Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Kesakitan lagi


__ADS_3

"Kau bilang Milly selamat, lalu apa ini!" Abust membentak ke arah Fang Yi saat melihat kondisi Milly yang hampir sekarat. Mereka sedang berada di ruang ICU khusus untuk pasien kelas atas. Ruangan itu bisa dilewati dengan lift khusus yang hanya seseorang yang mempunyai kartu berwarna hitam legam dengan logo rumah sakit tersebut.


Lelaki itu tampak berbaring lemah dengan banyaknya kabel-kabel di atas dadanya dengan kepala berbalut perban tebal. Matanya terpejam rapat dengan napas naik turun dengan tempo cepat dan pendek-pendek. Bukan hanya di kepala, Abust juga melihat banyaknya perban yang membalut kaki dan lengan Milly.


Fang Yi hanya melirik ke arah Abust, sedikit kesal dengan adik angkat Sean itu. Padahal, jika Fang Yi tidak bertindak cepat mungkin kondisi Milly akan lebih parah dari ini, dan besar kemungkinan lelaki itu sudah tidak bernyawa dengan kepala hancur dan tulang retak bahkan patah dimana-mana.


"Aku hanya mengatakan dia masih hidup, tetapi aku tidak mengatakan bahwa dia dalam kondisi baik-baik saja."


Abust mendengkus dengan menyugar rambutnya yang sebelumnya tertata rapi dan licin sekarang menjadi berantakan. Ia masih mengenakan pakaian formalnya dan meninggalkan Catherine di hotel bersama kedua anaknya. Catherine cukup mengerti dengan keadaan sehingga ia tidak banyak menuntut dan bertanya kepada suaminya itu, lebih memilih diam dan mendukung apapun yang Abust lakukan.


"Dengan terjun di ketinggian tiga puluh meter, matras biasa tidak cukup untuk melindungi, apalagi di situasi darurat dan genting seperti itu sangat sulit mencari matras yang benar-benar berkualitas baik. Seharusnya kita menggunakan bantalan udara untuk menangkapnya, tetapi kau juga harus menyadari bahwa kita sama sekali tidak berjaga-jaga jika ternyata ada insiden seperti itu." Fang Yi kembali menambahi perkataan sebelumnya. Ia tidak mau disalahkan, karena memang semua yang terjadi bukan kesalahannya. Kecelakaan itu benar-benar di luar kendalinya.


"Aku tahu, terimakasih kau sudah bertindak cepat." Abust mengalah, tidak ada gunanya saling menyalahkan. Semuanya sudah terjadi, dan saat ini, ia hanya berharap Milly akan baik-baik saja. Abust belum sepenuhnya memaafkan lelaki itu, tetapi hatinya tergelitik untuk menanyainya atas tindakan nekat Milly menyelamatkan istrinya dari sergapan Albert gila itu.


Fang Yi mengangguk, lalu menepuk bahu Abust sambil lalu. Ia tidak ingin terlibat tragedi melow yang mungkin sebentar lagi akan terjadi. Hati Fang Yi terlalu kaku untuk mencerna segala bentuk cinta dan kasih sayang. Ia akan menyerah dan tidak mau tahu jika dihadapkan pada situasi sedih dan haru. Ia sama sekali tidak tertarik akan hal itu, perasaan cinta, sedih dan haru hanyalah akan membuat dirinya menjadi pribadi yang lemah dan tak berguna.


Terkadang Fang Yi merasa heran dengan bagaimana Sean yang selama ini menjadi panutannya bisa mencintai seseorang. Seorang wanita biasa yang tidak mempunyai daya dan kekuatan. Pastinya hal itu hanya membuatnya lemah, tidak bisa berbuat apa-apa karena musuh-musuhnya pasti akan selalu mengincar kelemahannya itu. Tetapi sekali lagi Fang Yi tidak mau ambil pusing masalah itu, Sean, Abust dan juga dirinya mempunyai cara pandang sendiri-sendiri. Ia sudah ditakdirkan menjadi seperti ini. Wanita berjiwa keras yang enggan berempati dengan seseorang yang hanya akan membuatnya lemah.


