Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Angela Part 2


__ADS_3

Wajah Angela sungguh tampak berseri-seri melihat siapa yang mendatanginya. Ia merapikan pakaiannya yang sudah rapi dan membenarkan rambutnya yang masih tertata cantik. Entahlah, Angela merasa ada saja yang kurang dengan penampilannya. Padahal sebelumnya ia sudah mematut dirinya di cermin berkali-kali hingga menghabiskan beberapa jam hanya untuk memberi kesan 'cantik' kepada Sean Paderson.


Angela juga memasang berbagai ekspresi di depan cermin, seperti tersenyum, sedih, cemberut, dan lain sebagainya. Ia tidak ingin ekspresinya yang sempat tertangkap oleh indera pengelihatan Sean terlihat jelek sehingga memberi kesan cacat dari segi fisiknya. Ia harus benar-benar mempersiapkan pertemuannya kali ini. Sean harus tertarik kepadanya, agar rencana selanjutnya bisa berjalan lancar tanpa hambatan.


"Nona..." Sean sengaja memanjangkan kata 'nona' seolah dirinya terlupa dengan siapa yang sedang diajaknya bicara, sehingga membuat Angela tidak bisa menahan diri untuk tidak segera menyahut perkataan Sean.


"Angela Sandy Raynan, panggil saja Angela"


"Silahkan duduk kembali nona Angela." Sean duduk bersebrangan dengan Angela sambil bersandar santai di sandaran sofa empuk miliknya. Ia melihat penampilan Angela dari atas hingga ke bawah, tidak ada yang salah dengan penampilan perempuan itu, tetapi mungkin niatnya yang salah. Sean menyadari itu sehingga ia memutuskan ingin mengikuti skenario yang telah disusun Angela sampai selesai.


Angela merasa Sean mulai tertarik dengannya, melihat bagaimana lelaki itu memperhatikannya sampai sebegitu detailnya, ia yakin misinya kali ini akan berjalan sesuai rencana. Angela menghempaskan rasa gugup di hatinya. Ia harus bisa melewati saat ini dengan sempurna, ini adalah pertemuan eksklusif dengan tuan Paderson dan ia akan memberikan citra luar biasa yang nantinya akan melekat kuat di ingatan Sean setelah mereka berpisah.


"Saya datang untuk melanjutkan pembicaraan mengenai proyek kerjasama dengan salah satu yayasan papa saya, Alif Raynan. Apakah tuan Paderson mau membahasnya disini atau di tempat lain?"


Angela memberanikan diri sedikit menantang Sean, bukannya seorang pria bule menyukai wanita yang menantang. Angela sudah mempelajari beberapa perilaku pria negara asing yang sering bergonta-ganti wanita hanya untuk menemaninya tidur semalaman, bahkan mereka mampu membayar mahal perempuan yang diinginkannya hanya untuk mencoba hal baru dari 'permainan ranjang' dengan wanita yang berbeda.


Angela tidak peduli akan hal itu, dilihat dari postur tubuhnya, Angela bisa membayangkan bagaimana dahsyatnya lelaki itu jika memperlakukan perempuan di atas ranjang. Jika Angela bisa membawa Sean sekali saja bersamanya, ia yakin Sean akan takluk dengannya.


"Mungkin lain waktu kita bisa berbicara di luar, tetapi saat ini saya ingin menghabiskan waktu di rumah saja."


"Oh, tentu saja. Dimana pun itu akan sama saja karena kita akan membahas pekerjaan, bukankah begitu tuan?"


Sean menunjukkan senyum memesonanya yang membuat jantung Angela semakin berdegub kencang, ia hampir gemetar ditatap bersamaan dengan senyuman sebegitu menawannya.


"Ini di rumah nona Angela, kita lebih santai disini daripada di kantor, sehingga mungkin bisa membahas hal lain selain pekerjaan. Tetapi mungkin anda lebih tertarik membahas pekerjaan secara langsung sehingga urusan anda lebih cepat selesai."


