
Enam bulan kemudian....
"Nanti kunci pintunya, mama akan pulang malam. Jangan sampai ada orang asing memasuki rumah kita. Makanannya sudah mama siapkan di atas meja makan sekaligus untuk makan siang, jangan main keluar, okey!" Catherine mengecup kening kedua putranya setelah menyampaikan pesan sebelum ia berangkat bekerja.
"Iya mama, kami sudah hafal dengan itu. Mama setiap hari mengatakannya sebelum berangkat bekerja." Ashton dan Axton terkikik geli, karena mereka selalu mendengar hal yang sama setiap kali Catherine hendak meninggalkan mereka berdua di rumah.
Setelah pergi dari rumah Sean, Abust membelikan sebuah rumah untuk Catherine dan kedua anaknya di perumahan padat penduduk yang tidak terlalu besar, namun sangat berarti bagi Catherine dan kedua anaknya. Setidaknya mereka tidak tidur di kolong jembatan dengan perut yang kelaparan. Tetapi sejak saat itu Abust sudah tidak pernah lagi datang untuk menengoknya, mungkin lelaki itu sudah melupakannya. Catherine sama sekali tidak mempermasalahkan itu, ia berhutang banyak kepada Abust, dan ia berjanji akan membayar dan membalas budi atas segala kebaikan yang diberikan Abust untuk dirinya dan anak-anaknya.
Setelah berpamitan kepada kedua anaknya, Catherine menutup pintu rumahnya, lalu melangkahkan kakinya untuk menunggu angkutan umum di halte yang lokasinya terletak dekat dengan jalan rumahnya. Tidak butuh waktu lama Catherine menunggu, sudah ada bus yang datang.
Catherine menggesekkan kartu elektroniknya sebagai alat pembayaran non tunai lalu memilih tempat duduk di dekat jendela kaca. Ia menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata, pikirannya menerawang seolah-olah ada hal yang ingin ia lakukan tetapi ia hanya bisa menahannya. Sekelebat bayangan lelaki itu muncul kembali di pikirannya, membuatnya harus cepat-cepat membuka mata.
Catherine sudah berusaha melupakan Abust, tetapi apa yang ia usahakan sepertinya sia-sia. Wajah lelaki itu selalu berlalu-lalang dalam pikirannya, dan hal itu membuat hatinya semakin sakit. Kesempatan tinggal bersama Abust selama tujuh hari menjadi sebuah kenangan manis baginya. Lelaki itu selalu membantunya mengoleskan salep ke luka-luka Catherine dengan sangat lembut dan hati-hati, bahkan Catherine merasa saat itu ia sempat berhayal menjadi seorang ratu karena Abust memanjakannya dengan menyuapinya saat makan dan meminum obat.
Tetapi ketidak hadiran lelaki itu dalam kurun waktu enam bulan terakhir ini sudah membuktikan bahwa hubungan mereka hanya sekedat teman biasa. Dan saat ini Catherine hanya bisa menahan rindu tanpa bisa mengutarakan. Meskipun Catherine mengetahui alamat Abust dan dimana perusahaan Abust, tetapi ia tidak ingin mengganggu lelaki itu. Ia sudah terlalu banyak merepotkannya, sehingga dengan tidak menemuinya kembali itu mungkin lebih baik. Baik untuk Abust dan untuk dirinya sendiri.
Butuh waktu dua puluh menit bus berhenti tepat di halte yang di tuju. Catherine turun bersamaan dengan penumpang yang lain. Tempat kerja Catherine berjarak dua puluh meter dari halte bis, tinggal menyebrang jembatan layang yang terdapat layar digital besar yang menayangkan sebuah iklan salah satu produk kecantikan yang sedang naik daun.
Catherine bekerja di sebuah rumah makan chinese sebagai seorang pramusaji. Ia mendapatkan pekerjaan itu atas rekomendasi teman yang sempat ia kenal saat tinggal bersama Yang Pou Han. Dan sejak itu ia memantapkan hati untuk bekerja keras demi kelangsungan hidup dan masa depan kedua putranya.
"Catherine baru datang?"
Salah seorang teman Catherine yang berprofesi sama menegur Catherine yang baru saja masuk ke ruang ganti sambil menyimpan tasnya di loker. Catherine menjawab pertanyaan temannya itu hanya dengan anggukan dan senyuman.
