Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Markas rahasia


__ADS_3

Sean menggeretakkan giginya sambil mendesis di saat bibirnya masih bersentuhan untuk mencari kenikmatan atas bibir Salwa. Ia kemudian mendapat dorongan dari Salwa agar segera menghentikan aksinya karena Yang Pou Han tiba-tiba datang dengan tidak tahu malunya mengawasi mereka.


Sean melepaskan bibir Salwa yang tentunya berhasil membuat wajah Salwa merona malu, tetapi dengan gerakan cepat Sean menyembunyikan wajah Salwa untuk kemudian ia benamkan di dadanya agar Yang tidak melihat wajah Salwa yang kemerahan.


Tanpa menoleh ke belakang di mana Yang berdiri, Sean menghardik lelaki itu yang telah kurang ajar memasuki kamarnya. "Apakah kau tidak punya etika memasuki kamar sepasang suami istri?"


Mendengar sikap tak bersahabat Sean membuat Yang terkekeh dengan mengangkat kedua alisnya. "Pintunya terbuka, jika kalian mau melakukan hal-hal yang membutuhkan privasi , aku menyarankan untuk menutup pintunya terlebih dulu."


"Bukan urusanmu aku melakukannya dengan pintu tertutup atau terbuka." Sean masih tidak ingin kalah berdebat dengan Yang di depan istrinya. Ada rasa bersaing yang tinggi dalam dirinya ketika Yang Pou Han mulai mengusik percaya dirinya.


Salwa mendongakkan wajahnya mendengar perkataan Sean yang aneh itu. Bagaimana suaminya itu bisa mengatakan untuk melakukan hal-hal pribadi dengan pintu terbuka? Seolah mengerti dengan apa yang dipikirkan Salwa, Sean mengulas senyumnya agar Salwa tidak memrotes perkataannya kali ini di depan Yang.


"Baiklah, itu terserah kau saja. Apakah urusanmu sudah selesai? Karena aku juga mempunyai urusan penting lain setelah ini."


Sean mengangguk, dan tanpa menoleh ia menyuruh Yang untuk menjnggalkan kamarnya. "Aku akan menyusulmu sebentar lagi. Tunggu saja di bawah!"


"Tidak, aku akan turun denganmu. Karena jika aku turun terlebih dulu, aku tidak yakin kau akan segera turun dan mungkin akan merambat melakukan hal-hal yang lain bersamanya." ucap Yang dengan sarkas, berupaya menyindir Sean yang masih belum melepas pelukannya dari Salwa.


"Cih, terserah," umpat Sean kepada Yang. Ia menundukkan wajahnya lalu menangkup wajah Salwa supaya menengadah ke arahnya.


"Tunggu aku, aku akan cepat kembali!" ucapnya lembut yang diikuti anggukan oleh Salwa. Sean memutar badannya berbalik arah berjalan ke arah Yang dengan memasang wajah masam.


"Ayo!" ucap Sean sambil memberi isyarat kepada Yang melalui sorot matanya agar lelaki itu mengikutinya keluar. Yang mengerti sambil melirik ke arah Salwa, ia berjalan mengikuti Sean untuk segera meninggalkan kamar itu.


"Sial!"Sean kembali mengumpat melihat Yang mencuri pandang ke arah Salwa. Ia berbalik arah berjalan cepat menuju istrinya kembali lalu mencium bibir Salwa secara posesif dan agresif di depan Yang, seolah menunjukkan secara jelas tanda kepemilikannya terhadap Salwa kepada laki-laki menyedihkan di depannya itu.


Yang berdecak kesal melihat perilaku Sean yang bar-bar, segera ia meninggalkan Sean yang masih begitu sibuk dengan kegiatannya itu. "Aku tunggu di bawah." ucap Yang mengalah untuk kemudian keluar dari kamar Salwa.


.....


"Apakah kau yakin ini tempatnya?" Sean bertanya kepada Yang dengan menunjukkan pikiran skeptisnya melihat apa yang ada di depan mata. Mereka berada di tempat itu saat jam sudah menunjukkan waktu malam. Sebuah tumpukan sampah yang menggunung dan meluber kemana-mana dan terdapat alat berat di beberapa sisi tempat pembuangan itu. Bagaimana mungkin ada markas besar yang tersembunyi di area seperti ini?



Mungkin negara yang saat ini tanahnya ia injak merupakan negara maju dan kaya. Bahkan, biaya hidup di sana tergolong paling mahal di Asia. Namun, kenyataan ini bertolak belakang dengan permasalahan sampah yang kian mengancam.