Angela buru-buru menggelengkan kepalanya kuat-kuat tidak membenarkan perkataan Sean. Tentu saja ia tidak ingin cepat selesai, ia ingin berlama-lama disini dan ditemani lelaki tampan dan kaya seperti yang ada di depannya.


"Tentu saja saya lebih suka berbicara pekerjaan dengan hal lain juga, karena dengan begitu kita bisa saling dekat."


"Silahkan anda periksa, semua file yang dibutuhkan mengenai kerjasama kita kedepannya sudah saya siapkan dan atur dengan baik."


Angela memberikan satu bendel yang berisi memorandum of understanding atau biasa disebut dengan MOU beserta beberapa file penting lain yang dijadikan literature kesepakatan mereka.


"Kami yakin kerjasama kita sangat menguntungkan kedua belah pihak ke depannya."


Sean menerimanya, lalu membalik helai demi helai kertas tersebut sambil membacanya secara ringkas dan juga cepat, karena butuh waktu sedikit saja bagi Sean untuk memindai semua tulisan tersebut lalu kemudian memindahkannya ke dalam otaknya. File-file tersebut ditutup kembali oleh Sean yang setelahnya ia letakkan di atas meja yang ada di depannya.


Sean kembali bersandar dengan santai sambil menatap Angela yang sedari tadi memperhatikannya.


"Kau bilang ingin membicarakan hal lain selain pekerjaan, apa yang ingin kau bicarakan kepadaku nona Angela?"


Angela menipiskan bibirnya, ia berpikir bahwa inilah saatnya membongkar keburukan Salwa di depan majikannya agar pembantu sok kecantikan itu segera diusir dari rumah mewah ini.


Angela sudah menyusun skenario terbaiknya, dialog apa yang akan ia ungkapkan kepada Sean Paderson. Ia sudah menghafalnya sejak kemarin sehingga hari ini ia memastikan tidak akan ada kesalahan sedikitpun darinya. Angela bisa dikatakan benar-benar siap bertemu sang pangeran pujaan hati.


Sean mengangguk saat pelayan datang membawakan jamuan minuman dengan sepiring buah slice yang masih segar, dilihat dari potongan-potongan buah tersebut Sean bisa memastikan bahwa istrinyalah yang mempersiapkannya. Padahal Sean tahu bahwa tamu yang dijamu oleh Salwa ini mempunyai niat buruk kepadanya, tetapi Salwa terlalu baik hati sehingga siapapun yang datang pasti akan dijamu dengan baik.


"Silahkan nona Angela!" Sean mepersilahkan Angela untuk mencicipi hidangan yang disediakan. Akan mubazir nantinya jika hidangan tidak dimakan bukan? Sehingga Sean dengan ramah mempersilahkan kepada Angela untuk menikmati hidangan kecil di atas meja tersebut.

__ADS_1


Angela dengan gaya elegannya menusukkan garpu ke salah satu potongan buah kiwi lalu memasukkannya ke dalam mulutnya sedikit. Ia tidak mungkin langsung memakannya dalam satu lahapan karena akan membuatnya membuka mulut lebar-lebar dan itu akan mengurangi nilai estetika dan kecantikannya. Meskipun buah itu cukup muat dalam satu gigitan saja tetapi Angela tidak akan melakukannya. Dalam pikirannya dia harus cantik dan cantik. Memberikan kesan menarik, elegan dan smart kepada Sean adalah fokus utamanya.


"Tuan Paderson, saya datang kesini selain membahas masalah proyek kerjasama tetapi juga ada hal lain yang sangat penting mengenai keselamatan anda."


"Benarkah?" Sean bersedekap dada sambil menatap tajam Angela, ia hanya membiarkan Angela mengatakan apa yang ingin ia katakan karena sebenarnya Sean sangat malas berhadapan dengan wanita berjenis ular seperti itu.


"Saya membahas tentang salah satu pembantu wanita anda yang usianya masih sangat muda, namanya Salwa Humaira. Anda pasti mengenalnya bukan?"


