Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Ekstra Chapter 4 (Keluarga Bahagia part 2)


__ADS_3

Sean menggelitiki tubuh Kinan hingga anak laki-laki itu tertawa terpingkal-pingkal.


"Hey, Kinan kenapa di sini? Kakek mana?" Sean menanyai Kinan untuk mencari tahu bagaimana putra satu-satunya itu bisa tiba-tiba muncul di balik selimut.


"Ada di kamal akek," jawab Kinan sambil rebahan.


"Kinan balik ya, nanti kasihan kakek nyariin?"


Masih berharap dapat kesempatan melanjutkan yang tadi.


Kinan menggeleng lalu berguling ke arah Salwa menyandarkan kepalanya di pangkuan ibunya.


"Inan mau bobok cama buna, akek ngolok, belicik!" ucap Kinan yang membuat Salwa terkekeh.


Sean tidak kehilangan akal, ia masih berusaha mengusir bocah kecil itu dari kamar mereka.


"Kinan kan udah besar, malu. Masak udah besar masih mintak temenin buna tidur?" Sean menggelengkan kepalanya menandakan bahwa tindakan Kinan yang tidur minta ditemani adalah hal yang tidak baik.


"Ayah cuda becal juga bobok cama buna," jawab Kinan tidak mau kalah.


Salwa menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ingin tertawa mendengar perkataan Kinan, tetapi tidak tega dengan Sean yang wajahnya sudah meneegang menahan diri sejak tadi.


Sean menipiskan bibirnya, ternyata anaknya lebih cerdas dari perkiraannya. Pendiriannya sangat teguh dan tidak mudah tergoyahkan. Sean harus memutar otak kembali supaya Kinan bisa lepas dari ibunya. Dengan penuh kesabaran Sean mengangkat tubuh Kinan lalu ia dudukkan di atas pangkuannya membelakangi Salwa. Ia kemudian berbisik di telinga putranya.


"Kinan mau adik tidak? yang bisa digendong seperti ini?" Sean melakukan gerakan mengayun dengan menggunakan kedua tangan Kinan.


"Ayah bica bikin?" Mata Kinan melebar penuh rasa ingin tahu lalu dibalas anggukan oleh Sean.


"Tentu, Kinan mau berapa?" tanya Sean lagi, kali ini memperlambat suaranya agar Salwa tidak mendengar percakapan antara dua lelaki beda usia itu. Ya, mereka memang belum ada rencana mempunyai anak lagi karena Sean masih belum tega melihat kesakitan Salwa saat melahirkan. Pun demikian dengan Salwa, rasa trauma saat melahirkan belum sepenuhnya hilang dari pikirannya.


Kinan mulai menghitung menggunakan jarinya, lalu diputuskan menunjukkan semua jari yang ia punya dengan mengangkat kedua telapak tangannya.


"Cegini ayah, bica?" tanya Kinan penuh harap.


Sean menggaruk belakang kepalanya, lalu kemudian mengangguk dengan ekspresi sedih. "Tapi butuh waktu lama."


"Inan mau bantu bikin boyeh?"


Hah,


Sean mengusap kepala anaknya dengan gemas. Susah sekali mengusir Kinan dengan cara halus, diusir dengan cara kasar bisa terkena amukan Salwa. Percuma jika Kinan pergi tetapi Salwa marah sehingga membuat Sean dilema.


"Kalau bikin adik hanya boleh dua orang dewasa saja, dan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Kalau ketahuan orang lain tidak akan jadi adiknya," bisik Sean dengan menampilkan wajah sungguh-sungguh.


Kinan hanya bisa manggut-manggut saja tanpa berbicara, tetapi setelah itu bocah kecil itu kembali bertanya. "Apa becok Inan bica maen cama adek?"


Sean menepok dahinya, tetapi ide gila muncul kembali di pikirannya.


"Bikinnya lama, jadi kalau Kinan mau adeknya cepat jadi, tiap malam jangan gangguin buna sama ayah, okey?" Sean berucap dengan mengedipkan sebelah matanya dengan membuka telapak tangannya menunggu Kinan melesatkan telapak tangan mungilnya untuk melakukan tos di atas telapak tangan Sean.


"Oke," ucap Kinan dengan wajah senang.


Fiuh, berhasil

__ADS_1


"Buna, inan bobok cama akek lagi. Yang cemangat buna , ayah." Kinan dengan wajah polos memberi semangat kepada ayah dan ibunya membuat Salwa mengangkat kedua alisnya dan mengarahkan pandangannya ke arah Sean. Sean hanya mengangkat bahu seolah menunjukkan ketidak tahuannya dengan perkataan Kinan.