Sean sudah mengetahui dari berita salah satu media setempat bahwa setiap tahun ada dua pertiga atau lima koma enam juta ton sampah yang dibuang begitu saja ke tempat pembuangan sampah. Sementara itu, sisanya yang sangat sedikit masuk ke tempat daur ulang sampah. Mayoritas merupakan limbah kering seperti koran, kardus dan buangan kantor.


Apalagi jumlah tempat daur ulang sampah saat ini sudah sangat sedikit karena beberapa tempat telah dialokasikan untuk kepentingan lain, sehingga mengakibatkan pemerintah setempat kekurangan lahan untuk mendaur ulang sampah mereka. Oleh sebab itu pemandangan seperti di depannya ini sangat bisa dimaklumi tetapi tentu saja tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dicarikan solusinya oleh pemerintah dan masyarakat setempat. Dan mungkin pemerintah harus meninjau ulang kebijakan terkait sampah sebagai upaya mengurangi produksi sampah bagi pengusaha juga konsumen.


"Kau bisa mempercayaiku." Yang memberikan isyarat kepada anak buahnya yang sudah terlatih melalui gerakan bola matanya untuk segera menyelinap ke titik-titik tertentu yang sebelumnya telah Yang rencanakan. Sebelum dirinya mendatangi Sean, Yang sudah mengkalkulasikan waktu, mengatur strategi apa yang akan digunakan untuk menyerang markas musuh yang kemudian ia memberikan intruksi kepada seluruh anak buahnya sesuai dengan apa yang ia rencanakan.


"Mulai!"


Dengan serempak semua anak buah Yang Pou Han yang kesemuanya mengenakan pakaian serba hitam sudah mengambil posisi masing-masing. Ada yang memindai, ada yang memasang perangkap dan ada juga yang meletakkan bom berukuran mini untuk menghancurkan tempat yang seharusnya sejak dulu tidak ada.


Harusnya ini dilakukan Sean sejak dulu, menghancurkan semua musuhnya tanpa terkecuali agar tidak menimbulkan masalah yang akan menghadangnya satu per satu di kemudian hari.

__ADS_1


Yang dengan membawa sebuah tas di punggungnya yang berisi berbagai senjata memperlihatkan alat digital yang berada di tangannya yang merupakan tangkapan dari hasil pemindaian salah satu anak buahnya. Alat pemindai khusus yang digunakan oleh anak buah Yang menggunakan teknologi canggih yang bisa menembus di kedalaman tanah hingga beberapa puluh meter dari permukaan tanah.


Sesuai dugaannya, ada sebuah ruangan besar yang berada di bawah gundukan sampah itu yang sepertinya dibangun secara sembunyi-sembunyi, dan itu ukurannya cukup luas mungkin hampir seukuran dua kali luas lapangan bola futsal. Masih di dalam tampilan gambar yang ada di layar, mereka dipertunjukkan ada banyak manusia yang berjaga di sana, yang sepertinya melakukan sebuah pertemuan rahasia. Ada sesuatu mencurigakan yang berada di bagian lain ruangan tersebut. Sebuah ruangan lain yang tidak bisa ditembus keberadaannya menggunakan alat pemindai canggih milik Yang. Hal itu memunculkan rasa penasaran keduanya.


"Apakah kau memikirkan hal yang sama?" tanya Sean kepada Yang setelah melihat hasil pemindaian mereka. Yang mengangguk, lalu mematikan alat itu untuk kemudian ia simpan di balik saku jaketnya.


"Persiapkan dirimu!"


Bughh..


"Maaf, kami tidak sengaja tuan!" seorang laki-laki tua bersama dengan seorang laki-laki paruh baya yang mengenakan seragam petugas kebersihan tiba-tiba terjungkal menimpa tubuh Yang.


Tanpa menoleh dan menanggapi petugas kebersihan, Yang menegakkan tubuhnya untuk kemudian melangkah pergi diikuti Sean di belakangnya.


Kedua orang lelaki yang dianggap hanya petugas kebersihan itu saling membantu berdiri lalu menepuk-nepuk bagian pakaiannya yang kotor yang berlanjut menyeringai sambil melirik ke arah Yang Pou Han dan Sean yang sudah pergi menjauh.


Sean dan Yang Pou Han mulai ikut menyelinap di ruang rahasia, menurut apa yang mereka dapatkan dari hasil memindai di ujung sana sekitar seratus meter dari tempatnya berpijak adalah pintu masuk. Yang menipiskan bibir saat melihat benda yang sejak tadi dicarinya. "Itu dia."


Ia menekan sebuah tombol yang tersembunyi di balik tumpukan sampah yang sengaja dibiarkan menumpuk di atasnya. Setelah tombol ia tekan terbukalah pintu rahasia yang berada di bawah kakinya. Sean dan Yang segera melompat untuk menghindari terjatuh dari tempat yang ia pijak karena terbuka dengan sendirinya.


