
Sesuai dengan apa yang diperkirakan Salwa mereka datang terlambat, bukan lima menit seperti yang dijanjikan oleh Sean melainkan tiga puluh lima menit dari waktu dimulainya acara. Itu semua terjadi karena Sean tidak mau kalah dengan baby Kinan.
Sean meminta haknya kembali setelah Salwa selesai menidurkan anaknya itu, melanjutkan sesuatu yang sebelumnya telah mereka mulai dan berhenti di tengah jalan karena suatu keadaan. Dengan begitu mereka berdua harus membersihkan diri lagi secara bergantian karena salah satunya harus menjaga baby Kinan.
Kini mereka tiba di SMA negeri delapan saat acara sudah dimulai. Mungkin karena semua sedang asik menikmati acara sehingga tidak menyadari keberadaan Salwa dan Sean di tempat itu. Sean memerintahkan sopirnya untuk memarkir kendaraannya terlebih dulu sementara Sean dan Salwa juga baby Kinan menuju lapangan tengah di mana tempat berlangsungnya acara.
"Sayang, kau bisa mencari tempat duduk terlebih dulu. Aku akan menemui kepala sekolah." Sean berucap untuk berpamitan kepada Salwa yang langsung diikuti anggukan oleh perempuan itu.
"Iya, aku mengerti."
Sean merupakan tamu kehormatan yang sedang di tunggu-tunggu oleh seluruh peserta reuni atau para alumni yang saat ini menghadiri acara. Ya, Sean adalah sponsor utama dan pemilik perusahaan multi nasional yang saat ini menawarkan kerjasama beasiswa untuk siswa berprestasi dan menerima karyawan baru untuk alumni yang sudah lulus dari perguruan tinggi untuk diletakkan di bagian-bagian tertentu yang masih kosong di perusahaannya.
Sean melakukan itu sebagai wujud terima kasihnya kepada sekolah tersebut yang telah memberikan kesempatan Salwa untuk mengenyam pendidikan dengan mendapatkan beasiswa sehingga istrinya itu tidak perlu membayar uang iuran sekolah selama menjadi siswa di sekolah itu. Tentu Sean masih mengingat dengan jelas bagaimana Angela mengusik dan mengungkit kembali tentang beasiswa yang diberikan oleh pihak sekolah kepada Salwa seolah istrinya itu mempunyai hutang besar kepada sekolah tersebut.
Sean tidak akan membiarkan orang lain merendahkan istrinya seperti itu, sehingga ia memberikan lebih berkali-kali lipat untuk menghapus semua rasa hutang budi yang ada di benak Salwa yang sempat ditancapkan melalui perkataan pedas dan tajam Angela.
Salwa berjalan ringan sambil bersenandung kecil dengan memosisikan baby Kinan menghadap ke depan layaknya bayi kanguru yang sedang digendong ibunya. Bayi laki-laki itu tampak tertawa dengan sekali mengayunkan tangan dan kedua kakinya yang terbebas ke udara seolah menunjukkan bahwa ia sedang berbahagia.
Langkah Salwa terhenti di kala kakinya sudah berada di area tenda yang besar dengan panggung di depannya. Tampaklah seorang penyanyi yang sedang naik daun melantunkan suaranya yang merdu membuat semua orang yang melihatnya ikut mengayunkan tangan sambil bernyanyi.
Mata penyanyi laki-laki itu yang sebelumnya terpejam menikmati petikan gitar bersamaan dengan lantunan suaranya yang merdu kini terbuka. Dengan tetap bernyanyi matanya menatap lurus ke arah Salwa yang membawa baby Kinan dalam gendongannya. Mata mereka saling bertemu dan senyum tulus tetukir di wajah Salwa maupun penyanyi laki-laki itu.
Akhirnya mereka bertemu kembali, namun kali ini dalam suasana berbeda dan kondisi berbeda pula. Ya, penyanyi itu adalah Alvaro. Lelaki itu sudah bisa melepaskan perasaannya yang terpendam untuk Salwa, bahkan orang tuanya membiarkannya untuk menyalurkan hobinya agar ia bisa kembali menjadi manusia yang mempunyai semangat hidup setelah putus cinta.
