan dan kepedihannya selama ini, sehingga ia bisa menangis dalam senyap sepuasnya disana.
Ketika guncangan dalam tubuh Chaterine terasa semakin keras, Abust semakin mengeratkan pelukannya dengan meletakkan dagunya di atas pucuk kepala Chaterine sambil melakukan gerakan mengusap-usap lembut di punggung perempuan itu.
Disaat Chaterine berhenti menangis dan perasaannya mulai tenang, ia baru menyadari dirinya sedang berada di pangkuan Abust dengan tubuh meringkuk layaknya anak kecil yang sedang mengadu kepada orang tuanya. Ia menunduk lalu beringsut memindahkan tubuhnya untuk duduk di samping lelaki itu.
"Maaf," ucap Chaterine kemudian. Ada rasa malu melingkupi hatinya dengan apa yang baru saja terjadi, ia tidak ingin Abust berpikiran macam-macam dengannya. Ia seorang ibu dari dua orang anak, ia harus sadar diri akan statusnya dan tanggung jawabnya. Chaterine menekan semua perasaan yang berkecamuk dalam dirinya.
Abust memang tampan, jadi ia harus berhati-hati menempatkan perasaannya. Ia tidak boleh tergoda ataupun menaruh harapan lebih dengan lelaki di depannya ini. Ia tidak pantas untuk Abust, lelaki itu pantas mendapatkan perempuan lain yang tentu lebih baik dari dirinya.
"Tidak apa, bagaimana perasaanmu, apa kau merasa lebih baik?" Abust mengusap pucuk kepala Chaterine sambil menunggu jawaban dari perempuan itu.
Chaterine mengangguk, "Terimakasih tuan..."
"Panggil saja namaku, aku bukan tuanmu," Abust segera menimpali saat Chaterine memanggilnya dengan sebutan tuan.
"Iya, Abust terimakasih."
"Sekarang berbaringlah, tidurlah bersama kedua putramu. Aku tidak akan mengganggu kalian."
"Lalu? Dimana kau akan tidur?" Chaterine merasa tidak enak jika Abust harus mengalah, karena kamar ini adalah kamarnya, ia ingin pergi tetapi melihat kedua anaknya tertidur lelap membuatnya tidak tega jika harus membangunkan kedua malaikat kecilnya yang sedang bermimpi indah.
"Aku bisa tidur di sofa."
Ketika Abust beranjak dari ranjang, memberikan kuasa penuh ranjang miliknya untuk ditempati oleh Chaterine dan kedua anaknya, tangan Chaterine tiba-tiba menahannya.
__ADS_1
"Ranjang ini cukup besar, tidurlah disini, biar aku yang di sofa," ujar Chaterine mengalah. Abust menipiskan bibirnya dengan menyinggungkin senyum simpulnya.
"Tidak perlu, sofa itu terlalu sempit, kau tidak bisa berselonjor disana. Dan kupikir kau lebih membutuhkan istirahat yang nyaman daripada aku. Atau, kita bisa berbagi tempat tidur jika kau tidak keberatan."
Perkataan Abust membuat pipi Chaterine memerah, ia menunduk tidak tahu harus berkata apa. Tetapi kemudian Abust kembali melanjutkan perkataannya.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, meskipun aku bukan laki-laki baik, tetapi aku menghargaimu sebagai wanita, ibu dari dua anak-anak ini. Kau bisa tidur di sisi kanan ranjang di samping Axton dan aku di samping kiri Ashton."
Chaterine mengangguk, lagipula ukuran ranjang king size ini masih muat jika dipakai oleh empat orang dewasa sekalipun, jadi ia tidak merasa keberatan jika berbagi tempat tidur dengan Abust.
Abust mematikan lampu kamarnya dan berganti menyalakan lampu tidur, Ia kemudian ikut berbaring di samping Ashton yang sedang tertidur lelap. Cahaya temaram dari lampu tidur itu tidak membuat Abust maupun Chaterine cepat tertidur. Ada senyum terukir di kedua sudut bibir Abust. Ia sebelumnya sering tidur dengan banyak perempuan, tetapi pengalamannya kali ini yang tidur bersama seorang perempuan dan dua orang anaknya menjadi kesan tersendiri baginya. Entah mengapa hatinya terasa hangat berada di antara mereka bertiga.
....
Sean dengan langkah terburu-buru masuk ke dalam rumahnya, para pelayan dan beberapa pengawal menyambut dengan kepala menunduk hormat. Matanya menyapu kesegala penjuru ruangan, mencari sosok perempuan kesayangannya.
"Dimana istriku?"
"Nyonya sedang beristirahat di kamarnya." Dua pengawal menjawab hampir bersamaan dengan penuh hormat. Tanpa menoleh, Sean terus berjalan dan diikuti oleh dua orang pengawal tersebut.