Ia akan bertindak sesuai nalar dan logika, tanpa menggunakan perasaan ataupun hati. Karena menurut Fang Yi semua yang ada di dunia ini bisa terjadi berdasarkan logika dan ilmu pengetahuan, bukan karena cinta dan pengorbanan.


Milly dinyatakan mengalami gegar otak ringan dan patah tulang di bagian kaki dan lengan. Lelaki itu mendarat tepat di matras yang disiapkan oleh anak buah Fang Yi, tetapi pergerakannya terlalu kencang sehingga matras bergeser dengan cepat mengikuti pergerakan Milly bersama Albert yang mengikutinya. Milly terseret dengan tubuh terpental keluar dari matras mengakibatkan luka-luka yang cukup serius.


Milly mungkin lebih beruntung karena matras sempat melindungi tubuhnya, sementara Albert sudah tidak tertolong karena di mana tubuhnya jatuh, matras sudah bergeser bersamaan dengan tubuh Milly yang sudah mendarat terlebih dulu. Albert, lelaki malang itu harus meregang nyawa di saat anak buah Fang Yi melarikan tubuhnya ke rumah sakit. Ia menghembuskan napas terakhirnya tepat tujuh menit setelah pendaratan maut itu.


Abust masih menatap laki-laki tua itu dengan perasaan campu aduk. Marah, kecewa dan mungkin menyesal, apakah sungguh ia menyesal dengan apa yang selama ini ia lakukan kepada ayah kandungnya?


Lelaki itu sempat mengajaknya bicara beberapa kali, tetapi Abust enggan menanggapinya. Ia bahkan sangat muak melihat wajahnya. Lelaki itu terlihat tidak pernah menyesal telah menelantarkan Abust dan ibunya, tak sekalipun Milly terdengar meminta maaf kepadanya. Milly sepertinya tidak pernah menyesal dan mengaku bersalah atas apa yang sudah ia lakukan kepada Abust dan juga ibunya.


Abust menyeka air matanya, bingung harus berbuat apa. Tetapi saat ini ia hanya bisa menunggu dan melakukan usaha terbaik untuk kesembuhan Milly. Jika Milly memang ditakdirkan untuk tiada, mungkin inilah kesempatan terakhir Abust untuk mengabdi sebagai seorang anak kepada ayahnya.


.....


"Apakah sangat sakit?" Sean merasa iba melihat Salwa kesusahan berjalan, merasa nyeri di bagian bawah sana. Salwa selalu menangis jika ingin buang air kecil ataupun buang air besar. Hal itu membuat Sean bertekad tidak akan menghamili istrinya lagi, karena setelah perjuangannya mengandung selama sembilan bulan, ditambah kesakitan saat menjalani kontraksi dan proses melahirkan yang sangat mengerikan, Salwa juga harus mengalami sekali lagi kesakitan pasca persalinan. Sean tidak tega jika harus menyaksikan penderitaan istrinya itu sekali lagi.


Apakah ibunya dulu juga mengalami hal yang sama seperti yang dirasakan Salwa? Pasti ibunya dulu merasa lebih kesakitan karena setelah melahirkan dirinya, Robert tidak mau mendampingi Sarah seperti apa yang dilakukan Sean saat ini.

__ADS_1


Salwa hanya mengangguk menanggapi perkataan Sean. Ini adalah pengalaman pertamanya melahirkan secara normal, ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Salwa baru menyadari perjuangan seorang wanita bukan hanya merawat anak-anaknya dan mendidik supaya menjadi anak yang berbakti dan berguna. Tetapi awal dari semua itu, ia harus berjuang mengeluarkan anak itu dari dalam rahimnya, dan harus mengalami kesakitan terus-menerus yang tak berkesudahan.