Sean mengertakkan gerahamnya mendengar nama Salwa disebut sebagai seorang pembantu, memang dulu Salwa adalah pembantunya tetapi saat ini Salwa adalah ratu di rumah ini. Tetapi Sean mencoba menahan diri untuk tidak menunjukkan kemarahannya kepada Angela.


"Tentu saja saya sangat mengenalnya dengan sangat baik."


Angela tersenyum lebar karena Sean tidak mempermasalahkan pertanyaannya yang keluar dari topik pembahasan. Mungkin Sean memanglah tipe lelaki yang humble kepada wanita cantik sepertinya. Angela merasa tingkat kepercayaan dirinya semakin bertambah, sehingga lidahnya yang tak bertulang itu mengalunkan kata-kata yang sama sekali tidak ia pikirkan terlebih dahulu. Mungkin benar kata pepatah, "Mulutmu harimaumu", dan itu benar terjadi kepada Angela saat ini.


"Anda harus berhati-hati dengan pembantu itu, ia sama sekali bukan perempuan baik-baik. Saya mengenalnya sejak sekolah menengah atas, dia memang gadis pendiam tetapi dibalik kediamannya ia mempunyai banyak rahasia. Dia terlihat baik, tetapi anda perlu hati-hati karena banyak lelaki yang sudah dikelabuhinya. Saya yakin anda tidak akan tertarik dengan perempuan yang berpenampilan seperti itu, tetapi anda harus tetap berhati-hati dengannya."


"Banyak lelaki yang sudah dikelabuhi?" Sean mengulang perkataan Angela yang sepertinya kalimat tersebut yang di garis bawahi oleh Sean.


"Benar, dibalik wajah polosnya itu ia mempunyai hati yang licik, bahkan ia sempat mendekati teman laki-lakinya agar mempertanggungjawabkan anak haram yang sedang dikandungnya saat ini."


Sean terlihat begitu marah, dari sorot matanya yang berubah menggelap menandakan lelaki itu sudah marah di luar batas. Ia tidak mengira Salwa difitnah sebegitu kejamnya oleh perempuan yang mengaku sebagai temannya.


Angela yang melihat aura kemarahan Sean tersenyum puas, ia yakin bahwa kemarahan lelaki itu bukan di tujukan untuknya, melainkan untuk pembantunya yang kegenitan itu. Angela merasa usahanya semakin berhasil, dan ia bisa memastikan setelah ini Sean Paderson akan segera mengusirnya dari rumah ini.


"Anak haram? Siapa yang kau maksudkan dengan anak haram?" Suara Sean terdengar berat dan penuh penekanan. Ia semakin tidak rela jika anak yang sangat ia nanti-nantikan itu disebut dengan anak haram oleh perempuan ular di depannya ini.


"Iya, pelayan yang sedang anda tolong saat pingsan di kampus itu tengah mengandung anak haram, bahkan ia tidak bisa menjawab siapa ayah dari anak yang ada di dalam rahimnya. Itu sudah membuktikan bahwa perempuan itu adalah perempuan murahan yang berkamuflase menjadi perempuan baik-baik, dan mungkin tubuhnya sudah dinikmati oleh banyak laki-laki sehingga ia terpaksa membalut tubuhnya dengan rapat agar...."


Angela belum sempat melanjutkan kalimatnya tetapi tangan Sean sudah sangat gatal sehingga tidak bisa menahan untuk tidak menampar perempuan dengan mulut penuh bisa itu.


"Tuan Paderson, anda menampar saya?" Angela memegang pipinya yang kemerahan akibat tamparan Sean yang keras, bahkan bibirnya terasa perih dan panas.


Angela masih tidak mengerti mengapa ia mendapatkan tamparan keras seperti itu, seharusnya ia mendapatkan pujian dan ucapan terimakasih karena ia telah berbaik hati menunjukkan kebenaran, tetapi ia malah mendapatkan pukulan yang sangat menyakitkan. Apakah perempuan itu sudah mempengaruhi tuan Paderson, sehingga lelaki tampan di depannya ini tidak suka jika ada yang menjelek-jelekkan Salwa.