"Ya ampun, kau sepertinya tidak tahu apa-apa, restoran kita sedang dibooking pengusaha muda untuk melamar kekasihnya, bos merekomendasikanmu untuk menjadi pramusaji yang melayani mereka nanti. Jadi kau harus bersiap sekarang!"
"Aku?" Catherine menunjuk wajahnya sendiri memastikan kebenaran perkataan temannya itu.
"Iya, kamu." Teman Catherine menggeleng karena sepertinya Catherine masih tidak mempercayai perkataannya.
"Kenapa harus aku? Bukannya banyak yang lebih berpengalaman?"
Bukannya tidak mau, Catherine pasti tidak akan sanggup melihat adegan romantis yang sebentar lagi akan ia lihat di depan mata kepalanya langsung. Saat ini, ia masih berusaha melupakan seseorang, dan hatinya akan semakin sakit jika melihat sepasang kekasih yang memadu kemesraan di depannya.
"Bos akan memotong gajimu jika menolak, dan jika kau menyetujuinya, bonusmu akan ditambah dua kali lipat. Ya ampun, kau sangat beruntung. Coba saja aku yang dipilih, langsung aku iya-in aja," ucap temannya itu sambil tersenyum.
"Dua kali lipat?"
Ah, mungkin memang rezekinya Ashton dan Axton, karena tahun ini mereka berdua akan memasuki sekolah tingkat dasar dan tentunya Catherine membutuhkan banyak uang untuk biaya pendaftaran sekolah mereka.
"Iya, kau sangat beruntung. Sekarang persiapkan dirimu."
Catherine mengambil seragam kerjanya di tas, ingin berganti pakaian tetapi kembali temannya itu mencegahnya.
"Ya ampun Catherine, kenapa kau masih disini?"
"Aku ingin bersiap berganti pakaian dulu."
"Kesini, ikut aku."
Catherine di dorong menuju ke ruangan khusus yang dimana di dalamnya sudah terdapat seseorang yang telah menunggunya. Seorang perempuan cantik yang sedang duduk di depan meja rias dengan cermin besar yang dilengkapi dengan beberapa lampu di setiap tepinya.
"Masuklah nona?" Sapa perempuan itu dengan sangat ramah kepada Catherine. Dengan ragu Catherine masuk ke ruangan itu yang sebelumnya hanyaruangan kosong dan sekarang sudah disulap menjadi ruang rias.
"Nama saya Lusi, saya bertugas untuk merias anda. Mohon kerjasamanya ya," ucapnya dengan sangat sopan dan ramah.
"Merias?" Catherine sedikit bingung dengan apa yang terjadi. Dia hanya bertugas sebagai pramusaji saja, kenapa juga harus repot-repot dirias seperti itu.
"Iya, silahkan duduk."
Meskipun banyak pertanyaan di benak Catherine tetapi perempuan itu tetap menurut dengan duduk tenang di meja rias. Acara seperti apa sebenarnya yang mewajibkan pelayannya untuk berdandan cantik bahkan harus menyewa perias profesional seperti itu.
"Silahkan buka matanya, lihatlah anda sangat cantik." Entahlah, Lusi saat ini sedang memuji wajah Catherine atau hasil pekerjaannya, tetapi Catherine hanya bisa tersenyum saja menanggapi perkataan Lusi. Buat apa juga dandan cantik seperti itu jika pada akhirnya ia hanya bertugas sebagai pengantar makanan dan akan berkotor-kotoran dengan berbagai peralatan makan bekas pakai di tangannya.
"Ini pakaian anda, silahkan berganti pakaian dan gunakan sepatu yang sudah saya siapkan."
Catherine mengangguk, tanpa banyak bicara dan bertanya. Lusi segera keluar dari ruangan itu memberi waktu bagi Catherine untuk berganti pakaian.
Sedikit tampak keraguan di benak Catherine saat ingin membuka paper bag berukuran besar itu yang sepertinya berasal dari butik ternama di kota. Perlahan ia membuka dan mengeluarkan isi dari paper bag itu. Catherine ternganga melihat gaun indah yang ada di dalamnya.
Tidak, ini pasti suatu kesalahan. Dia tidak mungkin bekerja menggunakan gaun mahal seperti itu. Apalagi sepatu yang sudah dipersiapkan oleh Lusi adalah berjenis sepatu hak tinggi. Catherine sudah membayangkan betapa repotnya dia nanti jika mengenakan semua itu saat bekerja.