Akan tetapi dalam hati Salwa ikhlas menjalani itu semua, melihat hasil perjuangannya ternyata tidak sia-sia karena saat ini di tengah-tengah mereka sudah hadir baby Kinan yang sangat lucu dan menggemaskan. Apalagi ia memiliki suami yang sangat pengertian dan selalu menjaga dan berada di sampingnya, bahkan Sean sedetikpun tidak mau melepas pengawasannya dari Salwa dan juga Kinan selama berada di rumah sakit. Hal itu membuat Salwa tak henti-hentinya berucap syukur atas pemberian Tuhan kepadanya.


"Suster menyarankanku untuk mulai memompa asi, karena mungkin saat Kinan sudah semakin besar akan membutuhkan banyak makan, jadi mulai saat ini aku harus menabung makanan untuk Kinan." Salwa berucap dengan menggendong Kinan dan menyusui bayi mungil itu yang kini sudah bertambah gemuk karena nutrisi yang diterimanya secara berkala.


"Aku akan menyiapkan semuanya, setelah ini kau makan ya?"


Salwa mendongak setelah mendengar perkataan Sean, bukannya ia baru saja makan, belum satu jam ia menghabiskan isi piringnya tetapi Sean sudah menawarinya makan lagi.


"Aku sudah makan mas, masih kenyang."


"Tapi setelah makan kau harus menyusui Kinan lagi, jadi makanan yang kau makan tadi pasti sudah habis diserap oleh Kinan. Mas gak mau kau kelaparan dan menjadi kurus karena kurang nutrisi."


"Tapi bisakah kita menjedanya hingga beberapa jam lagi, aku juga tidak ingin jadi gendut. Kau pasti akan menertawaiku, lalu menjadikan alasan untuk bisa melirik perempuan lain dengan genit." Salwa menggembungkan pipinya dengan melirik tajam ke arah Sean. Sean hanya menggaruk belakang kepalanya, tak bisa berkata apa-apa jika Salwa sudah suudzon kepadanya.


"Mana mungkin aku bisa melirik perempuan lain, sedangkan di depanku sudah ada bidadari yang begitu cantik." ucap Sean dengan mengusap pipi Salwa dengan lembut.


"Iih.. merayu, tetap saja aku tidak mau makan, masih kenyang."


Sayang sekali, ia hanya bisa melihat tanpa bisa menikmatinya.


Salwa merapikan kembali pakaiannya dengan mengancingkan buah bajunya, lalu merebahkan baby Kinan di box bayi yang disediakan pihak tumah sakit. Bayi itu tampak pulas dengan perut kekenyangan. Salwa menghadiahi kecupan di pipi gembulnya sebelum ia kembali duduk di tepi ranjang rumah sakit.


Sean tiba-tiba mendekat, memeluk istrinya itu dari belakang sambil meletakkan wajahnya di ceruk leher sebelah kiri Salwa, mengendus aroma alami dari kulit istrinya itu yang masih berbalut kerudung.


"Ada apa?" Salwa mengusap-usap rambut suaminya itu dengan tangan kirinya, rambut Sean berukuran tebal tetapi tetap saja saat disentuh rambut itu terasa halus di permukaan tangan Salwa.


"Aku merindukanmu," bisik Sean tepat di telinga Salwa membuat perempuan itu terkekeh.


"Kita setiap hari bertemu, dan selama dua hari ini kau di sini bersamaku dan menemaniku, mana mungkin kau merindukanku?"


Sean tersenyum, ia mengusap-usapkan pipinya di pipi Salwa sambil memeluk erat perut istrinya itu. "Bukan itu, aku merindukan ......" Sean membisikkan sesuatu yang merupakan kelanjutan dari kalimatnya dan kata-kata itu berhasil membuat wajah Salwa memerah, malu.


"Tapi....?"

__ADS_1


"Iya, aku mengerti. Aku tidak akan seegois itu memaksakan kehendakku kepadamu. Karena itu biarkan tetap seperti ini sampai dia tertidur kembali." Sean berbisik lembut yang menimbulkan tanda tanya di benak Salwa.


"Dia tertidur? Siapa?"


