Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Gelisah


__ADS_3

....


"Aku tahu kau pasti datang, kau mengambil keputusan yang tepat." Marcus mengulas senyum saat melihat Sean datang tepat waktu. Lelaki itu terlihat rapi dengan stelan tiga pieces-nya sementara Sean hanya mengenakan celana panjang dan juga kemeja, tak lupa dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.


"Aku datang hanya untuk keamanan istriku, bukan karena hal lain." Sean berucap dengan nada tegas.


"Apapun alasanmu, terimakasih telah bersedia ikut bersama ku dan berjumpa dengan paman."


Marcus berjalan beriringan dengan Sean menuju pintu masuk, dua orang yang merupakan anak buah kepercayaan Seanpun ikut bersama mereka.


Jet pribadi milik keluarga Deslaurier sungguh sangat mewah, bahkan Seanpun mengakuinya. Jet pribadi yang pernah Sean miliki terlihat tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan jet pribadi yang saat ini ia tumpangi. Tetapi hal itu tidak penting bagi Sean, ia hanya ingin fokus dengan tujuan utamanya.


Perjalanan ke Kanada membutuhkan waktu hampir dua belas jam, meskipun mereka menggunakan jet pribadi tetap saja mereka harus melakukan transit sebelum melanjutkan perjalanan. Sean beserta rombongan pun menginap di salah satu hotel terdekat dengan bandara agar tidak terlalu lelah setelah melakukan perjalanan jauh.


Sean merebahkan tubuhnya di kasur empuk berukuran besar berbalut kain putih lembut yang begitu nyaman. Sambil mengistirahatkan tubuhnya, Sean mengaktifkan ponsel pintarnya yang sempat ia matikan saat melakukan penerbangan.


Beberapa pesan singkat masuk namun hanya ia lewati begitu saja, matanya terpaku dengan pesan yang dikirim oleh perempuan yang sudah ia rindukan meskipun baru beberapa jam ia tinggal. Sean membuka pesan tersebut yang berjumlah hampir dua puluh pesan.


"I love you"


"I love you"


"I love you"


"I love you"


Hanya kata itu yang tertulis berulang-ulang hingga membuat Sean tak bisa menyembunyikan senyumnya 'senang'. Andai saja perempuan itu ada di sampingnya saat ini mungkin Sean sudah menciumnya habis-habisan hingga bibir istrinya itu bengkak akibat ciuman mereka.


Sean tidak segera membalas pesan Salwa karena ia berniat langsung melakukan video call dengan istrinya itu, namun di saat yang sama Alan meneleponnya.


"Alan." jawab Sean seketika setelah menerima panggilan dari dokter Alan.

__ADS_1


Alan berdehem sebentar menetralkan suaranya agar tidak terdengar khawatir dan terburu-buru. Sepertinya apa yang ia sampaikan adalah kabar buruk hingga ia tak kunjung bersuara sampai Sean memanggilnya kembali.


"Alan!" Sean meninggikan suaranya agar lawan bicaranya itu segera menjawab dan mengatakan maksud dan tujuannya menghubungi Sean.


"Sean...., nenekmu nyonya Arthur sedang dirawat di rumah sakit. Apakah kau tidak ingin menemuinya?" Ucap dokter Alan dengan berhati-hati agar sahabatnya itu tidak terlalu terkejut.


"Untuk apa kau memberitahuku, keluarga Arthur sudah tidak berhubungan dengan ku lagi." Sean menjawabnya dengan nada datar, meskipun hatinya terasa sakit.


Bagaimanapun juga perempuan tua yang selalu bersikap keras terhadapnya dulu pernah ia anggap sebagai satu-satunya keluarga yang ia punya, meskipun hanya tuntutan saja yang diberikan oleh neneknya itu tetapi Sean sangat menyayangi dan menghormatinya.


Tetapi kini, saat semuanya sudah terungkap Sean enggan untuk bertemu dengan nyonya besar Arthur ataupun semua keluarga Arthur kecuali Abust. Sakit hatinya belum sembuh benar, apalagi mengetahui betapa tidak adilnya perlakuan yang ibunya terima selama menjadi salah satu anggota keluarga Arthur. Sean benar-benar tidak bisa memaafkan semua orang yang sudah membuat menderita ibunya.


"Baiklah, itu semua adalah hakmu. Aku tidak punya wewenang apapun untuk memaksamu menemuinya. Meskipun kondisinya saat ini sangat memprihatinkan."


"Cukup, aku tidak ingin mendengarnya." Sean sudah tidak ingin mengetahui apapun yang berhubungan dengan keluarga Arthur, ia ingin menghapus lukanya dengan tidak lagi berurusan dan melupakan apa saja yang berhubungan dengan keluarga itu.


"Baiklah, aku mengerti," ucap dokter Alan kemudian, ia tidak ingin memaksa sahabatnya itu untuk membuka luka lamanya meskipun sebenarnya ia ingin Sean menemui nyonya Arthur untuk terakhir kalinya sebelum nenek tua itu menghembuskan napas terakhir.


"Sean... apakah kau sudah mengantar istrimu melakukan pemberian kontrasepsi untuk periode tiga bulan ke depan? Tentunya kau tidak lupa bukan dengan jadwal yang aku berikan kepadamu?"


Sean kembali mengingat-ingatnya lagi. Barulah ia sadar bahwa ponselnya pernah berdering untuk mengingatkan jadwal pemberian kontrasepsi, namun ia mengabaikannya karena saat itu matanya terasa mengantuk hingga akhirnya ia terlupa.


