Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Ekstra Chapter 3 (Keluarga Bahagia Part 1)


__ADS_3

Sudah tahun ke empat pernikahan mereka berjalan. Kinan sudah berusia satu tahun lebih enam bulan, batita lucu itu sudah bisa berjalan sendiri tanpa dipegangi orang-orang di sekelilingnya. Wajahnya makin lama makin persis dengan ayahnya, hanya dengan melihat saja semua orang tahu bahwa Kinan adalah anak Sean tanpa harus melihat akta kelahirannya. Celotehan khas batita yang selalu diucapkan oleh Kinan mewarnai kehidupan baik Sean maupun Salwa membuat keduanya tak henti-hentinya mengucap syukur karena telah dikaruniai seorang anak yang pintar dan sehat.


Sean ingin memberikan kejutan untuk istrinya yang sudah mendampinginya selama ini dengan penuh kesabaran. Ya, kejutan manis di hari ulang tahun pernikahan mereka yaitu sebuah pesta perayaan yang akan dihadiri kolega bisnis dan teman-teman Salwa tentunya. Setidaknya setelah ini semua orang tahu bahwa Salwa Humaira adalah milik Sean Paderson.


Sean sudah muak dengan masih banyak kenalan Salwa yang sering memandang sebelah mata istrinya itu, dan yang paling menjengkelkan adalah banyak juga lelaki di luar sana yang sengaja mendekati Salwa saat ia keluar rumah bersama Kinan. Melihat itu tentu saja Sean tidak akan tinggal diam, sehingga secepatnya ia akan melakukan pengumuman bahwa Sean adalah suami Salwa, dan Salwa adalah istri Sean. Begitulah kiranya.


"A..yah!" Kinan buru-buru turun dari gendongan Salwa saat melihat Sean baru pulang bekerja.


Salwa sengaja mengajari Kinan dengan panggilan ayah dan bunda, meskipun berwajah bule anaknya harus tetap mencintai negaranya. Negara sang ibu pastinya, meskipun begitu Sean sama sekali tidak mempermasalahkannya karena ia tahu apapun yang diajarkan Salwa kepada anaknya adalah pelajaran yang baik dan akan berguna ke depannya.


Sean menangkap tubuh mungil Kinan lalu mencium pipi gembul anak laki-lakinya dengan penuh sayang. Salwa yang melihat kedatangan Sean pun segera menyambut suaminya itu dengan mencium punggung tangannya lalu mengambil alih tas kerja Sean untuk ia bawa. Sean menangkup kepala Salwa dengan satu tangannya lalu mencium kening Salwa dengan sayang. Ritual harian yang terlihat sederhana tetapi sangat manis jika dirasakan.


Sean menggendong Kinan menggunakan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak melepas genggaman tangan Salwa. Mereka berjalan menaiki anak tangga bersama untuk menuju kamar utama.


"A..yah, buna nakal." Kinan mulai mengaduh kepada Sean , kebiasaan sehari-hari saat anak lelaki itu sedang merajuk kepada ibunya, selalu mengadu kepada ayahnya saat pulang bekerja.


Sean menaikkan alisnya lalu tersenyum lembut. "Buna yang nakal atau Kinan?"


"inan baik, buna nakal. Inan mo escim gak boyeh cama buna." Wajah Kinan terlihat sangat lucu dengan pipi menggembung seolah mengiba ingin mendapatkan dukungan dari ayahnya.


Salwa dan Sean ingin tertawa tetapi mereka berusaha menahannya, sebagai orang tua yang baik gak boleh kan menertawai anak yang sedang merajuk?


"Kinan tadi kan gak mau sikat gigi, jadi gak boleh makan es krim," ucap Salwa mengingatkan Kinan dengan kejadian yang sebenarnya.


"Tuh, jadi siapa yang nakal?" tanya Sean kepada Kinan.


Kinan menunduk dengan wajah sedikit muram. Sean melepaskan genggaman tangan Salwa lalu duduk di sisi ranjang dengan memosisikan Kinan berada di pangkuannya. Sean mengeluarkan ponsel dari saku jasnya lalu ia mencari gambar di mesin pencari dengan kata kunci "gigi berlubang".


