
Sean menutup mata Salwa menggunakan kain hitam yang sudah ia persiapkan. Salwa hanya diam sambil menggenggam jemari suaminya yang kini duduk di kabin penumpang mobil yang akan membawa mereka ke lokasi acara.
Genggaman tangan Salwa terasa mengerat ketika mobil melaju cepat di atas aspal jalanan. Sean bisa merasakan bahwa saat ini Salwa tengah begitu gugup menanti kejutan apa yang diberikan Sean untuknya.
"Kau berkeringat?" Sean merasa genggaman tangan Salwa sedikit basah oleh keringat membuat dirinya terheran-heran.
"Aku gugup," jawab Salwa dengan jujur.
Sean menyunggingkan senyumnya, lalu menangkup genggaman tangan Salwa dengan tangannya yang lain. Memastikan kepada istrinya itu bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Iring-iringan mobil terhenti di sebuah pantai, Salwa bisa merasakannya saat hembusan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya dengan melambai-lambaikan gaun yang ia kenakan ketika kakinya terpijak di tanah.
Aroma air laut yang menyegarkan indra penciumannya dengan hawa sejuk yang tiba-tiba merasuk ke kulit membuat Salwa yakin bahwa saat ini dia berada di pantai.
"Apakah ini di pantai?" tanya Salwa yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Pegang tangaku dengan erat, agar kau tidak terjatuh," ucap Sean dengan mengabaikan pertanyaan Salwa.
Salwa menurut, tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengikuti perkataan suaminya. Ia harus bersabar demi apapun juga. Sedikit lebih sabar mungkin akan membuat kejutan menjadi lebih manis.
Perlahan ia melangkahkan kakinya dengan sangat hati-hati dengan tangan menggenggam erat tangan Sean. Tidak berselang lama akhirnya mereka berhenti di sebuah tempat, Sean memosisikan dirinya di belakang Salwa lalu berbisik lembut di telinganya.
"Happy Annyversary my wife," ucap Sean dengan membuka kain hitam yang menutup mata Salwa.
Salwa ternganga melihat apa yang ada di depan matanya. Sebuah dekorasi pernikahan yang begitu mewah dengan dipenuhi bunga mawar putih yang tertata cantik di atas meja dan di bagian atap maupun tepi-tepi tenda. Salwa menutup mulutnya yang terbuka, ia tidak menyangka suaminya memberi kejutan yang sangat indah untuknya, bahkan membayangkannya pun ia tidak pernah.
"Apa kau menyukainya? Ini tidak kalah dengan pernikahan Abust bukan?" bisik Sean sekali lagi di telinga Salwa.
"Apa kau bercanda? Ini... sangat indah. Aku sedang tidak bermimpi bukan?"
Salwa berjalan mendekat ke area di mana bunga-bunga asli yang ditata dengan begitu cantik di atas meja lalu mengambilnya barang setangkai. Ia mengendus aroma harum dari bunga yang ia ambil tersebut membuat hidungnya berpesta pora menikmati aroma dari bunga mawar putih itu sambil memejamkan mata.
Sean menyusulnya di belakang, lalu meletakkan tangannya menyilang di bahu Salwa yang membuat perempuan itu menoleh ke arahnya.
"Kau merencanakan semua ini sendiri? Terima kasih," ucap Salwa tulus.
"Asalkan kau bahagia, aku akan mengusahakan sebisaku," Sean berkata sambil memandang wajah Salwa dengan tatapan penuh.
Salwa tersenyum lalu memeluk suaminya dengan mengucapkan terima kasih berkali-kali.
Setiap perempuan pasti memimpikan akan menikah dengan seseorang yang dicintainya dan mengadakan pesta pernikahan meskipun sederhana yang akan dihadiri oleh kerabat dekat dan juga sahabat. Tetapi saat Salwa mendapati dirinya sudah menikah dengan tanpa perayaan atau seseorang terdekatnya mengucapkan selamat, ia hanya bisa menerimanya dengan suka cita.
Tidak pernah sekali pun ia menyesali semua suratan Tuhan yang sudah digariskan kepadanya. Ada pesta ataupun tidak, tidak lagi menjadi soalan asalkan suaminya bertanggung jawab dan mencintainya. Namun, ketika Sean memberikan kejutan manis yang luar biasa di tahun pernikahannya yang ke empat ini, mimpi indah itu datang kembali tetapi bukan berupa angan ataupun hayalan melainkan sebuah kenyataan. Hal itu membuat hati Salwa tersentuh dengan rasa haru yang teramat sangat.
