
"Sean kau jangan mengarang. Tidak mungkin aku menikah dengan srigala betina seperti dia." Leon melirik dengan kesal kepada Fang Yi yang tampak menyedekapkan kedua tangannya di dada.
"Jangan terlalu percaya diri, siapa yang mau menikah dengan pria tidak berguna sepertimu. Kau sama sekali bukan tipeku. Menikah dengan lelaki sepertimu sama sekali tidak ada dalam kamus kehidupanku."
"Cih, sombong sekali kau perempuan. Wanita brandal sepertimu bisa aku temui banyak di jalanan."
"Cukup! Jika kalian berdua melanjutkan perdebatan kalian, pendeta akan aku panggil sekarang juga." Sean tampak kesal dengan perdebatan konyol yang dilakukan oleh Fang Yi dan juga Leon.
Kedua orang itu mempunyai sifat yang sangat bertolak belakang. Fang Yi tipe wanita tegas, mandiri , keras kepala tetapi pekerja keras . Sementara Leon, ia bersifat kekanakan, banyak bicara tetapi senang berpikir. Lelaki itu lebih suka menunjukkan ketertarikan kepada seseorang dengan membuat orang tersebut kesal kepadanya. Dan ia lebih mengandalkan otak daripada langsung bekerja, terkadang waktunya untuk berpikir jauh lebih lama dalam menimbang suatu keputusan karena banyak hal yang harus benar-benar ia pertimbangkan baik dan buruknya. Oleh karena itu Sean mempercayainya dalam mengolah keuangan karena Leon sangat teliti dengan sedikit atau bahkan tanpa ada kesalahan.
Jika mereka berdua disatukan mungkin setiap hari mereka hanya bertengkar karena mempermasalahkan sesuatu hal yang remeh. Leon yang suka bicara dan Fang Yi yang keras kepala , pastilah rumah tangga mereka nantinya diwarnai dengan banyak drama karena perselisihan yang tidak mungkin terelakkan.
Fang Yi dan Leon menggeleng bersama membayangkan hal buruk itu terjadi. Dalam sekejap mereka menjadi makhluk yang patuh dan tidak banyak mengeluh ataupun berkomentar.
"Iya, kami akan diam. Iya kan Fang Yi?" ucap Leon yang disusul anggukan oleh Fang Yi.
"Jabat tangan dulu!" perintah Sean kemudian. Tanpa menunggu lama Fang Yi dan Leon akhirnya bersalaman sambil saling melempar senyum terpaksa mereka. Leon meremas jemari Fang Yi dengan kuat saat tangan mereka saling bersentuhan, pun dengan Fang Yi melakukan gerakan yang sama. Seperti sedang adu kekuatan, mereka bersalaman dengan begitu lama dengan saling menahan sakit pada tangan mereka sendiri.
"Aku pikir kalian saling suka, tetapi gengsi. Lihatlah, berjabat tangan saja begitu lama." ucap Sean menyindir sikap Fang Yi dan Leon yang aneh itu. Menyadari perkataan Sean, mereka berdua menghentikan aksi berjabat tangannya dengan menurunkan tangan mereka secara bersamaan.
Abust dan Catherine yang melihat tingkah Fang Yi dan Leon terkikik geli. Ternyata mereka berdua bisa manis juga.
Salwa tiba-tiba menyentuh lengan Sean yang berbalut jas itu, tetapi ada yang tidak biasa dengan sentuhannya yaitu semakin lama terasa mencengkram dan mengerat di lengan Sean.
PRAAANGG...
Suara piring dan gelas pecah terdengar dijatuhkan oleh Salwa. Sean segera menoleh ke arah istrinya yang terlihat kesakitan.
Melihat pecahan gelas dan piring berserakan, Sean segera memanggil pelayan agar pecahan itu segera dibersihkan, ia tidak ingin serpihan beling itu melukai istrinya.
"Pelayan, bersihkan ini!"
__ADS_1
Seorang pelayan laki-laki berkaca mata, berambut ikal dengan dasi kupu-kupu datang sambil membawa peralatan kebersihan berjongkok memunguti pecahan beling hasil dari perbuatan Salwa.
"Sayang kau tidak apa?" ucap Sean yang terlihat begitu cemas melihat istrinya itu sangat pucat dengan menahan sakit di bagian perutnya.
"Sa...sakit mas." Salwa hanya mengatakan sakit saja dengan menahan rasa itu sambil memejamkan mata.
Sean sangat panik dengan hal itu, ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Salwa dan bayinya. Dengan cepat ia menyuruh bodyguardnya menyiapkan mobil agar segera membawa Salwa ke rumah sakit.
"Tenang, bertahanlah." Sebelum Sean membawa Salwa pergi, ia berdiri dari duduknya. Menghubungi rekannya yaitu dokter Alan untuk menyiapkan segala sesuatunya di rumah sakit, karena Sean akan membawa Salwa ke rumah sakit dimana dokter Alan bekerja.
"Alan."
"Salwa mengalami kontraksi, siapkan semuanya." Sean memastikan Salwa akan melakukan operasi caesar dengan cepat agar istrinya itu tidak menahan sakit begitu lama.
Ketika Sean menyelesaikan panggilannya dengan dokter Alan tiba-tiba Salwa kembali menjerit yang membuat semua orang panik dan histeris. Lelaki pembersih itu tiba-tiba menarik tangan Salwa lalu mendekap tubuh perempuan itu dengan pecahan beling yang runcing tak beraturan di tangannya yang siap menggores wajah Salwa.
"Jangan bergerak! Jika tidak aku akan menancapkan pecahan gelas ini ke wajah wanita hamil ini."
