Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Ekstra Chapter 5 ( Pesta Kejutan Part 1)


__ADS_3

Sean terbangun lebih dulu saat waktu menunjukkan pukul empat pagi. Ia memang terbiasa tidur sedikit dan banyak bekerja, sehingga meskipun ia sudah menguras tenaganya untuk menghabiskan malamnya bersama Salwa ia masih bisa terbangun dalam kondisi bugar.


Sean memindahkan kepala Salwa yang bertumpu di atas lengannya dengan perlahan ke atas bantal empuk yang ia geser mendekat. Dikecupnya singkat dahi istrinya yang masih memejamkan mata dalam buaian mimpi sambil mengusap kepalanya penuh rasa sayang. Subuh masih tiga puluh menit lagi, sehingga ada waktu baginya untuk membersihkan diri.


Bibir Sean mengulas segaris senyum simpul saat menatap kembali istrinya yang saat ini bergerak memunggunginya. Sean menyibakkan selimut yang menutupi tubuh polosnya, lalu mengambil jubah tidur di atas gantungan baju yang kemudian ia kenakan dengan cepat.


Pikirannya sekarang tertuju dengan kamar mandi, di cuaca yang dingin seperti saat ini ia terpaksa harus mandi menggunakan air dingin untuk menghilangkan keinginan menyentuh Salwa lagi.


Kran shower ia nyalakan dengan temperatur paling rendah, buliran air yang deras menerpa permukaan kulit kepalanya menciptakan sensasi pijatan dibalut hawa dingin yang menyiksa.


Sean membesarkan debit air yang akan terjun bebas dari kepala shower menuju kepalanya. Dentuman titik-titik air yang jatuh di atas kepalanya terdengar seperti musik yang bersautan seolah sedang berlomba memenangkan sebuah kompetisi membuatnya merasakan kedamaian.


Hari ini, ia akan membuat kenangan terindah yang harusnya sejak dulu ia lakukan untuk Salwa, perempuan kesayangan dan tercintanya itu. Sebuah pesta ulang tahun pernikahan yang telah disusunnya secara sembunyi-sembunyi tanpa Salwa ketahui sebagai hadiah untuk istrinya yang sampai saat ini tidak pernah meminta suatu apapun kepadanya.


Pesta kejutan itu juga sebagai pengganti pesta pernikahannya dulu yang tidak banyak orang tahu. Sean akan membuat Salwa menjadi ratu dalam sehari bagi semua orang dan untuk selamanya bagi dirinya sendiri.


🌹🌹🌹🌹


"Maaf, aku tidak bisa datang," terdengar suara dengan nada menyesal di telinga Sean.


"Aku mengerti, sebaiknya kau cepat bawa istrimu berobat sebelum menular ke anakmu yang masih bayi." Sean menasehati Abust yang kini sedang mendapatkan tugas merawat ketiga anaknya, yaitu Ashton, Axton dan putri kecil mereka Vanya.



Abust mengangguk dengan bersamaan putrinya tengah memandangnya tertawa riang. Abust terpaksa membawa putrinya untuk ikut menemui rekan kerjanya karena Catherine sedang sakit. Putri kecilnya itu terus menangis tidak ingin digendong oleh pengasuhnya. Abust yang tidak tahan melihat buah hatinya menangis akhirnya memutuskan membawa putri kecil mereka bersamanya.


"Kau tenang saja, Catherine dalam pengawasan Xiau Chien. Dia akan baik-baik saja. Emm, sebagai penggantiku Leon akan berangkat dengan Fang Yi."


Sean mengangkat kedua alisnya ke atas, menandakan keterkejutan dari informasi Abust.


"Benarkah?"


Pastinya sangat aneh jika Leon mau untuk datang berpasangan dengan Fang Yi. Kedua orang itu sama sekali tidak bisa akur. Jika bertemu keduanya selalu bertengkar dari mempermasalahkan hal yang paling sederhana sampai yang sangat kecil. Tidak ada yang mau mengalah sehingga Sean pasti akan dibuat kerepotan untuk menengahi pertengkaran mereka.


"Hahaha, tidak ada pilihan lain selain menyetujuinya. Kau tahu wajah keduanya sangat lucu setelah mengetahui aku tidak bisa datang dan mungkin setelah ini kau yang akan dibuat pusing oleh tingkah mereka berdua," ucap Abust sambil membayangkan pertengkaran mereka di depan banyak tamu undangan pasti akan seru untuk dilihat secara langsung.

__ADS_1


"Kau tenang saja, mereka tidak akan berani melakukannya."


Sean mematikan panggilannya setelah keduanya saling berpamitan, pandangannya tertuju kepada Salwa yang sedang memompa asi untuk di letakkan di botol-botol khusus yang nantinya akan disimpan di dalam lemari pendingin.


Kinan masih meminun asi meskipun saat ini anak laki-laki itu tidak meminumnya langsung dari payudara ibunya, melainkan dari botol susu. Salwa bersikeras memberikan asinya sampai Kinan berusia dua tahun sehingga sampai saat ini ia masih memompa asinya sebagai asupan nutrisi untuk putra semata wayangnya itu.


Sean berjalan mendekat lalu duduk di samping Salwa, mengusap punggung perempuan itu dengan lembut. Sean selalu menemani Salwa saat istrinya itu sedang memompa asinya. Sesuai nasihat yang dilakukan oleh dokter bahwa ia harus membuat Salwa nyaman agar asi bisa mudah terangsang keluar.


"Apakah sudah?" tanya Sean kemudian melihat Salwa sudah menutup botol yang berisi cairan berwarna putih itu.


