Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Menyelamatkan


__ADS_3

Sean mendekati lelaki itu lalu menghantamkan tangannya ke wajah Anders. Ia memukuli Anders tanpa ampun, apalagi melihat laki-laki itu berani memasuki kamarnya dengan mengelabuhi semua orang menggunakan wajahnya. Entah apa saja yang sudah dilakukan Anders kepada Salwa, yang Sean pikirkan hanya menghukum laki-laki tidak tahu diri itu.


"Aku sudah menahan diri sejak dulu." BUUGH, Sean menghantamkan pukulannya lagi.


"Tapi kau dengan tidak tahu diri mengusik kehidupanku." BUGHH, Anders menggelengkan kepala karena pukulan Sean terlalu keras di kepalanya.


"Jadi aku tidak akan menahan diri lagi. Berani sekali kau." Sean melayangkan pukulan-pukulannya secara brutal kepada Anders sampai laki-laki itu tumbang tidak bisa bangkit lagi. Sean ingin kembali memukuli Anders yang sudah terkapar tak berdaya, tetapi suara tangis baby Kinan yang semakin keras membuatnya mengalihkan perhatiannya ke arah kamar mandi.


Sean melepaskan cengkramannya dari tubuh Anders lalu menghempaskannya dengan kasar. Ia melangkahi tubuh tidak berdaya itu begitu saja lalu berjalan menuju kamar mandi.


Pintu kamar mandi itu tidak terkunci, karena memang sudah rusak akibat tendangan Anders. Tetapi ada yang mengganjal di bawahnya sehingga terasa sangat berat saat di dorong.


"Apa perlu kita dobrak?" Abust menawarkan bantuan kepada Sean , namun dengan cepat Sean mengangkat telapak tangannya supaya Abust tidak perlu turun tangan.


Sean menggeser sedikit pintu kamar mandi itu membuat celah agar ia bisa masuk ke dalamnya. Ia menggeser perlahan karena ia yakin Salwa ada di bawah pintu sedang berlindung dari Anders sialan itu.


Dengan hati-hati ia memasukkan tubuhnya dengan posisi miring agar tidak terlalu lebar membukanya. Sean begitu terkejut melihat apa yang ada di depannya. Baby Kinan menangis dalam pelukan Salwa, sementara istrinya itu tak sadarkan diri dengan posisi meringkuk mempertahankan baby Kinan dalam perlindungannya.


Sean mengambil bayi mungil yang masih menangis itu lalu menimang-nimangnya sebentar. Ia Sedikit menggeser tubuh Salwa untuk memperlebar pintu kamar mandi yang terbuka itu agar Sean bisa keluar dengan mudah sambil menggendong baby Kinan.


Bayi mungil itu sedikit lebih tenang dalam buaian ayahnya. Sean memberikan baby Kinan kepada Fang Yi, karena hanya Fang Yi lah saat ini satu-satunya seorang perempuan yang berada di ruangan itu, dan mungkin Fang Yi lebih mengerti mengurus bayi daripada Leon dan Abust.


"Jaga dia, kau bisa meminta bantuan mereka berdua. Karena pengasuhnya masih belum sadarkan diri akibat ulah Anders".


Fang Yi menerima baby Kinan dengan sedikit meringis, ia bingung harus bagaimana. Membayangkan punya bayi saja tidak pernah tetapi saat ini dia diharuskan menggendong seorang bayi karena hanya dirinyalah satu-satunya perempuan di ruangan itu.


"Kau bisa mengandalkanku," ucap Fang Yi dengan nada sedikit ragu. Sean mengangguk lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk mengurus Salwa yang masih tertinggal di dalam.


Hati Sean terasa begitu sakit melihat kondisi perempuan kesayangannya seperti itu. Dengan pakaian koyak dengan tidak terpasang dengan benar, pipi yang memar seperti bekas pukulan dengan tubuh menggigil kedinginan tak terlindung. Sean memejamkan matanya sejenak, lalu menyambar jubah handuk yang ada di rak kamar mandi yang kemudian ia selimutkan ke tubuh Salwa lalu ia membawa tubuh Salwa dalam gendongannya yang untuk kemudian mengeluarkannya dari kamar mandi.