Muncullah banyak gambar yang terlihat menjijikkan dan membuat mual orang yang melihat. Dengan senyum yang ditahan, Sean menunjukkan gambar tersebut kepada anak semata wayangnya itu.


"Nih lihat, kalo Kinan gak mau gosok gigi nanti giginya jadi seperti ini."


Kinan menoleh ke arah ponsel lalu mengernyitkan dahi, setelah itu ia menutup rapat-rapat matanya dengan kedua tangannya.


"Ayah.. tatut," ucap Kinan sambil mendorong-dorong ponsel milik Sean.


Sean dan Salwa tersenyum melihat tingkah Kinan yang polos itu, keduanya saling pandang sambil melempar senyum.


"Jadi, Kinan mau sikat gigi atau tidak?" tanya Sean kemudian sambil menunduk memandang wajah putranya yang ada di pangkuannya.


Kinan melepaskan sedikit telapak tangannya dari wajah mungilnya guna memeriksa apakah ponsel ayahnya masih menyala atau tidak. Setelah dirasa ponselnya sudah tidak ada di hadapannya barulah Kinan mau melepaskan kedua tangannya yang menutupi wajahnya.


Kinan mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Sean dan hal itu membuat Sean mengulang kembali pertanyaannya.


"Mau sikat gigi atau tidak?" tanya Sean lagi dengan penuh kesabaran.


"Mau ayah."


"Mau minta maaf sama buna?" Sean kembali menanyai Kinan, kali ini putranya itu langsung mengedarkan pandangannya ke arah Salwa.


Salwa pura-pura merajuk dengan menggembungkan pipinya meniru gaya Kinan. Dengan ragu Kinan mengangguk lalu meminta diturunkan dari pangkuan Sean. Kinan melangkah dengan kaki mungilnya menapaki karpet bulu yang membentang di lantai, menuju ke arah Salwa berdiri.


"Buna..." Kinan menarik ujung baju Salwa agar ibunya itu mau melihatnya.


Salwa menaikkan alisnya lalu sedikit menunduk menunggu apa yang akan dilakukan Kinan kepadanya.


"Buna... maap, Inan mau cikat gigi. Buna ayo cenyum cama Inan." Kinan berusaha mencari perhatian Salwa dengan terus menarik ujung baju ibunya. Salwa hampir tergelak melihat tingkah lucu putranya, ia membungkuk lalu mencolek hidung Kinan dengan gemas.


"Janji Kinan gak nakal lagi?" tanya Salwa sambil berjongkok menyetarakan tinggi badannya dengan tinggi badan Kinan lalu menyodorkan jari kelingkingnya ke arah Kinan.


Kinan tersenyum lalu mengaitkan jari kelingking mungilnya ke jari Salwa. "Janji," ucapnya dengan riang.


"Sini peluk dulu."


Salwa merentangkan kedua tangannya yang membuat Kinan dengan cepat berhambur ke dalam pelukan ibunya. Sean yang melihat anak dan istrinya saling berpelukan tersenyum bahagia. Kehangatan keluarga seperti inilah yang sejak dulu ia idam-idamkan dan akhirnya ia bisa mendapatkannya.


TOK-TOK-TOK

__ADS_1


Salwa menoleh ke arah pintu, tetapi Sean lebih dulu beranjak untuk membukakan pintu kamarnya.


"Ayah," ucap Sean menyapa David yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Aku tidak terlambat bukan?"


David dan Marcus datang untuk memberi kejutan, sekaligus ingin menghadiri pesta ulang tahun pernikahan Sean dan Salwa yang sampai saat ini masih menjadi rahasia. Karena Sean ingin hal itu sebagai kejutan yang manis untuk istrinya itu di hari spesialnya nanti.