"Ayah antar," ucap Sean dengan menggandeng tangan Kinan.


"Inan bica cendili, ayah cepet bikinin, bial Inan ada temen buat maen baleng." Ucapan Kinan membuat Sean terkikik geli, Sean pun akhirnya melepaskan tangan Kinan.


Dengan riang Kinan berjalan ke luar kamar, Sean memantaunya dari balik pintu kamar, bagaimanapun Kinan masih berusia satu setengah tahun sehingga butuh pengawasan ekstra apalagi kamar mereka berada di lantai atas. Dan menurut Sean, Kinan terlalu cepat dewasa dengan pemikirannya yang jauh di atas usianya. Anak itu tumbuh dengan cepat, bicaranya juga lancar meskipun agak cadel tetapi Kinan menguasai banyak kosakata dalam bicaranya. Anak sekecil itu bisa memahami perkataan orang dewasa, sehingga baik Sean maupun Salwa harus lebih berhati-hati dalam berbicara karena Kinan akan dengan cepat meniru perkataan mereka.


Sean melihat Kinan kembali memasuki kamar kakeknya yang sepertinya lupa untuk ditutup. Mungkin David terlalu bahagia menghabiskan waktu bersama cucunya, juga lelah karena lamanya perjalanan membuat pria tua itu melupakan menutup pintu kamarnya sehingga dengan mudah Kinan melarikan diri.


Sean dengan hati-hati menutup pintu kamar ayahnya agar tidak menimbulkan suara lalu kembali ke kamarnya sendiri, kali ini ia tidak akan lupa mengunci pintu kamarnya itu supaya tidak akan ada penyusup kecil yang tiba-tiba masuk mengganggu acara mereka berdua.


Salwa masih menunggu di atas ranjang dengan wajah penuh rasa ingin tahu ketika melihat Sean telah kembali.


"Apa yang kau katakan kepada Kinan?" tanya Salwa dengan curiga.


Sean berjalan santai menuju ranjang di mana Salwa sedang duduk dengan selimut yang menutupi sampai batas pinggang. Tanpa tahu malu ia merebahkan kepalanya di atas paha Salwa dengan pembatas selimut tebal.


"Hanya pembicaraan antar lelaki," ucap Sean dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Kau tidak mengatakan hal yang tidak-tidak bukan?" Salwa bertanya dengan penuh selidik sambil menunduk menatap wajah suaminya yang ada di pangkuannya.


Sean terkekeh, lalu menjentikkan jarinya ke arah depan wajah Salwa.


"Sini mas bisikin sesuatu!"


Salwa mengernyitkan dahi, sambil menunduk dengan penasaran. "Bukannya kita hanya berdua, jadi mas tidak perlu berbisik bukan?"


"Mau tahu tidak?"


Sean dengan senyum jahatnya menangkap leher Salwa dengan lengannya lalu menyambar bibir istrinya dengan rakusnya, membuat gerakan ******* menikmati apa yang terhidang di depannya. Ia melanjutkan apa yang mereka lakukan sebelum kedatangan penyusup kecil itu ke kamar mereka.


Di temani temaram cahaya rembulan di balik peraduan malam yang menyelimuti bumi dengan aura dinginnya membuat dua sosok tubuh saling memberi kehangatan dengan dipenuhi rasa kasih dan cinta yang meluap-luap.


🌹🌹🌹🌹


Entah sudah berapa kali sejak pukul sembilan malam mereka melakukannya hingga Salwa sudah terlalu lelah menuruti keinginan Sean yang tak kunjung ada habisnya. Matanya mulai terpejam rapat menahan kantuk yang tak bisa dikondisikan lagi. Sean kembali merengkuh tubuh Salwa dalam pelukannya dengan senyum mengembang.


Biasanya Kinan selalu membuatnya kerepotan untuk sekedar memadu kasih dengan istrinya, tetapi kesempatan langkah kali ini tentu tidak akan disia-siakannya sehingga tubuh Sean menagih untuk terus bersentuhan dengan istrinya seolah tidak ada hari esok lagi.


Jam sudah menunjukkan waktu pukul dua belas malam. Sean menepuk-nepuk perlahan pipi Salwa sekedar membangunkan istrinya itu yang sudah terlelap. Keningnya mengernyit menandakan protes karena tidak rela tidurnya terusik.