"Singkirkan laki-laki itu," ucap Sean kemudian kepada anak buahnya yang masih tersisa saat membantunya keluar dari markas rahasia Anders.


Sean membaringkan tubuh Salwa di atas ranjang, sementara Fang Yi, Leon dan Abust sudah pergi dari ruangan itu karena mendapatkan tugas penting untuk merawat baby Kinan.


Tinggallah mereka berdua, Sean menatap dengan miris kondisi Salwa yang sangat memprihatinkan. Sekali lagi, sekali lagi Sean tidak bisa melindungi istrinya. Melihat bagaimana Salwa mempertahankan baby Kinan meskipun dia dalam kondisi terpuruk membuat Sean tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Ia menangis, menangis dengan membawa Salwa dalam pelukannya. Ia gagal melindungi anak dan istrinya.

__ADS_1


Sean mencium kening Salwa dengan perasaan bercampur aduk tidak bisa dijelaskan. Bagaimana jika dirinya terlambat datang? Bagaimana jika ia terkubur dalam ruang bawah tanah itu dan tidak bisa menyelamatkan diri? Apa yang akan terjadi dengan anak dan istrinya? Siapa yang akan melindungi mereka?


Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus berputar di pikiran Sean membuat dadanya semakin sesak. Ia ingin hidup tenang dan damai dengan anak istrinya, memberikan kehidupan yang layak diliputi dengan kebahagiaan, bukan penuh ancaman. Tetapi kapan itu akan terjadi? Apakah Sean akan bisa merasakan kedamaian tanpa takut akan adanya gangguan dengan keluarganya? Apakah ia harus melenyapkan semua orang yang terlihat mengganggu kehidupannya? Tetapi ia sudah berjanji tidak akan membunuh orang lagi dan akan menyelesaikan segala masalah dengan cara yang lebih bermartabat.


Karena guncangan dan suara tangisan Sean mengusik alam bawah sadar Salwa, sehingga membuat Salwa akhirnya membuka mata , dan mata itu langsung mengarah ke wajah Sean. Tubuh Salwa tiba-tiba gemetar dengan kedua tangan berusaha mendorong dada Sean supaya lelaki itu menjauhinya. Salwa mundur beringsut dengan menangkup, memeluk tubuhnya sendiri.


"Pergi! Pergi!" Salwa histeris dengan teror trauma yang kembali muncul di dalam ingatannya membuatnya berteriak mengusir Sean agar tidak mendekatinya.


"Sayang, ini aku, aku suamimu." Sean berusaha mendekati Salwa, tetapi Salwa justru menjauhinya. Salwa takut kepadanya.


"Kau laki-laki jahat, pergi! pergi!" Salwa kembali berteriak dengan memeluk rapat lututnya sendiri. Sean tidak tahan melihat istrinya menderita seperti itu, ia beranjak lalu menangkup Salwa yang kemudian membawa perempuan itu dalam pelukannya.


Salwa memberontak dan terus berontak, meronta-ronta, mencakar, mengigit supaya dilepaskan tetapi Sean bisa menahan itu semua. Ia tetap mempertahankan Salwa dalam pelukannya sampai istrinya itu tenang kembali.


"Jangan takut, dia sudah pergi. Maafkan aku, aku tidak becus menjaga kalian berdua. Maafkan aku." Suara Sean terdengar lembut sangat bertolak belakang dengan laki-laki yang berbuat jahat kepadanya.


Salwa memberanikan diri mendongakkan wajahnya, menatap wajah suaminya kembali. Dengan perlahan ia menyentuh wajah Sean, tangannya terlihat gemetar, ada keraguan saat ia akan menempelkan tangannya di permukaan kulit Sean. Tetapi dengan sabar Sean menunggu Salwa sampai benar-benar berani melakukannya, menyentuhnya.