Catherine ingin keluar untuk menanyakannya, tetapi kemudian ia menemukan sebuah kartu berwarna merah jambu berbentuk hati yang bertuliskan namanya.
To. Catherine Wilson
Acara macam apa nanti sehingga ia sebagai pelayan harus berdandan dan mengenakan gaun mahal seperti ini. Catherine menghembuskan napasnya, ia tidak mau ambil pusing akan hal itu. Dalam benaknya hanya ingin mendapatkan bonus dua kali lipat itu sebagai uang tambahan untuk biaya kedua anaknya bersekolah.
__ADS_1
"Wah.. kau sangat cantik. Gaun itu sangat pas di tubuhmu," ucap Lusi yang tiba-tiba muncul kembali di saat Catherine selesai mengenakan segala atribut yang dipersiapkan. Memang benar yang dikatakan Lusi, gaun yang dikenakan Catherine sepertinya memang sengaja dijahit khusus untuknya sehingga sangat pas di badan Catherine.
"Terimakasih."
"Saya akan mengantar anda ke tempat acara, saya harap semuanya akan berjalan lancar." Lusi menggandeng tangan Catherine, membantunya berjalan menuju ke lokasi, dengan langkah hati-hati Catherine melangkah menuju ruang yang biasanya penuh dengan kursi dan meja untuk pengunjung yang akan menyantap makanan,tetapi hari ini ruangan itu mendadak sepi dan gelap.
"Semoga berhasil," ucap Lusi lalu meninggalkan Catherine seorang diri.
Catherine tampak kebingungan dengan apa yang akan ia lakukan, teman-temannya sama sekali tidak memberi tahu apa-apa kepadanya.
"Ini terlalu gelap, aku sama sekali tidak bisa melihat apa-apa," gumamnya dalam hati. Ketika Catherine melangkah ingin menyalakan sakelar lampu tiba-tiba terdengar suara petikan gitar yang mengalun indah bersamaan lampu sorot yang hanya fokus kepada satu tempat. Entah sejak kapan restoran itu mempunyai sistem lighting yang keren seperti itu, padahal selama ini Catherine belum pernah melihatnya.
Catherine menutup mulutnya yang ternganga dengan kedua tangannya, terkejut dengan siapa yang saat ini bermain gitar sambil menyanyikan lagu dengan indah.
...I found a love for me...
...Darling, just dive right in...
...And follow my lead...
...Well, I found a girl, beautiful and sweet...
...I never knew you were the someone waiting for me...
...'Cause we were just kids when we fell in love...
...Not knowing what it was...
...I will not give you up this time...
...Darling, just kiss me slow, your heart is all I own...
...And in your eyes, you're holding mine...
...Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms...
...Barefoot on the grass, we're listenin' to our favorite song...
...When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath...
...Well, I found a woman, stronger than anyone I know...
...She shares my dreams, I hope that someday I'll share her home...
...I found a love, to carry more than just my secrets...
...To carry love,…...
^^^Perfect by Ed Sheeran^^^
"A..Abust."
Lelaki itu tersenyum, lalu meletakkan gitarnya di lantai. Sorot lampu itu berjalan mengikuti pergerakannya lalu berhenti tepat di depan Catherine. Ia berjongkok menggunakan satu lututnya sebagai tumpuan sementara kaki yang lain dalam posisi kuda-kuda. Tangannya mengambil sesuatu dari balik saku jasnya, keluarlah sebuah kotak kecil berwarna merah berbahan bludru. Hanya dengan satu hentakan ibu jari saja kotak kecil itu terbuka sempurna.
Lelaki itu meraih tangan Catherine, lalu mengecupnya dengan lembut meninggalkan hawa panas di permukaannya.
"Catherine, will you marry me?"
Catherine menggigit bibir bawahnya, matanya berkaca-kaca dipenuhi dengan keterkejutan yang begitu hebat membuat dadanya naik turun mengikuti irama napasnya dengan detak jantung yang berpacu lebih cepat.
"Are you sure?"
"Sure, why not?"
Catherine tersenyum, lalu mengangguk. "Yes, I will."
Abust tersenyum cerah, ia memasangkan cincin itu ke jari manis Catherine yang ternyata sangat pas dan terlihat cantik saat sudah tersemat di jari yang tepat. Abust berdiri lalu memeluk Catherine dengan erat sambil memejamkan mata. Catherine pun melakukan hal yang sama membalas pelukan Abust dengan sama eratnya.