Salwa tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia terharu mendapatkan kejutan istimewa seperti itu. Sehingga ia hanya bisa mengapit lengan Sean untuk dipeluknya dengan tersenyum bahagia.
"Karena pemeran utama sudah datang, kita akan memulai pestanya."
Sean menoleh ke belakang, mengintruksikan kepada anak buahnya untuk mempersilakan tamu undangan memasuki arena.
Salwa hampir tidak percaya melihat begitu banyaknya tamu yang ternyata sudah lama menunggu kedatangan mereka.
Kinan digendong oleh David dengan Marcus yang ada di samping mereka. Ketiganya berjalan mendekat ke arah Sean dan Salwa untuk memberikan selamat.
__ADS_1
"Selamat ya, semoga pernikahan kalian diliputi kebahagiaan dan dijauhkan dari mala petaka." Marcus memberi selamat kepada Sean dengan memeluk lelaki itu penuh dengan keakraban.
Sean membalas pelukan itu dengan sama hangatnya. "Terima kasih, semoga kau segera menyusul."
Marcus hanya terkekeh mendengar jawaban dari saudara sepupunya itu sambil memukul pelan punggung Sean lalu kemudian melepaskan pelukannya diiringi tawa keduanya.
Kini giliran David dan Kinan yang memberi selamat kepada Sean dan Salwa. "Selamat ya, ayah sangat bahagia untuk kalian. Semoga kalian bisa langgeng sampai maut memisahkan."
David memeluk putra semata wayangnya itu dengan erat, ia meneteskan air mata bahagianya di kala dua tubuh itu saling merapat. Ia tidak menyangka menyaksikan momen bahagia Sean di masa tuanya seperti ini. Meskipun ini bukan pesta pernikahan yang sesungguhnya tetapi David bisa melihat kebahagiaan di mata keduanya.
"Ayah, ayah," suara Kinan mengalihkan perhatian Sean dan David. Kedua orang dewasa itu menatap bocah kecil itu dengan lembut.
Sean segera mengangkat tubuh mungil itu dalam gendongannya dengan lengan kiri sebagai tumpuan lalu menanyai putra tampannya itu. "Ada apa?"
"Ayah apa adik inan udah jadi?" ucap Kinan dengan bersemangat menagih janji ayahnya untuk memberikannya seorang adik.
Mendengar perkataan Kinan Salwa mencolek pinggang suaminya itu dengan tatapan menuntut jawaban, tetapi hanya dibalas kekehan oleh Sean.
"Belum, sabar ya," bisik Sean di telinga Kinan agar Salwa tidak mendengar perkataannya.
"Belum? kalo becok?" tanya Kinan lagi dengan raut wajah penuh harap.
Sean meringis mendapat tatapan wajah menggemaskan dari anaknya, tetapi kemudian ia berbisik lagi di telinga Kinan. "Kalau sudah jadi, Kinan orang pertama yang akan ayah beri tahu."
"Janji?" ucap Kinan sambil menyodorkan jari kelingkingnya.
"Janji." Sean dengan wajah sungguh-sungguh menyambut jari kelingking anaknya untuk ia kaitkan dengan jarinya sendiri.
Kedua pria berwajah mirip itu kemudian tergelak ceria.
"Apakah aku boleh mengajak keponakanku?" Leon tiba-tiba datang bersama Fang Yi ikut bergabung dengan keluarga besar Sean. Leon berkata sambil menunjukkan mainan pesawat terbang di depan Kinan membuat anak laki-laki itu berteriak kesenangan.
Leon terkekeh, dengan sigap lelaki itu mengambil alih Kinan untuk diajaknya bermain di tanah pantai yang berpasir putih.
"Hati-hati menjaganya," teriak Sean saat Leon membawa Kinan pergi. Lelaki itu hanya menunjukkaan ibu jarinya untuk ia angkat tinggi-tinggi tanpa menoleh ke arah Sean. Fang Yi pun ikut bersamanya karena merasa tidak ada orang lain yang dikenalnya di tempat itu.
Keluarga Salwa juga datang, terlihatlah Samsul Arifin, Darmini dan ketiga adiknya datang menghampiri.
Salwa tersenyum melihat keluarganya juga ikut hadir di pesta ulang tahun pernikahannya, sekali lagi Salwa memandang Sean yang juga memandangnya dengan saling melemparkan senyum.