Varo berjuang keras dengan mengawali karirnya sebagai penyanyi cover. Dia meng-cover beberapa lagu untuk kemudian ia upload ke situs video dan ternyata mendapat respon positif di kalangan masyarakat. Sejenak Varo merasa saat ia membuat video-video rekaman dengan bernyanyi menggunakan perasaannya yang membuat semua orang yang mendengar ikut hanyut dalam lagu yang sedang ia nyanyikan, Varo selalu merasa lebih baik. Hal itu menjadikannya membuat banyak video-video lain untuk mengekspresikan perasaannya sekaligus sebagai pelampiasan dan pelarian hatinya.
Dengan memiliki modal ketampanan dan suara yang indah banyak label industri rekaman yang menawarinya untuk melakukan kerjasama. Hingga dalam kurun waktu yang singkat lelaki itu berhasil mengeluarkan single terbarunya yang berjudul "kisah kita" yang saat ini tengah ia nyanyikan. Dan bisa ditebak darimana inspirasi lagu itu berasal. Tidak lain dan tidak bukan adalah perempuan yang saat ini sedang tersenyum menatapnya sambil membawa seorang bayi lucu dan menggemaskan.
Semua orang yang hadir berdiri sambil bertepuk tangan meriah bersamaan siulan-siulan nakal setelah Varo menyelesaikan satu lagunya. Lelaki itu mengangguk dan menunduk sopan kemudian melangkah menuruni anak tangga untuk beristirahat dan digantikan oleh penyanyi lain.
Salwa yang masih berada di pintu masuk segera maju untuk mencari tempat duduk. Beberapa pasang mata menatap ke arah Salwa yang membawa seorang bayi merasa tidak suka. Ada yang berbisik, ada yang mencibir dan ada pula yang sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar banyak orang.
Tapi banyak juga laki-laki yang menatapnya penuh kekaguman. Salwa memang terlihat cantik hari ini, pakaiannya yang tertutup dengan design khas remaja ditambah riasan tipis di wajahnya membuat aura kecantikannya kian terpancar.
"Hay, kamu Salwa bukan? Kalau mau mengasuh bayi jangan di tempat ini," ucap salah satu teman perempuan Salwa yang memang punya karakter mem-bully dalam dirinya. Sudah banyak beredar bahwa Salwa telah menjadi seorang tenaga kerja wanita di luar negeri. Melihat Salwa menggendong seorang bayi dengan wajah bule membuat mereka tambah yakin bahwa Salwa saat ini membawa anak majikannya untuk menghadiri acara reuni akbar itu.
Salwa hanya tersenyum enggan menanggapi perkataan temannya itu. Ia kembali mencari tempat duduk yang kosong untuk ia tempati sambil menunggu Sean yang sedang berurusan dengan pihak kepala sekolah.
Setelah ia menemukan kursi kosong, Salwa segera berjalan ke arah kusi kosong itu, namun dengan sikap kurang ajar seorang laki-laki mengambil kursi tersebut untuk dirinya sendiri.
"Sorry nona, silahkan cari yang lain." Lelaki itu menggunakan kursi tersebut sebagai tumpuhan untuk kedua kakinya agar bisa berselonjor dengan nyaman.
"Apa kau bisa meletakkan kedua kakimu di bawah?" Salwa nampak merah padam melihat lelaki itu bergeming tanpa peduli dengan apa yang ia katakan. Masalahnya ia sudah pegal karena berdiri terlalu lama sambil menggendong baby Kinan, jadi lebih baik Salwa harus mempertahankan kursi yang sebelumnya sudah ia incar tanpa peduli dengan sikap tidak bersahabat teman-temannya.
"Sony, apa telingamu masih berfungsi dengan baik?" teriak Salwa lagi sedikit lebih keras kepada laki-laki yang ternyata bernama Sony itu.
Sony adalah salah satu teman Angela, mereka termasuk satu geng dengan level membully tingkat atas. Salwa salah satu yang pernah menjadi korbannya dan demi keamanan dirinya sendiri Salwa dan beberapa temannya yang lain yang biasa menjadi sasaran bullying lebih memilih menghindar daripada berurusan dengan geng Angela.
Lelaki itu mengerutkan alisnya lalu kemudian terangkat ke atas. "Apa kau sedang meneriakiku pelayan maksudku pengasuh?" ucap Sony sambil tersenyum miring ke arah Salwa dengan menampilkan raut muka mengejek.
