
》please baca ulang part sebelumnya karena author salah masukkan bab
"Kakak ipar, bos menyuruhku mengajakmu makan malam, dia akan pulang terlambat malam ini." Abust mengetuk pintu kamar Sean dengan berteriak dari luar berharap Salwa segera keluar dari ruangan itu.
Mendengar bahwa Sean yang memintanya untuk makan malam Salwa pun segera membukakan pintu kamarnya.
"Apa pulangnya akan sangat malam?" Tanya Salwa kepada Abust.
"Iya, Sean memintamu untuk makan malam bersama kami, karena ia akan pulang larut."
Salwa terlihat sedikit kecewa, padahal banyak yang ingin ia tanyakan kepada Sean tentang pelajaran yang sedang ia pelajari dan ia yakin bahwa Sean bisa menjawabnya. Ekspresi Salwa yang tampak kecewa pun bisa terbaca oleh Abust.
"Jangan terlalu sedih, kami akan menemanimu selama Sean belum pulang." Abust berusaha menghibur Salwa, namun justru hal itu membuat Salwa takut saja. Tetapi ia tidak menunjukkan rasa takutnya itu dengan jelas.
"Terima kasih," ucap Salwa dengan menyunggingkan senyum tulusnya.
Abust dan Salwa turun menuju meja makan yang sudah terdapat Leon yang sedang memakan makanannya dengan lahap.
"Hey, kau tidak menunggu kami," tegur Abust dengan menepuk bahu Leon.
"Jangan mengganggu, aku sudah sangat lapar!" ucap Leon dengan sedikit tidak jelas karena mulutnya penuh dengan makanan.
"Kau jorok sekali." Abust menunjukkan ekspresi jijik melihat Leon berbicara dengan mulut penuh seperti itu, tetapi Leon sama sekali tidak menghiraukannya.
__ADS_1
Salwa mengambil piring lalu meletakkan nasi beserta lauk dan sayurnya dengan porsi yang normal. Ia juga mengambil satu gelas penuh minuman.
"Kalian lanjutlan makan, aku akan makan malam di kamar saja" Salwa berpamitan kepada kedua orang tersebut.
"Hey, kenapa tidak makan disini saja, akan menyenangkan jika makan bersama," pinta Abust dengan sedikit berharap. Usahanya akan sia-sia jika Salwa akhirnya memilih makan malam sendiri di kamar. Hari ini pekerjaannya sangat melelahkan membuat dirinya ingin mencari hiburan dengan mengajak Salwa makan malam bersama meskipun hanya bicara saja, melihat kakak iparnya itu tersenyum kepadanya sudah membuatnya senang karena selama ini Salwa selalu menatapnya dengan tatapan marah dan benci.
"Tidak apa, aku masih harus belajar di dalam," jawab Salwa jujur, ia memang sedang belajar saat Abust memanggilnya tadi.
"Tetapi ini permintaan Sean, dia menyuruh kami untuk menemanimu makan malam," Abust berusaha mencegah Salwa, bagaimana perempuan itu begitu keras kepalanya. Hanya untuk makan bersama saja sangat susah untuk membujuknya. Bagaimana Sean dulu bisa meluluhkan hati perempuan itu?
"Jangan mengarang, aku tidak pernah menyuruhmu untuk menemaninya makan," suara Sean tiba-tiba menyahut dari belakang membuat ketiga orang itu langsung menoleh menatapnya.
Salwa tersenyum senang melihat suaminya sudah pulang, ia berjalan menghampiri Sean, mengambil alih tas yang dibawa oleh suaminya itu lalu mencium punggung tangan Sean seperti biasanya. Sean mengusap pucuk kepala Salwa lalu menghadiahkan kecupan hangat di dahinya.
"Sepertinya kau tidak suka aku pulang cepat?" Sean mengulas senyum, tangannya merangkul bahu Salwa sambil berjalan beriringan menuju meja makan.
