Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Mencari kebahagiaan


__ADS_3

Salwa berdiri di samping Sean sambil membawa baby Kinan dalam gendongannya. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Banyak orang yang datang bahkan awak media pun ikut meliput di sana.


Pemakaman Anders yang merupakan pewaris utama kekayaan keluarga Arthur juga salah satu narapidana yang berhasil kabur dari penjara menjadikan berita kematiannya menjadi topik hangat di media cetak, televisi maupun media online. Sehingga meskipun mereka tidak diperkenankan meliput tetapi tetap saja para awak media yang haus akan berita berusaha mencuri-curi gambar ataupun kesempatan hanya untuk mendapatkan sedikit informasi.


Sean berdiri agak jauh dari keluarga Arthur karena ia masih menyimpan luka yang belum tersembuhkan di hatinya meskipun pada dasarnya ia sama sekali tidak menyimpan dendam kepada mereka.


Dari jauh terlihat seseorang wanita tua yang sangat Sean kenal mengenakan kursi roda dibantu oleh seorang perempuan muda berpakaian perawat di belakangnya. Sean hanya bisa melihat dari jauh tanpa ingin mendekat bahkan bertegur sapa dengannya. Tetapi dalam hati yang terdalam ia merindukannya.


Milly juga terlihat di sana, lelaki itu mendapatkan izin dari pihak rumah sakit untuk mengikuti upacara pemakan Anders yang merupakan salah satu anggota keluarga Arthur. Milly juga mengenakan kursi roda yang dibantu oleh seorang perawat laki-laki di belakangnya. Banyak perban yang tampak melilit dengan tebal di beberapa bagian tubuh lelaki itu, meskipun demikian Milly terlihat lebih sehat dari sebelumnya.


Di jarak satu meter di belakang Milly dan nyonya Arthur, juga terlihat Abust bersama Catherine dan dua orang anaknya ikut menghadiri pemakan Anders. Lelaki itu sepertinya masih belum bisa berbaur dengan keluarganya terutama ayahnya. Entah bagaimana caranya agar Abust dan Milly bisa bersatu membentuk sebuah keluarga yang saling menyayangi dan menghormati.


"Mas, aku ingin duduk." Salwa menarik ujung kemeja Sean supaya suaminya itu memerhatikannya. Kakinya terasa pegal juga lengannya karena sejak pagi menggendong baby Kinan dalam kondisi berdiri. Sean mengangguk , lalu mengedarkan pandangannya mencari tempat berteduh. Akhirnya ia menemukan tempat yang bisa digunakan untuk beristirahat sejenak yang di atasnya tertutup pepohonan yang rindang.


"Kita istirahat di sana. Emm, Kinan biar mas yang gendong." ucap Sean kemudian setelah melihat Salwa tampak kelelahan.


"Sebentar saja, nanti biar aku yang gendong lagi."


Salwa memberikan baby Kinan, lalu memijit lengannya sekedarnya hanya untuk mengurangi sedikit rasa pegal karena terlalu lama menggendong.


"Tidak usah sungkan, kau pasti sudah sangat lelah," ucap Sean lembut.


Sean membawa baby Kinan dengan menggendongnya menggunakan lengan kirinya, sementara lengan kanannya ia pergunakan untuk merangkul bahu Salwa mengajaknya untuk berteduh di bawah pohon sana.


Ketika mereka mulai melangkah meninggalkan tempat pemakaman sebuah suara yang samar terdengar memanggil-manggil nama Sean. Sean menghentikan langkahnya, ia hanya berdiri kaku tanpa berniat menoleh karena menyadari suara siapa yang kini memanggil namanya.


Salwa mendongakkan wajahnya, menatap Sean dengan bingung.


"Ada apa?" tanya Salwa kemudian tetapi Sean hanya diam tidak menanggapi. Barulah Salwa mengerti saat suara itu terdengar lebih jelas dan kian mendekat.


"Sean!"


Salwa menoleh, ia juga sama terkejutnya dengan Sean melihat siapa yang tengah memanggil nama suaminya. Di balik kerudungnya ia mengarahkan bola matanya ke arah belakang di mana suara tua itu berusaha meneriaki Sean dari kejauhan.

__ADS_1


"Mas, itu adalah... nyonya Arthur." Salwa menelan ludah, ia tiba-tiba merasa tegang melihat nyonya Arthur mendatanginya. Masih terekam dengan jelas di memori otaknya, begitu tajam dan pedasnya mulut perempuan tua itu ketika berbicara kepadanya.


Sean sedikit meremas bahu Salwa ketika merasakan istrinya itu tegang dan tampak gemetar. "Jangan takut, tegakkan kepalamu, dia tidak akan berani menghinamu ataupun merendahkanmu. Aku tidak akan tinggal diam jika sampai dia melakukan hal itu."


Salwa mengangguk, mempercayai perkataan Sean yang bisa membesarkan hatinya. "Terima kasih," ucap Salwa sambil mengulas senyumnya.