Tangan Salwa mengusap dagu Sean lembut dan itu membuat Sean tak kuasa untuk tidak menangkupkan tangannya di sana. Ia menyentuh tangan Salwa lalu mencium tangan itu dengan penuh sayang dan kerinduan. Salwa melihat ada gambar beruang di punggung tangan Sean yang membuat ia yakin bahwa yang bersamanya saat ini adalah benar-benar suaminya.


"Mas, kau benar-benar suamiku bukan? Kau bukan pria jahat itu?" Suara Salwa terdengar lirih dan bergetar bercampur isakan tangis sesenggukan. Sean mengangguk kemudian, sambil tersenyum dengan tulus. "Aku benar-benar suamimu. Suamimu yang sangat mencintaimu."


Sean melepaskan ciumannya setelah dirasa tubuh Salwa lebih tenang dari sebelumnya. Ibu jarinya mengusap bibir Salwa lembut, lalu menghadiahi satu kecupan hangat lagi di sana.


Salwa kembali menangis, menangis dan terus menangis dengan membenamkan wajahnya di dada suaminya. Ia memeluk Sean dengan begitu erat seolah tidak ingin berpisah dengannya, tidak ingin jauh darinya.


"Dia... dia memelukku, memelukku .... seperti ini, dia ingin .... menciumku, dia... memaksaku... melayaninya. Aku... aku takut." Salwa berucap diselingi suara senggukan tangis. Wajah Sean terlihat murka mendengar perkataan Salwa, kurang ajar sekali Anders sialan itu menyentuh istrinya. Salwa adalah perempuan suci yang belum terjamah lelaki manapun sebelum Sean menikahinya, dan laki-laki bodoh itu berani mencoba berkamuflase menjadi dirinya untuk menyentuh Salwa. Sean tidak akan pernah mengampuni laki-laki tidak tahu diri itu. Dia harus mendapatkan hukuman setimpal.


"Kinan... aku melupakan Kinan." Salwa menengadah dengan mengusap air matanya. "Di mana Kinan mas, apa yang terjadi dengannya. Apa pria itu membawa Kinan?" Salwa begitu cemas dengan keadaan putranya. Lelaki itu berkata akan membunuh Kinan, apakah lelaki itu berhasil karena Salwa tidak sanggup melindungi putranya?


"Tenanglah, Kinan sudah berada di tangan yang aman." ucap Sean dengan lembut meyakinkan Salwa agar istrinya tidak perlu mencemaskannya. "Kau sudah menjaganya dengan sangat baik." imbuhnya lagi sambil mengusap rambut istrinya itu.


Salwa mengangguk , kembali ia membenamkan wajahnya di dada suaminya , mencari ketenangan di sana. "Kau tahu, baru pertama kali ini aku begitu bersyukur ada gambar di tubuhmu. Sehingga aku tidak salah mengenalimu."


Sean tersenyum menanggapi perkataan Salwa. Sebelumnya ia ingin menghapus semua tanda di tubuhnya, melawan semua kesakitan yang akan ia terima nantinya. "Kau tidak akan menemukan satu orang pun yang sama denganku, karena laki-laki tampan yang mencintaimu dan menyayangimu begitu besar hanya seorang Sean. Tidak ada yang lain dan tidak akan pernah ada yang sepertiku."

__ADS_1


"Aku mencintaimu, jangan pernah meninggalkanku, aku dan Kinan membutuhkanmu," ucap Salwa dengan mengeratkan pelukannya.


"Kau tidak perlu memintanya, karena aku tidak akan pernah melakukannya." Sean tersenyum lega, akhirnya Salwa dan Kinan selamat tanpa kurang suatu apapun. Dan saat ini ia sedang memikirkan apa yang akan ia perbuat kepada Anders sebagai hukuman setimpal atas kelaukan bejatnya itu.


๐ŸŒน ๐ŸŒน ๐ŸŒน


"Gendong yang benar, lihatlah dia masih menangis. Kau ini perempuan apa yang tidak bisa menggendong seorang bayi." Leon berucap dengan mengejek Fang Yi yang kesulitan menenangkan baby Kinan.


Fang Yi melirik kesal ke arah Leon, bukannya membantu lelaki itu hanya bisa bicara saja. "Lalu apakah kau bisa melakukannya? Sebaiknya kau pergi, kehadiranmu di sini sama sekali tidak berguna."


