Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Alvaro part 2


__ADS_3

Melihat keteguhan Salwa, hati Varo serasa tersentuh. Dan ia baru menyadari, di balik wajah polos itu jika diperhatikan baik-baik, Salwa memiliki paras yang cantik. Gadis itu bahkan tidak mengaplikasikan bedak di wajahnya seperti teman perempuannya yang lain. Dan Varo merasa Salwa adalah gadis yang istimewa.


"Aku akan membantumu," ucap Varo kemudian.


Sejak itu Salwa dan Varo semakin akrab, mereka sering berbincang-bincang dan bercanda meskipun mereka hanya bertemu saat eksul beladiri belangsung. Karena di luar itu, Angela selalu menempel kemanapun Varo pergi. Mungkin perasaan keduanya mulai tumbuh sedikit demi sedikit tanpa ada yang saling mengutarakan.


Varo yang kemudian mengetahui bahwa Salwa hanya seorang anak dari buruh cuci dan tukang becak merasa malu. Sedikit demi sedikit ia mulai menghindari Salwa. Ia tidak ingin ketahuan dekat dengan gadis miskin sehingga ia lebih memilih menghindar dan menyapa sekedarnya.


Salwa bukanlah gadis bodoh, ia tahu bahwa Varo mulai menghindarinya. Tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, ia tahu diri akan siapa dirinya sehingga ia memilih menyembunyikan perasaannya dengan menyukai dan mengagumi dalam "diam".


Sampai saat setelah perpisahan sekolah usai, Varo tidak sengaja bertemu dengan sahabat Salwa yang bernama Alin. Alinlah yang memberi tahu Varo bahwa selama ini Salwa menyimpan perasaannya rapat-rapat untuk Varo. Varo mungkin menyadari itu sejak lama, tetapi ia enggan untuk mengakuinya. Tetapi di saat ia mendengar kenyataan itu dari orang lain, ada rasa menyesal dalam hatinya. Perasaan memang tidak bisa dibohongi, Varo merasa kehilangan dan ia juga sepertinya menyukai Salwa meskipun pikirannya menolak keras karena perbedaan status sosial mereka terlalu senjang.


Varo berniat mencari Salwa dengan datang ke rumahnya, ia ingin mengutarakan perasaan dengan sejujur-jujurnya. Senyum mengembang dengan seikat bunga yang sudah ia persiapkan di mobilnya. Varo akan menyatakan perasaannya yang selama ini mati-matian ia abaikan dan kesampingkan karena egonya lebih kuat. Tetapi Varo harus menelan kekecewaan sekali lagi. Salwa dan keluarganya telah pindah dan tidak tahu kemana mereka pergi. Bahkan Varo mengetahui bahwa Salwa sudah pergi dengan bekerja sebagai asisten rumah tangga di luar negeri.


Mungkin memang takdir sedang memainkan perasaan seseorang. Ia bahkan kehilangan cinta sebelum sempat mengutarakannya.


Suara jendela terbuka karena tertiup oleh angin membuyarkan lamunan Varo. Lelaki itu beranjak dari ranjangnya melangkah menutup kembali jendela yang belum sempat ia kunci.


Varo duduk di tepi ranjangnya sambil meneguk segelas air yang sudah disiapkan di atas nakas. Salwa, gadis itu memenuhi pikirannya. Ia memang marah dan kecewa, tetapi ia sempat berharap lebih dengan gadis itu. Varo tidak bisa memungkiri bahwa ia benar-benar jatuh cinta dengan Salwa. Ia akan memperjuangkan cintanya itu apapun yang terjadi. Ia tidak peduli bahwa Salwa saat ini sudah kotor, mungkin itu sebagai hukuman untuknya karena selama ini ia mengabaikan gadis itu.


Varo mulai berpikir apa yang akan ia perbuat nanti. Ia tidak bisa terus-menerus dilanda rasa seperti itu. Ia tidak bisa tidur, ia menyesal, ia juga kecewa. Salwa, Salwa, Salwa , wajah gadis itu berputar-putar dalam pikirannya membuat kepala Varo semakin pusing saja. Ia harus berbuat sesuatu, jika tidak ia akan merasa sangat menyesal nanti.


