Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Ikhlas


__ADS_3

"Apakah kau masih memikirkan Varo?" Sean berbaring miring sambil mengeratkan pelukannya di perut Salwa dengan meletakkan dagunya di antara bahu dan leher istrinya itu. Sean memutuskan untuk menginap di rumah sakit sampai kondisi Salwa membaik, kini mereka sedang berbagi ranjang perawatan yang sempit di rumah sakit itu dengan posisi Salwa berbaring membelakangi Sean.


Salwa terdiam, ia tidak ingin merusak suasana intim mereka. Meskipun dalam hati ia masih memikirkan Varo. Ia hanya ingin tahu bagaimana kondisi lelaki itu. Apakah luka-luka di tubuhnya tidak ada yang serius atau mungkin sangat serius? Salwa ingin bertanya, tetapi ia hanya berani bertanya dalam hati berharap Sean lah yang memberi tahunya sendiri tanpa Salwa memintanya.


Sean menyunggingkan senyum tipis, ia kemudian membalikkan tubuh Salwa supaya menghadapnya. Hanya dengan satu jari, membuat Salwa mendongakkan kepalanya menghadap wajahnya.


"Katakanlah, aku hanya ingin tahu perasaanmu." Sean berucap lembut tetapi langsung menusuk ke hati Salwa. Dirinya masih diam, tidak tahu harus berkata apa, Salwa takut jika perkataannya akan membuat Sean kembali kecewa sehingga ia masih berpikir jawaban apa yang bisa mewakili perasaannya tetapi tidak melukai hati suaminya.


Sean menunduk, menghadiahi sebuah kecupan hangat di bibir Salwa yang masih bungkam. Meskipun hatinya terasa perih mengetahui Salwa masih memikirkan Varo, ia mencoba bersabar. Dokter mengatakan bahwa istrinya itu tidak boleh terlalu banyak beban pikiran, sehingga Sean memutuskan untuk menghilangkan semua masalah yang sedang di pikirkan Salwa.


"Katakanlah, aku tidak akan marah," ucap Sean lagi.


"Sungguh?"


"Ehem, sekarang mas ingin menjadi temanmu." Sean mengusap kepala Salwa, membelai rambutnya yang sudah ia tanggalkan kerudungnya. Salwa kembali termenung dengan mengerutkan kedua alisnya.


"Teman? Kenapa? Apa mas sudah tidak menginginkanku lagi? Apa mas mau meninggalkanku? Tapi, kenapa?" Salwa memberondong Sean dengan banyak pertanyaan tetapi Sean malah terkekeh dibuatnya. Bagaimana Salwa bisa menebak bahwa Sean akan meninggalkannya? Bahkan Sean tidak pernah mau membayangkan berpisah dengan istrinya itu.


Sean mengetuk kening Salwa dengan jari telunjuknya, ia tersenyum dengan menarik dua sudut bibirnya.


"Bukannya suami itu juga teman, kita adalah teman hidup yang hanya bisa dipisahkan oleh maut, jadi jika kau mempunyai suatu masalah atau pikiran yang mengganggu, kau bisa membaginya denganku. Apapun itu," ucap Sean yang kemudian membuat Salwa terharu. Salwa menunduk, lalu membenamkan wajahnya di dada suaminya itu. Ia menangis.


"Maaf, maafkan aku mas. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Saat Varo mendekatiku, aku ingin mengatakan sejujurnya,tetapi aku hanya diam karena janjiku padamu untuk merahasiakan hubungan kita sehingga aku hanya bisa menghindar. Tetapi hal itu membuat Varo semakin berusaha lebih keras dan sampailah saat ia mengetahui kehamilanku, Varo kecewa kepadaku karena mungkin mengira aku mempermainkan perasaannya. Jadi apa yang terjadi di kampus bukan sepenuhnya salah Varo, tetapi itu semua salahku mas. Aku yang salah, maafkan aku." Salwa menangis, menumpahkan rasa bersalahnya kepada Sean yang melihat kejadian yang tidak mengenakkan tadi pagi di kampusnya.