Tidak, Angela sepertinya kalah start dengan Salwa. Perempuan licik itu ternyata cukup pintar memanfaatkan situasi, bahkan saat mahasiswa mendemonya tuan Paderson mau menolongnya bahkan menggendongnya dengan kedua tangan kekarnya sendiri. Saat itu Angela ingin menjadi Salwa, ia ingin menggantikan posisi Salwa yang diperlakukan manis oleh lelaki yang ia inginkan.


"Nona Angela, aku belum pernah menampar seorang wanita. Dan jika aku melakukannya itu karena wanita itu sudah di luar batas."


Sean berdiri dari duduknya lalu menatap tajam ke arah Angela, dan saat ini Angela sepertinya mulai takut dengan tatapan Sean yang tampak mengerikan itu.


"Kau terlalu percaya diri dengan kemampuanmu, kelebihanmu dan mungkin kekayaanmu yang ... tidak seberapa itu. Kau melupakan hal lain yang lebih penting bahkan kau mengabaikan segala bukti yang ada di depan mata karena kau terlalu fokus dengan pikiran dan imajinasimu sendiri."


Sean membalikkan badan memunggungi Angela lalu berjalan ke belakang dan berhenti tepat di depan lorong. Sean mengulurkan tangannya seolah ada seseorang yang penting yang sedang ia sambut.


"Sayang, kemarilah." Sean berucap dengan keras namun terdengar lembut.


Angela yang mendengar Sean menyebut kata sayang menengadah, melihat siapa yang Sean maksud dengan 'sayang' itu. Dari atas sofa yang ia duduki, Angela bisa melihat sebuah tangan berjemari lentik menyambut uluran tangan Sean yang kemudian saling menggenggam erat bak sepasang kekasih yang sedang bergandengan tangan. Sean melembutkan pandangannya dengan senyum merekah memandang seseorang yang masih bersembunyi di balik dinding tersebut.


Angela terperangah saat mengetahui siapa yang sedang keluar dari balik lorong dengan pencahayaan temaram itu.

__ADS_1


"Salwa.."


Salwa tersenyum manis kepada Angela, perempuan itu berjalan perlahan dengan tangan Sean melingkar di lengannya menuntun perempuan itu untuk duduk di sofa empuk yang bersebrangan dengan tempat duduk Angela.


"Tidak, itu tidak mungkin. Apa hubungan kalian?" Angela seperti ditikam belati berlapis-lapis. Kenyataan di depan matanya sungguh tidak bisa dipercaya. Salwa hanya gadis miskin, dia seorang pelayan dan akan tetap menjadi pelayan. Ia tidak boleh bernasib lebih baik daripada Angela.


Sean yang berdiri di belakang sofa yang di duduki oleh Salwa dengan kedua tangan menyentuh bahu istrinya lembut membuka suara.


"Kau bahkan menanyakan hal yang sudah sangat jelas di depan mata. Mungkin aku akan meminjami mu sebuah kaca pembesar sehingga kau bisa melihat dengan jelas foto berukuran besar yang ada di dinding sampingmu itu."


Angela melihat ke arah dinding yang berada di sampingnya, ia semakin terperangah melihat apa yang sedang bergantung, menempel dengan cantik di dinding bercat putih itu. Sebuah foto pernikahan berukuran sangat besar yang dimana di dalamnya terlihat Sean dengan tuxedo mahalnya memegang bahu Salwa sambil tersenyum bahagia. Angela juga melihat Salwa yang meskipun pikirannya menyangkal tetapi hatinya mengamini bahwa perempuan itu terlihat cantik dengan gaun pengantinnya yang anggun dan ia yakin gaun tersebut sangatlah mahal dan dipesan secara khusus oleh designer ternama.