Mengingat pernikahan mereka hanya dilakukan di kantor pencatatan sipil dan hanya dihadiri oleh Leon dan Abust juga beberapa anak buah serta bodyguard-nya membuat Sean ingin membuatkan pesta yang layak untuk istrinya itu. Meskipun Salwa tidak pernah memintanya, tetapi melihat bagaimana Salwa begitu menyukai dekorasi indah di pernikahan Catherine dan juga Abust, tentulah Sean mengerti bahwa Salwa juga menginginkan perayaan seperti itu hanya saja perempuan kesayangannya itu terlalu malu mengungkapkannya, sehingga Sean berinisiatif untuk memberi kejutan indah di hari ulang tahun pernikahan mereka.


"Tentu saja tidak," ucap Sean seraya memeluk David. Kedua lelaki beda usia itu saling membalas pelukan kemudian melempar senyum.


Salwa yang melihat kehadiran ayah mertuanya secara tiba-tiba segera menggendong Kinan lalu berjalan menghampiri David.


"Ayah," ucap Salwa dengan meraih tangan David untuk dicium punggung tangannya. Pun dengan Kinan melakukan hal yang sama, tangan mungilnya menangkap tangan kakeknya untuk diciuminya. David yang melihat kesopanan menantu dan cucunya itu tersenyum lembut. Sean tidak salah memilih seorang istri.


"Kinan mau main sama kakek?" tanya David ketika Kinan hendak melepaskan tangannya dari tangan David.


"Ayah, apakah kau tidak lelah ingin mengajak Kinan bermain? Kau juga baru datang bukan? beristirahatlah dulu," ucap Sean yang mencemaskan kesehatan ayahnya.


"Sudahlah, berhenti mengkhawatirkanku. Aku hanya merindukan cucuku." David membungkuk lalu membisikkan sesuatu kepada Kinan yang membuat anak laki-laki bermata biru itu langsung tersenyum memperlihatkan gigi-gigi susunya yang baru tumbuh.


"Inan itut akek, Inan itut akek!" ucap Kinan sambil melompat kegirangan.


Sean dan Salwa saling pandang, heran dengan tingkah Kinan setelah mendapat bisikan dari kakeknya.


"Sudah, Kinan mau aku ajak tidur. Kau urus istrimu saja!" David berkata sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Sean membuat lelaki itu terkekeh dan mengerti dengan maksud ayahnya.


David mengajak Kinan pergi, sementara Sean segera menutup pintu kamarnya. Dengan senyum yang tidak bisa diterjemahkan Sean memeluk Salwa dari belakang.


"Temani mandi yuk?" ucap Sean dengan manja.


"Mas sudah makan?" tanya Salwa sambil berbalik arah menghadap Sean. Tanpa ingin melepas pelukannya Sean tetap mempertahankan tangannya melingkar di pinggang Salwa.


"Mau makan di kamar mandi."


"Karena menunya spesial malam ini."


Mendengar perkataan Sean, Salwa bisa menebak ke mana arahnya membuat wajahnya langsung merona.


"Jangan di kamar mandi, cuacanya sangat dingin. Lebih baik di .... atas ranjang saja," ucapnya malu-malu.


Sean terkekeh, wajah Salwa yang memerah membuatnya tidak tahan untuk menciumi rona merah itu. Kemudian Sean berbisik di telinga Salwa.


"Hey, Aku hanya ingin kau membantuku untuk menggosok punggungku saja, tadi aku membeli ayam bakar kesukaanmu, memang bisa makan di atas ranjang?"


Perkataan Sean itu membuat Salwa ternganga, wajahnya makin memerah karena pikirannya sudah mengarah ke sana, padahal Sean hanya memintanya untuk menggosok punggungnya saja. Salwa buru-buru menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil membenamkan wajah malunya di dada suaminya itu.


Mungkin otak Salwa sudah mulai kotor karena terlalu banyak terkontaminasi oleh otak mesum suaminya.


🌹🌹🌹🌹


Sean menyelesaikan makan malamnya bersama Salwa tanpa ada gangguan sedikit pun dari Kinan yang terkadang selalu mengusik acara makan malam mereka yang terlewat batas waktunya karena Sean sering pulang malam. Tetapi karena hari ini David menawarkan diri untuk mengajak Kinan untuk tidur bersamanya membuat sepasang suami istri itu memiliki qualitu time mereka sendiri.


