
Angela memporak-porandakan peralatan make up yang berada di atas meja riasnya. Wajahnya terlihat kacau dengan gurat kesedihan membekas di wajahnya. Polesan make up di wajahnya sudah luntur tidak beraturan lagi, dan hal itu membuatnya terlihat mengerikan. Ia mengacak rambutnya dengan kasar, rasa malunya masih belum tersembuhkan bertambah dengan rasa sakit hati yang begitu dalam.
Angela meremas roknya sendiri. Ia belum pernah dipermalukan seperti itu, apalagi di depan perempuan itu. Perempuan yang harusnya tetap menjadi sampah, bukan menjadi seorang putri yang dicintai oleh pangeran tampan berkuda putih. Angela tidak boleh kalah dengan perempuan itu. Tetapi apa yang bisa ia lakukan?
Angela mulai berpikir setelah kesadaran merasuk dalam pikirannya, ia harus bangkit dari keterpurukan. Apakah dirinya akan menyerah dan mengakui kekalahannya kepada Salwa, dan membiarkan perempuan itu menertawainya karena sekarang levelnya sudah melonjak naik mengungguli Angela.
Tidak, Angela tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia harus memikirkan cara agar kehormatannya kembali lagi, dan perempuan kampungan itu yang sangat tidak pantas bersanding dengan pangeran pujaan hatinya harus segera ditendang kembali ke tempat asalnya.
Fiuuuh....
Angela menghela napasnya, hatinya dilanda problema, apakah ia akan kembali mengejar-ngejar Varo, atau ia tetap mengincar Sean Paderson yang sudah menamparnya dan mempermalukannya.
Mungkin saat ini Salwa menang selangkah lebih unggul darinya karena telah menemukan lelaki kaya itu lebih dulu , sehingga Salwa bisa mencuri hati si pangeran sebelum datang putri cantik sesungguhnya. Salwa hanyalah putri palsu yang mendapat perhatian sementara dari sang pangeran sebelum sang pangeran menemukan cinta sejatinya yaitu dirinya.
Angela menyeringai saat ada ide busuk merasuk ke dalam pikirannya, ia akan segera memulainya. Sebelum semuanya terlambat, ia harus mengatur rencana untuk membalikkan keadaan. Ia tidak boleh menyerah secepat itu. Ia masih yakin bahwa Sean adalah masa depannya.
Angela mencari-cari ponselnya dengan membolak-balikkan bantal dan selimut yang sudah berserakan di lantai. Ia membungkuk dan memfokuskan matanya untuk menemukan benda pipih itu yang sekarang entah berada dimana. Kamar Angela sudah seperti kapal pecah, semua benda penghuni kamar sudah tidak berada di tempatnya semula. Dirinya hampir frustrasi, mencari ponsel saja ia sudah merasa hampir gila. Bagaimana dengan mendekati Sean Paderson, apakah ia akan sanggup melewati semua lika-liku yang sepertinya lebih terjal daripada saat proses pendekatannya dengan Alvaro.
"Yes, ketemu."
Angela berteriak kegirangan setelah berhasil menemukan ponselnya. Ia kemudian membuat suatu rencana dengan menghubungi teman-teman SMA-nya.
....
"Kau seharusnya tidak boleh sekasar itu, Angela juga seorang perempuan mas. Aku lihat tadi pipinya memar, pasti kamu yang memukulnya."
Salwa sedang memijat kepala Sean yang saat ini sedang tidur di pangkuannya. Sean mempunyai kebiasaan baru yaitu bermanja di pangkuan sang istri dengan merasakan pijatan lembut di kepalanya. Rasanya momen seperti ini membuatnya teringat akan kenangannya bersama sang ibu. Sean merindukan ibunya, tetapi istrinya itu selalu berhasil membuat rindunya terobati, meskipun kadang kala Salwa selalu memberikan omelannya kepada Sean dengan posisi seperti ini.
"Dia sudah keterlaluan, beruntung dia perempuan kalau di laki-laki, mas akan menghajarnya sampai babak belur seperti Varo."
"Memang apa yang sudah diperbuat Angela sehingga membuatmu marah, bukannya dia kesini hanya ingin menawarkan kerjasama."