Salwa menghela napasnya kasar, ia membalikkan badan baby Kinan yang tadinya menghadap ke depan sekarang berubah menghadapnya.
"Kalau aku pengasuh memangnya kenapa? Apa masalahmu!"
"Ckk, kau sekarang sudah bisa bicara ya?"
__ADS_1
Sony beranjak dari duduknya, menurunkan kedua kakinya untuk kemudian melangkah mendekati Salwa. Salwa sedikit memundurkan tubuhnya, wajah Sony terlihat mengerikan dengan menunjukkan senyum yang paling dibenci Salwa, senyum mesum.
"Jangan mendekat! Apa kau tidak bisa melihat, jika aku sedang menggendong bayi?"
Salwa tetap berjalan mundur menghindari Sony, tetapi lelaki itu seolah sengaja ingin menakut-nakuti Salwa dengan terus saja berjalan ke arahnya, hingga Salwa menabrak seseorang di belakangnya.
Salwa menoleh ke belakang, bermaksud ingin meminta maaf tetapi pergerakannya ditahan oleh tangan yang menempel di kedua bahunya.
"Jangan mengganggunya jika kau masih sayang dengan nyawamu!" Seseorang yang ditabrak oleh Salwa tadi ternyata Varo, lelaki itu mencengkram kedua bahu Salwa untuk memastikan bahwa perempuan itu berada dalam lindungannya.
"Varo, ayolah. Aku hanya ingin bermain-main!"
Sony berekspresi santai tapi tampak menjengkelkan dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah Salwa.
"Pergi, jangan mengganggunya!"
Varo kembali membentak Sony, dan hal itu berhasil membuat nyali Sony menciut. Tidak mungkin ia berhadapan dengan Varo, karena ia sangat tahu seberapa kaya dan berpengaruhnya keluarga Varo. Apalagi ia menghadiri acara ini karena tergiur dengan perusahaan yang sedang ingin merekrut karyawan dari alumni SMA Negeri delapan.
"Baiklah-baiklah, dia milikmu!" jawab Sony dengan mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah.
"Terima kasih," ucap Salwa sambil melepas tangan Varo yang masih berada di pundaknya.
"Maaf, aku tidak sengaja menyentuhmu."
"Tidak apa, aku akan mencari tempat duduk."
Salwa melihat kursi yang diduduki Sony tadi sudah kosong juga kursi yang tadinya ingin ia pakai. Ia berjalan ke arah kursi tersebut untuk sejenak mengistirahatkan kakinya.
Ia membaringkan baby Kinan dalam pangkuannya dan menjadikan lengannya untuk menumpu kepala lalu mengambil botol susu di dalam tas selempangnya untuk kemudian ia berikan kepada anaknya. Kinan dengan lahap menyedot susu yang merupakan asi Salwa yang diletakkan di dalam botol tersebut.
"Apakah aku boleh bergabung?" Varo ternyata mengikuti Salwa di belakangnya lalu tanpa persetujuan langsung menduduki kursi yang ada di samping Salwa. Tidak ada yang bisa Salwa lakukan selain mengangguk mempersilakan Varo menggunakan kursi tersebut.
"Apakah kau datang seorang diri?"
"Tidak, aku bersama suamiku," jawab Salwa dengan memberikan minum baby Kinan yang tampak sedikit mengantuk, tatapan matanya tidak beralih dari wajah anak tampannya, karena Salwa sudah terbiasa menatap mata putranya saat memberinya makan.
"Aku tidak melihatnya." Varo kembali mengedarkan pandangan ke seluruh peserta reuni tetapi tetap tidak mendapati suami Salwa.
"Dia sedang ada di ruangan kepala sekolah, sebentar lagi akan menyusul kemari."
"Apakah perusahaan suamimu yang melakukan kerjasama dengan sekolah ini?" tanya Varo memastikan.
Salwa mengarahkan tatapannya ke arah Varo lalu mengangguk.
"Dia bilang ingin berterima kasih kepada sekolah ini karena mau memberiku beasiswa saat itu dengan cara memberikan beasiswa anak-anak yang berprestasi yang tidak mampu melanjutkan kuliah."
Salwa tampak mengembangkan senyumnya saat mengatakan hal mulia yang dilakukan suaminya. Terlepas apapun alasannya, ia bersyukur Sean mau berbagi dengan memikirkan nasib orang lain.