Salwa mungkin terpaksa menikah atau memberikan tubuhnya untuk lelaki lain. Mungkin dirinya sedang butuh uang, lelaki itu pastilah lelaki tua yang punya banyak uang, apalagi Varo mendengar ayah Salwa sedang sakit keras dan butuh banyak uang untuk biaya berobat. Salwa juga butuh uang untuk keperluan sehari-hari, ia juga harus membiayai ketiga adiknya yang masih sekolah. Varo yakin karena alasan uang Salwa melakukan hal memalukan itu.


Varo sudah bertekat dalam dirinya untuk mengambil Salwa kembali. Ia sudah tidak peduli Salwa yang saat ini adalah Salwa yang kotor dan bekas orang lain. Itu mungkin sudah takdirnya, Varo tidak bisa menyalahkan Salwa. Kehidupan Salwa memanglah berat, dan hal itu mungkin membuat perempuan polos seperti Salwa terjerembab dalam lubang kenistaan.


Varo akan membantu gadis itu keluar dari permasalahnnya. Ia sudah menekan kuat egonya, mau menerima Salwa yang sudah kotor itu, yang sudah terjamah oleh laki-laki lain. Ia sudah tidak peduli akan hal itu, Varo hanya menginginkan gadis itu untuk masa depannya.


Varo akan mengembalikan senyuman Salwa yang biasa ditujukan untuknya. Tatapan teduh gadis itu yang menyimpan perasaan cinta untuknya akan ia rebut kembali.


Varo mengambil ponselnya, ia masuk ke dalam grup kampus lalu membuat suatu berita besar yang akan menggegerkan semua mahasiswa yang membacanya.


.....


"Hey mau kemana?" Sean mencegah Salwa yang akan keluar dari kamar setelah menyelesaikan ritualnya bersama Sean.


"Mau masak mas, mau apa lagi," ucapnya kemudian. Sean menarik tangan Salwa lalu ia dudukkan di tepian ranjang sementara dirinya duduk di bawah beralaskan karpet bulu berwarna abu-abu muda yang tergelar hampir memenuhi ruangan. Sean mendongakkan wajahnya menatap istrinya itu sambil tersenyum.

__ADS_1


"Beristirahatlah, kau sedang hamil. Biar para pelayan yang mengerjakannya."


"Lalu aku mengerjakan apa?" Tanya Salwa tampak merajuk, karena hampir semua hal tidak boleh ia kerjakan. Salwa sebenarnya merasa dirinya baik-baik saja karena tidak ada kendala dalam kehamilannya yang kedua ini. Meskipun kata dokter Alan rahimnya belum siap tetapi ia tidak merasa kesakitan seperti mual-mual parah atau tidak enak makan. Jadi terasa berlebihan jika Sean menyuruhnya hanya beristirahat saja.


Sean meletakkan kepalanya di pangkuan Salwa lalu meraih tangan Salwa untuk kemudian ia letakkan di atas kepalanya.


"Kau bisa melakukan ini," ucap Sean dengan melakukan gerakan memijit di kepalanya. Ya, sebaiknya Salwa memijit kepalanya saja sambil menunggu menu sarapan matang daripada perempuan itu harus sibuk menyiapkan makanan untuknya.


"Baiklah." Salwa akhirnya menuruti perintah suaminya itu. Ia memijit dengan perlahan sambil sedikit menekan di bagian titik-titik tertentu. Tak lupa juga ia menghadiahi kecupan di kening suaminya itu yang membuat Sean tersenyum senang. Merasa dicintai dan disayangi oleh orang yang ia kasihi tentunya sangat membahagiakan.


"Apakah nanti kau akan menyusulku ke kampus?"


Salwa memang berniat mengundurkan diri untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Ia melakukan hal itu sedini mungkin karena menurut dokter Alan kandungannya rawan keguguran jika ia bersikeras untuk melakukan kegiatan seperti biasanya. Salwa tidak harus bed rest, tetapi ia harus lebih banyak menggunakan waktunya untuk beristirahat sampai janin benar-benar menempel sempurna di dinding rahim.