Sorot mata Sean berubah menggelap mengingat bagaimana perempuan itu telah menghina Salwa dan calon buah hatinya dengan begitu buruknya. Bahkan perempuan tidak tahu diri itu berani memfitnah istrinya sebagai perempuan murahan yang tubuhnya sudah dinikmati banyak pria.
Sean menangkap tangan Salwa yang masih setia memijat pelan kepalanya, lalu membawa tangan itu untuk dikecupnya.
"Jangan terlalu baik kepada perempuan itu, dia hanya perempuan ular yang berpikran licik dan penuh dengan bisa yang sewaktu-waktu akan mengeluarkan bisanya saat dirinya merasa terancam. Dan saat ini mungkin ia sedang merencanakan sesuatu , mengumpulkan semua bisanya agar dapat ia pergunakan di saat yang tepat."
Sean beranjak dari posisinya yang tidur ke posisi duduk. Tangannya menyentuh dagu Salwa agar perempuan itu menoleh ke arahnya, menatap dengan jelas di kedalaman mata Sean.
"Aku sudah tahu segalanya, tentang apa yang ia lakukan dan ucapkan kepadamu saat di kampus. Dan saat semua mahasiswa berdemo untuk mengeluarkanmu , itu semua karena ulahnya. Varo yang memulai dan Angela yang memprovokasi semua orang untuk segera mengusirmu dari kampus."
"Apa.... benarkah? Tetapi untuk apa semua itu mas?" Salwa masih bingung, untuk apa Angela melakukan itu. Padahal Salwa tidak pernah secara langsung berhubungan dengan Angela, apa mungkin Angela bisa setega itu kepadanya?
Sean mengulas senyum simpulnya, kedua tangannya menangkup wajah istrinya itu yang tampak bingung dengan semua yang telah terjadi. Apakah Salwa sepolos itu sehingga tidak bisa melihat niat buruk seseorang di belakangnya.
__ADS_1
"Karena kau sangat cantik dan baik, dia iri kepadamu sehingga melakukan segalanya untuk mengambil apa yang engkau punya, bahkan perhatian Varo kepadamu dia juga menginginkannya."
"Apa yang aku punya? Apa termasuk dirimu mas? Apa mungkin Angela juga menginginkanmu?" Salwa menyentuh tangan Sean yang masih menangkup wajahnya, matanya terlihat menuntut akan jawaban. Salwa sama sekali tidak memikirkan perhatian Varo, ia justru berpikir apakah Angela juga menginginkan suaminya itu. Harta yang paling berharga bagi Salwa adalah suami dan anaknya, ia tidak akan sanggup jika mereka berdua diambil oleh orang lain.
"Mungkin, jadi kau harus berhati-hati dengannya."
"Kenapa kau menjawab seperti itu, apa suatu saat kau akan berpaling kepadaku?" Salwa semakin takut saja. Angela gadis yang cantik, kaya dan berpendidikan. Sangat jauh jika dibandingkan dengannya. Apakah ia harus bersaing dengan perempuan-perempuan lain yang mungkin menyukai suaminya. Apa ia sanggup?
"Ssstttt, jangan mencemaskan hal itu. Bukannya rumah tangga kita sudah terlalu banyak ujian selama ini. Jika hanya menyangkut wanita, engkau tidak perlu khawatir, mas hanya mencintaimu. Lagipula disini akan terlahir malaikat kecil kita, yang akan menambah kekuatan cinta kita bukan?" Sean mengelus perut Salwa yang masih datar dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh sayang. Lalu menyibakkan kain yang menutup perut Salwa dan menghadiahi kecupan hangat disana.
" Mas hanya menginginkan kalian, bukan yang lain. Engkau terlalu berharga jika dibandingkan dengan perempuan lain di luar sana."
Salwa tersenyum haru, hatinya menghangat mendengar perkataan sayang Sean kepadanya.
"Kau tahu, jika kau berani melirik perempuan lain, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan mengejarmu lalu akan memukulmu."
Sean mengangkat kedua alisnya sambil mengeluarkan kekehan, tangannya mengusap-usap pucuk kepala istrinya itu dengan gemas. Perempuan kecilnya ini sekarang lebih tegas, Sean sudah membayangkan bagaimana Salwa kelak memarahi anak-anak mereka saat berbuat salah. Pasti pemandangan seperti itu sangat menyenangkan, ah.. rasanya Sean sudah tidak sabar dengan kelahiran buah hatinya.