"Dia, apa kau merasakan sesuatu di bawah sana?"


Sean enggan menjelaskan lebih lanjut. Tanpa menunggu jawaban Salwa, tangannnya menyelinap di balik kancing baju istrinya, menyentuh sesuatu yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Salwa hanya patuh, tidak bergerak di saat Sean bertindak semaunya, membiarkan suaminya itu menyentuh apa yang ingin ia sentuh, menikmati apa yang ia inginkan.


Salwa cukup mengerti bagaimana suaminya itu mempunyai nafsu yang begitu besar terhadap dirinya, sehingga sangat sulit untuk menahan hasrat biologisnya yang tidak tersalurkan sampai menunggu waktu yang tepat. Mungkin dengan melakukan itu membuatnya lebih baik, bisa membantunya menahan hasratnya di titik yang paling rendah, sampai Salwa siap melakukannya kembali.


Sean membalikkan tubuh Salwa supaya istrinya itu menghadapnya, dengan rakus dan sorot mata yang meredup di penuhi hasrat yang kuat ia melum*** bibir istrinya itu, menjelajahi rongga mulutnya dengan gerakan sensual yang begitu ahli, membuat Salwa hampir terperdaya oleh perilaku Sean kepadanya.


Cekleeekk...


"Apa aku mengganggu?" Dokter Alan tiba-tiba masuk tanpa permisi membuat Salwa langsung melepaskan ciumannya dengan sedikit mendorong dada suaminya itu. Sean berdesis sedikit mengumpat dengan mata melirik tajam ke arah Alan.


"Kau sangat mengganggu." Sean berucap dengan wajah sangat kesal, tetapi dokter Alan malah terkekeh dibuatnya.


"Aku tahu, karena aku memang ingin mengganggu." dokter Alan mengedipkan sebelah matanya ke arah Salwa, membuat perempuan itu menunduk malu.


"Apa kau tidak punya sopan santun memasuki kamar seseorang tanpa mengetuk pintu terlebih dulu."


Dokter Alan bersedekap, bersandar di dinding dengan melihat ke arah Sean dan menampilkan wajah menjengkelkan. "Hey, mungkin aku akan mengingatkanmu bahwa ini adalah rumah sakit, bukan kamar pribadimu ataupun kamar hotel yang seenaknya kau sewa. Seorang dokter bisa masuk sesuka hatinya untuk melihat kondisi pasien tanpa perlu mengetuk pintu terlebih dulu. Aku hanya mencemaskan kondisi pasienku, takut jika ada seseorang yang sengaja mengganggu waktu istirahatnya." Dokter Alan berucap sarkas , berupaya menyindir sahabatnya itu.


"Seseorang yang sengaja mengganggu? Apa yang kau maksudkan itu aku?" Sean ingin membentak Alan, tetapi ia teringat akan baby Kinan yang sedang terlelap sehingga ia berusaha menekan suaranya agar tidak mengganggu tidur anaknya.


"Ya, aku hanya membantu seorang wanita yang tidak berdaya berusaha memenuhi keinginan suaminya yang tidak tahu diri itu."


Sean menghela napas, menahan emosi dan hasrat yang tak tersalurkannya, temannya itu memang benar-benar menguras kesabarannya. "Aku tidak sekejam itu dengan memaksakan keinginanku kepada Salwa dan aku tahu apa yang aku lakukan. Salwa sama sekali tidak butuh bantuanmu."


"Baguslah, jika kau mengerti." ucap dokter Alan dengan entengnya.


"Aku tahu bukan ranahmu memeriksa pasien pasca persalinan. Kau juga tidak sebaik itu datang hanya ingin menengok Salwa. Melihatmu repot-repot datang kemari dan mengabaikan pasienmu yang lain, pasti ada hal lain yang ingin kau sampaikan."


Dokter Alan tersenyum penuh arti, wajahnya berubah serius dalam sekejab. "Aku datang karena ingin menanyakan hal penting kepadamu."

__ADS_1


\=>Bersambung...


__ADS_2