"Aku juga lapar, istriku sudah lelah memasakkan makan malam untukku, bagaimana aku bisa membiarkan hidangan lezat dan dipenuhi dengan cinta itu untuk kalian habiskan sendiri." Hati Salwa terkikik geli mendengar penuturan Sean yang selalu berlebihan.
"Sudahlah, ayo kita makan," ucap Salwa yang sudah mengambil tempat duduk di samping suaminya.
....
Salwa masih terduduk di depan komputernya. Sudah banyak pelajaran yang ia lupakan, hingga ia memilih untuk menanyakannya kepada Sean. Tetapi saat ini ia melihat Sean sedang sibuk dengan pekerjaannya, tidak mungkin ia mengganggu suaminya itu bukan? Tentu saja Salwa tidak boleh egois hingga membuat Sean menghentikan pekerjaannya dan beralih membantunya belajar.
__ADS_1
"Mas, apa kamu mau bergadang malam ini?" Tanya Salwa dengan membawa secangkir kopi di tangannya.
"Terima kasih." Sean berucap singkat tanpa menoleh ke arah Salwa yang sedang meletakkan secangkir kopi tersebut di atas meja kerjanya. Salwa kembali duduk di meja belajar dengan komputer yang masih menyala. Ia mencoba mencari jawaban yang ia cari di mesin pencari namun tidak ada yang memuaskan hasilnya. Karena terlalu lelah ia akhirnya tertidur dengan berbantalkan papan keyboard.
Sean terlalu fokus dengan pekerjaannya, hingga tak terasa sudah pukul setengah satu dini hari. Ia sampai terlupa dengan kopi yang dibuatkan oleh Salwa hingga kopi itu dingin. Sean menyeruput kopi tersebut hingga tandas lalu merapikan berkas-berkas yang selesai ia kerjakan.
Sean menoleh ke arah ranjang tidurnya, ia tidak mendapati istrinya itu tidur di atasnya, barulah ia menyadari keberadaan Salwa saat ia akan keluar kamar mencari perempuan itu dan ternyata sedang tertidur di atas meja belajarnya.
Sean memperhatikan wajah kelelahan istrinya itu di tengah tidur lelapnya. Ia mencium kening Salwa dengan perasaan sayang kemudian mengangkat tubuh terlelap itu perlahan dan hati-hati. Sean membaringkannya di atas ranjang tidur setelah kemudian ia ikut berbaring di sampingnya.
Saat kantuk mulai menyerang Sean dan matanya hampir terpejam tiba-tiba Salwa terbangun dengan napas yang tampak memburu. Ia terduduk dari tidurnya sambil menatap kebingungan.
"Mas, apa aku terlambat?" Sean ikut kebingungan dengan pertanyaan Salwa. Terlambat apanya, bahkan ini masih tengah malam.
"Terlambat kemana?" Tanya Sean yang akhirnya ikut duduk di samping Salwa meskipun ia sudah sangat mengantuk.
"Aku... aku bermimpi buruk, aku terlambat bangun dan tidak berhasil menyelesaikan semua soal tes dengan benar, aku... aku gagal." Salwa berucap dengan sedikit terbata-bata, membuat Sean mencemaskannya.
"Tenanglah, kau terlalu gugup. Bahkan ujiannya masih dua hari lagi, mas yakin kau bisa melakukannya dengan baik. Apapun hasilnya mas akan selalu mendukungmu." Sean memegang tangan Salwa lalu ia letakkan di dada istrinya itu.
"Percayalah dengan kemampuanmu, semua akan berjalan dengan baik."
Salwa mengangguk, ia memang terlalu gugup menjalani tes yang bahkan belum dimulai. Ia merasa sudah lama tidak merasakan momentum ujian sehingga ia merasa was-was dan tidak percaya diri dengan kemampuannya sendiri.
__ADS_1
Sean merebahkan tubuhnya dan juga istrinya itu agar kembali tidur. Tangannya membelai kepala Salwa yang kini tengah membenamkan wajahnya di dada suaminya itu. Dan di tengah malam yang dingin itu akhirnya kedua makhluk itu terlelap dalam buaian malam.