"Tidak, aku yang salah. Dengan alasan demi menjaga keselamatanmu, aku tidak memikirkan efek terburuknya untukmu. Aku terlalu memikirkan bagaimana menyembunyikanmu dari musuh-musuhku tetapi aku tidak berpikir bagaimana caramu mengahadapi teman-temanmu apalagi menghadapi teman laki-laki yang mungkin menyukaimu. Terimakasih kau tidak berpaling disaat aku tidak ada, terimakasih sudah menjaga hatimu." suara Sean terdengar lembut tetapi sarat akan penyesalan.


"Kau tidak marah?" Tanya Salwa lagi, Sean menghapus air mata Salwa menggunakan ibu jarinya lalu mencium kening istrinya itu dengan penuh sayang.


"Apakah kau ingin bertemu dengan Varo?"


"Apa..?" Salwa seperti terkejut dengan pertanyaan yang Sean ajukan. Harusnya Sean melarang Salwa bertemu dengan Varo, tetapi Sean justru menawarkannya kepada Salwa.


"Varo dirawat di samping kamarmu, jika kau ingin menemuinya mas bisa mengantarmu." Salwa menatap wajah suaminya itu lekat-lekat. Apa Sean tidak akan sakit hati jika Salwa memutuskan untuk bertemu Varo? Mengapa Sean seolah justru memberikan lampu hijau kepada Salwa untuk menemui lelaki itu lagi? Salwa menggeleng, bagaimanapun perasaan suaminya adalah nomor satu, ia tidak boleh egois dengan setuju menemui Varo.


"Aku tidak ingin menemuinya."


Sean menyelipkan rambut Salwa ke belakang telinganya lalu mengusap lembut pipi istrinya itu.


"Mas sudah bertemu dengan ayah Varo, dia meminta maaf atas ulah Varo yang berani berbuat nekat seperti itu. Saat ini Varo ditemani oleh kedua orang tuanya."


"Mas mengenal ayah Varo?" Salwa bertanya lagi dengan heran. Mengapa hampir semua orang mengenal Sean, padahal lelaki ini baru saja berada di negara ini, tetapi seolah banyak sekali yang sudah mengenalnya dan dikenalnya.


"Tentu saja, menurutmu siapa yang membantu pernikahan kita?"


"Membantu pernikahan kita?" Salwa hanya mengulang pertanyaan Sean dengan bingung.


"Kita tidak akan bisa menikah saat itu jika tidak dibantu oleh ayah Varo."


"Apa... benarkah?"


"Iya, mas meminta ayah Varo mencari tahu tentang keluargamu, dan ayah Varo juga yang selama ini membantu mas menyalurkan bantuan untuk keluargamu, oleh sebab itu mas mau membawa Varo ke rumah sakit ini untuk mengobati luka-lukanya karena mengingat jasa-jasa ayahnya yang selama ini sudah membantu mas untuk .... mendapatkanmu."


Wajah Salwa tersipu mendengar perkataan Sean. Ia selalu merasa berharga jika berada bersama suaminya itu.


....


Salwa mengenakan kursi roda saat Sean mengajaknya menemui Varo, dan kini ia sudah berada di depan pintu kamar ruang perawatan Varo. Salwa menengadahkan wajahnya, menatap wajah Sean yang tampak muram tetapi berusaha ia sembunyikan dengan menampilkan senyum datarnya.

__ADS_1


"Mas, apakah kau tidak ikut masuk bersamaku?"


Sean membungkukkan wajahnya lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Salwa.


"Masuklah, aku mempercayaimu. Aku akan menunggu disini."


Sean membukakan pintu kamar perawatan Varo untuk Salwa. Dengan izin suaminya Salwa menyetujui untuk bertemu Varo, berbicara dari hati ke hati. Sean menutup kembali pintu tersebut dikala Salwa sudah masuk ke dalam.


Sorot mata Sean kembali dingin, ia melangkah duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan Varo. Sean memasang ear phone di telinganya, ternyata ia menempatkan alat penyadap yang ia letakkan di bawah kursi roda Salwa untuk mengetahui pembicaraan keduanya. Mungkin dengan begitu Sean mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan istrinya.