Sean mendekatkan wajahnya lalu menyatukan kening mereka, kedekatan seperti ini sering mereka lakukan tetapi selalu saja berhasil membuat wajah Salwa merona dengan jantung yang berdetak kencang. Tatapan Sean tampak teduh dan meredup di kala hembusan napasnya menerpa permukaan wajah Salwa.
Tangannya menarik tubuh Salwa lebih mendekat ke arahnya sehingga Salwa tanpa sadar kini sudah berada di pangkuan suaminya, tanpa penolakan ia mendapati Sean sudah menyatukan bibir mereka, menciptakan gelenyar aneh di bibir Salwa membuatnya tidak bisa menahan untuk tidak membuka sedikit mulutnya, memberikan akses suaminya itu untuk menjelajahkan lidahnya ke rongga mulutnya.
Tangan Salwa yang semula berada di depan dada Sean untuk melakukan pertahanan disana, kini terasa melemas sehingga memasrahkan segalanya di bawah kendali suaminya.
"Jika saja engkau tidak hamil, aku tidak akan membiarkanmu tidur malam ini." Sean berbisik di telinga Salwa, membuat rambut halus Salwa sukses berdiri. Tentunya ia mengerti apa yang dimaksudkan Sean kepadanya, karena sebelumnya mereka selalu hampir tidak tidur semalaman karena suaminya itu sering mengajaknya bergadang.
Sean mengatur pikirannya agar tidak terbuai untuk melanjutkan lebih. Apapun yang dirasakannya saat bersama Salwa harus ia tahan, ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan istri dan anaknya. Mereka terlalu berharga jika harus dikorbankan karena ia tidak becus menahan hasratnya.
"Berbaringlah, mari kita tidur," ucapnya lembut diikuti anggukan oleh Salwa.
....
Angela sedang memainkan ponselnya dengan menscroll media sosial miliknya untuk mengusir kejenuhannya. Ia mengundang beberapa teman SMAnya untuk sekedar bertatap muka saja. Angela sengaja datang lebih awal sambil menyiapkan diri dengan apa yang sudah direncanakannya.
Butuh sekitar lima belas menit akhirnya empat orang temannya yang sudah ia tunggu datang secara hampir bersamaan. Angela melambaikan tangannya menyambut teman-temannya itu dengan senyum menawannya.
"Hai!" Mereka berempat yaitu Ririn, Nisa, Jean dan Olivia berhambur saling memeluk disertai cipika-cipiki secara bergantian.
"Wah, kau semakin cantik saja Angela," Ririn memuji dengan tulus, Angela memang selalu tampil cantik di setiap kesempatan, ia akan menyiapkan dirinya sebaik mungkin setiap ada suatu acara baik itu acara berkumpul dengan teman-temannya ataupun acara resmi. Karena cantik harus selalu melekat dalam dirinya.
Angela tersenyum simpul dengan mengangguk, ia kemudian mempersilahkan teman-temannya duduk untuk segera memesan makanan.
"Pesan sesuka kalian, aku traktir semuanya."
"Angela, kamu memang paket lengkap. Sudah cantik, baik, tajir pula. Beruntung Varo ngedapetin kamu," Ririn berucap sekaligus menjilat.
__ADS_1
Angela hanya tersenyum menanggapi perkataan Ririn. Bukan Varo yang ia inginkan, Angela ingin mendapatkan tangkapan yang lebih besar. Sean Paderson, hanya lelaki itu yang pantas untuknya. Ada obsesi yang mengerikan di dalam dirinya untuk segera mendapatkan sang pangeran dan membuang jauh-jauh si buruk rupa dari kehidupan sang pangeran. Hanya Angela yang cocok dan layak menjadi pendamping Sean Paderson, bukan yang lain dan ia akan segera mendapatkannya.
"Kamu mau pesan apa Nisa?" Nisa yang dari tadi hanya meruntut daftar menu di hadapannya dikejutkan oleh pertanyaan Jean.
"Emm.. Angela, untuk apa sebenarnya semua ini. Tentunya pasti ada alasan engkau mengundang kami makan-makan disini. Aku hanya khawatir tidak bisa melakukan apa yang sebenarnya dari maksud dan tujuanmu."
