
"Tunggulah disini, aku masih ada urusan."
Abust meninggalkan Catherine di ruang tamu kediaman Sean, karena ia tiba-tiba merasa sakit perut sehingga tidak bisa menahan lebih lama dan lebih memilih menuju toilet yang sudah sangat ia hafal letaknya.
Catherine mengangguk, ia cukup mengerti dan tidak ingin banyak bertanya, karena dalam pikirannya sekarang hanya ingin bertemu dengan kedua putranya.
Catherine sempat enam hari dirawat di rumah sakit akibat kecelakaan waktu itu, lukanya cukup parah, sehingga ia harus benar-benar beristirahat selama satu bulan di rumah Abust. Bukannya ia ingin memanfaatkan kesempatan, tetapi Abust sendiri yang memaksanya untuk tinggal di rumahnya dan memanggil dokter pribadinya yang dulu pernah merawat Salwa saat disekap olehnya.
Meskipun mereka tinggal satu atap, Abust tidak pernah berbuat kurang ajar kepada Catherine. Justru ia setiap hari, selepas pulang bekerja selalu menemui Catherine dan memeriksa luka-luka perempuan itu yang semakin lama berangsur pulih dan membaik. Catherine merasakan kehangatan dari sikap lelaki itu kepadanya, setiap perkatannya dan perhatiannya membuat perasaan Catherine kepada Abust semakin mendalam.
Tetapi Catherine tidak bisa memungkiri, perasaan yang ia rasakan ini bertepuk sebelah tangan, ia sadar siapa dirinya dan siapa Abust. Jika dia menjadi Abust tentunya lelaki itu lebih memilih dengan wanita cantik yang masih muda dan tidak mempunyai anak. Catherine merasa dirinya tidak pantas berharap lebih kepada lelaki itu. Abust sudah terlalu baik, akan sangat kurang ajar bagi Catherine jika menganggap kebaikan Abust itu dikarenakan ada perasaan yang sama seperti yang ia rasakan. Sehingga Catherine lebih memilih diam, dan menekan kuat harapan dan perasaannya agar ia tidak terluka di kemudian hari.
Saat ini, prioritasnya adalah Ashton dan Axton. Kedua anaknya itulah masa depannya. Ia harus berjuang keras demi mereka, kedua anaknya itu haruslah menjadi laki-laki hebat dengan masa depan yang cerah, tifak seperti ibunya.
Catherine menghela napasnya dengan berat. Ia sudah meninggalkan rumah yang diberikan Sean untuknya, juga pekerjaan yang memberinya pundi-pundi uang untuk menghidupi dirinya dan kedua anaknya yang dicarikan oleh Sean dulu. Dan sekarang ia harus memutar otaknya, mencari tempat tinggal dan pekerjaan baru untuk melanjutkan hidup mereka bertiga. Karena saat ini, ia tidak mempunyai apa-apa untuk bekal hidup bersama kedua anaknya. Jangankan rumah, sedikit uang pun tidak ada. Hal itu membuatnya bingung, apa yang akan dilakukannya setelah bertemu dengan kedua anak kesayangannya itu.
....
"Mas, apakah nanti pulang malam lagi?"
Sean mengusap lembut pipi Salwa yang sedang memakaikan dasi di lehernya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain meng-iya-kan pertanyaan Salwa. Meskipun dalam hati ia tidak tega jika meninggalkan istrinya itu sendirian di rumah sepanjang hari di masa kehamilannya, tetapi ia juga menyadari bahwa tanggung jawabnya terhadap perusahaan yang ia kelola tidak bisa di sepelehkan.
"Makan yang banyak ya, jangan biarkan dia kelaparan," ucap Sean kemudian setelah dasi sudah terpasang sempurna di lehernya.
"Kamu juga, jangan lupa makan sama sholat. Aku gak mau kamu sakit karena terlalu keras bekerja. Sebugar-bugarnya tubuh juga butuh istirahat yang cukup bukan?"
Sean mengangguk, lalu mengecup kening istrinya itu dengan sayang. Salwa tanpa malu-malu menggandeng lengan Sean sambil menyandarkan kepalanya di sana. Mereka berjalan, melangkah keluar kamar bersama lalu menuruni tangga yang akan mengantarkan mereka ke ruang tamu yang kemudian menuju pintu keluar.
Di saat keduanya sedang berbicara sambil berjalan menuruni tangga tiba-tiba suara seseorang mengalihkan perhatian keduanya.