"Tentu saja, mas akan berbicara dengan rektormu untuk membicarakan ini. Kau tinggal berpamitan dengan teman-temanmu saja, pasti nanti kau akan merindukan mereka bukan?" Sean berucap dengan memejamkan matanya, ternyata pijatan yang dilakukan Salwa benar-benar enak. Mungkin lain kali ia akan memijit kepala istrinya itu agar lebih releks karena banyaknya beban pikiran yang ditanggungnya.


"Aku mungkin akan merindukan mereka, apakah nanti mereka boleh bermain ke rumah?" Tanya Salwa lagi. Karena selama ini Salwa merahasiakan identitas dan tempat tinggalnya kepada teman-temannya. Sehingga teman-teman Salwa hanya menganggap Salwa orang biasa saja yang hidup di kalangan menengah ke bawah.


"Kau bisa mengajak mereka datang, tetapi..."


"Tetapi apa?" Sean menggantungkan kalimatnya membuat Salwa tak bisa menahan dirinya untuk membeo mengulang perkataan Sean agar segera melanjutkan perkataannya.


"Temanku hanya perempuan mas, kau tidak perlu mengatakannya aku sudah tahu diri. Tidak mungkin aku memasukkan laki-laki ke dalam rumah selain adik-adikku," ucap Salwa yang diikuti senyuman lebar dari bibirnya.


"Iya.. mas tahu sayang, hanya saja mas antisipasi jika ada laki-laki lain yang mungkin akan mendekatimu," Sean mengatakannya dengan lembut, namun di balik perkataan lembutnya itu sorot matanya terlihat tajam dengan mengepalkan tangan seolah ada sesuatu yang ia sembunyikan.


"Mereka mungkin mendekat karena tidak tahu bahwa aku sudah menikah dan akan mempunyai anak, jika mereka tahu pasti akan langsung mundur. Iya kan? Mas tidak perlu khawatir, justru aku yang cemas. Dimanapun kau berpijak selalu menjadi pusat perhatian wanita, lain kali kalau mau kemana-mana pakai kacamata hitam sama masker saja biar gak dikenali. Bikin kesal saja."


Sean terkekeh mendengar kejujuran Salwa, ia menengadahkan wajahnya menatap wajah sang istri sambil tersenyum. "Jangan salahkan mereka, karena suamimu ini memang tampan" ucap Sean dengan bangganya. Tetapi dengan gemas Salwa menarik telinga Sean sedikit kuat membuat Sean meringis kesakitan.


"Awas kalau kamu kegenitan, aku gak mau ngomong sama kamu nanti!"


"Iya, iya.. ampun," ucap Sean mengiba yang diikuti suara tawa keduanya.


.....


Salwa berangkat ke kampus untuk yang terakhir kali, namun tujuannya kali ini bukanlah untuk mengikuti kelas seperti biasanya. Ia hanya ingin berpamitan kepada teman-temannya sekaligus menyelesaikan segala administrasi dan mengambil barang-barangnya yang masih tertinggal di loker.

__ADS_1


Mobil yang ditumpangi Salwa tidak lagi terparkir jauh dari kampus, tidak perlu ada yang ditutup-tutupi lagi karena Sean sudah mengizinkannya untuk mengatakan hal sejujurnya bahwa ia sudah menikah dan akan mempunyai anak.


Tidak seperti biasanya, suasana kampus tampak sepi, padahal biasanya banyak mahasiswa yang duduk-duduk di taman dekat pintu gerbang utama sambil menanti kelas dimulai.


Salwa melangkahkan kakinya melewati taman bunga cantik yang biasa ia gunakan bercengkrama dengan teman-temannya. Lalu ia berbelok melewati lorong-lorong dimana jalan menuju kelasnya. Tetapi tiba-tiba ada seseorang yang menarik tubuhnya.


"Feby," pekik Salwa yang terkejut dengan ulah temannya itu.


"Kenapa kau datang? Seharusnya kau tidak perlu datang. Ya ampuun... ayo pulanglah, sebelum yang lain mengetahui keberadaanmu," ucap Feby memperingatkan Salwa. Gadis itu tampak celingukan mengamati keadaan sekitar.


"Ada apa sebenarnya? Kenapa aku harus pergi?" Tanya Salwa tidak mengerti.