"Ibuk!" Salwa segera berhambur memeluk ibunya, kedua wanita hebat itu berpelukan erat dengan perasaan sama bahagianya.
"Selamat ya, ibu sangat bersyukur kau mendapatkan kebahagiaanmu. Mendapatkan suami yang luar biasa yang mencintaimu. Semoga kalian hidup bahagia selamanya." Darmini mengucapkan doa-doa dan harapan untuk putri sulungnya sambil beberapa kali menyeka air matanya.
"Terima Kasih," hanya itu kata yang mampu terucap di bibir Salwa dengan senyum mengembang di bibirnya.
Samsul Arifin yang datang juga mengucapkan selamat dengan memeluk hangat menantunya. Ia menepuk-nepuk punggung Sean sambil mengucapkan terima kasih dengan tulus.
"Terima kasih, sudah membuat putriku bahagia. Terima kasih sudah mau menerima dan mencintainya, terima kasih."
"Tidak perlu berterima kasih. Akulah yang mestinya berterima kasih kepada kalian karena telah mendidik putri kalian dengan baik, sehingga dia tumbuh menjadi wanita yang luar biasa. Terima kasih."
Kedua laki-laki itu pun saling melepas pelukannya sambil menyunggingkan senyum bahagianya.
Para tamu undangan terutama rekan bisnis Sean secara bergantian bersalaman untuk memberikan selamat serta doa-doa yang baik kepada Sean maupun Salwa. Tidak lupa juga beberapa kado yang sengaja dibawa sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka berdua.
__ADS_1
Teman-teman Salwa juga turut diundang oleh Sean, terutama teman-teman yang sempat melakukan bullying kepada Salwa dulu. Ya, Sean sudah menyelidiki semua terkait masa lalu Salwa dan teman-temannya yang sering menghina dan mengganggu istrinya itu.
Angela datang bersama ayahnya yaitu Alif Reynan. Sebelumnya Angela merasa tidak ingin menghadiri undangan tersebut, ia merasa Salwa pasti akan mengejeknya dan itu sama saja dengan dirinya sedang merendahkan diri. Namun, papanya memaksa untuk menghadiri acara tersebut karena dirinya adalah kepala sekolah yang di mana Sean adalah donatur utama di sekolahnya. Sungguh tidak pantas jika dirinya tidak menghadiri acara penting tersebut bukan?
Pun demikian dengan Angela, selain dirinya adalah teman seangkatan Salwa. Perempuan itu juga menjadi karyawan di salah satu anak cabang perusahaan Sean.
Di luar perkiraan Angela, ternyata Sean menerimanya untuk menduduki kursi bagian staf administrasi di perusahaan cabang miliknya. Bukan suatu kebetulan, tetapi Sean memang sengaja mengatur demikian adanya. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa posisi Angela saat ini jauh berada di bawah Salwa, agar perempuan itu menyadari siapa dirinya dibandingkan Salwa.
Beberapa teman Angela juga turut menghadiri acara ulang tahun pernikahan Salwa. Bagaimana tidak, meskipun mereka merasa malu karena sebelumnya sering mencibir, menghina bahkan merendahkan Salwa di depan banyak orang tetapi mereka masih ingin datang ke acara tersebut.
Tidak tanggung-tanggung, Sean memberikan souvenir sebuah koin emas dua puluh empat karat seberat lima gram yang di permukaannya terukir namanya dan nama Salwa beserta tanggal pernikahan mereka yaitu empat tahun yang lalu kepada semua tamu undangan yang menghadiri acara ulang tahun pernikahannya. Bukankah hal itu sangat sayang jika dilewatkan bukan? Sehingga semua teman-teman Salwa mempertebal muka mereka hanya untuk memberi selamat kepada Salwa meskipun hanya di bibir demi mendapatkan souvenir berharga itu.
Varo dan orang tuanya juga turut bergabung, mereka secara bergantian menyalami Sean dan Salwa. Tidak lupa Sean mengucapkan terima kasih kepada ayah Varo atas bantuannya selama ini kepadanya.
Varo mengulurkan tangan kepada Sean yang langsung disambut oleh jabatan tangan yang tegas dan sedikit menekan. Tanpa disangka Sean menarik tangan Varo ke arahnya lalu memberikan pelukan kepada laki-laki itu seolah keduanya adalah teman akrab.
"Jika kau masih penasaran bagaimana aku bisa menikahinya, kau bisa menanyakan kepada ayahmu. Karena ayahmu yang membantuku menikahinya," bisik Sean sengaja memprovokasi sambil menepuk-nepuk punggung Varo.