"Sean."
Salwa yang pertama kali melihat siapa seseorang yang telah memanggil nama suaminya itu ternganga tidak percaya.
"Kau," Salwa menelan ludahnya saat menyadari sosok perempuan yang sedang tersenyum manis kepada suaminya. Ia tidak lupa dengan wajah itu, wajah perempuan yang hampir merengut nyawa suaminya dulu, meskipun pakaian yang saat ini dikenakannya lebih tertutup, tetap saja Salwa dapat mengingat dengan jelas wajahnya.
"Mas, dia...."
Sean menarik tubuh Salwa untuk lebih mendekat kepadanya. Ia mengerti apa yang Salwa maksudkan. Sean memang tidak memberitahu semuanya tentang siapa Catherine, ia hanya mengatakan bahwa Catherine adalah salah seorang yang ia kenal, dan saat ini Abust sedang berusaha mendapatkan hatinya sehingga Salwa tidak banyak mempermasalahkan tentang keberadaan Ashton dan Axton di rumahnya.
Bagaimanapun karena ulah Catherinelah Salwa menderita, mendapatkan banyak masalah secara terus menerus setelah kejadian itu. Kejadian dimana Sean hampir meregang nyawa, dan abust secara emosional menangkapnya, memenjarakannya dalam ruang bawah tanah, menyiksa dan hampir mengambil secara paksa kesucian Salwa.
Seolah kejadian pahit itu tidak cukup ia terima, Salwa kecelakaan dan ia harus kehilangan ingatannya , sehingga ia berbalik arah untuk membunuh Sean karena seseorang telah berhasil mencuci otaknya.
"Jangan takut, dia tidak berbahaya. Dia adalah ...,"
"Teman tidurmu kan?" Salwa langsung menyela perkataan Sean, sebelum lelaki itu menyelesaikan kalimatnya.
Mata Salwa mulai berkaca-kaca, apa hubungan Sean dan perempuan di depannya itu sehingga ia berani datang ke rumahnya. Catherine yang melihat adanya perdebatan di depannya ingin mengatakan sesuatu, tetapi Sean segera mengangkat sebelah tangannya penuh isyarat agar perempuan itu tidak ikut campur dengan masalah rumah tangganya.
__ADS_1
"Salwa, dengarkan aku," Sean membalikkan tubuh Salwa agar menghadapnya, dengan tangan mempertahankan lengan Salwa agar perempuan itu mendengar dan tidak menghindar dari penjelasannya.
Sean menghela napasnya, ia melihat wajah Salwa yang menjadi pucat dengan bibir bergetar. Ia ingin segera menjelaskannya, tetapi melihat kondisi Salwa yang sepertinya tidak baik-baik saja membuatnya mengurungkan niatnya untuk menjelaskan kebenarannya.
"Ikut aku," Sean menggandeng lengan Salwa yang enggan untuk mengikutinya, langkah Salwa terasa begitu berat sampai-sampai Sean tidak sabar lalu mengangkat tubuh Salwa membawa istrinya itu dalam gendongannya lalu berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka kembali.
Sean membaringkan Salwa di atas kasur, lalu duduk di samping istrinya itu. Salwa memalingkan muka, enggan menatap Sean , ia belum mendapatkan penjelasan apapun dari suaminya itu mengenai perempuan yang sedang menunggunya di bawah.
Bulir air mata mulai menetes di sudut mata Salwa, entah mengapa rasanya hatinya begitu sakit. Apakah perempuan yang pernah menjadi teman tidur Sean satu persatu akan mendatanginya? Jika itu benar terjadi, apakah Salwa akan sanggup menghadapinya?
Salwa memejamkan mata, ia meringkuk miring membelakangi Sean yang sedang merangkai kata agar Salwa mengerti akan penjelasannya. Tangan Salwa meraih guling, lalu memeluknya dengan erat sambil menyembunyikan wajahnya di bawah guling tersebut. Sean bisa melihat tubuh istrinya itu bergetar seolah sedang menangis tanpa bersuara. Dia menyakiti hati istrinya lagi dengan masa lalunya.
Sean mengambil guling yang dipeluk oleh Salwa, lalu melemparnya menjauh. Mungkin sebaiknya ia membuang semua guling yang ada di kamarnya agar Salwa tidak pernah lagi memeluk guling sambil menyembunyikan air matanya.
