Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Pingsan


__ADS_3

"Mas... apakah kau mendengarku?" Salwa berusaha berucap setenang mungkin, ia tidak ingin Sean merasakan kesedihan yang sedang menggelayut di dadanya. Ia ingin suaminya itu bahagia dan bersemangat untuk kembali melanjutkan hidupnya.


Saat ini adalah hari ke tiga dimana Salwa berbicara dengan Sean melalui panggilan telepon.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut lelaki itu. Tentu saja karena saat ini Sean belum sadarkan diri. Entah kapan laki-laki itu akan bangun, tetapi Salwa tidak cepat putus asa. Ia yakin sebentar lagi Sean akan membuka matanya dan berbicara kepadanya lagi.


"Aku tahu kau mendengarku kan mas, tapi kau pura-pura tidak mendengar dan mengabaikanku. Meskipun kau tidak mau mendengarku, aku... aku akan selalu mengganggumu, aku... akan mengganggumu terus dan terus sampai kau mendengarku, menoleh kepadaku." Salwa memjamkan matanya, lalu menghirup napas panjang sambil mengatur emosinya yang tak tertahankan. Ia yakin bahwa dirinya sanggup melakukannya.


"Kau sudah berbohong, kau bilang akan meneleponku setiap waktu sampai aku akan kesal karena terlalu banyak panggilan darimu, tetapi sekarang kau tidak pernah lagi menghubungiku, kau melupakanku begitu saja dan memilih tidur begitu lama." Salwa menelan ludah, ia merasa dadanya semakin sesak, hingga bulir air matanya terjatuh untuk kesekian kali.


"Kau tahu, saat kau pulang nanti... aku.. aku akan menghukummu, aku akan melemparimu dengan sendalku karena kau telah ingkar. Kau membuatku menunggu lama... uuuuhhhh...." tangis Salwa tak bisa disembunyikan lagi, ia meraung-raung sedih... Salwa rindu... rindu dengan suaminya itu. Mengapa ia harus dipisahkan seperti ini, sehingga tak bisa berada disisi Sean saat masa-masa kritisnya. Ia hanya bisa melihat Sean dari jauh, dari panggilan video yang Marcus lakukan kepadanya.


.....


David menunggu Sean yang masih berbaring tak sadarkan diri, ia merasa bersalah karena itu. Andai Sean tak datang ke Kanada lalu menyelamatkan tubuh tua itu pastilah ia masih sehat saat ini. Bahkan sebagai ayah David tidak pernah memberikan kebahagian ataupun perlindungan untuk anak semata wayangnya, ia tidak pantas disebut ayah dan mendapaykan kasih sayang seorang anak.


Di atas kursi roda itu, David menangisi anak satu-satunya yang begitu sangat ia cintai. Tangan tua itu menggenggam erat jemari Sean yang masih lemah, air matanya terurai dan menetes di tangan Sean.


"Sean, anakku maafkan ayahmu ini. Maaf... maaf," hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut David. Tak ada kata lain selain permintamaafan yang tulus. Ia juga ingin mengucapkan permintamaafan itu kepada Sarah , tetapi Sarah lebih dulu dipanggil oleh yang Kuasa sebelum sempat ia mengucapkannya.


Sungguh David merasa menjadi seorang pria yang gagal, gagal menjadi seorang suami ataupun seorang ayah. Seandainya ia dulu mau berjuang lebih giat untuk mendapatkan perempuan itu yang ternyata telah mengandung anaknya pastilah ia akan melindungi mereka berdua dengan segenap tenaga, memberikan cinta dan kasih sayangnya yang begitu besar sehingga tak sampai setetespun air mata kesedihan yang keluar dari dua orang permata hatinya itu. David menyesal dan penyesalan itu tiada gunanya.


Tiba-tiba David merasa ada yang bergerak di dalam genggaman tangannya. Sean... Sean menggerakkan buku jarinya. Benar, David tidak salah lihat, Sean benar-benar menggerakkan buku jarinya beberapa kali.

__ADS_1


"Suster, suster!" David berteriak sambil memutar kursi roda elektriknya mencari suster yang merawat Sean. Wajahnya saat ini memancarkan harapan yang begitu besar. Sean akan sadar. Anaknya itu akan sembuh.


Seorang perawat masuk bersamaan dengan dokter yang menangani Sean. Dokter tersebut memeriksa kondisi Sean sambil menyibakkan kelopak mata Sean secara bergantian. Sang dokter pun tersenyum kepada David, sepertinya kabar baik akan ia terima.


"Selamat, pasien sudah melewati masa kritisnya." ucap dokter tersebut.


David mengucap syukur atas kesempatan itu, ia berterimakasih kepada dokter tersebut dengan tulus. Akhirnya ia bisa melihat anaknya dengan mata terbuka dan mendengar panggilan ayah sekali lagi dari bibir anaknya itu. Perasaan haru menyelimuti hati David. Ia bahagia, benar-benar bahagia.


....