"Dia pasti sangat mencintaimu," ucap Varo dengan nada yang mengambang. Sekali lagi ia dipertunjukkan kenyataan bahwa Salwa sangat dicintai oleh suaminya.
"Dua orang yang memutuskan untuk saling berumah tangga sudah pastinya harus mencintai pasangannya. Kau juga akan mengalami hal yang sama. Merasakan dicintai dan mencintai pasangan halalmu."
"Semoga aku bisa mendapatkannya," ucap Varo dengan mengulas senyumnya.
"Hei, bidadari datang," teriak salah seorang teman laki-laki mereka setelah melihat seorang wanita baru muncul di pintu masuk. Semua orang langsung mengalihkan perhatiannya ke belakang untuk melihat siapa yang dimaksud dengan bidadari itu.
__ADS_1
"Wah, Angela sangat cantik. Lihatlah!" puji Salwa saat melihat kedatangan Angela yang mendapat perhatian lebih dari teman-temannya. Varo melirik ke arah Angela lalu beralih kembali menatap Salwa.
"Kau juga sangat cantik hari ini, jika saja kau belum menikah mungkin kau yang akan menjadi pusat perhatian saat ini," ucap Varo kemudian sambil menyanggah kepalanya miring dengan tangan yang sikunya ditekuk di atas meja.
"Varoo...." Salwa hanya melebarkan matanya sambil meneriaki nama Varo dengan panjang agar lelaki di depannya itu tidak mulai lagi menggodanya.
"Iya, iya ampuun," ucap Varo dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Keduanya kemudian tertawa lepas seolah sudah tidak ada beban lagi di antara mereka.
Angela yang melewati tempat Salwa dan melihat keakraban keduanya hanya melirik kesal. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengumpat dalam hati. Jika saja perempuan sialan tidak memiliki suami yang super tajir itu mungkin saat ini dirinya akan melabrak Salwa dan mengusirnya dari acara reuni itu dengan kejam. Tetapi ia tidak ingin ambil resiko, ancaman Sean dulu sangat mengganggu pikirannya sehingga ia sampai saat ini tidak berani menemui atau mencari gara-gara dengan Salwa.
Acara demi acara telah usai, dan sekarang saatnya acara yang ditunggu-tunggu oleh semua alumni yang mengikuti acara tersebut yaitu pengenalan pemilik perusahaan yang akan merekrut karyawan dari alumni sekolah ini.
Kepala sekolah berpidato sebentar dengan memberikan persyaratan-persyaratan apa saja yang harus dipenuhi oleh peserta yang ingin bergabung mengikuti seleksi calon karyawan baru.
"Dengan segala hormat, saya persilahkan tuan Sean Paderson untuk memberikan sedikit masukan kepada para alumni SMA Negeri delapan," ucap kepala sekolah mengakhiri pidatonya.
DEG
Mendengar nama Sean disebut membuat Angela terduduk kaku. Ia tidak mengira bahwa perusahaan Seanlah yang menjadi sponsor acara ini dan mau bekerjasama dengan sekolah yang dipimpin ayahnya. Ia yakin Sean tidak akan memberinya kesempatan untuk menjadi salah satu kandidat yang akan masuk ke dalam perusahaannya.
Sean naik ke atas panggung dengan menebarkan aura kepemimpinannya. Semua mata tertuju kepadanya dan memuji ketampanan pemimpin perusahaan itu.
"Ya ampun, seorang bule cakep. Aku bakal semangat kerja kalo pemimpinnya kayak gitu," celetuk salah seorang wanita.
"Aku pikir tadi pemimpin perusahaannya seorang pria tua yang berbadan gendut, gak taunya cakep begitu. Dijadiin pembantunya pun aku rela," bisik-bisik temannya yang lain.
Suasana tampak bising setelah melihat Sean berada di atas panggung. Hampir semuanya mengagumi sosok lelaki yang saat ini mengenakan kemeja lengan panjang dengan kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya. Salwa pun juga begitu, meskipun dia setiap hari bersamanya Sean tetapi ia selalu terpesona dengan sosok yang sudah mencuri hatinya itu.