Sean mendudukkan posisi Salwa berhadap-hadapan dengannya. Tangannya mengusap air mata Salwa yang masih beberapa kali mengalir dari sudut matanya.
"Jangan menangis, kau tahu aku tidak sanggup melihatmu menangis, apalagi jika itu karena kesalahanku."
Salwa menunduk, ia juga tidak mengerti kenapa bisa menangis seperti itu. Perasaannya lebih sensitif , ia lebih mudah meluapkan emosinya dan tidak bisa menahan sesuatu jika ia suka ataupun tidak suka. Perasaannya sangat mudah rerbaca dari raut wajahnya, ia sama sekali tidak bisa menyembunyikan kegundahan hatinya ataupun kemarahannya kepada suaminya, karena Sean selalu mengetahui apa yang ia rasakan hanya dengan melihat wajahnya saja.
"Aku tidak akan bosan mengatakan maaf kepadamu, mungkin ini hukuman dari Tuhan untukku, karena perbuatan burukku di masa lampau. Masa laluku akan menghantuiku dan membuatmu sakit hati setiap saat, tetapi ketahuilah bahwa aku tidak pernah sekalipun terbesit dalam pikiranku akan meninggalkannu atau menduakanmu."
Sean mengangkat dagu Salwa , lalu mengusap bibir istrinya itu dengan bibirnya dengan sentuhan seringan bulu. "Kau tidak perlu mengeluarkan air mata berhargamu untuk mencemaskan hal itu, karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah melakukannya."
Salwa mengangguk, ia kemudian sedikit menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum tipis sekali. "Maaf, aku terlalu takut. Hatiku terasa sakit jika mengingat semuanya, aku... pernah melihatmu melakukan itu dengan wanita lain. Dan itu membuatku ingin.... muntah."
Hooeekk,
Selama hamil yang ke dua ini, Salwa tidak pernah mengalami muntah-muntah seperti kebanyakan perempuan hamil lainnya. Tetapi saat ini, ketika usia kandungannya memasuki tiga bulan ia tiba-tiba muntah dengan hebat. Bahkan setelah cairan kuning pekat dan terasa pahit itu sudah keluar dari dalam perutnya , Salwa masih ingin muntah juga namun hanya suara saja yang terdengar karena tidak ada lagi yang bisa ia keluarkan.
Salwa membersihkan mulutnya dengan berkumur, lalu menyapukan sapu tangan ke bibirnya untuk mengeringkannya. Sean dengan cekatan menggendong tubuh istrinya yang sangat lemas itu dan membaringkannya kembali di atas ranjang tidurnya.
"Apa masih mual?" Tanya Sean lagi yang dibalas gelengan kepala oleh Salwa.
"Aku akan menelepon dokter."
"Tidak perlu, aku baik-baik saja." Salwa menggeleng menolak perkataan Sean.
"Kau tidak baik-baik saja, wajahmu sangat pucat dan ..,"
"Mas, aku tidak apa-apa. Setiap wanita hamil pasti mengalami ini. Kau tidak perlu mencemaskan hal itu," ucap Salwa dengan lemas yang membuat Sean mengerutkan keningnya.
"Kau tidak pernah mengalami ini sebelumnya, aku tidak pernah melihatmu muntah selama hamil, dan pagi ini kau sedang sakit sehingga membuatmu muntah-muntah."
"Karena kau tidak ada saat itu, aku menjalani masa-masa itu ..... seorang diri," ucap Salwa dengan sedikit lesu mengingat pengalaman kehamilan pertama yang penuh dengan perjuangan tanpa suami disisinya.
"Maaf." Sean membungkuk, memeluk Salwa yang masih berbaring dengan meletakkan wajahnya di ceruk leher istrinya itu sambil berbisik lirih.
"Maaf, karena aku kau selalu menderita."
__ADS_1
Salwa membalas pelukan suaminya dengan melingkarkan tangannya di atas punggung Sean sambil mengusap-usapnya. Ia memejamkan matanya, menghirup aroma tubuh favoritnya itu lalu menghembuskan napasnya dengan berat.
"Jangan mengatakan hal itu, aku bahagia bersamamu mas, maaf karena selalu menyusahkanmu."
Sean bangun, lalu membenarkan posisi duduknya, memandang wajah pucat istrinya itu dengan haru dan sayang. Ibu jarinya mengusap air mata Salwa yang hampir mengering lalu berhenti di pipi gembulnya.