Salwa memajukan kursi roda elektriknya ke arah ranjang Varo. Lelaki itu penuh dengan balutan perban, di kepala, lengan dan kaki. Salwa tidak terkejut akan hal itu, ia melihat sendiri bagaimana Sean memukulinya menggunakan papan kayu yang berukuran cukup besar dan hal itu pasti berakibat buruk dan meninggalkan luka cukup serius di tubuh Varo.


Varo mengerjapkan kelopak matanya, tampaknya kesadaran baru merasuk ke dalam tubuhnya. Untuk beberapa saat ia tidak menyadari keberadaan Salwa, tetapi saat ia ingin mengambil minum di atas nakas di samping ranjang tidurnya, mata Varo bersirobok dengan mata Salwa.


"Salwa." panggilnya lirih. Salwa tersenyum tipis sambil mengangguk.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Salwa kemudian. Jarak mereka memang tidak terlalu dekat, Salwa berusaha sebisa mungkin menjaga jarak dengan Varo. Bukan karena ia jijik melihat luka Varo tetapi lebih kepada norma seorang wanita yang sudah bersuami.


"Beginilah, aku senang kau mau melihatku." Varo berusaha tersenyum meskipun pipinya terasa sakit.


"Maaf, jika saja aku mengatakan sejujurnya dari awal mungkin semua ini tidak terjadi."


Varo tersenyum miris, perempuan di depannya ini terlalu manis. Bahkan dengan perlakuan Varo yang sudah kurang ajar terhadapnya, Salwa masih mengatakan maaf kepadanya. Seharusnya Varolah yang meminta maaf, bukannya Salwa yang telah menjadi korban atas perilakunya. Dan luka-luka yang ia terima mungkin tidak sepadan dengan perilaku bejatnya yang hampir melecehkan perempuan sebaik Salwa.


"Aku yang harus minta maaf, aku sudah berbuat kurang ajar kepadamu, aku juga sudah menghinamu. Seharusnya aku malu jika bertemu dirimu kembali." ucap Varo kemudian.


"Tidak apa, aku sudah memaafkanmu. Aku rasa sudah cukup, beristirahatlah, aku akan kembali ke kamarku." Salwa hendak memutar arah kursi rodanya, tetapi Varo tiba-tiba memanggilnya.


"Salwa, apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu?"


Salwa tersenyum sambil mengamgguk"Tentu saja, aku bahagia."


Sean yang mendengar pertanyaan Varo menggertakkan gerahamnya, bagaimana lelaki itu tidak tahu diri dengan begitu percaya dirinya mengatakan bahwa di hati Salwa masih ada namanya dan mengatakan bahwa Salwa terpaksa mencintai dirinya yang jelas-jelas adalah suami Salwa.


"Aku mencintainya Varo, kami berdua bahagia karena saling memiliki baik jiwa maupun raga. Kamu akan mengerti itu jika kamu nanti sudah menikah."


Sean mengulas senyum dengan mendengar jawaban Salwa. Ya, dia mencintai istrinya itu dan dia bahagia.


"Apa suamimu tidak pernah memukulmu atau membentakmu?" Tanya Varo lagi.


Salwa menggeleng "Suamiku sangat lembut kepadaku, karena itu aku mencintainya."


"Aku senang mendengarnya, setidaknya kamu bahagia dengan orang yang kamu cintai."


Salwa mengangguk, lalu berpamitan untuk segera keluar. Ia tidak ingin Sean menunggunya terlalu lama.


"Salwa, apakah namaku benar-benar telah terhapus di hatimu? Apakah perasaanmu sudah benar-benar hilang untukku?"


Sean ingin sekali mencekik leher Varo saat itu juga, Varo benar-benar tidak tahu malu menanyakan hal seperti itu kepada wanita yang sudah bersuami.


Salwa berputar arah, ia kembali menunjukkan senyumnya." Varo, mungkin selamanya aku tidak bisa menghapus namamu di hatiku." Varo tersenyum lebar, sementara Sean merasa kecewa dengan jawaban Salwa, "Tetapi aku alan memasukkannya sampai ke dasar dan tidak akan memberinya celah untuk bisa muncul kembali ke permukaan karena di bagian atasnya sudah terisi nama lain yang memberiku cinta yang sesungguhnya." Salwa menghela napasnya, menjeda kalimatnya sejenak.