Terdapat lorong panjang yang gelap dengan ratusan anak tangga menuju ke arah bawah. Yang mengisyaratkan kepada anak buahnya agar segera bertindak untuk mengepung keseluruhan tempat. Bau pengap bercampur busuk dari sampah-sampah yang berada di permukaan bercampur menjadi satu membuat Sean ataupun Yang harus menutup hidungnya dengan rapat.


"Bagaimana mereka bisa mencari lokasi yang begitu menjijikkan seperti ini?" Sean mengumpat dalam hati melihat kondisi markas yang terlihat kumuh, pengap dan berbau busuk. Dengan rasa tidak sabar mereka mempercepat pergerakannya menuruni anak tangga yang sepertinya sangat-sangat banyak itu. Sampailah mereka di pijakan terakhir yaitu di mana lantai luas membentang di depan mereka.


"Aneh, bukannya tadi banyak orang yang berkumpul di sini?" ucap Yang dengan menoleh ke arah ke kanan dan ke kiri sekaligus berputar mencari sekelilingnya.


Baru saja Sean menyelesaikan perkataannya beberapa orang bersenjata lengkap dengan tubuh tegap dan postur yang besar mengerubungi mereka. Sean berdiri di belakang Yang Pou Han dengan punggung mereka saling menempel , memasang posisi yang siap untuk bertarung.


"Kita kedatangan tamu rupanya!" ucap salah seorang di antara mereka yang berwajah penuh dengan tato menampilkan senyum mengejek ke arah Sean dan juga Yang Pou Han.


"Kau hanya ingin bicara atau bertarung!" teriak Sean lantang kepada lelaki berwajah menyeramkan itu.


Dengan sikap pongah Sean menggerakkan jemarinya sebagai isyarat agar lawannya segera menyerang.


"Kurang ajar! Habisi mereka!" perintah lelaki itu kepada semua anak buahnya yang langsung bergerak maju menyerang Sean dan Yang Pou Han secera membabi buta. Pertaruangan tak terelakkan lagi. Pukulan, hantaman dan tendangan sudah berkali-kali terjadi bahkan suara tembakan beruntun dilayangkan ke arah Sean maupun Yang berhasil mereka hindari. Anak buah Yang ikut membantu menghabisi anak buah musuh yang itu artinya bisa membuat Sean dan Yang berkesempatan untuk mencari Anders di tempat itu.


"Kita cari di ruang rahasia itu!" tanpa menunggu tanggapan Yang, Sean segera berlari menyisir semua ruangan, matanya menyapu ke segala penjuru hanya untuk mencari ruang rahasia yang tidak tembus dari alat pemindai canggih yang dimiliki oleh Yang.


Markas itu benar-benar ruang rahasia yang sangat kotor, bahkan bau busuk yang menyengat dari tumpukan sampah yang ada di atas masih terendus di hidung Sean. Bagaimana mereka bisa bertahan tinggal di tempat seperti ini, bahkan untuk pernapas saja Sean merasa sesak, tempat ini sangat tidak nyaman.


Sean kembali melangkah melewati lorong-lorong yang berbentuk seperti labirin diikuti oleh Yang di belakangnya.


"Hati-hati, bagian ini tidak tertembus oleh alat pemindaiku, mungkin ini adalah jalan menuju markas sesungguhnya." Sean hanya mengangguk mendengar perkataan Yang lalu kemudian terus melangkah untuk mencari jalan untuk bisa menembus labirin itu.


"Tidak ada waktu lagi. Ledakkan saja semuanya!" ucap Sean kemudian saat tidak juga menemukan jalan yang benar karena sepertinya mereka hanya berputar-putar saja sedari tadi.


"Kau gila, ini adalah ruang bawah tanah. Jika kau meledakkan ruangan ini setidaknya kita harus keluar terlebih dahulu agar tidak tertiban reruntuhan juga tumpukan sampah yang ada di atasnya." Yang mencoba menasehati Sean yang saat ini kehilangan pikiran rasionalnya. Sean menyugar rambutnya secara serampangan menggunakan jemarinya. Wajahnya tampak frustrasi diliputi kecemasan yang tidak mendasar.

__ADS_1


"Aku tidak peduli, setidaknya ledakan itu bisa merobohkan labirin-labirin sialan itu hingga kita dengan mudah menemukan titik tersembunyi mereka."


Yang Pou Han menghela napas panjang yang kemudian mencoba berpikir lagi. "Kita lakukan dengan yang mempunyai daya ledak sedikit saja."