"Kalian sudah menikah?" Suara Angela terdengar bergetar, ia tidak ingin mempercayai apa yang baru saja ia lihat. Sejak kapan foto itu bertengger disana. Padahal sejak tadi matanya menyapu keseluruhan isi ruangan itu, sangat aneh jika ia tidak memperhatikan foto besar yang tepat berada di sampingnya.


"Ya, kami sudah menikah. Dan anak yang kau anggap sebagai anak haram itu adalah anakku, anak dari buah cinta kami."


Sean berjalan memutar lalu duduk di samping Salwa, tangannya terulur meraih lengan istrinya dengan posisi melingkar dari arah belakang lalu menariknya mendekat sehingga tubuh Salwa sekarang sudah melekat erat ke samping dengan tubuh suaminya.


"Nona Angela, kau mungkin gadis yang pintar tetapi kau terlalu arogan sehingga kau terjerumus dengan pikiran-pikiran kotormu itu. Tadinya aku sempat tertarik dengan kerjasama yang kau tawarkan, tetapi melihat sikapmu yang seperti itu, aku memutuskan untuk membatalkan kerjasama kita."


"Tapi..., Salwa adalah pembantu. Bagaimana kau bisa menikahi seorang rendahan sepertinya. Bahkan penampilannya begitu kampungan, kau pasti sedang membuat lelucon bukan?"


Angela berusaha bersikap rasional, Sean Paderson adalah seorang warga negara asing yang hanya tertarik dengan perempuan berpakaian terbuka dengan lekuk tubuh indah seperti dirinya. Hanya omong kosong jika Sean mengatakan bahwa Salwa adalah istrinya.


Mendengar perkataan Angela, Sean semakin marah. Ia menggebrak meja dengan keras sehingga membuat Angela maupun Salwa terlonjak karena terkejut.


"Mas!" Salwa menyentuh dada suaminya itu, berusaha membuat amarah Sean tidak terpancing keluar.


Sean menangkap tangan Salwa, lalu mencium lembut tangan istrinya itu yang kemudian ia letakkan di atas pahanya.


"Mungkin kau butuh satu pelajaran, sehingga bisa menggunakan mulutmu dan otakmu dengan benar. Baiklah, aku sudah memutuskan bahwa proyek yang kau ajukan itu selamanya tidak akan mendapatkan investor dan tidak akan pernah terwujud sampai kapanpun. Sekarang pergilah!"


Angela membelalakkan mata, ia diusir begitu saja di depan perempuan rendahan seperti Salwa. Ia masih tidak bisa menerima kenyataan yang ada. Hati kecilnya memberontak keras membuat tangannya secara implusif bergerak maju menarik kerudung Salwa dan berniat mengacak-acak rambut perempuan rendahan itu.


"Angela!" Sean berteriak keras membentak Angela dengan menghempaskan tangan perempuan itu yang berani melukai istrinya sehingga membuat Angela tersungkur di bawah meja.


"Pergi dari sini, ambil barang-barangmu!" Sean melempar berkas-berkas yang dibawa oleh Angela tadi di depan wajah perempuan itu. Angela merasa terhina, ia tidak terima dilerlakukan seperti itu, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain memunguti kertas-kertas yang berserakan di depannya.


"Mas, kau tidak perlu melakukan itu." Salwa tidak tega melihat Angela seperti itu, pasti saat ini Angela merasa sangat malu. Kenapa suaminya harus kasar dengan Angela yang merupakan seorang wanita. Salwa ingin membantu Angela tetapi Sean menahannya.


"Biarkan saja." Sean masih menatap Angela dengan tatapan kilatnya yang dingin dan gelap. Setelah Angela mengumpulkan semua berkas-berkasnya ia berdiri tegap lalu memutar arah menuju pintu keluar.


"Tunggu!"


Dengan wajah menunduk menahan tangis Angela akhirnya menghentikan langkahnya.


"Belajarlah hidup sederhana mulai sekarang, nona Angela."


Sean berkata dengan tenang namun sarat akan ancaman. Entahlah, apa yang akan ia perbuat untuk Angela.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2