Setelah makan malam, Sean berselonjor di sofa panjang yang ada di sudut kamarnya sambil memeriksa berkas-berkas yang belum sempat ia kerjakan. Sementara Salwa berganti pakaian tidur untuk kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang sambil memeriksa ponselnya.



Salwa melihat penanggalan yang ada di ponselnya, ia menandai dengan jelas bahwa esok adalah hari ulang tahun pernikahan mereka. Ia menatap ke arah Sean yang sepertinya sangat sibuk dengan pekerjaannya. Salwa mendengus dengan menghela napasnya kasar, mungkin Sean melupakannya karena terlalu banyak pekerjaan yang ditanganinya. Ya, Salwa mencoba mengerti akan hal itu. Tetapi masih ada rasa ingin diperhatikan dalam dirinya mengingat momen-momen penting dalam kehidupan mereka.


"Mas!" panggil Salwa dari atas ranjang.


"Hemm." Sean hanya berhemm ria tanpa menoleh sedikit pun ke arah Salwa, dan itu membuat Salwa menjadi kesal saja.


"Besok hari apa?" tanya Salwa mencoba memancing supaya Sean mengingat hari spesial itu.


"Rabu," jawabnya singkat.

__ADS_1


"Tanggal berapa?"


"Dua belas," jawab Sean sekenanya.


"Hari rabu tanggal dua belas ada apa?"


"Ada apa?" Sean malah balik bertanya.


Melihat reaksi Sean tidak seperti yang ia harapkan membuat Salwa menyerah enggan melanjutkan perkataannya sehingga ia memilih mengakhiri percakapannya dan memilih tidur.


"Lupakan!" ucapnya dengan merebahkan tubuhnya lalu menutupi keseluruhan dirinya hingga kepala menggunakan selimut. Kesal.


Sean terkekeh, ia tidak menyangka bisa mengerjai istrinya seperti itu. Sean meletakkan semua berkas-berkas yang ia periksa dan menyimpannya di sebuah map besar. Ia memandang ke arah Salwa lalu berjalan menghampiri istrinya yang sedang merajuk itu. Perlahan ia membuka selimut yang menutupi wajah istrinya yang pura-pura tertidur.


"Sudah tidur?"


Salwa bergeming enggan membuka mata, matanya tetap terpejam erat tanpa ingin diganggu. Sean tidak kehilangan akal, ia menelusupkan tubuhnya di belakang Salwa mengambil posisi miring tidur di bawah selimut yang sama.


Dengan nakal ia menelusuri tengkuk, leher, bahu dan lengan Salwa menggunakan bibirnya membuat Salwa tidak bisa menahan sentuhan ringan itu karena bulu halusnya berdiri sempurna. Meskipun matanya ia pejamkan dengan rapat tetapi reaksi alami tubuhnya tidak bisa disembunyikan.


Sean kembali merapatkan pelukannya di belakang punggung Salwa , menghadiahi kecupan-kecupan lembut di ceruk leher istrinya itu membuat Salwa mengeliat kegelian. Dengan sedikit kesal tetapi juga merasa menikmati sentuhan suaminya membuatnya tak bisa menahan untuk tidak membuka mata.


Sean menarik bahu Salwa membuat perempuan itu di posisi terlentang, sementara dirinya tetap tidur miring dengan menggunakan sikunya sebagai tumpuan kepalanya.


"Menyebalkan," ucap Salwa dengan memasang wajah ketusnya.


Bukannya takut Sean justru semakin gemas melihat ekspresi lucu Salwa yang sedang merajuk. Perlahan ia menunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Salwa lalu membenamkan bibirnya ke bibir istrinya yang sedang menggembung itu. Disesapnya dengan keahlian berciumannya, mencoba mempertahankan kepala Salwa supaya menghadapnya dengan menekan tengkuknya supaya tidak terlepas.