"Karena cinta yang sesungguhnya adalah cinta seorang suami kepada istrinya, cinta istri kepada suaminya dan cinta orang tua kepada anak-anaknya, selain itu mereka hanyalah cinta yang semu. Varo, kamu juga bisa melakukannya. Yang perlu kamu lakukan adalah membuka hatimu lebar-lebar untuk menyambut cintamu yang sesungguhnya."


Varo tersenyum mendengarkan perkataan Salwa. Ia tidak menyangka Salwa menjadi perempuan dewasa yang bijaksana. Dan di luar sana, Sean hampir meneteskan air mata, istrinya itu memang luar biasa. Tanpa perlu berkelahi, bertengkar dan adu mulut ia bisa menyadarkan seseorang hanya dengan tutur katanya.


"Salwa, apakah aku boleh memelukmu untuk yang terakhir kalinya?"

__ADS_1


"Tentu saja, tidak boleh. Aku sudah menikah Varo."


Sean hampir saja ingin mendobrak pintu Varo karena lelaki itu menginginkan hal yang tidak-tidak kepada istrinya.


"Kalau cium bibir?" Varo berucap dengan menunjuk bibirnya.


"Cih, awas saja kau Varo jika berani melakukannya." batin Sean sambil meremas tangannya.


"Varooo....." Salwa memanggil nama Varo dengan panjang seolah memberi isyarat kepada Varo agar tidak meneruskan omong kosongnya itu.


"Heemm.. maaf, aku hanya bercanda. Kemarilah aku ingin menunjukkanmu sesuatu."


Salwa mengangguk, ia kemudian memajukan kursi rodanya mendekat ke ranjang Varo.


"Kesini, kamu tidak akan bisa melihat jika tidak mendekat," ucap Varo lagi. Salwa pun menurut, ia semakin mendekatkan kursi rodanya ke ranjang Varo, kepalanya menunduk mengikuti arah gerak tangan Varo. Lalu...


CUP


Salwa merasakan benda kenyal mendarat di keningnya, ia sempat tertegun beberapa detik. Tangannya sudah bersiap menampar Varo tetapi ia urungkan karena melihat pipi Varo terlalu banyak luka.


"Semoga engkau bahagia Salwa."


Salwa menarik kedua sudut bibirnya, yang lama-lama melengkung membentuk sebuah senyuman manis.


"Terimakasih, aku permisi." Salwa segera memutar arah kursi rodanya lalu melaju ke arah pintu. Ia membuka kembali pintu tersebut lalu keluar dari kamar perawatan Varo. Sean yang menunggu Salwa di luar tersenyum menyambut kembalinya Salwa. Ia berdiri di depan Salwa dengan ke dua lututnya sebagai tumpuan. Sean memeluk istrinya itu yang masih terduduk di kursi roda dengan erat.


"Terimakasih sayang," ucap Sean lembut. Salwa membalas pelukan suaminya dengan sama eratnya sambil menutup kedua matanya, merasakan cinta dan kasih sayang suaminya untuk dirinya.


Varo yang melihat bagaimana Sean memperlakukan Salwa hanya bisa tersenyum pilu, mencoba mengikhlaskan Salwa berbahagia dengan pilihan hidupnya.


...


...Sejak jumpa kita pertama kulangsung jatuh cinta....


...Walau kutahu kau ada pemiliknya....


...Tapi kutak dapat membohongi hati nurani....


...Kutak dapat menghindari gejolak cinta ini....


...Maka ijinkanlah aku mencintaimu...


...Atau bolehkan aku sekedar sayang padamu....


...Maka ijinkanlah aku mencintaimu...


...Atau bolehkan aku sekedar sayang padamu....


...Memang serba salah rasanya tertusuk panah cinta....


...Apalagi aku juga ada pemiliknya....


...Tapi kutak mampu membohongi hati nurani....


...Kutak mampu menghindari gejolak cinta ini....


...Maka maafkan jikaku mencintaimu....

__ADS_1


...Atau biarkan kumengharap kau sayang padaku?...


__ADS_2