Tidak berhenti sampai di situ, Sean mengguncang bahu polos Salwa lebih keras agar istrinya segera tersadar dari kantuknya.


Dengan malas, akhirnya Salwa memutuskan untuk sedikit membuka matanya yang terasa begitu berat. Matanya menyipit lalu mengerjap beberapa kali mengumpulkan kesadaran yang sempat tercecer di alam mimpi.


"Happy Annyversary." bisik Sean lembut di telinga Salwa.


Salwa mengucek kedua matanya lalu menatap netra biru suaminya yang saat ini tengah memandangnya. Kantuk yang sedari tadi menyerang seolah terkikis dengan sendirinya mendengar ucapan Sean kepadanya.


"Kau mengingatnya?" tanya Salwa hampir tidak percaya.


"Tentu, tidak."

__ADS_1


Hemm


Salwa menghembuskan napasnya kasar lalu berpaling memunggungi Sean, merajuk.


Sean tersenyum lalu mengeratkan pelukannya dengan menempelkan tubuhnya di punggung Salwa yang tidak berpenghalang dengan dagu melekat di antara bahu dan leher Salwa.


"Tentu saja ingat, mana mungkin aku melupakan hari spesial kita. Hari di mana pertama kali aku menyentuhmu, merasakan hal yang belum pernah aku rasakan."


"Merasakan apa?" tanya Salwa sambil berbalik menghadap Sean.


"Merasakan bercinta dengan seorang gadis yang masih suci dan polos," gumam Sean dalam hati.


" Tentu saja merasakan cinta." Akhirnya kata itu yang terpilih dan berhasil keluar dari bibir Sean.


Salwa tersenyum dengan wajah merona, meskipun tidak terlihat karena pencahayaan yang kurang hanya ada seberkas sinar rembulan yang mampu menerobos di balik jendela kaca.


"Emm, hadiah apa yang kau inginkan, katakanlah!" ucap Sean kemudian setelah menikmati raut wajah Salwa yang tersipu.


"Kau mengingat hari ini dan selalu ada bersamaku dan Kinan itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak menginginkan apa-apa lagi."


"Aku tahu, kau pasti akan mengatakan itu. Jadi aku sudah memutuskan..." perkataan Sean terdengar mengambang membuat Salwa tak sabar sehingga harus mengulang perkataan Sean agar suaminya itu segera melanjutkan kalimatnya.


"Memutuskan?"


"Iya, bagaimana jika kita merayakan ulang tahun pernikahan kita malam ini dengan..." Sean menjeda kalimatnya membiarkan Salwa menerka apa yang akan direncanakannya. "Bercinta sampai pagi."


"Apa?" Salwa seketika terkejut dengan ide gila Sean itu.


"Apa menurutmu kurang? Okey, baiklah, kita bisa melakukannya sampai pagi, siang, sore bahkan sampai malam lagi. Karena besok aku luangkan seharian untukmu, dan Kinan biar bersama kakeknya sehingga tidak ada yang bisa mengganggu kita untuk bercinta, bercinta dan bercinta lagi."


"Maaasss!"


Salwa meneriaki Sean dengan kesal, membayangkan mereka melakukannya sampai pagi saja sudah membuatnya pusing, apalagi harus ditambah besok seharian penuh, akan jadi apa Salwa nantinya.


"Hahaha, aku hanya bercanda," ucap Sean dengan tertawa tanpa dosa. Salwa dengan gemas menggelitik perut dan pinggang suaminya itu tanpa jeda sehingga Sean harus mengeliat merasakan geli yang tak berkesudahan.


"Sayang, ampun-ampun."


Melihat Sean kewalahan, akhirnya Salwa menghentikan ulahnya itu sehingga Sean bisa menghela napas dengan panjang.


Sean menangkap kedua tangan Salwa lalu dikecupnya kedua telapak tangan istrinya itu.


"I love you."


"I love you too." jawab Salwa dengan menenggelamkan wajah meronanya di dada suaminya.


Mereka pun tertidur dengan berpelukan merasakan kenyamanan dengan tubuh saling menempel erat tanpa ada penghalang sedikit pun di bawah dinginnya malam dan disinari cahaya rembulan.


....


Belum 2000 kata lebih sih, tp author post dulu lah..


Jujur ya, suka baca part pendek-pendek apa yang panjang-panjang? Karena ada yang bilang kalau kepanjangan gak enak bacanya? bener nggak sih?

__ADS_1


Kasih like dan komentar dulu sebelum lanjut ke ekstra chapter selanjutnya 😘


__ADS_2