"Ada yang ingin kalian laporkan?" Tanya Sean dengan mendaratkan bokongnya di kursi putarnya. Kini mereka bertiga berada di dalam ruang kerja Sean yang sudah tertutup rapat, sehingga pembicaraan mereka tidak dapat didengar oleh siapapun yang berada di luar ruangan.
Pengawal itu mengangguk, lalu berkata,"Nona Angela datang menemui nyonya Salwa tadi siang."
Sean sudah mengira bahwa perempuan itu akan mendatangi istrinya terkait dengan perusahaan papanya yang merosot drastis setelah kedatangannya sebelumnya. Sean menyalakan personal computer-nya. Ia memeriksa cctv yang ada di ruang tamu dengan mereset waktu sesuai yang ditunjukkan oleh dua pengawal tersebut.
Sean mengepalkan tangannya mendengar bagaimana Angela dengan tidak tahu diri memaki-maki Salwa yang tidak tahu apa-apa, bahkan perempuan berbisa itu dengan mulut busuknya mengungkit-ungkit masa lalu Salwa yang menyakitkan. Sean yakin pasti saat ini Salwa sedang memikirkan perkataan Angela mengenai balas budi.
'Cih, perempuan itu sama sekali tidak tahu malu meminta balas budi dengan sesuatu yang tidak patut untuk diperhitungkan.'
"Baiklah, jaga istriku jika aku sedang tidak ada bersamanya. Dan jika Angela datang kembali sebaiknya jangan biarkan ia memasuki gerbang utama. Aku tidak ingin istriku bertemu dengannya lagi. Mengerti?"
"Mengerti tuan," jawab kedua pengawal itu dengan cepat.
Sean bangkit dari duduknya, berdiri lalu melangkah keluar menuju kamarnya. Ia membuka perlahan pintu kamarnya yang sengaja tidak dikunci oleh Salwa lalu berjalan dengan menapakkan kakinya di karpet bulu yang membentang hampir menutupi keseluruhan lantai kamar.
Hampir tidak ada suara yang terdengar dari derap langkahnya , ia hanya tidak ingin mengganggu tidur lelap istrinya. Tetapi Sean tidak mendapati seorangpun berada di atas ranjang tidurnya.
"Dimana Salwa sekarang?" gumamnya dalam hati.
Ketika Sean ingin keluar dari kamarnya mencari sang istri, barulah ia mengetahui saat matanya menangkap seseorang yang sedang tertidur pulas di atas meja belajar dengan layar komputer yang masih menyala. Sean menipiskan bibir dengan senyum simpul menghiasi wajahnya, sepertinya Salwa terlalu lama menunggunya pulang sehingga perempuan itu tertidur lelap di depan meja belajar dengan wajah miring di atas lengan kirinya.
Sean sebenarnya tidak bisa menahan diri untuk tidak mendatangi istrinya itu lalu memindahkannya ke tempat tidur yang lebih nyaman, tetapi ia urungkan karena selama Salwa hamil ia memaksa dirinya untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum menyentuh istrinya itu. Mungkin saat ini ia sedang membawa bibit penyakit atau virus berbahaya yang bisa membahayakan janin istrinya itu jika tidak segera dibersihkan, dan ia juga membiasakan diri agar saat anaknya terlahir kelak tidak akan mudah sakit karena kecerobohannya sendiri.
Sean memutuskan mandi lalu berganti pakaian tidur sebelum nanti menemui Salwa. Butuh waktu sekitar sepuluh menit bagi lelaki itu menyelesaikan mandinya, ia keluar dengan mengenakan jubah handuknya. Bau segar khas sabun mandi menguar dari tubuh lembabnya, Sean berjalan mendekati istrinya itu yang belum sadar akan kedatangannya.
Dengan hati-hati Sean mengangkat tubuh istrinya itu agar tidak membangunkannya. Perlahan ia pindahkan Salwa di ranjangnya lalu merebahkannya di posisi yang ia anggap nyaman dan kemudian ia selimuti tubuh istrinya itu yang berbalut gaun tidur dengan selimut tebal agar tidak kedinginan.
Ketika Sean hendak melangkah menuju almari untuk berganti pakaian, tiba-tiba tangan Salwa menahan tangannya.
__ADS_1
"Jangan pergi," gumam Salwa lirih tetapi masih bisa ditangkap oleh indra pendengaran Sean, perempuan itu masih terpejam tetapi tangannya menggenggam erat.
Sean duduk di tepian ranjang, menunggu Salwa melepaskan genggaman tangannya. Tetapi hal itu tidak kunjung terjadi, bahkan saat ini Salwa terlihat ketakutan dari mimik wajahnya, genggamannya semakin erat dengan bibir yang bergetar. Entah apa yang sedang diimpikan oleh perempuan itu sehingga membuatnya ketakutan seperti itu.