Seperti biasa, perempuan itu selalu terlena dengan perlakuan Sean kepadanya. Tubuhnya selalu bereaksi berlebihan saat Sean mulai menyentuh daerah di titik-titik tertentu membuat Salwa selalu kehilangan akal. Ia tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak mengeliat ataupun mengeluarkan desahan di bibirnya.


Sean tersenyum penuh kemenangan melihat istrinya sudah tergoyahkan kekesalannya. Ia menarik sudut bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman.


"Apa kau ingin bercinta?" tanya Sean dengan berbisik di telinga Salwa menggunakan suara serak dan sensual.


Salwa buru-buru menggeleng, tidak ingin tergoyahkan dengan rasa kesalnya karena Sean melupakan hari penting mereka. Meskipun ia membenci tubuhnya sendiri yang tidak bisa diajak kerja sama. Sean selalu bisa menaklukkan tubuh polos Salwa yang tidak sanggup menahan godaan darinya.


Sean tersenyum melihat kekeras kepalaan istrinya itu. Ia terus menggoda dengan menelusupkan jemarinya ke dalam gaun tidur Salwa, membelai dengan lembut di bagian-bagian tertentu dengan tetap menghembuskan hawa panas di sekujur kulit Salwa yang terbuka.


Salwa merasa tidak tahan, Sean benar-benar keterlaluan memaksakan tubuh Salwa bergerak di luar kemauan Salwa sendiri.


"Lihatlah, kau menolak dengan keras tetapi tubuhmu berkata lain," ucap Sean tampak menertawai istrinya itu.


Salwa menarik selimutnya yang terbuka karena ulah Sean, lalu menatap tajam ke arah suaminya itu.


"Aku membencimu!" ucap Salwa sambil menutup kembali kepalanya dengan selimut.


Sean melirik ke arah lampu, berdiri sebentar untuk kemudian mematikan lampu kamarnya. Sekelebat bayangan tiba-tiba muncul, namun Sean enggan menghiraukannya.


Rasa nyeri di bawah Sana membuatnya ingin melanjutkan keinginannya untuk menghabiskan malam bersama Salwa. Ya, tadinya ia hanya ingin menggoda karena besok ia akan memberikan kejutan manis untuk istrinya itu. Tetapi godaan yang ia berikan justru membuatnya tidak sanggup untuk menahan diri. Ia terlupa bahwa kelemahannya yaitu tidak bisa menahan diri jika sudah terlanjur menyentuh istrinya, sehingga sekarang tidak ada yang bisa ia lakukan selain menuntaskan keinginannya untuk segera menyatu.


Sean membuka selimut Salwa, memaksa Salwa untuk duduk dari pembaringannya. Diraihnya kepala istrinya itu lalu dengan sikap kasar bercampur lembut ia benamkan bibirnya memagut bibir manis Salwa yang terasa seperti candu baginya. Tangannya sudah menelusup ke dalam gaun tidur istrinya, mematahkan pertahanan Salwa akan kekeras kepalaannya yang sedang merajuk kepada suaminya sehingga keduanya larut dalam permainan mereka sendiri di tengah gelapnya malam tanpa cahaya lampu, hanya sedikit sinar rembulan yang menerobos di jendela kaca mereka yang menerangi ruangan gelap itu.


"CILUK BAAA."


Suara cadel itu membuyarkan seemuanya. Sean langsung melepaskan ciumannya juga pelukannya dari tubuh Salwa lalu merebahkan tubuhnya melemas.


Ternyata Kinan telah bersembunyi di bawah selimut mereka lalu mengagetkan Sean dan Salwa dengan wajah tanpa dosa.


"Ayah cama buna lagi main apa?" tanya Kinan dengan polosnya.


Sean dan Salwa akhirnya tertawa sambil menahan rasa sedikit kesal karena Kinan muncul di saat yang tidak tepat.


.....


Ya Ampuun... gagal gaess...😅


Kasih like dan komentar dulu sebelum lanjut ekstra part selanjutnya. (tinggal dua lagi ya, jadi pas lima.. hahaha)

__ADS_1


__ADS_2