"Aku mencintaimu, kau tidak pernah menyusahkan ku."
"Dan mengenai perempuan yang ada di bawah itu adalah Catherine, ibu dari Ashton dan Axton."
"Apa?"
....
Sean sudah menjelaskan semuanya tentang Catherine, meskipun ada beberapa kali perdebatan dalam penjelasannya tetapi akhirnya Salwa mengerti dan tidak mempermasalahkan kehadiran Catherine.
Sean menuntun Salwa untuk menuruni tangga menemui ibu dari dua anak itu yang saat ini sedang menunggu ditemani Abust. Wajah Catherine dan Salwa saling bersitatap lalu ada senyum tipis yang menghiasi bibir Salwa yang pucat itu.
Catherine yang baru mengetahui tentang hubungan Salwa dan Sean dari Abust merasa sangat malu. Karena sebelumnya ia telah berniat memfitnah perempuan itu dengan membuat semua bukti mengarah kepadanya. Ia menghapus sebagian rekaman CCTV, mencampurkan kopi buatan Salwa dengan obat tidur, lalu sengaja meletakkan pistol yang ia gunakan untuk menyerang Sean di samping tubuh Sean yang terluka. Ia yakin saat itu pasti perempuan polos seperti Salwa akan menyentuh senjata itu dan akan berakhir dengan menyalahkannya atas apa yang terjadi.
"Nona Salwa, aku... aku minta maaf, aku seharusnya malu selalu merepotkan kalian setelah apa yang aku perbuat di masa lampau. Aku benar-benar minta maaf." Catherine berucap dengan menunduk, tidak sanggup menatap mata bening Salwa yang terlihat begitu teduh kepadanya, sepertinya ia merasa menjadi seorang pendosa yang sedang melakukan pengakuan atas segala dosa-dosa yang ia lakukan.
"Nona Catherine, aku sudah memaafkanmu. Atas kejadian masa lampau, mungkin itu memang takdirku yang harus aku jalanani dengan suka rela. Aku sudah tidak menyalahkanmu lagi."
Sean menuntun Salwa menuju sofa yang ada di ruang tamu itu, lalu duduk bersamaan dengan tetap menjadikan tubuhnya sebagai sandaran istrinya itu. Tangannya menggenggam erat jemari istrinya, memberikan kekuatan besar untuk menopang batin Salwa untuk menerima segala kenyataan yang ada.
Memaafkan seseorang yang membuat hidupnya jungkir balik tentulah sangat berat, tetapi Salwa mampu melakukannya dan bahkan perempuan itu tidak menaruh dendam sedikitpun di hatinya.
"Mama, " suara Ashton dan Axton yang baru keluar dari kamar mereka begitu nyaring setelah melihat kedatangan ibunya yang sangat mereka rindukan.
Catherine tersenyum lalu berdiri dan kemudian berjongkok memeluk kedua putranya itu dengan air mata yang berderai haru.
"Mama merindukan kalian," ucap Catherine sambil menciumi kedua putranya secara bergantian.
"Apakah mama akan pergi lagi."
Catherine mengangguk, hal itu membuat Ashton dan Axton sedih. "Mama akan pergi lagi, tetapi kali ini akan membawa kalian berdua."
Kedua anak itu tersenyum, lalu kembali memeluk Catherine dengan senang." Kami sayang mama."
"Mama, juga sangat menyayangi kalian," ucap Catherine sambil memeluk kedua buah hatinya dengan mata terpejam.
....
\=γBersambung....
Note : Cerita ini akan tamat tinggal beberapa episode lagi, dan author cuma ngasih tahu siapkan jantung dan hati kalian untuk episode-episode terakhirnya. Nanti juga akan ada bonus Chapter untuk keluarga bahagia mereka. Di tunggu kelanjutannya yaa..
Salam hangat dari Author, jangan lupa tinggalin jejaknya. Terimakasih atas dukungannya selama ini. Karena kalian luar biasa ππ.
__ADS_1
BTW yang nunggu kisah Yang Pou Han author masih menulis plot , alurnya ya.. mungkin nanti di lanjutin di sini setelah kisan Sean dan Salwa usai. Karena kisahnya gak kalah seru dan terlalu kompleks jadi gak bisa dijadikan satu.
heheehe.. kepanjangan ya pengumumannya.. okey see you, selamat membaca ππ