Sean menepuk-nepuk pelan pipi Salwa agar istrinya segera bangun dan mengakhiri mimpi buruknya. Butuh waktu beberapa saat sehingga Salwa bisa tersadar dan membuka matanya.
"Mas.." Salwa segera bangun dan memeluk suaminya saat mendapati Sean sudah ada di depannya. Sean tersenyum dan membalas pelukan istrinya itu.
"Mimpi buruk?" Tanya Sean kemudian sambil membelai punggung Salwa dengan sayang. Salwa mengagguk mengiyakan pertanyaan suaminya itu.
"Mas sudah lama pulang?" Kepala Salwa mendongak setelah kesadarannya kembali stabil. Sean memang lembur hari ini, dan mungkin akan berlangsung beberapa minggu ke depan. Hal itu dikarenakan ia sudah lama meninggalkan kantornya untuk urusan pribadi, sehingga banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Sean memang belum mempunyai asisten pribadi, membuat dirinya kewalahan mengerjakan semuanya sendiri dengan bantuan sekertarisnya.
Sean mengangguk, tangannya terulur untuk merapikan rambut Salwa yang tampak berantakan itu lalu menghadiahi kecupan hangat di dahi istrinya itu.
"Tidurlah kembali, ini sudah sangat larut. Kau harus banyak beristirahat."
"Ditemani," pinta Salwa sedikit manja, kiranya perkataan Angela tadi siang membuat Salwa takut kehilangan suaminya itu sehingga ia ingin menempel terus dengan Sean.
"Tunggu ya, mas ganti baju dulu," ucapnya sambil mengusap-usap kepala Salwa. Salwa tersenyum senang lalu merebahkan tubuhnya di ranjang besar itu. Pikirannya masih dipenuhi banyak pertanyaan , tetapi ia belum bisa mengutarakannya. Apalagi suaminya itu baru pulang saat hari sudah menjelang dini hari, pastilah sangat lelah , karena besok Sean juga harus bangun pagi-pagi sekali untuk melanjutkan pekerjaan.
Menjadi seorang pemimpin perusahaan tidak membuatnya harus berleha-leha menikmati waktunya, ia harus bertanggung jawab dengan nasib perusahaan yang di dalamnya terdapat banyak karyawan yang menggantungkan kehidupan keluarganya di perusahaan miliknya.
Sean kembali dengan mengenakan baju tidur kimononya, lalu menaikkan kakinya di atas ranjang dan ikut berbaring di samping Salwa. Tanpa diminta pun Salwa memeluk tubuh Sean dengan erat dan menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.
Sebelum mata Sean terpejam ia mengatakan satu hal kepada istrinya itu,"Apakah Angela datang lagi?"
Salwa sebenarnya ingin mengatakannya tetapi Sean sudah menanyainya terlebih dahulu.
"Darimana mas tahu?" Seharusnya Salwa tidak perlu menanyakan hal itu, sudah pasti dua pengawalnya yang selalu melapor setiap kejadian yang Salwa alami seharian ini.
"Kau tidak perlu mencemaskan apapun, dia tidak akan datang lagi ke rumah ini dan mengganggumu."
Sean berucap seolah mengatakn sebuah janji.
"Mas kau tidak akan melakukan sesuatu yang buruk kepada Angela kan?" Bagaimanapun lerilaku angela, Salwa tidak ingin perempuan itu celaka, apalagi karena Sean yang melakukannya.
"Menurutmu?"
"Mas, jangan berbuat yang tidak-tidak. Dia hanya seorang perempuan yang memiliki perasaan iri saja. Dia bukalah seorang penjahat yang harus dicelakai. Biarkan dia merenungi kesalahannya sendiri tanpa kita campur tangan lagi. Ingat anak kita yang masih berjuang dengan kehidupannya di dalam sini."
Salwa memegang tangan Sean dan meletakkan di atas perutnya yang masih rata,"Apa yang kita lakukan akan berimbas kepada nasib dia, kita seharusnya selalu menuai kebajikan dengan membantu bukan menyakiti, agar Tuhan mempermudahkan segala urusan kita dan mengasihi anak-anak kita nanti."
Sean tersenyum mendengar perkataan istrinya itu, lalu mengangkat dagu Salwa agar menatapnya kembali.
"Kau tidak perlu mencemaskannya, mas tidak akan mencelakai siapapun. Sekarang tidurlah, mimpi yang indah." Sean mematikan lampu tidurnya lalu bergerak menyelimuti dirinya dan Salwa yang sudah berada dalam rengkuhannya, hanya cahaya rembulan yang masuk menembus kaca jendela menerangi sepasang suami istri itu yang sedang terlelap saling menghangatkan satu sama lain.
\=》Bersambung..
Part selanjutnya masih diketik ya, Author sibuk banget. Nyuri-nyuri waktu buat nulis. Semoga gak terlalu banyak typo.. 😁
__ADS_1