Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Bodyguard


__ADS_3

"Mas apa itu tidak terlalu berlebihan?" Salwa masih memasang wajah memelas setelah mendengar perkataan Sean.


Setelah kejadian yang baru saja mereka alami di salah satu foodcourt tersebut Sean memutuskan untuk mendampingi Salwa dengan menempatkan dua orang bodyguard yang akan selalu menjaga Salwa selama Sean tidak di sampingnya. Sean merasa di mana pun pasti akan ada orang jahat sehingga ia harus melindungi istrinya itu tanpa terkecuali.


"Tidak, mas tidak ingin terjadi sesuatu denganmu." Sean berucap dengan tegas dan tidak ingin dibantah.


"Tetapi...."Salwa ingin kembali protes, tetapi melihat wajah Sean yang terlihat marah dengan sorot mata tajam membuatnya ragu untuk mengatakannya, ia hanya diam sambil menunduk. Tangannya terpaut dengan tangan yang lain sambil merematnya dalam duduk berdiam diri.


Salwa hanya tidak ingin terlalu mencolok dengan membawa bodyguard kemana-mana. Ia merasa hanya orang biasa, terlalu berlebihan jika orang biasa dikawal ketat layaknya pejabat penting negara.


Melihat Salwa diam dan takut memandangnya, Sean melembutkan tatapannya, ia tahu bahwa istrinya itu tidak nyaman dengan segala pengamanan yang Sean berikan padanya. Tetapi Sean sungguh tidak mau ambil resiko jika terjadi sesuatu dengan Salwa.


Sean berjongkok merendahkan tubuhnya dengan lututnya sebagai tumpuan, berlutut di depan istrinya itu yang tengah duduk sambil menunduk dalam. Ia meraih kedua tangan Salwa lalu mengecupnya secara bergantian.


"Maaf, keselamatanmu sangat penting bagiku. Aku sudah pernah merasa begitu gila saat kau terluka, dan aku tidak mau melakukan kecerobohan yang sama dengan membuatmu seorang diri tanpa perlindungan." Sean menjeda kalimatnya, ia menangkup wajah Salwa agar perempuan itu menatap matanya yang memancarkan rasa cinta yang begitu dalam.


"Dan aku akan merasa cemas sepanjang hari dan sepanjang waktu jika aku merasa kau belum aman." Salwa menatap netra biru itu yang tengah memandangnya dengan penuh kekhawatiran. Ia mengangguk dan membuat lengkungan di bibirnya membentuk sebuah senyuman.


"Aku... aku akan mentaati semua pengaturan yang telah kau buat, pergi bersama dua orang bodyguard yang kau pilihkan. Aku juga akan melapor setiap jam jika kau menginginkannya. Aku ingin kau merasa tenang, dan memikirkan dirimu sendiri tanpa harus mencemaskanku."

__ADS_1


Sean merengkuh tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya, ia tahu bahwa semua terasa berlebihan bagi Salwa, tetapi itu lebih baik daripada ia harus menyesal di kemudian hari.


.......


Tit-tit-tit-tit...


Bunyi memo pengingat di ponsel pintar Sean berbunyi. Jam masih menunjukkan pukul dua dini hari, dengan mata yang sulit terbuka ia membuka layar digitalnya itu.


Jadwal pemberian kontrasepsi.


Sean membacanya sekilas, lalu menutupnya kembali karena dirasa matanya sangat mengantuk. Ia kembali mengeratkan pelukannya ke tubuh istrinya yang berbalut selimut tebal di bawah pendingin ruangan untuk melanjutkan tidurnya.


....


Tidak mungkin kan Salwa kuliah mengucilkan diri tanpa ada teman yang akan diajaknya bicara? Hal itu mendorong Salwa untuk mengikuti kegiatan ospek tersebut dengan bersemangat meskipun ia tahu pasti nanti akan terasa berat tetapi itu nanti bisa menjadi kenangan tersendiri yang bisa diceritakan kepada anak cucunya kelak.


"Mas, apa nanti dua orang ini akan mengikutiku dengan begitu dekat?" Salwa menatap wajah suaminya yang sedang bersandar di kabin penumpang mobilnya itu dengan penuh harap.


Membayangkannya saja Salwa sudah merasa konyol, apalagi yang akan melihatnya nanti. Dia bukan seorang artis, public figure ataupun pejabat tinggi tetapi ia sudah mendapatkan pengawalan ketat seperti itu. Memang siapa sih yang kurang kerjaan dengan berbuat jahat kepadanya?

__ADS_1


"Mereka akan menyamar sebagai mahasiswa juga, dan akan melihatmu dari kejauhan agar tidak terlalu mencolok." Salwa sedikit bernapas lega, setidaknya bayangan konyolnya tidak akan terjadi.


"Tetapi jangan melarikan diri dari mereka," ucap Sean tegas yang diikuti anggukan oleh Salwa.


"Terima kasih, itu sudah cukup bagiku." Salwa tersenyum senang dengan menghadiahi kecupan hangat di pipi kiri suaminya.


"Ehemm." Sean sedikit berdehem merasakan sengatan yang terasa dahsyat menyentuh hatinya saat kecupan kilat yang dilayangkan Salwa kepadanya. Istrinya itu memang tidak pernah menciumnya terlebih dahulu, tetapi saat ini ia melakukannya meskipun hanya di pipi dengan waktu yang begitu cepat.


Entahlah, kecupan singkat itu terasa kurang baginya sehingga Sean menangkup wajah Salwa dengan kedua tangannya lalu mencium bibir mungil yang terlihat ranum dan menggoda itu dengan rakusnya.


Sean menghentikan aksinya setelah Salwa memukul perlahan dadanya agar berhenti. Napas mereka terasa memburu dengan wajah yang sedikit berpeluh. Sean menahan kepala istrinya itu berada di dadanya, menetralisir keinginan berlebih yang sedang ia rasakan. Irama detak jantung Sean yang cepat berangsur-angsur normal kembali. Ia melepaskan pelukannya sehingga Salwa bisa menegakkan tubuhnya.


"Kenapa wajahmu memerah?" Sean yang sudah kembali dengan kesadarannya menggoda istrinya yang tampak menunduk malu. Sean mengangkat perlahan dagu Salwa agar perempuan itu mengangkat wajahnya. Ia mengambil sapu tangan yang ada di dalam saku jasnya lalu ia usapkan di bibir istrinya yang tampak belepotan akibat ciuman mereka.


"Sudah sampai, turunlah," ucap Sean lirih dengan memberikan kecupan singkat di bibir Salwa yang sudah ia bersihkan dengan sapu tangan tadi.


Salwa mengangguk, ia mencium punggung tangan suaminya itu lalu membuka pintu mobil dan melangkah keluar.


Setelah mobil Sean pergi Salwa melangkah masuk ke area kampus diikuti dua orang bodyguard-nya yang berjalan di belakangnya dengan menjaga jarak beberapa meter dari Salwa.

__ADS_1


__ADS_2