Dengan menggunakan kursi roda yang didorong oleh seorang suster perempuan, nyonya Arthur akhirnya sampai di mana tempat Sean dan Salwa berdiri.


Mata mereka saling beradu, Sean dengan tatapan tajamnya seolah menghunus untuk segera menyerang jika lawannya memulai pertarungan.


Perempuan tua itu berusaha bangkit dari kursi rodanya, dengan susah payah karena berkali-kali roboh tanpa ingin dibantu oleh suster yang merawatnya. Terbongkok-bongkok ia berjalan sambil sedikit diseret mendekati Sean dan Salwa, entah apa yang akan dilakukannya dengan kondisi seperti itu.


Tatapan Sean yang tajam berubah sedih melihat kondisi nyonya Arthur berubah sebegitu menyedihkan. Perempuan tua itu tiga tahun yang lalu adalah perempuan tua yang sehat, bahkan ia mampu menampar Sean dengan tangan tuanya itu. Ia bisa memaki semua orang yang ia kehendaki atau yang tidak sesuai dengan keinginannya. Perempuan tua itu dulu bisa dikatakan sebagai penguasa, tetapi saat ini siapa yang menyangka bahwa ia pernah menjadi perempuan jahat yang memaksakan setiap kehendaknya kepada orang lain.


Nyonya Arthur memperpendek jaraknya dengan Sean, membuat Salwa semakin merapatkan dirinya ke tubuh suamiya, pun dengan Sean melakukan hal yang sama seolah perempuan tua di depannya itu seperti monster yang akan membuat istrinya itu ketakutan. Tidak bisa disalahkan memang, Salwa sudah terlanjur trauma dengan nenek satu ini yang jika bertemu selalu memaki dan menghinanya seenak hati. Jika bisa memilih lebih baik Salwa menghindari pertemuan dengan wanita tua itu daripada harus menerima perkataan kasar, umpatan dan caci maki yang di tujukan kepadanya yang membuatnya sakit telinga.


Tanpa diduga sebelumnya, nyonya Arthur tiba-tiba menunduk lalu membungkuk ke arah Sean. Perempuan tua itu berjongkok lalu memeluk kaki Sean sambil menangis.


Sean mengangkat nenek tua itu dengan tangan yang ia gunakan untuk memeluk Salwa karena tangan kirinya masih ada baby Kinan yang sedang tertidur pulas.


"Bangunlah, kau tidak pantas berlutut seperti itu," ucap Sean dingin. Rasa sakit hatinya terlalu mendalam kepada keluarga Arthur, ia merasa hanya sebagai pion untuk mengumpulkan pundi-undi emas hanya untuk memupuk kekayaan keluarga Arthur. Apalagi mengingat bagaimana keluarga Arthur memperlakukan ibunya secara tidak adil membuat Sean tidak sanggup untuk memikirkannya. Ibunya yang merupakan satu-satunya orang yang mencintainya telah disia-siakan baik oleh suami dan keluarga besarnya sampai akhir hayatnya. Sean masih belum bisa menerima itu semua.


"Sean maafkan grandma, aku bersalah kepadamu dan juga istrimu. Aku menyesali semuanya. Kau benar, harta bukanlah segalanya. Tetapi keluarga yang dipenuhi kasih sayang dan cintalah yang bisa membuat kita bahagia. Aku terlambat menyadari di saat semuanya telah pergi. Sekarang di masa tuaku yang tidak berdaya seperti ini, aku menjadi orang tua yang paling kesepian." Nenek tua itu menyeka air matanya di wajahnya yang keriput.


Sean hanya diam tidak berucap sepatah kata pun, seolah perkataan nenek tua itu hanyalah angin lalu dan sama sekali tidak mengena di hatinya.


Nyonya Arthur beralih menatap Salwa, perempuan yang selalu direndahkan olehnya karena status sosialnya yang terlalu rendah di matanya. Perempuan itu sudah memberikan Sean seorang anak yang sehat dan juga tampan. Sean juga sepertinya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya itu. Mungkin keputusan Sean menikahi perempuan itu adalah keputusan yang tepat, ia salah menilai seseorang karena terlalu silau dengan harta yang dimilikinya sehingga tidak bisa melihat keistimewaan perempuan miskin seperti Salwa.


"Salwa..,"panggil nyonya Arthur lirih.


Untuk pertama kalinya dalam hidup Salwa, nyonya Arthur memanggil namanya dengan benar. Bukan memanggilnya dengan gadis miskin, perempuan murahan, perempuan pembawa sial dan sebutan-sebutan lain yang terdengar menyakitkan di telinga Salwa.


"I...iya," ucap Salwa lirih. Nyonya Arthur dengan susah payah mendekat ke arahnya lalu ingin bersimpuh di kakinya yang kemudian dengan cepat Salwa segera menghentikannya dengan memegang kedua bahunya.

__ADS_1


"Kau tidak perlu melakukan itu nyonya?" Salwa merasa tidak enak karena orang di depannya ini adalah orang tua, yang seharusnya yang muda menghormati yang tua bukan sebaliknya.