Ledakan demi ledakan mereka lakukan untuk merobohkan labirin yang membuat mereka kebingungan. Yang sudah melakukan ledakan ke tujuh kalinya dan semuanya hancur menjadi puing-puing reruntuhan. Mungkin karena mereka berada di bawah tanah, pasokan oksigen yang sangat terbatas bercampur karbon monoksida yang dihasilkan dari proses ledakan membuat Sean ataupun Yang Pou Han terbatuk-batuk dengan mata merah karena udara yang tercemar. Napas mereka terasa sesak, keputusan implusif mereka untuk meledakkan labirin-labirin itu tanpa berpikir panjang malah seperti malah membuat mereka teracuni dengan udara yang sudah terkontaminasi bahan peledak.


Sean membuka pakaiannya lalu menggunakannya sebagai penutup mulut dan juga hidungnya dengan mengikatnya di belakang kepala. Setidaknya dengan begitu paparan udara buruk yang berada di tempat itu tidak terlalu merusak paru-parunya, pun demikian dengan Yang Pou Han yang mengerjakan hal sama seperti yang Sean lakukan.


Dengan langkah tertatih-tatih Sean dan Yang Pou Han mencari jalan keluar untuk menyegarkan kerongkongannya yang semakin lama terasa panas , serak dan mencekat.


Dari kejauhan di lorong gelap yang sedang mereka lewati terdapat seberkas cahaya terang yang begitu bertolak belakang dengan apa yang sedari tadi mereka lewati. Seberkas harapan mulai kembali terkumpul dalam jiwa mereka. Sean dan Yang Pou Han mempercepat langkah mereka menuju cahaya terang tersebut.


Kedua orang itu membelalakkan mata, ketika diperlihatkan sebuah ruangan kaca istimewa yang begitu terang dan sangat bersih. Sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi dengan bagian luar ruangan yang lain.


"Laboratorium penelitian di tempat seperti ini?" gumam Sean tidak percaya dengan yang terpampang nyata di depan mata.


....


"Aku lapar, apa kau tidak lapar?" Leon melirik ke arah Fang Yi yang sedari tadi hanya membisu. Suasana terasa sangat membosankan karena tidak ada hal lain yang mereka kerjakan selain menunggu dan menjaga. Fang Yi hanya melirik sekilas lalu kembali menatap ponselnya kembali.


"Kau punya mulut kan? Bagaimana ada wanita sepertimu di dunia ini?" Leon beranjak dari duduknya melangkah mencari bahan makanan yang ada di dapur. Abust dan Catherine mengajak kedua putranya untuk menjenguk Milly, sehingga saat ini rumah tampak sepi meskipun di luar sudah banyak bodyguard yang ditempatkan di beberapa titik untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang mencurigakan.


"Tunggu!" Leon menghentikan langkahnya lalu sedikit menoleh ke arah Fang Yi tanpa membalikkan badan.


"Ambilkan juga sesuatu untukku!" ucap Fang Yi kemudian yang mendapat cibiran dari Leon.


"Cih kau sungguh menyebalkan." Meskipun Leon tidak menyukai tetapi pada akhirnya ia mengambil makanan untuk dirinya dan juga Fang Yi. Hanya dalam waktu beberapa menit saja Leon kembali dengan membawa satu baki penuh makanan yang entah ia dapat dari mana. Sepertinya memang Leon sudah biasa berada di rumah Abust sehingga lelaki itu dengan mudah menemukan makanan yang ada di dapur.


Tanpa menunggu dan menawarkan kepada Fang Yi, Leon segera melahap banyak makanan dengan cara serampangan yang membuat Fang Yi mengerutkan dahinya.


"Jorok!" umpat Fang Yi melihat sikap Leon yang terlihat tidak punya attitude dalam memperlakukan makanan. Fang Yi kemudian mengambil jatah makanannya untuk ia sisihkan sebelum Leon mengambil semuanya.


Tanpa peduli dengan kekesalan Fang Yi terhadapnya Leon terus saja memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Baru saja Fang Yi hendak memasukkan potongan buah kiwi di mulutnya tiba-tiba seseorang datang ke tempat mereka.


"Sean, kau sudah datang." Fang Yi yang melihat Sean terlebih dahulu sedikit heran karena Sean terlihat berbeda dari biasanya.


"Iya, aku sudah datang. Di mana istriku?" tanya Sean kemudian dengan senyum tersembunyi di balik wajahnya.


"Tentu saja di atas, bukannya kamar kalian di atas." ucap Leon kemudian dengan menyantap makanannya tanpa melihat ke arah Sean.


"Terima kasih kalian sudah menjaganya. Karena aku sudah datang biarkan aku saja yang menjaganya." Sean kemudian berlalu dari hadapan Leon dan Fang Yi menuju tangga yang akan membawanya ke kamar di mana Salwa berada.


Bersambung..


.......

__ADS_1


__ADS_2