Salwa mengangguk sembari meletakkan botol itu di atas meja kecil di samping ranjangnya. Ia kemudian mengancing kembali pakaiannya yang sempat terbuka karena proses memompa asi.


"Biar aku bantu," ucap Sean dengan menangkap tangan Salwa yang hendak mengancingkan buah bajunya.


"Ehh."


Salwa terdiam dan menurut saja sambil memandang suaminya yang begitu cekatan saat membantunya mengancingkan pakaiannya, tidak! Sean bukan ingin mengancingkan pakaian Salwa, lelaki itu justru melepaskannya membuat Salwa segera menyilangkan kedua tangannya di dada sambil melebarkan mata terkejut.


Sean tersenyum dengan wajah jahilnya, lalu membungkuk untuk mengambil sesuatu di bawah laci meja. Ekor mata Salwa menurut kemana tangan Sean berada. Sebuah totebag keluar dari laci meja yang kemudian Sean berikan kepada Salwa.


Salwa mengangguk sambil mendekap totebag itu di dada untuk menutupi bagian tubuhnya dari pandangan mata jahil suaminya. Dengan langkah cepat ia beranjak dari duduknya menuju ke ruang ganti untuk segera berganti pakaian.


Sean menghela napasnya dengan cepat sambil mengulas senyumnya, ia mengambil botol asi yang sudah terisi untuk ia simpan di dalam lemari pendingin khusus.


🌹🌹🌹🌹


Salwa mengenakan gaun berwarna putih dengan kerudung berwarna senada. Ia masih bingung kejutan apa yang akan diberikan Sean untuknya sehingga ia harus mengenakan gaun semewah itu. Apa tidak terlalu berlebihan jika dia keluar dengan mengenakan pakaian seperti itu, bahkan ia merasa seperti seorang pengantin saja. Tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti permintaan Sean.


"Sayang apakah kau sudah siap?" tanya Sean dari luar kamarnya yang kemudian masuk untuk mengecek persiapan Salwa.


Salwa membalikkan badan melihat suaminya yang kini sedang mengenakan stelan formal berwarna putih yang senada dengan gaun yang ia kenakan.


Sean sempat terkesiap melihat Salwa yang tampak begitu cantik dan anggun. Gaun yang dipesannya itu ternyata sangat pas dan cantik di tubuh istrinya hingga membuatnya tidak sanggup hanya untyk berkedip saat menatapnya.


Sean melangkahkan kaki mendekat untuk menikmati pemandangan indah di depannya dengan lebih jelas.

__ADS_1


"Kau sangat cantik, aku jadi tidak rela untuk menunjukkanmu ke semua orang," ucap Sean sambil menyatukan keningnya dengan kening Salwa.


Perkataan Sean yang manis selalu bisa membuat Salwa tersipu dengan menambah rona merah di pipinya.


"Kau juga sangat tampan, aku bahkan bisa mati kesal jika para wanita memandangimu tanpa bisa berkedip."


Sean tersenyum dengan sedikit mengeluarkan kekehan. "Sungguh? Katakan sekali lagi?" ucap Sean menggoda Salwa.


"Emm, tidak mau." Salwa menggeleng dengan cepat, wajahnya sudah merah padam menahan malu.


"Ayo katakan?" Sean tetap memaksa Salwa mengatakannya sekali lagi. Karena ia tahu istrinya terlalu malu untuk sekedar memuji ketampanannya sehingga Sean begitu senang saat melihat raut wajah Salwa yang kikuk untuk mengucapkannya lagi.


Salwa menggigit bibir bawahnya lalu tetap menggeleng.


"Tidak mau."


"Ayo katakan," ucap Sean lagi kali ini dengan menunduk mendekatkan bibirnya di permukaan bibir Salwa.


Salwa tetap menggeleng, pergerakan kepala Salwa membuat bibir mereka saling bersentuhan sehingga kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Sean untuk menyambarnya dengan memagut lembut dan menikmati disetiap cecapan yang ia lakukan terhadap bibir Salwa yang memerah itu.


Sean menarik pinggang Salwa untuk ia rapatkan ke tubuhnya, lalu satu tangannya merengkuh leher Salwa yang berbalut kerudung untuk memperdalam pertautan bibir mereka.


Godaan seperti itu yang sama sekali tidak bisa Sean tahan, ia hampir saja kehilangan kesadaran dengan menggendong Salwa untuk ia baringkan di atas ranjang, melanjutkan ke hal-hal lain yang menjadi kesenangannya. Beruntung Salwa segera mencegahnya saat tangan Sean menarik ujung resleting belakang gaun Salwa.


"Mas, apakah kau tidak jadi mengajakku keluar?" ucap Salwa sambil menahan dada Sean dengan kedua telapak tangannya.


Ehheemm.


Sean berdehem sejenak, menetralisir pikiran dan hasratnya yang sempat bergejolak karena ciuman dadakan itu. Ia kemudian duduk di samping Salwa yang masih berbaring.


"Bersiaplah kembali, maaf aku hampir mengacaukan semuanya," ucap Sean kemudian lalu beranjak dari duduknya untuk segera keluar dari kamar.


Ketika kakinya hampir mencapai ambang pintu, Sean kembali menoleh. "Turunlah jika sudah selesai, aku menunggu di bawah."


Sean kemudian berlalu dengan menutup kembali pintu kamarnya.

__ADS_1


\=》Kasih like dan komentar dulu sebelum lanjut Ekstra chapter berikutnya 😊


__ADS_2