"I love you and miss you so much," bisik Abust tepat di telinga Catherine. Catherine mengangguk, ia tidak tahan lagi untuk tidak menangis, perasaan yang dipendamnya selama ini ternyata tidak bertepuk sebelah tangan, perasaannya akhirnya terbalaskan. Ia menangis dan terus menangis di dalam pelukan Abust, mensyukuri akan keajaiban Tuhan untuknya. Kesabarannya selama ini ternyata berbuah indah pada waktunya.
"I love you too and miss you so much too."
Abust mengendorkan pelukannya, lalu menengadahkan wajah calon istrinya itu untuk menatap wajahnya.
"Kau adalah wanita terkuat dan terhebat setelah ibuku yang pernah aku temui, aku berjanji setelah ini akan membahagiakanmu bersama anak-anak kita nanti, dan tentunya bersama mereka berdua."
"Mereka berdua?" Catherine mengulang kata-kata Abust dengan penuh tanda tanya, tetapi di detik berikutnya lampu menyala dan terlihatlah dua bocah kesayangannya datang berlari menghampirinya.
__ADS_1
"Mama, papa," teriak Ashton dan Axton secara berbarengan.
"Papa? Siapa yang mengajari mereka?" Catherine bertanya saat kedua putranya memeluk kakinya.
Abust mengedipkan sebelah matanya lalu berkata,"rahasia."
Catherine tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya. "Aku tidak menyangka bahwa kau pintar bernyanyi dan memainkan alat musik."
Abust terkekeh, lalu ia merangkul bahu Catherine dengan lembut.
"Siapa bilang, aku hanya bergaya saja sebenarnya mereka yang melakukannya." Jawab Abust dengan tidak tahu malunya membocorkan rahasianya dengan menunjuk seorang musisi dan penyanyi yang ada di belakang tempat Abust bernyanyi tadi. Catherine ikut terkekeh melihatnya, lalu mencubit pinggang Abust dengan gemas.
"Hai jangan dicubit, dipeluk saja."
Keduanya terus tersenyum, saling berpelukan lalu mengajak Ashton dan Axton menuju meja makan menyantap hidangan yang sudah disediakan pihak restoran.
.....
"Mas, yang itu bagus tidak?"
"Bagus, mau ambil semua juga boleh."
Salwa menyikut lengan suaminya itu pelan, Sean selalu mengatakan lebih baik mengambil semuanya daripada bingung harus pilih yang mana.
Sean dan Salwa saat ini berada dalam sebuah baby shop yang cukup terkenal dan merupakan terlengkap di pusat kota. Usia kandungan Salwa yang memasuki bulan ke sembilan menunjukkan perutnya sudah sangat membuncit. Sebagai suami siaga, Sean sekarang sudah tidak pernah lagi pulang malam, berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Salwa mengalami kontraksi dini agar bisa melahirkan dengan selamat. Pengalamannya kehilangan anak pertama membuatnya semakin berhati-hati dalam menjaga Salwa dan kandungannya.
Sean membawakan trolly yang di dalamnya sudah penuh dengan pakaian dan perlengkapan bayi, belum lagi yang sudah dititipkan kepada kedua bodyguardnya yang membantu mereka membawa barang belanjaan tetapi seolah itu semua belum cukup , sehingga mereka kembali berkeliling mencari sesuatu yang sepertinya masih dibutuhkan. Menjadi calon orang tua baru tentunya merupakan pengalaman pertama bagi keduanya sehingga mereka mempersiapkan segala sesuatunya dengan terperinci.
"Kayaknya masih ada yang belum terbeli?"
Sean mengingat-ingat, kira-kira apa yang terlewat. Ia sudah membaca buku petunjuk persiapan melahirkan dan membuatkan daftarnya dalam note yang ada di ponselnya.
"Mas, kakiku sudah pegal, ayo pulang," rengek Salwa sambil membungkuk memegangi kedua lututnya. Sean memperhatikan kedua kaki Salwa dengan menyibakkan baju hamilnya sedikit, tanpa peringatan ia langsung meraih tubuh Salwa dalam gendongannya dan menyuruh kedua bodyguard-nya menyelesaikan pembayaran belanjaannya.
Salwa memukul pelan dada suaminya itu, ia malu diperhatikan banyak orang yang kebanyakan adalah ibu hamil sepertinya. Tetapi Sean sama sekali tidak peduli akan hal itu, ia berjalan dengan percaya diri dengan mempertahankan tubuh Salwa dalam gendongannya.