"Sean..." kini giliran dokter Alan yang memanggil nama Sean untuk membuyarkan lamunan lawan bicaranya itu.


"Aku sedang melakukan perjalanan ke Kanada, dan saat ini penerbanganku transit di Amsterdam," jawab Sean dengan sedikit ragu, ia masih memikirkan keteledorannya terhadap penanganan istrinya itu.


"Apakah Salwa bersama mu?" Tanya dokter Alan lagi.


"Tidak, aku seorang diri." Dokter Alan terdengar menghembuskan napas dengan berat. Sean bisa merasakan kelegaan dari suara napas dokter Alan yang terdengar dari ponselnya.


"Baguslah, untuk sementara kau tidak akan bertemu dengan istrimu, jadi kau tidak perlu mencemaskannya meskipun kau terlambat melakukan pemberian kontrasepsi kepada istrimu."

__ADS_1


Sean tampak berpikir, ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya hingga ia harus mengatakannya kepada dokter Alan.


"Alan, sehari setelah jadwal pemberian kontrasepsi terlewat. Aku dan Salwa...." Sean belum sempat melanjutkan perkataannya tetapi dengan cepat dokter Alan langsung menerkanya.


"Kalian melakukannya!" Dokter Alan berkata dengan sedikit berteriak seolah tak bisa menerima pengakuan Sean yang bisa membahayakan nyawa istrinya.


"Aku...aku tidak bisa menolaknya karena Salwa.... yang memintanya." Wajah Sean tiba-tiba melembut mengingat bagaimana Salwa dengan malu-malu meminta berhubungan badan dengannya sebelum mereka berpisah. Pengalaman yang menyenangkan dengan sentuhan-sentuhan lembut yang mereka lakukan masih teringat jelas di pikiran Sean.


"Tetap saja kau yang salah, kau harusnya tidak boleh melewatkan jadwal yang aku berikan karena rahim istrimu belum siap sepenuhnya untuk menanggung beban janin yang akan tumbuh besar nantinya. Kau tahu kecerobohanmu bisa berakibat fatal untuk istrimu," dokter Alan terus saja menyerocos mengungkapkan segala unek-uneknya kepada Sean. Ia cukup tenang karena hanya berbicara lewat telepon sehingga tidak mungkin Sean menghajarnya meskipun ia sudah menghinanya berkali-kali.


"Aku tahu,.. Alan, apakah Salwa akan hamil?" tanya Sean dengan sedikit cemas. Istrinya itu baru saja masuk ke perguruan tinggi impiannya, ia sudah bekerja keras agar bisa masuk dengan hasil jeri payahnya sendiri. Salwa pasti akan sangat kecewa jika ternyata dirinya tengah hamil di saat yang tidak tepat.


"Entahlah, kita bisa memeriksanya paling tidak setelah dua minggu ke depan," jawab dokter Alan sambil mengangkat ke dua bahunya.


"Kenapa, kenapa tidak bisa sekarang. Kenapa harus dua minggu lagi." Sean sungguh cemas akan hal itu.


Bukan ia tidak ingin memiliki anak, bahkan ia sangat-sangat menginginkannya tetapi untuk saat ini apakah istrinya itu nanti bisa menerima tentang kehamilannya yang tidak direncanakan itu dengan senang hati dan penuh syukur ataukah justru membencinya.


"Sean, tubuh membutuhkan waktu untuk mengembangkan tingkat hormon human chorionic gonadotropin atau disebut juga hormon kehamilan yang terdeteksi. Hormon HCG hanya dilepaskan saat perempuan benar-benar hamil, yakni jika sel telur yang telah dibuahi menempel di luar rahim atau ke lapisan rahim." Dokter Alan menjeda kalimatnya sebentar agar lawan bicaranya itu mencerna dengan baik penjelasannya.


"Diperlukan waktu sekitar empat sampai lima hari bagi sel telur yang telah dibuahi untuk melakukan perjalanan melalui tuba falopi menuju rahim. Jadi, implantasi ke lapisan rahim terjadi sekitar empat sampai lima hari setelah pembuahan atau sekitar tujuh sampai sepuluh hari setelah ovulasi."


"Segera setelah sel telur yang telah dibuahi ditanamkan ke dalam dinding rahim, hormon kehamilan hCG diproduksi. Dan hanya tes kehamilan yang berkualitas paling tinggi yang bisa mendeteksi kehamilan secepat itu." Dokter Alan menipiskan bibir manahan senyum setelah ia menjelaskan secara panjang lebar kepada sahabatnya itu.


"Dan untuk kasusmu, belum tentu juga Salwa hamil bukan, Jadi kau tidak perlu terlalu khawatir."


Sean masih kurang puas dengan jawaban dokter Alan, ia tidak ingin dengan jawban belum tentu, ia ingin jawaban iya atau tidak.


Dokter Alan mengakhiri panggilannya setelah dirasa sudah tidak ada lagi yang harus mereka bicarakan, apalagi ia harus dengan sabar mengulang-ulang perkataannya kepada Sean agar mau menunggu waktu sampai tiba saatnya Salwa bisa diperiksa tentang ada atau tidaknya janin dalam perutnya.


》bersambung...

__ADS_1


Sorry telat.. author sibuk bangeett 😭😭😭


Tapi tetep tinggalin jejak ya 🤭🤭


__ADS_2