Varo hanya melirik kesal setelah Sean melepaskan pelukannya, lalu ia beralih ke arah Salwa. Perempuan itu terlihat sangat cantik dengan senyum teduhnya. Bagaimana dia bisa berakhir menjadi suami pengusaha kaya mungkin sudah menjadi jalan takdirnya.
Varo hanya bisa melihatnya tanpa bisa memiliki, dan dia harus bersenang hati pernah menjadi orang penting di hati Salwa, meskipun itu hanya sebentar. Waktu tidak bisa diulang, menyesal tiada guna sehingga ia harus mengikhlaskan begitu saja apa yang sudah menjadi jalan takdir mereka. Mungkin Tuhan sedang mengaturkan pertemuan jodohnya yang akan datang sebentar lagi.
"Selamat, semoga kau bahagia bersamanya. Dan jika dia mengecewakanmu, kau bisa datang kepadaku."
"Kau!" Sean mencekal tangan Varo dengan menatap tajam ke arahnya, tetapi Varo segera menepis dan beranjak pergi tidak ingin berurusan dengan laki-laki mengerikan itu.
Varo berjalan keluar area pesta, menyusuri bibir pantai sembari melempar kerikil-kerikil kecil di sana yang makin lama lemparannya semakin jauh seolah ingin melampiaskan kekesalannya.
Sean Paderson menikahi Salwa yang jarak usianya sebelas tahun lebih muda, bagaimana bisa laki-laki seperti itu menyukai gadis muda yang sangat polos seperti Salwa? Tunggu, sebelas tahun lebih muda? Atau jangan-jangan Tuhan telah mempersiapkan jodoh untuk Varo yaitu gadis yang sebelas tahun lebih muda darinya. Jika Varo saat ini berusia dua puluh tiga tahun, itu berarti jodohnya bisa saja masih berusia dua belas tahun dan artinya masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar.
Varo buru-buru menggelengkan kepalanya, memikirkan hal mengerikan itu. Bagaimana bisa dia mencintai gadis yang masih bocah seperti itu?
BUGGH
"Auh," Varo mengeluh saat bola terlempar tepat di kepalanya.
"Maaf om, tidak sengaja." Seorang gadis kecil terlihat takut-takut karena bola yang dipakainya mengenai kepala seseorang yang tidak dikenal.
Varo mengambil bola itu dengan kesal, ia ingin menendang bola itu ke tengah laut supaya terhanyut oleh ombak yang entah akan membawanya kemana. Siapa tahu dengan hanyutnya bola itu, hanyut pula rasa kesalnya saat ini. Ketika kakinya hendak menendang bola tersebut pandangan gadis pemilik bola itu terlihat menyedihkan membuat Varo mengurungkan niatnya, tidak tega.
Gadis itu nampak ragu, ingin maju mengambil bolanya dari tangan Varo tetapi tidak berani karena wajah Varo terlihat begitu kesal dan tidak bersahabat.
Menyadari hal itu, Varo membungkuk lalu memanggil gadis kecil itu untuk mengambil bola di tangannya.
"Kemarilah, ambil bolamu!" ucap Varo berusaha lembut membujuk gadis itu.
Gadis itu bergeming lalu beberapa detik kemudian seulas senyum terbit di bibir gadis kecil itu yang membuatnya terlihat manis. Ia berjalan sedikit cepat sambil setengah berlari menuju ke tempat Varo. Rok panjang yang dipakainya melambai-lambai diterpa angin juga rambutnya yang dikuncir kuda dengan poni pendek yang sudah tidak rapi membuat kesan lucu dan menggemaskan jika dipandang.
Gadis itu mengulurkan kedua tangannya menunggu bola dilempar kepadanya, dan dengan cepat Varo melemparkannya perlahan agar gadis itu lebih mudah menangkapnya.
"Terima kasih om," ucap gadis itu sambil menunjukkan senyum manisnya. Varo ingin menjabat tangannya tetapi suara teriakan mengurungkan niatnya.
"Azlina, ayo kemari!" Tampak seorang laki-laki memanggil nama gadis itu.
Gadis itu menoleh lalu menjawab dengan teriakan yang sama. "Iya bang Ahsan, tunggu!" jawabnya sambil berlari meninggalkan Varo yang mematung seorang diri.
__ADS_1
.....
Ciiee.... apakah mereka berjodoh? Entahlah.. 😊