"Jangan, jangan celakai istiku. Apa maumu?" Sean berupaya mendekat, namun lelaki itu dengan isyarat kejamnya menusukkan sedikit pecahan beling itu di dagu Salwa, membuat Salwa meringis kesakitan.
Sean mundur, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mundur dan menunggu lengahnya lelaki keparat itu. Bodyguard di belakangnya akan bereaksi, namun Sean dengan isyarat tangannya menghentikan mereka, karena itu bisa mencelakai Salwa. Darah segar keluar dari dagu Salwa membuat Sean ingin segera melibas lelaki itu. Meskipun pecahan beling itu sudah tidak menusuk permukaan kulit Salwa, tetapi bekas tusukan itu membuat goresan di dagu Salwa.
Salwa tampak kesakitan, ia menahan rasa sakit di dagu juga kontraksi di perutnya. Sean merasa tidak berdaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Melihat begitu kesakitannya Salwa dengan wajah pucatnya menangis tanpa bisa ditolongnya.
"Mundur kalian semua." Lelaki itu tertawa terbahak-bahak sambil menyeret Salwa bersamanya. Semua orang tidak berkutik dan berada di tempat masing-masing tanpa berani maju sedikitpun.
"Apa yang kau mau, cepat lepaskan istriku. Jika tidak , aku tidak akan mengampuni nyawamu."
Lelaki itu kembali tetawa, seolah ancaman Sean itu hanyalah sebuah lelucon karena kartu as sudah di tangannya. Dengan sikap sombong lelaki itu melepas wig dan kumis palsu yang dipakainya.
Abust, Catherine dan juga Fang Yi yang melihat siapa lelaki itu terkejut tidak percaya.
__ADS_1
"Albert." ucap mereka bertiga hampir bersamaan.
Catherine berteriak lantang, ia tidak mengira mantan suaminya itu berbuat nekat seperti itu. "Apa maumu, lepaskan dia. Dia sama sekali tidak ada hubungannya denganmu."
Catherine ingin maju, namun Abust mencekalnya. Tindakan gegabah justru akan membuat semuanya semakin memburuk karena saat ini nyawa Salwa dan bayinya sedang dipertaruhkan.
Salwa mengerang kesakitan saat merasakan kontraksi yang tidak berkesudahan di perutnya. Ia mengerang dengan keras membuat Sean semakin gelisah dengan mata berkaca-kaca.
"Kau sudah gila, kalau kau ingin membunuh, bunuh saja aku. Kau sangat biadap menyiksa wanita hamil yang akan melahirkan seperti itu." Sean kembali berteriak, ingin rasanya ia menggantikan kesakitan istrinya itu, ia tidak tega melihatnya. Keringat Salwa bercucuran dengan wajah pucat dan ketakutan. Seharusnya saat ini ia berbaring di ranjang rumah sakit dengan tangan Sean menggenggamnya, memberikan kekuatan dan dorongan kepada Salwa dalam menjalani proses melahirkannya. Tetapi Salwa harus mengalami kesulitan dan kesakitan seperti ini dengan Sean yang tidak mampu berbuat apa-apa untuknya.
Di luar dugaan, Yang Pou Han yang tidak mendapat perhatian dari Albert, menyelinap ke belakang. Lelaki itu hanya fokus ke depan, yaitu dimana Sean, Leon, Abust, Catherine dan Fang Yi juga beberapa bodyguard Sean yang siaga menjaga majikannya di jarak aman.
Dengan langkah senyap Yang Pou Han sudah berada di belakang tubuh Albert lalu memukul tengkuk lelaki itu dengan kuat.
Albert goyah, ia melepaskan cengkramannya dari tubuh Salwa, membuat Salwa terdorong dan hampir jatuh. Beruntung Yang Pou Han menangkap tubuh Salwa sehingga perempuan itu tidak sampai terluka.
Salwa berada di pelukan Yang saat ini. Ia meremas kemeja Yang Pou Han yang ada di balik jas hitamnya, menahan sakit dengan memejamkan mata, mengeluarkan bulir-bulir air mata karena kesakitan akan kontraksi di perutnya.
"Bertahanlah," ucap Yang dengan lembut kepada Salwa sambil mengusap air mata yang membasahi wajah perempuan itu. Ia ingin mengecup kening Salwa saat itu, entahlah rasa sayangnya itu sampai saat ini masih ada. Meskipun ia sudah mengikhlaskan Salwa dimiliki oleh Sean, tetapi tidak dapat di pungkiri bahwa hatinya tidak rela melepaskan wanita baik-baik yang sempat akan dimilikinya dulu.
Sean yang melihat istrinya selamat segera berlari menuju Yang Pou Han yang sedang memeluk tubuh Salwa.
"Minggir, jangan sentuh Salwa." Bentaknya sambil mengambil alih Salwa dari pelukan Yang Pou Han.
Yang menipiskan bibirnya, tanpa ingin berdebat dengan Sean ia merelakan Salwa berpindah tangan, "Bawa dia segera. Biarkan kami yang disini mengurus lelaki itu."
Tanpa menunggu lama Sean segera membawa Salwa yang kesakitan itu dalam gendongannya dan berjalan cepat menuju lift yang diikuti bodyguard di belakangnya.
Albert yang terjatuh berusaha berdiri. Namun Abust segera memukulnya lagi. Ia tidak terima melihat kakak iparnya itu tersiksa dan kesakitan seperti itu. Bukan hanya Abust, di sana sudah menunggu Leon, Catherine, Fang Yi dan juga Yang Pou Han.
\=》Bersambung...
__ADS_1
Jangan tegang... masih ada lanjutannya.. Authornya udah ngantuk mau tidur 😁🤭