"Kau tidak melihat grup sekolah, namamu menjadi tranding topik pagi ini!" Salwa menganga, ia buru-buru mengecek grup sekolah. Salwa memang tidak mengaktifkan notifikasi dan mengikuti perkembangan grup tersebut karena kebanyakan grupnya berisi teman-teman perempuan yang suka sama senior, atau membahas idol KPOP. Dan semuanya tidak jauh-jauh dari ghibah. Sehingga Salwa hanya memeriksa grup sekolah ala kadarnya.


Ada ratusan notifikasi membanjiri chatingan grup. Salwa kembali terkejut dengan isu yang sengaja disebarkan oleh seseorang yang tak dikenal mengenai dirinya yang hamil diluar nikah dan menjadi ayam kampus atau lebih tepatnya seperti piala bergilir. Entah, siapa yang tega melakukan itu kepadanya. Padahal ia tidak memiliki musuh disini, ia selalu bersikap baik kepada siapa saja. Tetapi ada yang tega memfitnahnya.


Bahkan calon buah hatinya yang masih berada didalam rahim dan baru berbentuk segumpal darah sudah mendapatkan doa yang buruk-buruk dari teman-temannya. Mereka seolah sudah terorganisasi untuk saling memprovokasi satu dengan yang lain.


"Hey.. itu dia. Itu dia si ayam kampus!" salah seorang mendapati Salwa bersama Feby berteriak lantang membuat semua mahasiswa yang ikut demo menuntut pihak kampus mengeluarkan Salwa berlari mengerumuni Salwa.


"Hey wanita jal** , berapa hargamu semalam hah?" Seorang mahasiswa senior meneriaki Salwa dengan nada merendahkan membuat hati Salwa terasa miris. Ia memang sering direndahkan dan disepelehkan karena dirinya yang miskin, tetapi baru kali ini ia direndahkan karena dipertanyakan akhlaknya.


"Kau hanya sampah disini, kau membuat nama baik kampus menjadi rusak. Pergilah, kau tak pantas ada disini!"


Semua mahasiswa baik yang laki-laki maupun yang perempuan meneriaki Salwa dengan hinaan dan cacian yang membuat telinga Salwa memanas. Dua bodyguard Salwa yang menyadari situasi tidak kondusif untuk majikannya segera melapor meminta bantuan. Mereka tidak mungkin bertindak sendiri karena terlalu banyak massa yang menghakimi majikannya itu.


"Nyonya cepat kembali ke mobil, kami yang akan mengurus mereka." Salwa mengangguk menuruti perkataan kedua bodyguardnya, dengan mata berkaca-kaca dan hati yang terluka ia berjalan perlahan menyusuri lorong-lorong yang akan membawanya ke parkiran mobil, sementara bodyguardnya masih menahan para mahasiswa yang akan menyerang Salwa sambil menunggu babtuan datang. Salwa berjalan dengan hati-hati, ia tidak akan berlari karena itu akan membahayakan dirinya dan juga janinnya.


Di saat dirinya menangis seorang diri, tiba-tiba ada yang menariknya dari arah belakang. Mulutnya dibungkam agar tidak bisa meminta tolong. Orang itu menyeret tubuh Salwa sambil membungkam mulutnya melewati lorong-lorong sempit yang entah akan di bawa kemana dia pergi.


Sampailah saat Salwa diseret di area belakang gudang,orang itu melepaskan Salwa. Salwa menunduk sambil memegangi lututnya, ia terbatuk-batuk karena terlalu lama mulut dan hidungnya dibungkam sehingga ia hampir kehabisan oksigen. Ia mengatur napasnya dengan gerakan menghirup udara banyak-banyak lalu menghembuskannya perlahan. Barulah saat dirinya berhasil bernapas dengan normal ia mendongakkan wajahnya.


"Varo, kau!" Salwa terkejut karena Varolah yang membawanya ke tempat sepi ini yang jauh dari jangkauan orang lain.


"Aku akan pergi." Salwa melangkah meninggalkan Varo, tetapi lagi-lagi lelaki itu manarik tangannya sehingga Salwa jatuh dalam pelukannya. Varo mengeratkan pelukannya sambil mengendus aroma alami tubuh Salwa. Salwa berontak, ia mendorong tubuh Varo kuat-kuat lalu menamparnya dengan keras.


PLAAK

__ADS_1


\=》Bersambung


__ADS_2