Nisa memang bukan teman akrab Angela, ia hanya mengenal Angela dari sahabatnya Jean yang sebangku dengannya saat masih sekolah dasar. Jean memang satu kelas dengan Angela, tetapi Nisa ia berlainan kelas bahkan mengenal Angela hanya sebatas tahu saja karena Angela memang begitu populer saat itu. Hal itu membuatnya heran karena ia bergabung dalam acara pertemuan pagi ini.
Angela menatap tidak suka dengan perkataan Nisa yang memang banyak benarnya itu. Sepertinya perempuan satu ini sulit dibohongi, berbeda dengan ketiga temannya yang lain yang selalu senang jika Angela sudah menggelontorkan uangnya untuk mengajak mereka makan-makan gratis.
Angela tersenyum tipis. Ia berusaha tidak terpancing emosi. Saat ini ia membutuhkan Nisa sebagai sarana untuk melancarkan rencananya.
"Kau tidak perlu mencurigaiku seperti itu Nisa, nikmatilah makanan yang ada disini. Aku akan menjelaskannya setelah kita makan, okey?"
Nisa mengangguk, menghempaskan segala prasangka buruk dalam pikirannya. Mungkin Angela tidak seburuk apa yang ia bayangkan, karena sebelumnya ia pernah melihat Angela membully teman wanitanya yang berpenampilan kolot, sehingga korbannya memutuskan untuk pindah sekolah setelah kejadian memalukan yang didalangi oleh Angela. Mungkin saat ini Angela sudah berubah tidak sejahat dulu lagi. Akhirnya Nisa ikut memesan makanan seperti yang lainnya, karena tidak baik menolak makanan bukan? sebab, itu semua adalah rezeki yang tak terduga dari Tuhan.
Sekitar empat puluh menit Angela dan keempat temannya makan bersama sambil bersenda gurau, mengingat masa-masa yang penuh dengan kenangan saat berseragam putih abu-abu, mengikis rasa canggung yang sempat tercipta.
Angela melirik jam tangan yang ia sematkan di pergelangan tangan kirinya. Cukup basa-basinya, inilah saatnya mengatakan maksud dan tujuan utamanya mengajak mereka berempat kemari.
"Minggu depan aku berulang tahun, kalian tahu itu?"
"Sungguh?" Olivia bertanya dengan menampilkan wajah terkejutnya. Olivia merupakan salah satu teman Angela yang hanya ingin mendompleng popularitas saat di sekolah dulu.
"Iya, tetapi aku ingin melakukan hal berbeda di ulang tahunku kali ini. Aku ingin membuat sebuah reuni untuk alumni angkatan kita. Pasti itu sangat menyenangkan bukan?" Angela menyeruput jus jeruk yang dipesannya tadi dengan gaya elegannya, sementara teman-temannya yang lain sibuk menerka apa yang akan direncanakan Angela di hari ulang tahunnha.
"Wah, pasti sangat seru. Aku penasaran dengan wajah teman-teman cowok kita, mereka tambah ganteng atau tambah jelek ya." Rini berucap sambil membayangkan wajah polos teman laki-lakinya dulu. Ia sedikit menampilkan senyum-senyum kecil di bibirnya saat membayangkan wajah teman-teman laki-lakinya dengan imajinasinya sendiri.
"Untuk itu aku membutuhkan bantuan kalian berempat, terutama kau Nisa."
Nisa yang sedang menghabiskan minumannya hampir tersedak saat mendengar namanya disebut oleh Angela.
"Aku?" ucap Nisa sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Iya, hanya kau yang berbeda kelas dengan kami, tidak perlu banyak yang kau undang, karena aku tidak terlalu banyak mengenal teman-teman di kelasmu. Tetapi kau harus memastikan ada satu orang yang wajib datang di acaraku."
"Siapa tamu penting yang kau inginkan untuk datang?"
Angela menunjukkan seringai di bibirnya penuh arti yang tidak tertangkap oleh Nisa dan teman-temannya.
"Teman sekelasmu, Salwa Humaira."
γBersambung..
Note : Author mau update banyak nih, jangan lupa tinggalin jejak di setiap chapternya. Kebanyakan udah baca langsung dilewatin aja π. Kasih jejak cantiknya ya buat Author biar begadangnya tetep semangat.. πππ
__ADS_1