Leon ingin menimpali perkataan Fang Yi, tetapi kemudian Abust segera menengahi pertengkaran dua orang itu yang mungkin tidak akan ada habisnya.


"Apakah kalian bisa diam, kalian hanya membuat anak ini ketakutan." ucap Abust dengan menatap tajam ke arah Leon dan Fang Yi lalu kemudian ia melangkah ke luar. "Aku akan memanggil Catherine, kalian berdua sama sekali tidak bisa diharapkan!"


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Anders tersadar saat Sean membawa sekelompok polisi dengan satu di antaranya berpangkat tinggi yaitu seorang Letnan Jenderal kepolisian.


Tangannya sudah terborgol dengan gelang besi yang membuatnya hanya bisa menyatukan kedua tangannya tanpa bisa melawan.


Topeng wajah sudah terlepas dari wajah Anders, dan saat ini wajah lelaki itu terlihat lebam akibat pukulan-pukulan yang dilakukan Sean kepadanya. Salwa yang berdiri di samping Sean sedikit merapat ke tubuh suaminya, seolah takut manatap sorot mata Anders yang terasa menusuk saat melihatnya.


Sean merangkul pinggang Salwa, menyalurkan rasa aman untuk istrinya itu.


Sean masih bercakap-cakap dengan sang jenderal polisi, sementara Anders sudah digelendeng oleh polisi lain dengan penjagaan ketat di luar rumah Abust.


Anders melirik ke kanan dan ke kiri. Dengan sembunyi-sembunyi ia menggerakkan tangannya untuk merogoh saku celananya. Ia menyeringai saat menemukan apa yang ia cari. Alat suntik berukuran nano yang dalamnya sudah ia masukkan serum racun hasil racikan rekannya yang kini entah berada di mana dengan dosis tinggi.


Anders yakin setelah ini ia akan dimasukkan ke dalam sel bawah tanah yang mungkin ia tidak akan pernah bisa melarikam diri lagi, tetapi alangkah baiknya ia menyuntikkan racun itu ke tubuh Sean, sehingga ia bisa dengan tenang berada di penjara karena telah puas membunuh seseorang yang sangat dibencinya itu.


Anders memberontak dan terlepas dari cengkraman polisi yang menggelendengnya. Ia berlari ke arah Sean dengan bersiap menancapkan jarum suntik itu ke tubuh Sean. Namun, Sean bukanlah orang bodoh. Ia cukup sensitif dengan situasi di sekitarnya. Sean mengelak saat suntikan itu hampir mengenai tubuhnya , mencengkram lengan Anders lalu membalikkannya . Pergerakan Sean yang tiba-tiba itu tanpa sengaja membuat suntikan itu berbalik arah menusuk ke tangan Anders sendiri. Dengan gerakan cepat Sean menekan alat suntik itu sehingga cairan yang berada di dalamnya beralih sepenuhnya mengalir mengikuti aliran darah Anders.


Anders mengerang kesakitan dengan tubuh menengang. Cairan serum itu bereaksi dengan begitu cepat. Wajah Anders memerah dengan pembuluh darah membesar dan hampir pecah. Hormon seksualnya bereaksi berkali-kali lipat dari percobaannya saat itu. Wajah Anders tampak mengerikan dengan mata melotot. Dengan menggunakan tangan yang terborgol lelaki itu melepaskan celananya dan pakaiannya satu persatu seolah tidak tahan dengan hawa panas di tubuhnya.


Sean berbalik arah, menangkup wajah Salwa menghalangi istrinya itu dengan tubuhnya agar tidak melihat pemandangan buruk dan menjijikkan yang sedang terjadi di depannya.

__ADS_1


Suara erangan Anders semakin kuat dan pada akhirnya ia terkapar dengan kejang-kejang sambil mengeluarkan darah di bagian mata dan juga hidungnya. Anders meninggal dalam beberapa menit setelahnya dalam kondisi telanjang dan sangat menyedihkan.


\=ใ€‹Bersambung....


__ADS_2