Berbeda dengan Varo, lelaki itu enggan sedikit pun menatap ke arah Sean, lelaki yang pernah menghajarnya habis-habisan. Ia lebih memilih memandang perempuan cantik di depannya meskipun saat ini perempuan itu tengah memandang lelaki lain yang merupakan suaminya.
Sean menatap ke arah di mana Salwa berada bersama baby Kinan yang sudah terlelap dalam pangkuan istrinya. Ia tersenyum ke arahnya, tetapi senyumnya itu tertarik kembali ketika mendapati Varo yang menyanggah kepalanya miring sambil menatap Salwa tanpa berkedip.
Cih, laki-laki bodoh itu tetap saja mencari kesempatan.
Sean mulai berpidato sebentar, memberikan nasihat dan tips-tips yang bermanfaat sebagai mahasiswa yang baru lulus. Bagaimana cara mendapatkan pekerjaan, memulai usaha dan lain-lain yang membuat semua orang terpana dan terkagum-kagum.
"Saya berterima kasih dengan sekolah ini, karena sebelumnya telah membantu istri saya dengan memberikan beasiswa kepadanya agar bisa mengenyam pendidikan hingga lulus."
Perkataan Sean membuat semua orang terkejut, siapa perempuan yang dimaksud oleh tuan Paderson itu? Mereka tidak menyangka ada salah satu temannya yang bisa mengambil hati seorang pengusaha tampan sepertinya. Beruntung sekali perempuan itu.
Angela yang mendengar perkataan Sean semakin muak dan tidak suka. Ia merutuki nasib baik Salwa dan keberuntungan perempuan sialan itu. Sementara Salwa hanya tersenyum dengan sedikit tersipu mendengar penuturan suaminya itu.
Sean menutup pidatonya lalu menyerahkan microphone itu kembali ke tangan kepala sekolah yang kemudian mereka saling bersalaman. Sean pamit undur diri terlebih dahulu yang diikuti anggukan hormat oleh kepala sekolah Ia menuruni anak tangga kemudian melangkah ke arah tamu undangan. Semua mata menuju kemana Sean melangkah dengan kekaguman yang tidak bisa mereka tutup-tutupi.
Sean berhenti di tempat Salwa lalu mengambil baby Kinan untuk digendongnya. Matanya langsung melirik tajam ke arah Varo.
"Jaga matamu anak muda, jika kau masih ingin bernapas dengan baik," ucap Sean tajam kepada Varo yang sejak tadi menatap Salwa tanpa sungkan.
Varo buru-buru mengalihkan wajahnya ke arah lain sambil tersenyum kecut. Yah, pemandangan indah di depannya akan segera pergi dan itu berakhir dengan ancaman mengerikan yang baru saja ia dapatkan. Salwa berdiri lalu tersenyum ke arah Varo sambil sedikit mengangguk untuk sekedar berpamitan. Sean dengan sikap posesifnya menggandeng tangan Salwa untuk ia tarik supaya mendekat kepadanya lalu ia rangkul pinggang istrinya itu dengan rapat.
Salwa hanya melotot ke arah Sean mendapat perlakuan seperti itu. Bukannya tidak suka, hanya saja ini masih di sekolah dan semua mata saat ini tengah menatapnya, tetapi Sean seolah tidak peduli dengan lirikan maut Salwa. Ia semakin merapatkan pelukannya sambil membawa baby Kinan dalam gendongannya lalu mengajaknya pergi dari tempat itu.
Semua orang tampak terkejut dengan apa yang baru saja mereka lihat. Perempuan beruntung itu adalah Salwa yang sejak tadi mereka hina dan mereka gunjing. Mereka baru sadar bahwa bayi laki-laki yang Salwa gendong itu adalah anak Salwa dengan Sean Paderson. Hati mereka ketar-ketir berharap Salwa tidak menaruh dendam kepada mereka atas perbuatan buruk yang didapatkannya.
Sony yang melihat kejadian itu pun menelan ludah. Hampir saja ia melakukan tindakan bodoh dengan ingin mengerjai Salwa jika Varo tidak mencegahnya. Semoga Salwa tidak mengadu kepada suaminya atas ulahnya sehingga tidak ada hambatan baginya mendapatkan pekerjaan dengan mengisi salah satu jabatan di perusahaan Sean Paderson.
__ADS_1
....
Kasih komentar dan like dulu sebelum lanjut ya.. 😄😄