Salwa berjalan perlahan dengan memijit pangkal hidungnya. Ia merasa semakin hari kondisi fisiknya semakin cepat letih saja. Mungkin karena setiap malam mengajak Sean bicara demi kesembuhannya hingga larut. Salwa sepertinya memang kurang cukup tidur, hal itu bisa dilihat dari kelopak matanya yang sedikit menghitam.


"Salwa, apa kamu baik-baik saja. Sepertinya kamu sedang sakit?" Varo yang tiba-tiba muncul merasa khawatir saat melihat Salwa berjalan sedikit terhuyung dengan wajah pucat seperti itu. Angela yang saat itu berjalan bersama Varo pun kesal melihat Varo begitu perhatiannya dengan Salwa.


"Sudahlah Varo, ngapain kamu peduli sama cewek itu. Dia cuma butuh istirahat saja. Kamu tahu kan kalau dia itu kecapekan karena seharian jadi babu." Angela berkata sambil menatap Salwa dengan tatapan mengejek. Orang miskin jangan dikasih hati, nanti malah ngelunjak. Begitulah pikirnya.


"Apa, kamu jadi pembantu?" Tanya Varo tak percaya, ia tahu Salwa pernah jadi TKW di luar negeri, tetapi ia tidak menyangka bahwa profesi Salwa sebelumnya ternyata masih ditekuninya hingga sekarang.


"Apa salahnya, bukannya itu pekerjaan halal?" Salwa tidak mau ambil pusing dengan perkataan Angela. Ia ingin segera pergi lalu pulang dan tidur.


"Kalau kau butuh pekerjaan, kau bisa bantu-bantu di perusahaan papa. Setidaknya itu lebih terhormat daripada sebagai pembantu." Varo berbaik hati menawarkan Salwa pekerjaan. Dia memang menyukai Salwa, tetapi apa kata orang jika ia nanti berpacaran dengan seorang pembantu.


Salwa tersenyum kepada Varo sebelum akhirnya mengatakan "Terimakasih, aku sudah nyaman dengan pekerjaanku sekarang."

__ADS_1


"Tentu saja nyaman, kamu gak tahu sih. Majikannya itu seorang bule kaya. Masih single lagi, pasti ia ngarep bakal ditaksir sama majikannya," ucap Angela berusaha merendahkan Salwa di depan Varo. Varo melirik ke arah Salwa menatap wajah gadis itu untuk mencari kebenaran. Apakah benar Salwa gadis polos yang dulu ia kenal sekarang sudah berubah menjadi perempuan matre yang berusaha memikat seseorang karena kekayaannya.


"Terserah, kau bebas menilaiku. Aku permisi pulang dulu." Biarkan saja mereka berdua menilai buruk tentang dirinya, dengan begitu Varo tidak akan lagi mendekatinya. Dan itu akan membuat dirinya bisa melepas beban tidak enaknya terhadap Varo. Namun, tiba-tiba kepala Salwa terasa sangat pusing berdentum-dentum. Ia terhuyung dan kehilangan keseimbangan sehingga ia terjatuh.


"Salwa...." Varo yang melihat Salwa pingsan pun segera menolongnya.


"Biarkan kami saja," dua orang bodyguard Salwa yang menyamar menjadi mahasiswa langsung menghadang Varo yang akan mengangkat tubuh Salwa. Tidak mungkin mereka membiarkan laki-laki lain menyentuh majikannya itu, bisa-bisa tuannya akan marah besar.


"Siapa kau?" Varo berusaha mencegah laki-laki asing mengambil kesempatan mengangkat tubuh perempuan yang ia sukai, tetapi laki-laki itu sepertinya lebih kuat dan sigap. Badannya tinggi dengan tubuh atletis, Varo bisa merasakannya saat dirinya memukul bagian dada dan perut laki-laki itu.


....


"Kapan terakhir anda datang bulan?" Dokter yang bertugas menjaga Unit Kesehatan Kampus menanyai Salwa saat ia sudah sadar. Kedua Bodyguardnya membawa Salwa ke Unit Kesehatan Mahasiswa dan diikuti oleh Varo juga Angela. Kedua bodyguard Salwa berjaga dipintu memastikan semuanya aman sementara Angela dan Varo berada di dalam.


Salwa tampak mengingat-ingat, sepertinya ini sudah terlewat hampir seminggu. Ia terlalu sibuk memikirkan Sean hingga lupa bahwa ia sudah hampir satu pekan tidak mengalami datang bulan.


"Sepertinya saya terlambat hampir satu minggu karena bulan ini saya belum datang bulan." Salwa mengerutkan keningnya, ingin tahu lebih dalam "Memangnya saya sakit apa dokter?" ucapnya kemudian.


"Anda tidak sakit, hanya saja anda terlalu lelah. Jaga waktu istirahat anda karena akan mempengaruhi janin yang sedang bertumbuh di rahim anda," dokter berucap dengan lembut tapi penuh peringatan.


"Saya... saya hamil?"tanya Salwa dengan terbata. Varo dan Angela pun ikut terkejut dengan berita yang disampaikan sang dokter.


"Hamil.." ucap Varo dan Angela berbarengan dengan saling pandang.

__ADS_1


》bersambung..


__ADS_2