"Maafkan grandma Salwa, grandma terlalu jahat kepadamu. Kau adalah wanita baik-baik tidak seharusnya kau mendapatkan perlakuan yang tidak pantas seperti itu. Melihatmu masih bertahan dengan Sean dan membuatnya bahagia membuatku tersadar bahwa aku bukanlah orang tua yang baik. Kedua anakku sudah mengorbankan perasaannya demi mematuhiku dan mereka berdua hidupnya tidak pernah bahagia." Nyonya Arthur kembali menyeka air matanya yang kini sudah mengalir deras diliputi oleh penyesalan yang mendalam.


"Terima kasih kau sudah bertahan dengan Sean sejauh ini, sehingga cucuku tidak sampai mengalami nasib yang sama seperti ayah dan pamannya. Kau wanita hebat, Sean beruntung memilikimu."


Salwa menoleh ke arah Sean, tampaknya lelaki itu cukup tersentuh dengan perkataan nyonya Arthur. Mungkin dengan Sean meninggalkan keluarga Arthur telah memberikan banyak pelajaran berharga untuk nyonya besar satu ini. Sean mengangguk memberikan kebebasan kepada Salwa mengatakan apapun, karena ia yakin bahwa istrinya itu adalah perempuan yang bijaksana meskipun usianya masih tergolong sangat muda.


"Nyonya, aku sudah memaafkanmu sejak dulu. Aku bahkan tidak menaruh dendam apapun kepadamu." Salwa berucap dengan tulus, hal itu bisa dilihat dari sorot matanya yang begitu teduh menenangkan.


"Terima kasih, aku bahkan tidak pantas mendapatkan maaf darimu setelah apa yang aku perbuat kepadamu. Terima kasih, hatimu sangat mulia." Nyonya Arthur tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Meskipun Salwa dan Sean sudah memaafkannya tetap saja mereka tidak bisa seperti dulu. Sean dan Salwa sudah memiliki kehidupan sendiri dan tidak akan mungkin tinggal bersamanya menemaninya di masa tuanya.


"Kau tidak perlu bersedih nyonya, lihatlah di sana!" Salwa menunjuk ke arah di mana Abust dan juga Catherine bersama Ashton dan Axton berdiri saling berbicara satu sama lain.


"Kau memiliki cucu yang sangat tampan bukan? dia sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Kau tidak sendiri dan tidak kesepian. Mereka adalah keluargamu, mereka adalah hartamu yang paling berharga. Kau akan bahagia di masa tuamu dengan ditemani anak, cucu, cucu menantu dan juga cicitmu. Kau akan menjadi seorang nenek yang berbahagia."


Nyonya Arthur mengangguk, ada senyum bahagia yang muncul di sudut bibirnya. Seolah ada secerca harapan untuk menemukan kebahagiaan di penghujung usianya. Tetapi kemudian ada keraguan dalam dirinya, akankah Abust bisa menerima dan memaafkannya?


Abust adalah cucu yang tidak ia harapkan, yang ia usir saat masih berada di dalam kandungan. Ia bahkan tidak memberikan sepeser pun uang untuk biaya kehidupan ibunya. Apakah Abust mau menerimanya sebagai seorang nenek?


Seolah mengerti apa yang dicemaskan oleh nyonya Arthur, Salwa tersenyum lalu berucap perlahan berupaya memberi kepercayaan diri juga semangat kepadanya. "Abust adalah laki-laki yang baik, kau dan juga Milly hanya cukup meminta maaf kepadanya dan menyesali semuanya. Tunjukkan kepadanya bahwa kalian memimpikan memiliki keluarga yang normal dan bahagia. Karena aku yakin dalam hati Abust, dia juga memimpikan hal yang sama. Sebuah keluarga yang mencintainya dan menerimanya apa adanya."


Nyonya Arthur mengangguk, "Terima kasih, kau benar. Aku akan ke sana, memulai semuanya dari awal meskipun itu sangat terlambat. Semoga Tuhan memberiku kesempatan merasakan kebahagiaan hidup bersama anak dan juga cucuku."


Nyonya Arthur kembali duduk di kursi rodanya, dengan wajah yang lebih ceria bersamaan harapan kebahagiaan yang akan ia rasakan di hari tuanya.


Sean kembali merangkul bahu Salwa lalu menunduk memberikan kecupan hangat di pucuk kepala istrinya itu. "Kau hebat sayang, aku bangga kepadamu."


Salwa tersenyum menanggapi perkataan suaminya itu. "Tetapi aku masih tidak terima kau menyebut Abust sebagai pria tampan. Apa kau tidak melihat di sampingmu ini ada pria yang jauh lebih tampan. Dan meskipun ada pria lain yang lebih tampan, kau tidak boleh mengatakannya tampan karena hanya suamimu yang mendapat sebutan seperti itu."


Salwa ternganga mendengar perkataan konyol Sean itu, tetapi kemudian ia tertawa. "Iya suamiku yang sangat tampan," ucap Salwa kemudian diikuti oleh tawa keduanya.


》Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2