"Mas, aku masih bisa jalan."
"Tidak, kakimu bengkak. Kita ke rumah sakit sekarang."
"Apa....?"
.....
"Sudah sampai," ucap Sean membangunkan Salwa yang tertidur dalam pangkuannya setelah selesai dari pemeriksaan di rumah sakit. Salwa mengerjapkan matanya, menyeimbangkan alam bawah sadar dengan dunia nyata. Sean keluar terlebih dulu, lalu membungkuk membantu Salwa keluar dari mobil. Kembali lelaki itu menggendong tubuh istrinya yang baru saja turun dari mobil dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Mas aku bisa berjalan, kau tidak perlu menggendongku kemana-mana."
Sean tetap bergeming, ia melangkah menuju kamar mereka yang sudah berpindah di lantai bawah. Lalu membaringkan tubuh Salwa dalam ranjang besar miliknya.
Salah seorang bodyguardnya ikut masuk membawakan obat yang berasal dari rumah sakit tempat Salwa diperiksa tadi.
"Keluarlah!" Bodyguard mengangguk patuh, lalu melangkah keluar kamar majikannya dan menutup pintu kamar tersebut dengan rapat.
Sean mengambil air hangat yang ia dapatkan dari pelayan menggunakan sebuah wadah lalu mencampurkan obat yang berbentuk cairan tersebut ke dalamnya. Sean mengukur suhu air tersebut dengan jari telunjuknya, setelah dirasa sudah pas tidak terlalu panas ataupun dingin ia meletakkannya di bawah ranjang Salwa.
"Kau terlalu lelah sepanjang hari ini, sehingga membuat kakimu bengkak. Dokter menyarankan agar memijatnya perlahan menggunakan salep ini," ucap Sean sambil menunjukkan salep yang masih lengkap dengan kardusnya.
Sean menekuk kedua lengan kemejanya sampai siku, lalu membuka tutup salep dan mengeluarkan isinya yang berbentuk cream lembut berwarna putih ke atas ujung jarinya. Tangannya menyibakkan pakaian yang menutupi kaki Salwa lalu mengoleskan krim itu ke permukaan kulit Salwa dari bawah lutut sampai mata kaki.
"Mas, aku bisa melakukannya sendiri." Salwa merasa tidak enak jika membuat Sean harus memijat kakinya, tetapi Sean sama sekali tidak berniat menghentikan perlakuannya kepada istrinya itu. Ia membuat gerakan memijat dengan lembut di bagian betis dan mata kaki lalu berakhir di telapak kaki Salwa.
"Bagaimana, apakah enak?"
Salwa mengangguk, sambil mengulas senyum penuh rasa terimakasih." Terimakasih."
"Kau tidak perlu berterimakasih, ini sudah menjadi tanggung jawabku. Aku tidak bisa menggantikanmu melewati kesusahan saat hamil dan melahirkan, tetapi aku akan berusaha untuk mencoba mengurangi rasa sakitmu itu."
Sean membantu Salwa duduk, lalu meletakkan kedua kaki istrinya itu untuk ia rendamkan di air hangat yang sudah ia campurkan cairan yang diberikan oleh dokter rumah sakit tadi.
Salwa merasakan kakinya yang bengkak tadi menjadi sangat nyaman, bahkan ia saat ini ingin tertidur saja. Aroma cairan itu ternyata membuat pikiran dan tubuhnya relaks, apalagi saat ini Sean sudah beralih ke belakang punggungnya, lalu memeluknya dari belakang, menyandarkan tubuh Salwa ke tubuhnya.
Sean dengan sabar menunggu Salwa merendamkan kakinya di cairan hangat itu, sambil menjadikan tubuhnya sebagai sandaran istrinya itu. Sayup-sayup mata Salwa akhirnya terpejam, dan akhirnya ia tidak sanggup untuk bertahan dan tertidur dalam pelukan Sean. Sean membaringkan tubuh Salwa yang tampak lelap, lalu memindahkan kakinya naik ke atas ranjang dan menyelimuti tubuh istrinya itu dengan selimut tebal.
Sean menghadiahkan kecupan hangat di dahi Salwa sebelum lelaki itu membereskan semua peralatan yang digunakan untuk merawat kaki istrinya itu.
"Selamat malam istriku, mimpi yang indah."
__ADS_1